Rindu Patah Hati

8:56 AM Nur Mumtahana 0 Comments




Remaja jatuh cinta? Itu sudah biasa. Patah hati, juga biasa. Tapi bagaimana kalau seorang remaja tak pernah jatuh cinta dan rinduk akan arti sebuah patah hati?

Pernah ada cerita, tentang seorang perempuan yang sangat menyukai seorang laki-laki. Laki-laki tersebut telah membuatnya jatuh cinta sejak pertama kali bertemu. Cinta pada pandangan pertama sebutannya. Dan sejak saat itulah hati perempuan tersebut selalu dibuat berdebar-debar, bergemuru setiap bertemu dengan laki-laki yang dicintainya.

Jatuh cinta begitu indah, katanya. Hati berbunga-bunga dan terasa dibawa terbang ke tempat paling indah dengan beribu cahaya yang menyinari hari-harinya. Kebahagiaan yang terus membawanya terbang tinggi membuat ia lupa bahwa suatu saat sinar yang terang pun bisa redup. Bahkan ketika burung mengangkasa pun ia bisa terjatuh kapan saja. Namun perempuan itu seolah tak peduli dengan apa-apa yang akan dirasakannya nanti.

Kebahagiaan itu semakin memuncak, dan jika tak bertemu dengan si laki-laki maka rasa rindunya menggunung. Dan dia pun mulai menerkan, dimana kira-kira si laki-laki yang dicintainya itu berada? Dicari di setiap sudut tempat mereka biasa bertemu. Namun tetap tak ada. Akhirnya si perempuan merasa hidupnya begitu hampa. Setiap saat membayangkan masa-masa dimana dia bertemu dengan laki-laki tersebut. Bahkan dia seperti perempuan yang dipatahkan hatinya, padahal belum sekalipun dia mengungkapkan perasaan.


Dan suatu hari datanglah kesempatan dua remaja itu bertemu. Si perempuan masih terus memendam rasa kagumnya. Sementara si laki-laki berlalu begitu saja tanpa mengetahui bahwa ada orang yang begitu kagum terhadapnya.

Perempuan selalu mengelak saat kenyataan memaksanya mengunkapkan perasaan terlebih daluhu. Gengsi, begitulah. Masa perempuan yang bilang duluan? Hampir semua perempuan pernah berkata seperti itu, kecuali jika si laki-laki punya nyali besar untuk mengungkapkan perasaannya terlebih dahulu. Tapi kali ini si perempuan berusaha memberi ‘kode’ kepada si laki-laki untuk mengisyaratkan ‘aku mencintamu’. Sungguh disayangkan, keberanian perempuan itu berbuah pahit getir. Belum sempat bicara sampai pada pokok bahasan, si laki-laki sudah meninggalkannya lebih dulu. Dan gawatnya lagi, si laki-laki menunjukkan sikap yang menegaskan bahwa dia tidak menyukai si perempuan.

Akhirnya si perempuan itu merasakan patah hati. Remuk semua. Masa-masa indah saat pertama bertemu seolah jadi kambing hitam di kehidupannya masa kini. Seolah-olah semua cahaya terang itu redup seketika, dan dirinya yang terbang mengangkasa terjatuh begitu saja, menukik seperti burung yang hendak menerkam mangsa, tapi tak kenyang yang dirasa, justru putus asa dan kecewa yang menjadi raja.

Pelajaran baru didapatkan oleh si perempuan. Kenyataan bahwa melupakan seseorang yang pernah menyakiti itu lebih sulit ketimbang melupakan orang yang pernah membuat hidup bahagia. Dan memang sulit melupakan laki-laki yang telah berhasil meremukkan hatinya hingga hancur seperti abu. Biar banyak laki-laki yang berlalu lalang di hadapannya, seolah-olah mereka semua tak nampak. Hatinya yang hancur masih kukuh untuk dia persembahkan pada si pembantai hati.

Satu, dua, tiga tahun tak cukup untuk menghapus bersih nama si laki-laki dari ingatannya. Dan begitu tahun keempat sejak tragedi patah hati tersebut, si perempuan mulai berhasil melepaskan diri dari jerat-jerat masa lalunya. Dia membangun hati yang baru untuk dipersembahkan pada orang lain yang akan membalas cintanya. Namun setelah ditunggu orang tersebut tak kunjung datang.

Hingga kini hatinya masih kosong. Ia rindu dengan masa lalunya. Rindu dengan masa-masa dimana dia sedang jatuh cinta. Rindu dengan masa-masa dimana selalu memata-matai orang yang dirindu setiap malam. Bahkan si perempuan rindu bagaimana rasanya patah hati.

Hah? Kaget? Ini tidak salah dan bukan rekayasa. Memang ada orang yang rindu akan rasanya patah hati setelah sekian lama hatinya kosong. Ingin jatuh cinta tapi tidak ada orang yang bisa dijatuhi cintanya. Jadi patah hati pun tak mengapa. Bagaimana caranya untuk bisa merasakan patah hati?

Si perempuan itu tak pikir panjang. Akhirnya demi merasakan sensasi patah hati di masa lalu, dia mencoba kembali untuk mencintai orang yang tidak mencintainya. Tapi siapa sangka, ternyata laki-laki itu membalas cintanya.

Baiklah, ternyata cinta tidak selalu seperti apa yang diharapkan. Ketika ingin bahagia, mungkin berakhir lara. Tapi saat dirinya siap untuk dikecewakan, justru kebahagiaan yang mendekap.

Akhir yang indah untuk sebuah perjuangan perasaan. Karena memang benar, setiap apa yang kita rasakan patut untuk disyukuri. Mungkin saja, suatu saat nanti kita akan merindukan apa-apa yang sedang dirasakan masa kini. Bahkan saat manis terus menyelimuti hidup kita, maka pahit itupun akan dirindukan.

0 comments:

Silakan tinggalkan komentar. Boleh kritik, saran atau apapun.. Jangan lupa untuk selalu menggunakan kata-kata yang santun. Terima kasih.