Menulis Itu Tidak Instan

8:01 PM Nur Mumtahana 0 Comments


Pertama menulis judul. Lalu terhenti seminggu. Dilanjut dengan menulis bab 1. Baru dapat beberapa kalimat langsung dihapus. Diketik lagi, dihapus lagi. Ketik lagi, hapus lagi. Akhirnya ditulis apapun yang ada di kepala, karena kita sudah tidak sabar untuk menuju inti cerita yang memenuhi otak.

Tik tik tik tik....
Ketik-ketik-ketik sampai halaman 20. Berlanjut terus sampai halaman 30, 40 dan sampai hampir 50. Sudah mulai masuk ke konflik, menyenangkan. Tapi tiba-tiba kita kehabisan ide, bagaimana cara menyelesaikan konfliknya? Sepertinya kalau konflik seperti ini kurang bagus. Tapi enaknya bagaimana ya? Akhirnya dihapus lagi...

Antar bab jadi tidak ada keterkaitan. Alur cerita jadi berkesan pasaran dan mudah ditebak. Mulai merasa kesal dan jenuh dengan apa yang kita tulis. Mendadak semua ide terbang entah kemana dan tulisan terlantar karena kita enggan untuk melanjutkan cerita yang mulai rancu alurnya.


Itu hanyalah gambaran singkat dari proses menulis. Sebenarnya kalau dijabarkan itu saaaaangaaaatttt panjaaaaang.... Tapi saya tidak mau menguraikannya karena saya sendiri sudah tidak sabar untuk membahas inti dari tulisan ini.

Sebagai penulis pemula, saat memang sering menemui kesulitan dalam menulis. Dimulai dari mencari judul yang pas, penggambaran tokoh agar terlihat riil, awal menulis paragraf pertama, menciptakan konflik, membuat penyelesaian masalah, sampai penentuan ending. Dari sekian banyak cerita yang saya tulis, separuh di antaranya adalah cerita yang tidak memiliki ending. Banyak tulisan-tulisan yang terbengkalai karena kehabisan ide di tengah-tengah cerita. Dan itu sangat menyebalkan. Lalu bagaimana cara mengatasinya?

Dari sumber-sumber yang saya cari, akhirnya ketemu juga cara ampuh untuk membantu proses penulisan buku agar lebih mudah dan terarah alur ceritanya. Yaitu dengan membuat outline. Outline itu sendiri bisa diartikan sebagai garis besar cerita yang dibuat perkelompok bab. Jadi kita tulis bagian-bagian penting atau inti cerita dari setiap bab yang akan kita tulis. Jadi dengan membuat outline terlebih dahulu, kita telah memiliki panduan dalam menulis. Sebelum membuat outline, alangkah baiknya kalau kita juga membuat deskripsi tentang penokohan agar di dalam menulis cerita kita bisa menunjukkan karakter yang kuat terhadap tokoh-tokoh yang muncul di dalamnya.

Setelah membuat deskripsi karakter penokohan dan outline, sudah pasti kita tinggal mengembangkan tiap-tiap bagian penting dalam cerita agar saling berhubngan. Jangan terburu-buru dalam menulis. Pastikan kalau kita bisa membawa imajinasi para pembaca ke dalam cerita yang kita tulis. Buat para pembaca terhanyut terlebih dahulu, dan ini juga menjadi bagian yang cukup menantang. Kita harus bersabar dan bisa menahan diri untuk tidak berambisi segera memasuki bagian konflik atau klimaks dalam cerita. Sesekali lihat kembali otuline yang telah kita buat untuk mengembangkan ide ceritanya.

Setelah disajikan pengantar cerita yang mampu menarik perhatatian pembaca, mulailah untuk membawa cerita ke dalam suasana yang lebih panas dengan menimbulkan konflik-konflik. Dan ketika sampai pada klimak cerita, cobalah untuk menyajikan totalitas dalam menulis, terutama untuk mengungkapkan inti dari cerita tersebut. Dilanjutkan dengan pemecahan konflik yang mampu memberi perasaan puas pada si pembaca. Ditambah dengan ending tak terduga yang mampu memberikan kejutan. 

Menulis cerita dengan alur yang tidak pasaran dan ending yang tidak mudah ditebak menjadi poin tersediri. Memang menjenuhkan ketika banyak cerita dengan alur yang sama dan dengan akhir yang sama pula. Oleh karenanya, mulailah menggali imajinasi. Lebih banyak membaca, melihat dan mendengarkan. Dengan begitu banyak pula ide-ide baru yang mampu kita jadikan acuan dalam menulis.

Hingga saat ini saya juga sedang mencoba metode tersebut. Jadi bersama-sama kita belajar karena sebenarnya belajar tidak terbatas bagi siapapun sampai kapapun.

0 comments:

Silakan tinggalkan komentar. Boleh kritik, saran atau apapun.. Jangan lupa untuk selalu menggunakan kata-kata yang santun. Terima kasih.