Ketika Dua Sahabat Kita Bertengkar

10:42 PM Nur Mumtahana 0 Comments


Masa muda itu masa yang indah. Kita mulai mengenal dunia yang lebih luas. Semakin banyak orang yang kita kenal, dan semakin banyak teman yang kita miliki. Ketika seorang teman memutuskan untuk menjadi sahabat, itu adalah hal yang baik. Karena terkadang tidak semua teman bisa menjadi tempat kita berbagi. Terkadang yang terdekatlah yang akhirnya bisa benar-benar mengerti tentang kita dan dipercaya untuk menjadi pengiring hari-hari kita.

Persahabatan bisa menjadi pelengkap, atau bahkan hal terpenting dalam kita menjalani masa muda. Melalui hal-hal yang menyenangkan bersama. Bermain, belajar sampai membuat masalah. Tak ada remaja yang tak pernah memiliki masalah dalam hidup. Sebagian dari masalah itu bisa ditimbulkan dari banyak hal. Mulai dari masalah keluarga, masalah di sekolah atau masalah dengan sahabat sendiri. Dan di sini, dari apa yang sedang saya lihat adalah masalah yang sedang dihadapi dua sahabat saya.


Sebagai inisial sebut saja Am dan Ar. Mereka berdua sahabat saya, sahabat sejak SD dan alhamdulillah masih sering kumpul-kumpul sampai sekarang. Saya tidak tahu apa-apa, tapi tiba-tiba sore tadi saya mendapati ada semacam perang di antara mereka. Begini kronologis ceritanya. Tadi malam (28/5) Ar mengajak saya berenang, tapi karena saya sedang ada tamu bulanan, akhirnya saya tidak menyanggupi untuk ikut. Jadilah saya di rumah. Sore tadi (29/5) Ar mengunggah fotonya yang sedang berenang,
lalu disusul komentar dari Am. Dari situ saya melihat kalau Am nampaknya marah pada Ar dengan alasan tidak diajak direnang, padahal hari itu pas kebetulan dia lagi pulang kampung (biasanya dia kuliah di luar kota). Am bilang kalau dia SMS Ar, tapi tidak dibalas. Sedangkan Ar berkata bahwa dia tidak dapat SMS sama sekali. Ar mencoba meminta maaf, tapi nampaknya kekesalah Am tidak hilang juga.


Saya tidak mau ikut-ikut, karena saya memang tidak tahu detail permasalahannya. Ya sudah, saya kabur saja dari obrolan-obrolan barusan. Kemudian tak lama setelah itu Am SMS pada saya, seperti biasa. Sekedar curhat ala anak remaja. Ya begitulah, menyampaikan keluh kesah, kritik dan saran. Tapi saya tanggapi itu setenang mungkin. Memastikan agar suasana hatinya tidak semakin memanas.

Sedikit tips untuk menghadapi masalah semacam ini. Ketika akhirnya dalam hubungan persahabatan terbagi dalam dua kubu dan teman-teman berada di tengah, cobalah untuk menjadi bijaksana. Jangan membuat suasana semakin panas, apalagi mengadu domba. Cobalah untuk sedikit memberi arahan. Sampaikan hal-hal yang positif, buat agar kedua pihak mau berintrospeksi diri. Tanggapi setiap aduan mereka dengan kepala dingin. Ingat, jangan memihak siapapun, karena posisi teman-teman di sini adalah sebagai penengah. Kalau diistilahkan, teman-teman adalah lem yang akan merekatkan gelas pecah.

Namun dalam memberi nasihat dan saran, teman-teman jangan terlalu menunjukkan sikap penuh ambisi. Walaupun maksud yang teman-teman ingin sampaikan itu baik, tapi cobalah untuk memulai dengan hal yang paling sederhana. Buat agar mereka yang sedang bertengkar dan mengadu kepada teman-teman berada dalam kondisi pikiran yang tenang. Setelah bisa dilanjutkan dengan mendengarkan setiap curhatan mereka. Kenali pokok permasalahan versi Ar dan Am. Dengan begitu memungkinkan bagi teman-teman untuk mengambil kesipulan terhadapa apa yang terjadi.

Dalam permasalah di sini, saya mencoba menjelaskan kepada Am :
Mungkin provider telponnya sedang ada gangguan, jadi SMS yang dikirim tidak sampai. Saya juga pernah mengalami hal seperti itu.

Saya juga mencoba mejelaskan kepada Ar :
Lebih baik minta maaf. Cobalah untuk membuat Am merasa bahwa dirinya tetap kamu anggap sebagai sahabat. Cobalah untuk mencairkan suasana. Kalau dia marah karena tidak diajak keluar hari ini, cobalah untuk mengajaknya besok atau lusa sebagai ganti untuk hari ini.

Saya menyimpulkan, bahwa di sini Am terlalu kekanak-kanakkan dalam menghadapi hal tersebut. Tapi karakter orang memang tidak bisa di salahkan, jadi tinggal pintar-pintarnya kita untuk mengimbangi. Jangan takut untuk mengalah, dan jangan pula ragu untuk minta maaf. Dengan merendah dan meminta maaf (apalagi kalau kita benar-benar salah) kita mampu membuat lawan bicara kita ikut berinstropeksi terhadap amarah yang melandanya.

Mungkin itu sedikit cerita dan tips yang bisa saya bagi. Semoga bermanfaat. Dan jaga terus ikatan dengan orang-orang tercinta, karena mereka - kalian ada...

0 comments:

Silakan tinggalkan komentar. Boleh kritik, saran atau apapun.. Jangan lupa untuk selalu menggunakan kata-kata yang santun. Terima kasih.