Akhirnya Terungkap Wajah Kakashi Yang Sebenarnya

7:33 PM Nur Mumtahana 3 Comments


Penggemar Naruto pasti kenal dengan sosok yang satu ini. Si rambut putih dengan masker yang menutup hidung hingga bagian lehernya dan ikat kepala yang turun ke salah satu matanya. Kakashi Hatake. Guru Naruto, Sasuke dan Sakura di kelompok 7. Sosok yang ramah dan bersahabat membuatnya dekat dengan ketiga murid didikannya.


Guru yang sangat senang membaca buku berjudul Icha Icha Paradise tersebut sempat menimbulkan rasa penasaran yang luar biasa di benak Naruto. Misteri tentang wajah di balik masker yang dikenakannya. Bahkan ada salah satu episode yang membahas tentang hal tersebut. Naruto, Sakura dan Sasuke mulai menduga-duga wajah Kakashi di balik maskernya. Mungkinkah dia punya bibir yang tebal, atau punya gigi yang tonggos atau justru punya bibir seperti seorang wanita. Rasa penasaran tersebut akhirnya mengerahkan ketiga muridnya untuk menyusun rencana agar bisa melihat wajah asli sang guru.


Mulai dari membuat Kakashi cegukan sampai mengajaknya makan di kedai ramen. Tapi usaha tersebut tetap saja gagal. Dan ternyata misteri tentang wajah Kakashi tidak terkuak hingga kisah Naruto berakhir di chapter 700.

Tapi jangan khawatir, baru-baru ini ada kabar yang mengejutkan tentang terkuaknya misteri di balik masker yang dikenakan Kakashi. Hal tersebut terungkap dalam Official Guestbook - Shinden Fu no Sho, salah satu buku yang terdapat dalam gelaran pameran Naruto "Masashi Kishimoto Naruto Ten di Tokyo tanggal 25 April sampai 28 Juni dan 18 Juli sampai 27 September di Osaka.


Gambar tersebut adalah benar goresan tangan Masashi Kishimoto. Dan ternyata wajah Kakashi di balik maskernya bukanlah seorang dengan bibir tebal atau gigi tonggos. Dia justru terlihat begitu keren dengan tahi lalat di bawah bibir sebelah kirinya. Kini terbayar sudah rasa penasaran yang terpendam selama belasan tahun. Akhirnya cerita Naruto selesai tanpa meninggalkan kejanggalan. Terima kasih untuk Masashi Kishimoto atas karyanya yang luar biasa.

3 comments:

Silakan tinggalkan komentar. Boleh kritik, saran atau apapun.. Jangan lupa untuk selalu menggunakan kata-kata yang santun. Terima kasih.

Damn! So Cool Sungha Jung

8:12 AM Nur Mumtahana 6 Comments

Saya adalah seorang penikmat segala jenis musik. Mulai dari musik yang membuat kantuk hingga musik yang menggetarkan kaca jendela. Jangan pernah salahkan saya karena kesukaan saya tersebut bermula hanya karena semua musik tersebut dapat mewakili perasaan saya.

Dari sekian banyak jenis musik, saya cukup menggemari musik-musik instrumental. Entah instrumen klasik atau instrumen lainnya seperti gitar dan harmonika. Tapi sekarang kita akan membahas lebih pada instrumen dari gitar. Dari beberapa gitaris akustik, ada satu sosok yang sempat membuat saya kagum melihatnya.


Berawal saat saya sedang menelusuri Youtube untuk mencari instrumen musik berjudul River Flows In You yang dibawakan oleh Yiruma, seorang pianis asal Korea, saya menemukan satu video berjudul sama yang dibawakan dengan gitar akustik oleh seorang laki-laki muda bernama Sungha Jung. Saya coba lihat videonya. Dan ternyata aksinya fingering dengan gitarnya luar biasa bagus. Saat itu pula saya mencatat Sungha Jung sebagai satu dari beberapa musisi yang saya sukai setelah Depapepe yang juga adalah duo musisi dengan instrumen gitarnya.

