[Mengingat Kembali] : Kegagalan Akan Mengatar Kita Pada Tempat yang Tepat

10:15 PM Nur Mumtahana 2 Comments


Kembali ke tahun 2012. Ketika itu usia saya belum genap 18 tahun. Di awal tahun 2012 sudah mulai disibukkan dengan persiapan Ujian Nasional. Selain menambah bekal untuk momen penentu kelulusan, saya juga mulai sibuk mengurus segala persyaratan guna melanjutkan pendidikan di sebuah universitas negeri yang telah diidam-idamkan.

Beruntung saya bersama separuh dari teman kelas saya memiliki nilai yang cukup untuk mengajukan beasiswa. Hampir semua teman saya memilih universitas yang sama, dengan jurusan yang sama, yaitu akuntansi. Sedangkan saya  bersama dua tiga teman yang lain memilih jurusan yang berbeda. Sejurunya, walaupun telah masuk jurusan Akuntansi saat SMK, hati saya tetap ingin melanjutkan pendidikan teknik komputer. Akhirnya saya mengambil jurusan TKJ.

Begitu pengumuman, didapatlah hasil bahwa saya tidak diterima, sementara semua teman saya yang memilih jurusan ekonomi berhasil lolos seleksi. Tahu bagaimana rasanya? Hati ini hancur. Hati saya remuk begitu mengetahui bahwa jurusan yang diambil haruslah sesuai dengan jurusan saat menempuh pendidikan di SLTA.

Beberapa hari berlalu, dan hati saya masih terasa kalut. Apalagi ketika melihat teman-teman yang berhasil lolos seleksi mulai sibuk melakukan registrasi. Dari sudut ruangan saya hanya bisa melihat, membayangkan betapa senangnya kalau saya bisa menjadi bagian dari mereka. Masuk universitas idaman dan mendapat beasiswa. Tapi itu hanya sebuah angan.

Kemudian datang kesempatan kedua. Kali ini masih dari beasiswa yang sama, namun perlu melalui proses seleksi tertulis. Saya bersama beberapa teman yang gagal di pendaftaran tahap pertama tak mau melewatkan kesempatan ini. Kami pun langsung meluncur ke Semarang dengan semua bekal latihan yang sudah dipersiapkan.

Sejujurnya, persiapan saya memang kurang kala itu. Dan hasilnya bisa ditebak. Untuk kedua kalinya saya tidak lolos seleksi. Sementara salah satu teman saya berhasil diterima di fakultas ekonomi. Saya pun mulai sedikit berputus asa. Tidak tahu lagi bagaimana memperbaiki segala keadaan yang ada.

Kemudian pengumuman kelulusan ujian diterima. Hasilnya tak terlalu buruk. Namun saya masih ragu akan melanjutkan kemana setelah ini. Tinggal satu harapan saya. Saya merasa tertantang untuk mendaftar di salah satu sekolah tinggi negeri yang cukup populer dan memiliki jaminan masa depan. Setelah ditunggu-tunggu, ternyata tahun itu tidak dibuka pendaftaran. 

Satu persatu teman saya yang tidak melanjutkan kuliah mulai sibuk mencari lowongan pekerjaan. Sementara dalam hati saya masih memiliki keinginan besar untuk melanjutkan pendidikan. Karena merasa tak punya cukup kesempatan, saya pun iseng-iseng mencari info lowongan pekerjaan di sebuah percetakan. Beruntung sekali saya langsung diterima dan esok harinya diminta langsung berangkat.

Saya menikmati pekerjaan pertama saya tersebut. Berkutat dengan program desain grafis. Di sela-sela waktu bekerja, saya juga selalu mencari informasi terbaru tentang pendaftaran di sekolah tinggi yang saya idam-idamkan. Beruntung akhirnya di tahun berikutnya sekolah tinggi tersebut membuka pendaftaran. Saya pun tak mau melewatkan kesempatan itu dan mulai sibuk mempersiapkan segala administrasinya.

Pada hari pendaftaran saya ditemani kakak langsung meluncur ke Jakarta. Dan dua minggu setelahnya saya ke Jakarta lagi untuk tes. Sebelum tes, kakak saya berpesan, "Kamu harus tetap optimis walaupun saingannya cukup berat. Percayalah bahwa kamu bisa. Tapi jika hasil yang diperoleh tidak sesuai harapan, jangan pernah bersedih. Jangan pernah berfikir bahwa itu adalah sebuah akhir. Percayalah, apapun hasil yang diperoleh adalah hal terbaik buat kamu."

Saya mengiyakan dengan mantap. Sejak saat itu saya mulai meyakinkan diri bahwa apapun yang saya peroleh adalah apa yang terbaik buat saya. Yang perlu saya lakukan hanyalah melakukan yang terbaik yang saya bisa. Diawali dengan do'a, saya mulai mengerjakan soal demi soal. Duduk di dalam ruangan, bersaing dengan ratusan ribu pendaftar. Dan setelah mengerjakan soal, hati saya merasa begitu ringan. Seolah-olah tidak ada beban di dalam dada. Entahlah apa artinya.

