Ketika Hujan Aku Menjadi ....

6:11 PM Nur Mumtahana 0 Comments


Siang ini, sangat mendung. Segera kukemasi segala peralatan yang ada di meja dan bergegas pulang. Begitu selesai membereskan meja, gerimis mulai turun. Mulanya hanya gerimis lembut yang merasa menyegarkan ketika menimpa wajah. Aku berjalan menyusuri koridor, menuju ke tempat parkir. Dan hanya dalam jeda beberapa detik, tiba-tiba hujan bertambah lebat. Dalam hati sudah menduga kalau ini akan segera terjadi. Langit pagi tadi sudah mengingatkanku bahwa siang hari akan mendung, tapi aku tak pernah berusaha untuk membawa jas hujan, payung atau semacamnya.

Kupercepat lariku, hingga menimbulkan suara menggema di sepanjang lorong yang mulai sepi ketika anak sekolah telah pulang. Tiba di tempat parkir, kini hanya tersisa sepedaku saja. Tak ada yang menemani kecuali cipratan air hujan yang masuk lewat celah-celah atap.


Tak sampai hitungan ketika, langsung kukayuh sepedaku keluar tempat parkir, keluar dari sekolah. Bersamaan dengan itu hujan bertambah deras seperti sengaja ingin membuatku basah kuyup. Seharusnya aku bisa menghindari hujan itu kalau saja mau lebih lama tinggal di sekolah hingga reda. Tapi itu bukan keputusan yang aku ambil. Sudah terlalu lelah, ingin pulang dan berbaring di kamar.

Ternyata keadaan tak seperti yang dibayangkan. Tamparan air hujan di wajahku terasa begitu menyakitkan. Airnya dingin dan membasahi sekujur tubuhku yang bahkan telah terbalut jaket kuning menyala. Setidaknya aku merasa bersyukur dengan raincover yang membuat tasku tetap kering.

Jalan raya mendadak jadi begitu ramai. Para pengendara motor memacu kecepatan maksimal, truk-truk besar pun demikian. Dan aku tak mau kalah. Bukannya ingin bertanding melawan kecepatan truk atau motor, hanya saja aku tak mau terlalu lama berada di bawah air hujan setelah beberapa waktu lalu terkapar di atas tempat tidur karena demam tinggi.

Ketika hujan, rasanya ada sesuatu yang merasuk ke dalam diriku. Menjadikanku bagai pembalap sepeda profesional yang sedang menaklukkan musuh-musuh di dalam lintasa. Bahkan sepeda motor yang melaju di bawah 20 km/jam pun berhasil aku lewati. Secara tak langsung, hujan telah mengajariku hal yang tak mungkin aku lakukan saat cuaca cerah. Memang demikian, jarang sekali kupacu sepedaku kencang-kencang ketika cuaca cerah atau berawan. Dan hanya saat hujan menjadi waktu yang tepat untuk latihan balapan. Setidaknya, dulu pernah terlintas keinginan untuk menjadi pembalap sepeda. Dan sekarang aku merasa seperti pembalap. Beradu kecepatan dengan segala jenis kendaraan. Mulai dari sesama sepeda, sepeda motor, mobil, truk, becak, bahkan delman.

Jalan raya yang kulewati setiap berangkat dan pulang kerja seperti telah menjadi lintasan balap untuk latihan, sedangkan saat hujan turun adalah saat tepat untuk memperlihatkan hasil latihan sebelumnya.

Sebenarnya tak ada yang istimewa dari semua ini. Hanya saja mungkin akan disayangkan jika momen seperti itu terabaikan begitu saja. Jadi, bolehlah untuk digoreskan sekedar untuk berbagi cerita.

0 comments:

Silakan tinggalkan komentar. Boleh kritik, saran atau apapun.. Jangan lupa untuk selalu menggunakan kata-kata yang santun. Terima kasih.