Aku Ingin Menjadi Pendidik, Aku Pasti Bisa ...

3:31 PM Nur Mumtahana 0 Comments




Tepat tanggal 29 Mei yang lalu, saya secara resmi di wisuda di SMK Negeri 1 Slawi. Kebetulan saya menjadi salah satu siswa yang beruntung mendapatkan kesempatan untuk mengambil beasiswa Bidik Misi jalur undangan yang diperuntukkan kepada siswa kurang mampu dengan nilai akademis memadai. Namun sayang, dalam tahap ini saya belum bisa masuk dikarenakan kesalahan memilih jurusan. Karena saya adalah lulusan dari jurusan Akuntansi, maka mau tidak mau saya harus mengambil jurusan Akuntansi. Tetapi dikarenakan saya mengambil jurusan Bahasa Inggris, akhirnya saya tidak lolos seleksi.

Selang beberapa waktu, saya memutuskan untuk mengikuti program Beasiswa  jalur tertulis. Dengan uang tabungan selama tiga tahun di SMK, saya berusaha untuk menggunakannya sebaik mungkin. Dengan penuh harapan saya berangkat ke Semarang untuk mengikuti tes tersebut.

Entah sudah berapa kali saya mengecewakan orangtua. Mungkin orangtua saya tidak merasa dikecewakan, tapi saya benar-benar ingin membuat mereka senang. Membuat mereka bangga memiliki anak seperti saya. Tapi ternyata untuk kedua kalinya saya tidak di lolos dalam seleksi tersebut.

Sebenarnya masih ada satu jalur lagi untuk mengikuti ujian masuk di universitas-universitas, yaitu melalui jalur mandiri. Saya bingung. Sungguh, saya ingin melanjutkan sekolah. Melanjutkan cita-cita di masa kecil saya, yaitu menjadi seorang guru. Tapi keluarga saya bukanlah keluarga dengan kondisi keuangan yang memadai. Uang yang saya miliki hanya 200 ribu, sedangkan biaya pendaftarannya sendiri 200 ribu. Itu tidak mungkin, benar-benar tidak mungkin. Bagaimana saya berangkat ke Semarang? Saya tidak ingin merepotkan orangtua, karena saya tahu persis bagaimana kondisi keuangan keluarga saya.

Entah ini karena kesalahan siapa, tapi saat saya mencoba mencari-cari informasi beasiswa, semuanya sudah tutup. Pada saat itu, saya urungkan semua keinginan saya untuk melanjutkan sekolah. Mau tidak mau saya harus bekerja terlebih dahulu agar bisa melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi.

Begitu saya cari-cari pekerjaan yang sekiranya bisa membantu saya mengumpulkan uang untuk kuliah, hampir semua persyaratan kerja tersebut harus dari lulusan S1, D3, D1. Lalu bagaimana ini? kalau dilogika, semuanya benar-benar rumit. Saya ingin sekolah tapi tidak punya biaya, jadi saya putuskan untuk bekerja. Tapi saat saya mencari bekerja, syaratnya adalah lulusan S1, D3, D1 dan yang lainnya yang mengharuskan seseorang menyenyam pendidikan lebih tinggi dari pada setingkat SLTA. Ini yang membuat saya bingung.

Saya tidak menyerah. Biar hal ini terasa begitu berat, biarpun sangat kecil kemungkinan saya untuk melanjutkan kuliah demi mencapai cita-cita saya menjadi seorang guru, saya akan tetap berusaha. Dan beberapa waktu yang lalu saya melihat sebuah informasi tentang beasiswa di luar negeri, tepatnya di Malaysia. Terkadang saya merasa pesimis, “Saya dua kali tidak lolos dalam seleksi penerimaan mahasiswa di dalam negeri, apa mungkin saya mendapatkan beasiswa di luar negeri?”

Bagaimana pun juga, saya selalu ingat perkataan Ibu saya, perkataan Ibu saya ketika saya gagal dalam dua tahap seleksi penerimaan mahasiswa di universitas negeri. Ibuku bilang begini, “Kalau mau hidup enak, harus usaha. Kalau mau jadi orang sukses, jangan putus asa.”

Saya pegang kata-kata itu. Hingga detik ini, biar pun saya belum beruntung untuk dapat melanjutkan sekolah, tapi saya selalu yakin suatu saat saya akan bisa memperoleh keberhasilan dengan usaha dan do’a.

Keinginan yang besar terkadang membangkitkan diri kita dari keterpurukan. Begitu juga yang terjadi pada saya. Saat saya merasa lelah dan putus asa, saya akan langsung bangkit begitu melihat peluh dari setiap usaha orangtua saya demi menghidupi keluarga.

Bagi saya, merekalah sosok yang selalu membangunkan saya dari setiap rasa lelah dan putus asa. Mereka yang mengajarkan saya untuk selalu berusaha mengejar mimpi yang terkadang terasa begitu jauh. Mereka begitu tangguh, mereka begitu kuat, dan saya ingin seperti mereka. Dengan begitu, walau pun saya tidak bisa menjadi seorang guru yang mengajar di sekolah, saya masih bisa mengajarkan kepada sesama tentang sebuah usaha demi mencapai keberhasilan. Mengajarkan kepada semuanya bahwa sebuah pelajaran yang berharga itu tidak hanya diperoleh dari keberhasilan, tetapi juga dari kegagalan.

0 comments:

Silakan tinggalkan komentar. Boleh kritik, saran atau apapun.. Jangan lupa untuk selalu menggunakan kata-kata yang santun. Terima kasih.