KATA SEIRAMA NADA

7:03 AM Nur Mumtahana 0 Comments




Cinta sejati adalah ketika kita merasa gembira melihat orang yang kita cintai hidup dengan bahagia. Lalu kita mencoba untuk membahagiakan diri tanpa mengurangi kebahagiaan orang yang kita cintai.
Tatapan mata Deden terfokus pada tulisan di atas sobekan kertas putih yang sudah lusuh. Laki-laki bertubuh tinggi dengan kulit sawo matang itu tak pernah seserius ini dalam memperhatikan sesuatu. Bahkan perempuan cantik pun hanya dia pandang sebentar kemudian berlalu.
“Hei!” seru Gio, sahabat Deden. Teman sekelasnya sejak SMP hingga SMA saat ini, “Sedang apa? Sok serius.” Candanya.
Deden yang memang sedang serius jadi merasa terganggung dengan kehadiran sahabatnya yang memang jahil tersebut, “Kau ini, mau tahu urusan orang saja.”
Lalu Gio duduk di sebelah Deden dan ikut memperhatikan tulisan di dalam sobekan kertas tersebut. “Puisi ya?” tanyanya sok tahu, “Atau surat cinta? Siapa yang menulis?”

Deden hanya mengangkat bahu, “Entah siapa yang menulis. Aku menemukannya di dalam buku yang aku pinjam di perpustakaan.”
“Jadi, apa tulisan itu mempengaruhi pikiranmu sekarang?” Gio terkesan sangat bawel saat dirinya mulai mendapati hal-hal aneh di sekitarnya.
Deden menatap tajam orang di sebelahnya, “Tentu saja.” Katanya, “Aku kan sedang mencari orang yang bisa menulis syair untuk instrumen yang sudah aku buat.” Deden memanglah seorang musisi. Keahliannya dalam bermusik tidak perlu diragukan lagi. Hampir semua alat musik bisa dimainkannya. Tapi untuk sebuah karya yang ingin dia ciptakan, ada satu unsur yang tidak dimiliki. Ia bukan orang yang puitis dengan segudang kata romantis untuk mengiringi alunan instrumen musik ciptaannya.
“Jadi kau akan mencari orang itu?!” begitu terkejutnya Gio.
“Tentu saja.” Ujarnya dengan penuh keyakinan, “Dan itu pasti akan lebih mudah kalau kau mau membantuku.”
Walaupun Gio sering membuat Deden kesal dan sikap jailnya selalu menjengkelkan, tapi tetap saja dia sahabat yang terbaik. Dia tidak bisa berkata tidak saat Deden meminta bantuan.
***
Siangnya sepulang sekolah mereka menuju ke perpustakaan umum yang ada di perimpangan jalan utama. Kalau dilihat daftar peminjam yang ada di buku tersebut, dua minggu lalu Deden yang meminjam, dan setelah dikembalikan ada anggota perpustakaan dengan nomor anggota 11117864 yang meminjamnya. Lalu saat buku itu dipinjam kembali oleh Deden, ditemukanlah catatan kecil tersebut.
Deden langsung menghampiri bagian peminjaman buku untuk mengetahui siapa orang yang menulis catatan tersebut.
“Apa saya boleh tahu siapa nama anggota dengan nomor 11117864?” tanya Deden.
“Kalau boleh tahu untuk keperluan apa?”
Sekarang Deden harus sibuk mencari alasan yang logis, “Jadi ada nota penting milikku yang tertinggal di dalam buku itu sebelum dia pinjam. Mungkin orang tersebut masih menyimpannya.”
Lalu dicarinya pemilik nomor keanggotaan 11117864 di komputer milik bagian peminjaman buku tersebut. “Namanya Alin. Alamatnya Jalan Garuda 23.”
“Apa ada nomor telpon yang bisa dihubungi?”
Lalu diberikannya nomor telpon milik orang bernama lengkap Alin Dyasta tersebut.