Kemampuannya bermain gitar bermula saat masih berusia sembilan tahun. Awalnya laki-laki kelahiran Cheongju - Korea Selatan, 2 September 1996 tersebut mempelajari musik dengan piano. Namun lama-kelamaan mulai timbul rasa jenuh. Dan begitu melihat ayahnya bermain gitar, Sungha Jung merasakan ketertarikan akan alat musik yang satu itu. Ia mempelajari teknik dasar bermain gitar dari sang ayah. Dan dia mulai mencoba memainkan lagu yang dia dengar.

Awalnya beberapa anggota keluarganya tidak mengizinkan Sungha Jung bergelut dengan gitarnya karena kegaduhan yang sering dibuatnya. Namun begitu Sungha Jung mengunggah videonya di internet, mulai banyak orang-orang yang mendukungnya. Sejak saat itulah Sungha Jung mulai memantapkan diri untuk menekuni kemampuan musiknya, khususnya dalam guitar fingering. Ia bahkan belajar gitar pada seorang musisi dari Jepang dan Jerman. Bahkan saat ini Sungha Jung sudah memiliki sponsor dari brand gitar ternama, Lakewood.

Selain itu, Sungha Jung juga sudah pernah melakukan rekaman dengan jenis gitar ekektrik, gitar 12 senar, gitar ukulele empat dan enam senar, harpa ukulele dan piano. Dia juga sudah beberapa kali tampil dalam sebuah konser bersama musisi lain seperti 2NE1, G-Dragon dan Big Bang. Hingga saat itu sudah ada tiga album yang dirilisnya. Album pertama Perfect Blue dirilis pada tanggal 17 Juni 2010. Ironi, album keduanya dirilis pada 21 September 2011 dan album ketiga dirilis pada 15 April 2013, Paint It Acoustic. 

6 comments:

Silakan tinggalkan komentar. Boleh kritik, saran atau apapun.. Jangan lupa untuk selalu menggunakan kata-kata yang santun. Terima kasih.

Abstrak

8:38 PM Nur Mumtahana 0 Comments


Roda sepeda berputar cepat. Setiap detik berlalu bersama dengan jarak yang ditempuh olehnya. Sesekali matanya terpajam, wajahnya menengadah ke atas, menantang langit cerah pagi hari. Menikmati hembusan angin yang menyejukkan hati. Goresan senyum masih melekat di wajahnya. Hingga tibalah ia di tempat tujuan.

Langkahnya tenang, namun mantap. Tas ransel menggantung di punggungnya. Ia masih tenang. Tak banyak bicara. Namun hati yang sejuk tak bisa selalu sejuk. Kemudian banyak hal yang mulai menimbulkan percikan api. Segala penat dan kekesalan menghinggapi hati ketika beribu beban menyentuh hati dan pikiran. Kemudian menyalalah api. Kalau bukan mengadu pada kawan, pastilah ia menahan tangis hingga tiba di rumah dan bertutur pada sang ibu.

Terlepas dari segala penat yang kadang menghinggap, ia ingin menjadi sosok yang bebas bagai burung di angkasa. Banyak mimpi melayang-layang di atas kepalanya. Ia ingin menggapai semua mimpi-mimpi itu. Ia berupaya untuk semua hal, namun terkadang tekadnya tak begitu bulat. Orang bilang dia selalu setengah-setengah dalam melakukan sesuatu. Dirinya memang sering dibuat bimbang, ia tak begitu yakin.

Dia mungkin pendiam, tapi jangan berpikir kalau dia benar-benar pribadi seperti deretan lagu klasik yang sering didengarkannya. Dalam waktu-waktu tertentu dia juga penikmat lagu yang bisa membuat kaca jendela kamar bergetar. Selain itu, dia adalah penikmat semua jenis lagu. Semua lagu bagus baginya, asalkan bisa mewakili perasaan. Begitu pula dengan film dan buku. Hampir semua genre digemarinya. 

