Ketika Hujan Menghapus Jarak

10:10 AM Nur Mumtahana 2 Comments

Aku bahkan masih belum percaya kalau sudah hampir tiga tahun aku menanggalkan seragam putih abu-abuku. Kini aku tak bergelut dengan pekerjaan rumah atau ulangan harian, tapi semua yang aku lakukan selalu dikejar dengan deadline yang tak ada habisnya. Satu pekerjaan selesai, pekerjaan yang lain datang. Selalu seperti itu, silih berganti bagai musim yang tiada berakhir.

Satu hal yang aku syukuri siang ini adalah hujan deras yang menyebabkan aliran listrik padam. Alhasil semua pekerjaan harus tertunda. Manusia zaman sekarang memang tak bisa beraktivitas tanpa listrik. Dan setidaknya padamnya listrik hari ini bisa membuatku rehat sejenak sembari menikmati hujan deras di luar sana dari balik jendela yang berada tepat di sebelah meja kerjaku.

Tiba-tiba pikiranku terbang, seperti mengendarai mesin waktu dan pergi ke masa lalu.

Ketika tirai jendela berwana hijau melambai-lambai terkena tiupan angin dari luar sana. Semua teman-temanku meminta agar aku tutup jendela yang berada tepat di sebelah bangkuku, tapi aku mengabaikan mereka. Sementara yang lain berusaha mencari kehangatan sembari menunggu hujan reda dan bersiap untuk pulang, aku justru memasang wajah menantang cuaca di luar sana. Entah mengapa, dinginnya hujan dan gemercik air yang sedikit menyiprat ke wajahku justru memberikan rasa sejuk yang luar biasa hingga ke lubuk hatiku.

Tidak ada yang lebih baik ketimbang melamun di tengah cuaca seperti ini. Namun tiba-tiba lamunanku buyar ketika kudapati segerombol siswa laki-laki berlari ke lapangan upacara yang berada tepat di sebelah kelasku. Dari tempatku, aku bisa melihat mereka mulai menendang bola. Ya, mereka bermain sepakbola di tengah lapangan yang tergenang air beberapa senti. Aku yakin kalau menendang boda di tempat seperti itu akan sangat sulit, tapi hal tersebut tidak menyurutkan semangat mereka.

Dari belasan anak laki-laki itu, hanya ada satu yang menarik perhatianku. Laki-laki berpostur tinggi besar dengan kaos merah tanpa lengan. Entah mengapa setiap kali aku melihat sosok itu, jantungku berdebar-debar begitu hebat, bahkan kerap kali aku merasa seperti tercekik dan sesak nafas. Sejujurnya tak ada hal istimewa darinya. Dia tak cukup tampan jika dibandingkan dengan siswa laki-laki lainnya. Dia juga tak cukup pandai mengingat beberapa kali kulihat namanya di papan pengumuman nilai ulangan semester. Bahkan aku tak pernah tahu tentang latar belakang keluarganya. Tapi ada satu hal yang menjadikan dia begitu istimewa. Satu hal yang hingga detik itu aku tak mengerti.

Pada hari dan tempat yang berbeda, namun hujan masih tetap menjadi cerita yang sama antara aku dan dia. Ketika semua orang berteduh di dari hujan deras sore itu, sepulang sekolah, aku justru melihatnya berjalan menerjang tegas seperti orang yang akan maju perang. Dari ujung rambut hingga ujung sepatunya basah. Satu-satunya hal yang membuat sibuk pikiranku adalah tentang bagaimana dia akan berangkat besok pagi? Seragam basah, sepetu basah dan tas yang basah beserta isinya. Bagaimana nasib buku-buku di dalam tasnya yang berbahan kain tersebut?

Semua pertanyaanku terjawab keesokan harinya. Dia berangkat dengan seragam olahraga sementara siswa lainnya mengenakan seragam putih abu-abu di hari selasa. Dia dihukum karena hal tersebut, tapi melihat bagaimana caranya menyapu halaman sekolah, kutahu bahwa dia sangat menikmati momen-momen itu. Tapi hal terbaik yang aku dapatkan adalah ketika aku bisa dihukum bersamanya karena hari ini aku terlambat setelah sibuk mengeringkan sepatu yang basah sejak semalam.

"Kau dihukum karena memakai seragam yang tidak sesuai?" aku mencoba menanyakan sesuatu yang sebenarnya sudah aku ketahui. Dia hanya mengangguk sambil terus menyapu bersih daun-daun di halaman sekolah, Aku tak puas dengan jawaban seperti itu. Kucoba untuk mengajukan pertanyaan lain, "Lalu bagaimana dengan semua buku pelajaranmu? Apakah ikut basah bersama hujan kemarin?"

Seketika itu sorot mata tajam langsung tertuju padaku. Bahkan ini adalah pertama kalinya bagiku menatap matanya secara langsung. Jatungku berdebar-debar dua kali lebih kencang daripada debaran jantungku saat melihatnya dari kejauhan, "Bagaimana kau tahu kalau aku kehujanan kemarin?"

Aku harus jujur atau bohong? Aku tahu tak ada pilihan yang akan menguntungkan diriku, jadi aku berusaha untuk mengatakan yang sesungguhnya, "Aku melihatmu." kataku dengan ragu-ragu, tapi aku terus mencoba untuk mengutarakan semuanya, karena mungkin saja ini adalah satu-satunya kesempatan yang aku miliki, "Dan aku mengikutimu. Di belakangmu. Semua itu menjadikan sepatuku basah dan butuh waktu semalaman untuk mengeringkannya dengan kipas angin. Aku bahkan bangun kesiangan dan harus dihukum menyapu halaman sekolah. Bersamamu."

Satu hal yang mengagetkanku dan hampir membuatku jatuh pingsan. Tiba-tiba laki-laki bernama Ali itu tersenyum, "Kupikir hanya aku orang yang berani menerjang hujan lebat sementara yang lainnya berusaha berlindung di tempat yang kering."

Saat itulah aku tahu bahwa hujan selalu memberikan waktu bagiku untuk bisa melihatnya lebih jelas ketimbang saat hari cerah. Saat hujan tak banyak orang yang berlalu lalang di antara kami. Dan aku pun tahu, bahwa hujan adalah satu hal yang menjadikanku terus memperhatikannya. Karena satu hal yang aku sukai darinya adalah ketika rambutnya basah terkena siraman air dari langit. Hujan menyatukan hatiku dengan hatinya, seperti bagaimana ia menyatukan langit dengan bumi. 

Langit dan bumi yang begitu jauh dapat terhapus jaraknya karena tetes-tetes air yang mengalir deras, Dan kuharap hujan itu akan menghapus jarak antara hatiku dengan hatinya yang juga begitu jauh saat ini. Bahkan hingga detik ini, setelah sekian tahu tak berjumpa, aku tak tahu keberadaannya, namun satu hal yang pasti, aku selalu merasa begitu dekat dengannya ketika hujan datang.




2 comments:

Silakan tinggalkan komentar. Boleh kritik, saran atau apapun.. Jangan lupa untuk selalu menggunakan kata-kata yang santun. Terima kasih.