Lomba Menulis Cerita Remaja (LMCR 2013) by Rohto dengan Total hadiah 92juta

3:45 PM nmhana 3 Comments






Persyaratan Lomba

  1. Lomba terbuka bagi pelajar (Kategori A: Pelajar SLTP; Kategori B: Pelajar SLTA), mahasiswa, penulis/pengarang dan umum (Kategori C), warga  Indonesia  di Tanah Air maupun yang bermukim  di Luar Negeri.
  2. Lomba dibuka 1 April 2013 dan ditutup 25 September  2013 (Stempel Pos/Jasa Kurir).
  3. Naskah ditulis dalam Bahasa Indonesia yang benar,  indah (literer) dan  komunikatif.
  4. Naskah yang dilombakan karya asli (bukan jiplakan, terjemahan atau saduran), belum pernah dipublikasi dalam bentuk apa pun dan tidak sedang disertakan lomba serupa.
  5. Tema Cerita: "Dunia remaja dan segala aspek rona kehidupannya (cinta, harapan, kepedihan, perjuangan, kekecewaan, perjuangan hidup dan pencerahan)".
  6. Panjang naskah  5 – 10 halaman A4,  1,5 spasi  Times New Roman 12 Font,  2 (dua) rangkap, dilampiri foto copy identitas KTP/Kartu Pelajar/Paspor/SIM/Kartu Keluarga (Pilih salah satu) dan foto pose bebas serta file naskah cerpen yang dilombakan dalam CD/DVD.
  7. Setiap peserta boleh mengirimkan lebih dari 1 (satu) judul. Perjudul dilampiri struk/bon asli pembelian produk PT  Rohto Laboratories Indonesia (jenis produk apa saja, bebas memilih) – klik www.rohto.co.id.
  8. Naskah  dikirim ke Sekretariat LMCR: Jalan Gunung Pancar No.25 Bukit Golf Hijau Sentul City Bogor 16810, dalam amplop tertutup dilampiri persyaratan Butir 6 dan 7, tulis keterangan Kategori-nya A, B atau C di bagian kanan atas amplop.
  9. Naskah yang dilombakan menjadi milik penyelenggara, hakcipta pada pengarang.
  10. Pemenang diumumkan 26 Oktober 2013.
  11. Daftar Pemenang dan Hadiah sebagai berikut:
  • Kategori A: Pemenang 1:  Rohto-Mentholatum Golden Award + Uang Tunai Rp 4.000.000,-; Pemenang 2: Piagam Rohto-Mentholatum + Uang Tunai Rp 3.000.000; Pemenang 3: Piagam Rohto-Mentholatum + Uang Tunai Rp 2.000.000,- ; 10 Pemenang Harapan, masing-masing memperoleh: Piagam Rohto-Mentholatum + Uang Tunai Rp 500.000,- dan Pemenang 25 Karya Favorit – Piagam Rohto-Mentholatum.
  • Kategori B: Pemenang  1:  Rohto-Mentholatum Golden Award + Uang Tunai Rp 5.000.000,-; Pemenang 2: Piagam Rohto-Mentholatum + Uang Tunai Rp 4.000.000,-; Pemenang 3: Piagam Rohto-Mentholatum + Uang Tunai Rp 3.000.000 dan 8 Pemenang Harapan, masing-masing memperoleh Piagam Rohto Mentholatum + Uang Tunai Rp 500.000,- dan Pemenang 60 Karya Favori: Piagam Rohto-Mentholatum.
  • Kategori C: Pemenang  1:  Rohto-Mentholatum Golden Award + Uang Tunai 7.000.000,- ; Pemenang 2:  Piagam Mentholatum + Uang Tunai Rp 6.000.000,-; Pemenang 3: Piagam Rohto-Mentholatum + Uang Tunai 4000.000,-; 8 Pemenang Harapan masing-masing memperoleh: Piagam Rohto-Mentholatum + Uang Rp 750.000,- dan 150 Pemenang Karya Favorit:  Piagam Rohto-Mentholatum.
  • Penghargaan Khusus: Pemenang Cerpen Berbahasa  Terliris Kategori B mendapat Piagam Rohto-Mentholatum + Uang Tunai Rp 1.000.000,- dan Pemenang Cerpen Berbahasa Terliris Kategori C mendapat Piagam Rohto-Mentholatum + uang Tunai Rp 1.500.000,-.
  • Seluruh Pemenang mendapat hadiah Antologi Cerpen  LMCR-2013.
  • Pajak hadiah ditanggung PT Rohto Laboratories Indonesia.
  • Nama Para pemenang dapat diakses di: www.rohto.co.id, www.rayakultura.net dan Facebook: www.facebook.com/#!/groups/4598847( Grup Diskusi: Puisi, Cerpen dan Novel.
20 Cerita Pendek Terbaik Diterbitkan sebagai Antologi  LMCR
Sumber: Rohto.co.id

3 comments:

Silakan tinggalkan komentar. Boleh kritik, saran atau apapun.. Jangan lupa untuk selalu menggunakan kata-kata yang santun. Terima kasih.

Andai Aku Jadi Presiden, Akan Kuciptakan Masyarakat yang Mencintai Bangga dengan Bangsa Ini

12:37 PM nmhana 18 Comments



"Berikan aku sepuluh pemuda, maka akankuguncangkan dunia." Itu adalah satu kalimat yang terus terngiang di telingaku. Bahkan tak jarang pada pelajaran kewarganegaraan membahas tentang kalimat yang diucapan oleh Bung Karno tersebut.

Memang tidak dapat dipungkiri, satu penggerak roda kemajuan sebuah bangsa itu ada pada tangan para pemudanya. Para pendahulu, pahlawan-pahlawan kita telah memperjuangkan segalanya demi mempertahankan generasi penerus yang telah diidam-idamkan untuk menjadi satu tiang pengokoh bangsa. Namu kenyataan yang terlihat sekarang justru berbanding terbalik.

Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa pemuda Indonesia nampaknya mulai jenuh dengan keadaan yang ada di sekelilingnya. Kejenuhan tersebutlah yang menjadi pemicu timbuhlnya tindakan-tindakan tak bermoral yang awalnya hanya mereka anggap sebagai kegiatan untuk mengurangi rasa bosa yang melanda.

Kasus seperti narkoba, mabuk-mabukan bahkan hingga kriminalitas, bukan karena mereka tak mengerti dampat negatif dari apa yang mereka lakukan, tetapi karena mereka merasa bahwa mungkin mencoba hal tersebut akan memberi kepuasan batin tersendiri. Nyatanya itu adalah sebuah kesalahan besar.

Kadang kita perlu belajar dari masa lalu, walau pada prinsipnya jangan terlalu terpaut pada masa lalu dan enggan melangkah ke depan. Pribadi yang bijak akan bisa menilai tentang mana-mana yang harus dan perlu dilakukan, serta tahu mana hal yang perlu dihindari. Tapi nampaknya apa yang seharusnya dihindari justru memberi ketertarikan sendiri pada mereka. Karena memang sikap seorang pemuda (remaja) cukup labil dalam menyikapi suatu keadaan. Dan di sinilah, saatnya seorang pemuda mempelopori kebangkitan kaumnya.

Andai aku menjadi presiden. Begitu judulnya, tapi sebelum memimpin negeri luas ini, aku akan mencoba untuk memimpin diri sendiri. Andaikan setiap orang di negeri ini memiliki keinginan yang sama, yaitu untuk memimpin diri mereka menjadi pribadi dengan nasionalisme tinggi, pastilah identitas diri bangsa ini tidak akan tergilas oleh maraknya kebudayaan asing yang beberapa waktu ini mulai masuk ke sela-sela pendirian bangsa yang merapuh.

Memipin diri sendiri, mempersiapkan segalanya untuk mengambil satu langkah ke depan yang akan membawa perubahan besar. Perubahan besar tak selalu dimulai dengan langkah yang besar, karena langkah sekecil apa pun saat kita bersungguh-sungguh maka perubahan besar yang positif itu pun akan terjadi.

Setelah belajar memimpin diri sendiri, saat tiba masa ada panggilan untuk memimpin Negeri ini, maka hal pertama yang akan dilakukan adalah dengan membuka mata dan telinga para masyarakat, khususnya kalangan muda agar mereka melihat, mendengar dan menjadi tahu bahwa Bangsa ini patut untuk kita banggakan.

Ketika rasa bangga pada Negeri ini timbul, maka bersamaan dengan itu akan timbul rasa nasionalisme serta keinginan besar untuk terus menjaga apa yang telah melekat pada diri kita, Bangsa Indonesia. Keragaman bahasa, adat dan kesenian tentu akan membawa keunikan tersendiri. Sebenarnya dapat dilihat bahwa bangsa lain begitu tertarik dengan keaneka ragaman kebudayaan Indonesia. Sebagai contoh saja gamelan. Bahkan di daratan Eropa dan Amerika telah berdiri sanggar-sanggar karawitan yang tentu hadir karena begitu banyak peminat terhadap kesenian tersebut. Lantas kenapa bangsa ini seolah menelantarkannya?

Dapat terlihat dari banyaknya kasus pengatasnamaan kebudayaan Indonesia oleh bangsa asing. Setelah itu terjadi, barulah masyarakat ini berbondong-bondong untuk menarik kembali kebudayaan yang hampir ‘dicuri’ tersebut. Namun setelahnya mereka lalai kembali dan kejadian serupa pun terulang kembali.

Hal seperti itu bila dibiarkan akan semakin meradang dan menjadi kebiasaan yang kurang baik. Kenapa tak mulai menjaga sebelum punah? Kenapa tak mulai membudidayakan sebelum hilang? Itu adalah satu pandangan yang memberi pemikiran tersendiri bagiku.

ANDAI AKU JADI PRESIDEN, AKAN AKU CIPTAKAN MASYARAKAT YANG MENCINTAI BANGSANYA. Bagaimana caranya? Seperti yang telah dijelaskan di atas. Tentu dengan membantu mereka membuka mata, membantu mereka membuka telinga agar mereka tahu bahwa BANGSA INI PATUT UNTUK DIBANGGAKAN.

Satu agenda yang benar-benar diharapkan untuk terlaksana saat AKU MENJADI PRESIDEN  adalah dengan mengadakan HARI KESENIAN SE-INDONESIA. Satu program kerja dimana semua masyarakat dari semua kalangan berhenti sejenak dari aktivitas kesehariannya untuk melihat pagelaran kesenian di daerah masing-masing. Dengan diadakan secara rutin, memungkinkan hal tersebut bisa menumbuhkan rasa ‘ingin’ untuk bisa melihat kembali kesenian daerah tersebut.

Menumbuhkan seniman-seniman berbakat di masa depan. Kalau boleh saya berbicara tentang ‘seandainya’, maka seandainya saya bisa, SAYA INGIN MENJADI PRESIDEN YANG MEMILIKI JIWA SENI UNTUK IKUT MEMBUDIDAYAKAN KESENIAN BANGSA INI. Bukan sekedar pemimpin yang berkata ‘mari cintai kesenian Indonesia’, karena sebenarnya aksi itu lebih baik daripada opini.


18 comments:

Silakan tinggalkan komentar. Boleh kritik, saran atau apapun.. Jangan lupa untuk selalu menggunakan kata-kata yang santun. Terima kasih.