Berbicara tentang kebebasan seperti burung yang terbang di angkasa, ia pun berharap bisa menjadi seperti ikan yang mampu menyelam hingga lautan terdalam. Menemukan apa yang tidak dapat ditemukannya di permukaan. Terkadang ingin menantang diri, namun terkadang pula ketakutan datang padanya. Sesekali sosoknya menjadi begitu tegar, namun dalam waktu bersamaan dia juga menjadi begitu rapuh.

Langkahnya seperti daun kering yang tertiup angin. Hanya mengikuti takdir membawanya ke sebuah tempat. Dan berharap bahwa tempatnya bermuara adalah seperti lautan lepas yang memberinya kebebasan dalam memilih arah. Bagaimanapun juga, bintang-bintang di langit malam selalu menunjukkan jalan yang tepat. Biar begitu selalu ada pula sosok yang mampu menjadi panutan. Sang ibu. Wanita yang tentu telah melalui lebih banyak masa ketimbang gadis tersebut.

Tak semua orang bisa mengerti tentang gadis tersebut. Dan kini ada satu hal yang bisa disimpulkan atas sosok si gadis. Ada satu hal yang bisa menggambaran gadis tersebut. Ia bagaikan sebuah lukisan abstrak. Ada banyak warna, bercampur, membaur menjadi satu. Ada beribu kata yang ingin disampaikan, ada beribu rasa yang ingin dicurahkan, namun semua itu terkubur dalam diam, dalam kalutnya sebuah perasaan yang berbaur dalam satu bingkai. Beberapa atau sebagian besar orang mengabaikannya. Namun hanya orang-orang tertentu yang bisa melihat kebenaran dalam dirinya. Karena sesungguhnya si gadis pun tak pernah tahu bagaimana sosoknya, kepribadiannya. Ia hanya merasakan sebuah jiwa yang menempati sebuah raga.

Ya, dia memanglah seorang yang abstrak.

0 comments:

Silakan tinggalkan komentar. Boleh kritik, saran atau apapun.. Jangan lupa untuk selalu menggunakan kata-kata yang santun. Terima kasih.

[Flash Fiction] : Taksi

9:40 PM Nur Mumtahana 1 Comments

Pagi tadi, kudapati sebuah kiriman paket di dalam kotak surat. Sebuah paket berbentuk kotak yang tak terlalu besar. Alamat yang tertulis adalah benar alamat rumahku, tapi jelas tidak ada orang bernama Andre yang tinggal di sini. Andre bukan nama ayahku, dan aku juga tak punya saudara laki-laki. Mungkin aku akan membawanya ke kantor polisi atau ke agen pengantar barang ini.

"Taksi!" teriakku saat sebuah taksi melintas di depan rumah. Aku tahu kalau aku akan terlambat masuk ke kelas hari ini. Tapi kuharap dosen yang mengajar pun akan datang terlambat.

Begitu masuk ke taksi, aku merasa bingung, kulihat wajah sopir taksi itu nampak muram. Matanya merah dan berkaca-kaca. Aku yakin kalau sopir taksi itu sedang menahan air mata, atau lebih tepatnya dia baru saja menangis.

Aku sebenarnya penasaran, tapi lebih memilih diam. Kupikir keputusanku tidak salah. Lagipula aku sendiri sedang sibuk memikirkan paket yang tiba-tiba ada di dalam kotak surat rumahku. Aku akan mengembalikannya kepada kurir pengiriman barang siang ini.

Tiba di kampus, aku langsung berlari ke arah kelas. Kuharap aku belum terlambat. Ini akan menjadi hari yang panjang seandainya aku melewatkan penjelasan tentang materi ulangan tengah semester nanti.

Rasanya melegakan ketika bisa selamat dari segala macam kekhawatiran terhadap hari ini. Seperti yang sudah direncanakan, aku akan mengembalikan paket salah kirim tersebut. Namun begitu aku cari, ternyata kotak paket tersebut tidak ada di dalam tas. Saat itulah aku ingat kalau selama di dalam taksi aku memegangnya. Dan kurasa kotak tersebut tertinggal di dalam taksi.

