Ekstrakurikuler Pemupuk Rasa Cinta Tanah Air

11:26 PM Nur Mumtahana 2 Comments


PAS-KI-BRA!!!

Siapa sangka kalau saya yang bertubuh pendek dan berfisik lemah ini memilih untuk masuk ekstrakurikuler PASKIBRA yang mayoritas anggotanya adalah siswa-siswi berpostur tinggi ideal. Mereka adalah para siswa yang punya fisik kuat, hobi olahraga dan beberapa di antaranya adalah para atlet sekolah. Sementara saya adalah siswa yang bergabung dengan PASKIBRA hanya karena ikut-ikutan teman saja. Begitulah awal ceritanya.


Perjuangan pertama saat bergabung dengan ekstrakurikuler PASKIBRA adalah saya harus memotong rambut hingga sebatas satu sentimeter di bawah telinga. Bahkan beberapa calon anggota memilih untuk mengundurkan diri karena tak rela rambut panjang mereka habis dipotong. Tapi untungnya bagi saya rambut bukanlah prioritas utama yang harus dipertahankan hanya untuk sebuah penampilan. Saya sudah terbiasa dengan rambut pendek sejak kecil. Jadi itu tidak menjadi masalah.

Sebagai anggota baru, saya merasa begitu tersiksa dengan latihan yang harus dijalani. Lari mengelilingi lapangan, pemanasan dan peregangan tubuh yang membuat badan pegal-pegal. Dan yang tambah menyiksa adalah kenyataan kalau saya dan teman-teman lainnya harus melakukan latihan di bawah siraman matahari yang luar biasa terik pada jam 2 siang.

Saat menjalani latihan, saya pernah beberapa kali pingsan karena keadaan fisik saya yang lemah. Saya sering menangis menjalani latihan yang begitu berat. Terkadang saya merasa tak mampu dan pernah berfikir untuk keluar dari ekstrakurikuler tersebut. Apalagi jika para senior sudah mulai memberi bimbingan mental, hal paling berat yang harus dijalani selama latihan. Mental kami benar-benar diasah. Caci-maki yang  kadang membuat hati kesal dan ingin menangis. Tapi semua itu harus tetap dijalani.

Setiap hari kamis dan sabtu kami menjalani latihan yang begitu berat. Kadang kami mengeluh ini dan itu. Kadang merasa kesal pada para senior dan pernah juga berfikir untuk memberontak dan keluar. Hal seperti itu sangat sering terjadi. Tapi ada sesuatu yang menarik hati kami seolah-olah tak rela untuk keluar dari ekstrakurikuler PASKIBRA. Saya mulai berfikir bahwa semua ini tidak akan terjadi selamanya. Saya mulai meyakinkan diri bahwa ada hal positif yang dapat saya ambil dari setiap keringat dan air mata yang mengucur.

Kegiatan demi kegiatan kami lalui. Mulai dari latihan rutin, pelantikan, perolehan ambalan, latihan gabungan dengan sekolah lain, hingga pada kegiatan pengukuhan yang menjadikan kami lebih mantap sebagai anggota PASKIBRA.

Ternyata dalam ekstrakurikuler PASKIBRA kami tidak melulu diberi latihan fisik dan PBB. Sebagai anggota PASKIBRA (Pasukan Pengibar Bendera) kami dituntut untuk mengenal juga sejarah Bangsa Indonesia. Mulai dari zaman penjajahan, perjuangan para pahlawan, hingga ke hari kemerdekaan di mana bendera merah putih dikibarkan. Dan tiga pengibar bendera merah putih pertama adalah tokoh yang menjadi inspirasi bagi para anggota PASKIBRA.

Yang tidak pernah terlintas dalam benak saya adalah bahwa dalam PASKIBRA ada materi tentang cara menusnahkan bendera merah putih dengan cara yang terhormat. Awalnya saya bingung, apa benar boleh memusnahkan bendera merah putih?

