[Book Review ] : The Hunger Games

7:22 AM Nur Mumtahana 0 Comments


Sebelum membaca buku The Hunger Games karya Suzanne Collins, saya sudah lebih dulu menonton filmnya yang diperankan oleh Jenifer Laurence. Saat menonton filmnya, saya merasa bahwa film tersebut sangat bagus sehingga saya tidak sabar untuk tahu dua seri berikutnya. Karena sudah terlanjut penasaran, akhirnya saya memilih untuk membeli novel dari seri film tersebut.


Sekalian saja saya beli satu set yang berisi tiga buku, yaitu The Hunger Games, Catching Fire dan Mockingjay. Mockingjay adalah film seri The Hunger Games yang belum saya tonton. Tapi rasanya sayang juga kalau saya hanya membaca seri terakhir di antara tiga buku yang sudah dibeli. Alhasil saya memutuskan untuk membaca buku dari seri pertamanya. Saya tidak punya ekspektasi yang tinggi kalau buku tersebut akan memberi kesan luar biasa seperti saya saat menonton filmnya pertama kali. Tapi apa yang terjadi?

Membaca versi buku dan menonton versi filmnya benar-benar memberikan sensasi yang berbeda, keseruannya tetap sama. Bahkan dalam membaca buku saja saya merasa seperti sedang menyaksikan secara langsung apa yang tertulis di dalamnya. Saya sampai beberapa kali menahan nafas pada bagian-bagian titik puncak konfik. Ternyata tidak buruk juga membaca buku setelah menonton versi filmnya.

Dan dari cerita yang tertulis di buku, jelas ada bagian-bagian tertentu yang berbeda dengan versi filmnya. Contoh kecilnya saja tentang pin mokingjay milik Katniss. Kalau di film, diceritakan ia memperoleh pin tersebut dari seorang pedagang di pasar gelap. Sementara di dalam buku, pin tersebut adalah pemberian putri walikota di Distrik 12 bernama Madge. Di film itu sendiri tidak diulas sama sekali tentanng sosok Madge putri sang walikota.

Kalau penilaian saya pribadi, di dalam buku Katniss digambarkan sebagai sosok gadis yang tidak sependiam Kantniss pada versi film. Di dalam buku bahkan Kantiss memiliki selera makan yang cukup tinggi selama berada di capitol. Sedang di dalam film dia nampak seperti perempuan pemurung yang tidak pernah punya nafsu makan. Ya, itu hanya pendapat saya pribadi.

Saat acara pembukaan Hunger Games ke-74, saat menaiki kereta kuda tepatnya. Dalam film kita melihat kalau Katniss begitu enggan tangannya digenggam Peeta. Hampir berkebalikan dengan apa yang ada dalam buku. Di sana tertulis kalau Katniss merasa beruntung dengan keberadaan Peeta yang membuatnya merasa lebih yakin dan percaya diri. Itu sebenarnya bukan hal yang perlu dijadikan bahan bahasan. Tapi saya merasa kalau tidak akan jadi masalah untuk mengulasnya sedikit.

Dalam film kita merasa bersyukur bahwa pada akhirnya luka bekas pedang di kaki Peeta dapat sembuh dengan obat yang dirikman Capitol untuk para peserta. Tapi ternyata di dalam buku semuanya menjadi lebih rumit. Bukan dalam semalam saja mereka berdiam diri di dalam gua, tapi hampir berhari-hari. Dan yang tidak saya duga adalah kalau dalam buku dijelaskan bahwa kaki Peeta tidak sembuh begitu saja. Bahkan kakinya semakin parah dan harus diamputasi. Kemudian satu kakinya tersebut harus digantikan dengan kaki palsu yang bahannya terbuat dari logam, seperti robot.

Terlepas dari perbedaan versi film dan versi bukunya, tetap saja inti dari film The Hunger Games menceritakan tentang pertaruangan para tribut dari distrik-distrik daerah jajahan Capitol. Mengharuskan 24 orang bertarung sampai mati dan hanya ada satu pemenang. Namun beruntung karena dua peserta dari distrik 12 dapat memenangkan permainan berbahaya tersebut.

Lihat ulasan lengkap pada versi film di sini 

0 comments:

Silakan tinggalkan komentar. Boleh kritik, saran atau apapun.. Jangan lupa untuk selalu menggunakan kata-kata yang santun. Terima kasih.