Saat tiba waktu pengumuman, saya mencari nama saya di antara daftar peserta yang lolos. Ternyata nama saya tidak ada. Untuk ketiga kalinya saya gagal dalam seleksi masuk perguruan tinggi. Tahu apa yang saya rasakan? Saya merasa semuanya baik-baik saja. Ternyata perkataan kakak saya sebelum tes telah benar-benar merubah pola pikir saya. Tidak perlu bersedih untuk sebuah hasil setelah kita melakukan usaha terbaik. Saya mulai meyakini bahwa ini adalah keputusan terbaik untuk saya. Setelahnya saya melanjutkan aktivitas bekerja seperti biasa. Setidaknya dengan bekerja saya tidak perlu meminta uang jajan pada orang tua. Itu adalah satu poin pertama yang saya dapatkan di balik tiga kegagalan.

Sekitar sepuluh bulan bekerja di percetakan, saya mulai merasa butuh mengembangkan diri. Saya pun mulai membuat lamaran di beberapa BUMN dan salah satu sekolah negeri di tempat saya. Tidak menyangka sama sekali kalau ternyata satu di antara tiga lamaran yang saya kirim berhasil di terima.

Tepat tanggal 3 September 2013 saya diterima sebagai staf di salah satu SMP Negeri di kota saya. Kebetulan SMP tersebut adalah tempat saya sekolah dulu. Dengan diterimanya saya, saya bisa bertemu lagi dengan Bapak Ibu Guru yang dulu mengajar saya. Sekarang saya bisa menyambung kembali silaturahmi yang sudah lama tak terjalin. Poin kedua yang saya dapat.

Ternyata, bekerja pun tak jauh seperti halnya sekolah. Di tempat kerja saya mendapat banyak ilmu baru. Belajar dari orang-orang yang sudah berpengalaman. Teman-teman baru yang sekaligus menjadi keluarga baru bagi saya. Saya pun menyadari bahwa ilmu yang saya dapatkan saat sekolah masih perlu dikembangkan lagi. Dan bertemu dengan orang-orang dari dunia pendidikan banyak menambah pengetahuan tentang berbagai hal. Poin ketiga yang saya dapat.

Menjalani hari-hari dengan pekerjaan yang super padat. Kadang hal seperti itu mudah memancing emosi, apalagi untuk saya yang masih sulit mengontrol diri. Bisa dibayangkan bagaimana seorang remaja pada umumnya saat menghadapi situasi sulit. Kalau tidak menangis, ya marah. Saya pun awalnya seperti itu. Tapi melihat lingkungan di sekitar, saya jadi tersadar bahwa ini bukan lagi saatnya untuk bersikap kekanak-kanakkan. Perlahan saya terlatih untuk mengendalikan emosi, walaupun masih kesulitan hingga saat ini. Tapi paling tidak, sekarang saya tahu bagaimana untuk mengambil tindakan terbaik saat menghadapi sebuah keadaan. Poin keempat yang saya dapat.

Walaupun belum bisa membuat bangga orang tua dengan prestasi yang tinggi, tapi rupanya keberadaan saya saat ini telah mampu membuat mereka senang. Mereka memiliki harapan yang besar akan masa depan saya. Dan mengetahui hal tersebut, saya semakin bersemangat menjalani hari-hari yang ada di depan saya. Poin kelima yang saya dapat.

Semakin saya bekerja, semakin banyak tantangan yang saya hadapi, dan semakin besar keinginan dalam hati saya untuk menggali ilmu lebih dalam. Keinginan untuk melanjutkan pendidikan pun tetap ada di dalam benak saya. Masih berupaya untuk mewujudkannya. Bukan karena menunda-nunda waktu, hanya saja saya butuh waktu yang tepat untuk bisa melakukannya. Tak ada lagi keinginan untuk merepotkan kedua orang tua. Saya harus bisa bertanggung jawab terhadap diri saya. Saya harus mampu menopang diri saya untuk mencapai apa yang saya cita-citakan. Dan selangkah demi selangkah saya tapaki untuk mengulang perjuangan di masa lampau. Insya allah, tiga kali kegagalan sudah cukup bagi saya

Dan inilah saya yang sekarang. Berdiri di satu titik, melihat ke banyak arah. Menjadi sosok yang tak takut akan sebuah kegagalan. Karena telah terbukti, kegagalan akan dapat membawa kita ke tempat yang tepat. Ke tempat di mana kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik.


2 comments:

  1. hai!!
    ceritanya menarik banget. tapi kalo boleh meluruskan. Jurusan di SMA ipa/ips/akutansi/tataboga dan apalah-apalah tdk berpengaruh pd jurusan apa yg ingin kita ambil di kuliah. Lolos test universitas biasanya pyurrr dari bobot hasil nilai test yg kita kerjakan pd saat ujian saringan masuk :)
    salam kenal.

    ReplyDelete
  2. Kadang yang perlu kita lakukan adalah menerima dan tetap semangat!

    Fighting!

    ReplyDelete

Silakan tinggalkan komentar. Boleh kritik, saran atau apapun.. Jangan lupa untuk selalu menggunakan kata-kata yang santun. Terima kasih.