“Terima kasih.” Ucap Deden. Lalu ia segera keluar dari perpustakaan.
Sambil berjalan dia coba untuk menghubungi nomor tersebut. Tersambung, namun tak diangkat. Lalu dicobanya lagi. Kali ini diangkat, tapi tidak ada seseorang yang bicara.
“Halo?” kata Deden. Tapi tetap saja orang di seberang sana hanya diam tanpa suara. Akhirnya Deden tutup telponnya.
“Bagaimana, tersambung?” tanya Gio yang berjalan selangkah di depannya.
“Tersambung. Sudah diangkat juga, tapi tidak ada yang bicara.” Akhirnya Deden mencoba mengirim SMS.
-          Apa benar ini nomor telpon Alin Dyasta?
Tak lama setelah itu pesan balasan datang.
-          Iya. Ini dengan siapa?
-          Namaku Deden. Bisa kita bertemu? Ada hal yang ingin aku bicarakan. Penting.
-          ???
-          Aku sudah dapat alamat rumahmu. Sekarang aku menuju kesana.
Lalu percakapan lewat SMS itu berakhir. Langsung dengan angkutan umum Deden dan Gio menuju rumah Alin. Begitu ketemu rumah dengan alamat Jalan Garuda 23, langsung diketuk pintu rumah tersebut.
Seorang perempuan berambut ikal sebahu dengan t-shirt abu-abu dan celana jeans sepanjang lutut keluar dari dalam rumah.
“Ini benar rumah Alin?” tanya Gio.
Perempuan itu mengangguk.
“Kau Alin?” kali ini gantian Deden yang bertanya. Dan dijawab lagi pertanyaan itu dengan anggukan.
Rasanya tidak enak juga kalau bicara sambil berdiri, “Boleh kita duduk?” Gio benar-benar tak pernah merasa malu atau tak enak hati untuk mengutarakan isi hatinya. Dan Alin mengangguk lagi. Mereka pun duduk di dalam ruang tamu.
“Kau sering datang ke perpustakaan ya?” sebisa mungkin Deden mencari bahan obrolan yang pas dapat tertuju pada arah pembicaraan yang diinginkannya.
Alin mengangguk.
“Kau suka membaca buku apa?”
Tiba-tiba Alin menjawab pertanyaan tersebut dengan isyarat tangan. Bersamaan dengan itu Deden dan Gio mengetahui kalau Alin tidak bisa berbicara. Itu sebabnya saat telpon diangkat dia tak berkata apa-apa. “Aku suka membaca novel dan kumpulan puisi.”
Untunglah Deden tahu sedikit tentang isyarat-isyarat seperti itu mengingat adiknya juga adalah seorang tunarungu sekaligus tunawicara. Tapi Alin tetap bisa mendengar. Mungkin gangguan hanya terjadi pada pita suara.
“Jadi kau yang menulis ini?” ditunjukkannya sobekan kertas yang Deden temukan di dalam buku.
Alin mengangguk. Masih dengan ekspresi datar. Dia memang belum tahu arah pembicaraan Deden.
“Aku menyukainya.” Kata Deden, “Kata-katanya begitu komunikatif tapi tetap puitis.”
“Jadi apa yang sebenarnya kita bicarakan?” dengan bahasanya Alin mencoba memecahkan kebingungan yang dia rasakan.
“Aku membuat banyak sekali instrumen musik. Aku ingin menciptakan lagu, tapi belum ada liriknya. Dan aku pikir kau bisa membantuku.”
“Apa aku bisa?” terlihat sedikit rasa minder dari raut wajah Alin.
“Tentu.” Kata Deden meyakinkan. “Kita bisa mencobanya bersama-sama.”
Melihat kepercayaan yang diberikan Deden benar-benar membuat Alin bersemangat. Rasa percaya dirinya kini tumbuh kembali. Bahkan ia merasa bahwa keterbatasan yang dimilikinya tidak akan memutuskan mimpi masa lalu yang hampir dia kubur.