Boleh. Jika dalam keadaan terpaksa. Karena zaman penjajahan dulu, sebuah bendera merah putih nilainya adalah sama dengan nyaman seseorang. Bisa dibayangkan bagaimana berharganya sebuah bendera merah putih. Pada keadaan genting, dengan terpaksa masyarakat memusnahkan bendera merah putih tanpa mengurangi kehormatan bangsa. Dan cara memusnahkannya adalah dengan memisahkan bagian warna merah dan putih bendera tersebut. Warna merah dimusnahkan dengan cara dibakar sebagai simbol keberanian yang akan terus berkobar. Sedangkan warna putih dimusnahkan dengan dikubur di dalam tanah untuk menjaga kesuciannya. Saya bersyukur pernah mendapatkan pengetahuan tentang hal tersebut. Itu adalah pelajaran yang tidak akan pernah saya dapatkan di tempat lain.

Tanpa disadari, ternyata setiap materi nasionalisme yang diberikan dalam ekstrakurikuler PASKIBRA diimbangi dengan latihan fisik dan kedisiplinan membuat saya dan teman-teman lainnya menjadi lebih bersyukur bahwa kami berada pada masa di mana Indonesia telah merdeka. Membayangkan bahwa latihan fisik yang kami jalani selama ini tidaklah seberat perjuangan para pahlawan demi kemerdekaan Bangsa Indonesia.

Saya mulai bisa merasakan hal-hal positif yang saya dapat dari kegiatan PASKIBRA. Secara fisik, saya menjadi lebih kuat. Sebelumnya tidak pernah dibayangkan kalau saya akan bisa berlari hingga 18 putaran lapangan. Sebelumnya saya tidak pernah mengira akan bisa berdiri selama berjam-jam di bawah matahari yang panas. Dan ternyata semua latihan yang dilakukan menjadikan postur tubuh saya lebih tegap. Sejujurnya, dulu saya sedikit bungkuk. Dengan latihan fisik dan peregangan yang dijalani dengan penuh perjuangan juga menambah tinggi badan hingga beberapa sentimeter.

Begitu lulus dari sekolah, sempat ada perasaan sedih harus meninggalkan kegiatan di ekstrakurikuler PASKIBRA yang begitu menyenangkan. Berpisah dengan teman-teman yang telah menjalani perjuangan manis-pahit bersama. Menjalani hari-hari dengan senyum dan tangis.  Rindu untuk lari mengitari lapangan bersama-sama. Melakukan PBB di bawah siraman panas matahari, berbagi satu gelas minuman untuk banyak orang, berjalan berkilo-kilo meter dengan membawa beban yang berat, bahkan  rindu ketika harus makan bakso dengan menggunakan gelas karena tak ada piring.

Dari semua yang telah saya lalui, saya dapat mengambil kesimpulan bahwa kerja keras bersama-sama dapat membuat kita lebih erat hubungannya. Menjadikan kita lebih kuat dalam melalui banyak rintangan yang berat. Mungkin itu pula yang menjadikan para masyarakat Indonesia di masa lampau mampu melawan penjajah. Mereka berusaha dengan keras. Mengerahkan seluruh tenaga untuk satu tujuan yang sama. Mereka menjadikan rasa cinta kepada bangsa sebagai motivasi utama. Memerdekakan negara untuk masa depan yang lebih baik.

Maka sudah sepatutnya bagi kita untuk bersyukur atas apa yang telah kita peroleh saat ini. Kita harus terus mengobarkan semangat perjuangan para pahlawan dan masyarakat yang telah memperjuangkan kemerdekaan. Sebagai kaum muda, mari tebarkan virus-virus cinta tanah air pada semua orang. Kita adalah kader-kader bangsa, orang-orang yang akan menentukan masa depan bangsa ini.

2 comments:

  1. dulu gue juga pernah ikut paskib, terus keluar begitu saja.
    hmm, dan terkadang gue ngerasa paskibra keren..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Paskibra memang keren. Bahkan sampe sekarang saya masih suka iri lihat mereka yang jadi PASKIBRAKA di Istana Kemerdekaan ^_^

      Delete

Silakan tinggalkan komentar. Boleh kritik, saran atau apapun.. Jangan lupa untuk selalu menggunakan kata-kata yang santun. Terima kasih.