***
Dalam semalam Alin telah menyelesaikan satu judul lirik lagu yang akan diiringi instrumen musik ciptaan Deden. Dan sore itu mereka bertemu di depan sekolah Deden. Alin membawa lirik lagunya dan Deden memberikan kaset berisi instrumen musik yang sudah dia buat sejak lama.
Akhirnya mereka pulang ke rumah masing-masing setelah berjanji akan bertemu hari minggu nanti di kafe untuk membahas tentang lirik lagu dan instrumen agar bisa diselaraskan.
Pertemuan tak selamanya dari sebuah kebahagiaan. Bahkan ketika sebagian dalam diri ini hilang. Ketika aku menjadi begitu lemah, aku tahu dia ada untuk memberi kekuatan. Tak perlu takut jika hidup ini akan penuh dengan kesedihan, karena kuyakin dia ada untuk membuatku bahagia. Tangis ini hanya sedikit sandiwara agar tangannya mau menghapus air mata yang mengalir. Ataupun rasa pilu yang meradang pastikan hanya selimut dingin untuk dia gantikan dengan tatapan hangat penuh makna.
Lebur emosi bersama rasa yang datang, karena jika ini untuk sementara biarkan aku terbuai dibuatnya. Kalaupun ternyata keabadian menyertaiku, biar saja kebahagiaan terus ada untuk menjadi pendamping hidupku.
“Bagus.” Kata Deden. “Sepertinya ditulis dari hati yang paling dalam.” Puji Deden setelah membaca deretan kata-kata tersebut.
Alin hanya terdiam malu dengan senyum tipis di bibirnya. Lalu tangannya mencoba menyampaikan, “Aku juga suka dengan instrumen musik yang kau buat. Karyamu mirip seperti karya-karya Beethoven. Tanpa lirik, tapi tetap bisa menyampaikan pesan. Jadi aku tulis sesuatu yang semoga saja pas dengan yang kau harapkan.”
“Itu instrumen yang sudah aku buat sejak setahun lalu. Aku buat untuk seseorang yang istimewa untukku.”
Alin tersenyum, “Aku juga menulis syair itu untuk seseorang yang istimewa untukku. Untukmu.”
Deden tertegun sejenak. Benarkah bahwa apa yang ditulis Alin adalah untuknya? “Kenapa aku istimewa untukmu?”
“Karena kau telah membantuku. Mengembalikan semangat untuk bisa bangun dan meraih impian. Kau menyadarkanku bahwa keterbatasan yang aku miliki tidak akan menghambatku menjadi seorang penulis. Aku masih memiliki tangan yang bisa menyampaikan segala sesuatu yang ingin kukatakan.”
Melihat semangat dari dalam diri Alin juga mengalirkan semangat tersendiri di dalam benak Deden. Dia senang, paling tidak apa yang dikatakannya telah sedikit membantu orang lain belajar untuk tidak menyerah terhadap sebuah impian.
“Aku sama denganmu. Aku tak pandai berucap, tapi aku bisa berkata lewat instrumen yang aku ciptakan. Dan itu artinya kita memang sama dan bisa terus bersama-sama.”
Alin mengangguk. Bahagia dan merasa beruntung. Mungkin memang begini yang seharusnya terjadi. Seperti apa yang dia tulis. Saat kita merasa begitu lemah, yakinlah bahwa akan ada seseorang yang datang untuk menjadi kekuatan untuk diri ini.
Dan benar saja. Musik karya Deden dipadukan dengan lirik yang ditulis Alin akhirnya bisa menjadi lagu yang dikenal dan dicintai banyak orang.
__END__

0 comments:

Silakan tinggalkan komentar. Boleh kritik, saran atau apapun.. Jangan lupa untuk selalu menggunakan kata-kata yang santun. Terima kasih.