Kini tak ada lagi yang bisa aku lakukan. Mungkin seseorang di luar sana sedang menunggu kiriman paket datang padanya. Namun di dalam hati aku berkhayal, semoga saja sopir itu adalah pemilik dari paket yang aku tinggalkan di dalam taksinya. Kuharap.

Beberapa hari kemudian aku melihat taksi itu melintas kembali di depan rumah. Aku hafal betul plat nomor dan stiker yang tertempel di kaca depan taksi tersebut. Aku masuk, dan kulihat sopir taksi itu tak semuram sebelumnya. Ia nampak cerita.

“Mau kemana, Mba?” tanyanya dengan nada penuh keriangan.

“Kampus,” jawabku.

Kemudian aku mulai teringat dengan paket yang tertinggal di dalam taksi ini, akhirnya aku coba menanyakannya, “Pak, apa beberapa hari yang lalu Bapak menemukan sebuah kotak paket di dalam sini?”

Sopir taksi itu menoleh ke arahku, “Iya. Saya menemukannya. Paket untuk orang bernama Andre, kan?”

“Ya.”

“Apa Mbak yang meninggalkannya?” tanya sopir taksi itu.

Kemudian kujelaskan semuanya. Tentang asal mula paket yang salah kirim tersebut.

“Perkenalkan, nama saya Andre,” katanya memperkanlkan diri. Tentu saja, tertulis jelas di kartu nama yang terletak di dekat kemudi. “ Sebenarnya alamat yang tertulis pada paket itu mirip dengan alamat rumah saya. Hanya saja rumah saya berada di blok D, sedangkan dalam paket ditulis blok P.”

Aku terkejut. Hal itu sama persis seperti yang kuharapkan. Dan ternyata itu adalah paket dari putranya yang tinggal di luar negeri. Sopir taksi itu pun membagi rahasianya bahwa isi kotak itu adalah sebuah cincin, hadiah ulang tahun untuk sang ibu.

Seketika aku merasa sangat lega mendengar hal tersebut.


Tentang-Kita-Blog-Tour

1 comments:

Silakan tinggalkan komentar. Boleh kritik, saran atau apapun.. Jangan lupa untuk selalu menggunakan kata-kata yang santun. Terima kasih.

[Cerpen] : Sampai Tiba Waktu Yang Tepat

11:02 AM Nur Mumtahana 4 Comments


Setiap kali hujan datang, tak banyak yang bisa aku lakukan kecuali duduk di dalam kamar. Melihat air yang turun dari langit. Berharap bahwa aku bisa berlari ke sana, ikut merasakan inginnya udara yang mampu menyejukkan pikiran.

Dan setiap kali hal itu terjadi, aku selalu memikirkan hal yang sama. Kebingungan, kebimbangan tentang apa yang ada di dalam benakku. Memikirkan tentang seseorang, tentang ikatan dan arti dari sebuah masa yang pernah dilalui bersama. Aku teringat dengan Al. Sahabatku sejak masih kecil.

Sepuluh tahun lebih kami menghabiskan waktu bersama, berbagi cerita dan kebahagiaan. Kedekatan yang berawal dari kegiatan belajar kelompok sampai menghabiskan hari libur bersama. Kemudian banyak lagi hari yang kami habiskan bersama, dan semakin waktu berlalu, ada hal yang mengusik ketenangan hatiku.

Tak sama lagi rasanya ketika duduk dengannya, Tak sama lagi rasanya ketika dia mengajakku berbicara. Ada semacam keindahan yang aku rasakan, keindahan yang baru aku sadari setelah sekian lama melakukan banyak hal bersamanya. Aku tak pernah tahu apa yang terjadi dalam diriku. Tapi sejenak aku tak berani menatap matanya.

Saat sarapan, aku tak bisa berhenti memikirkannya. Aku menyadari kalau dalam beberapa menit ke depan aku akan bertemu dengannya di sekolah. Memikirkan hal tersebut mendadak menghilangkan selera makanku yang biasanya cukup besar. Bahkan Ibu pun dibuat khawatir dengan keadaanku.

“Ra, kenapa sarapannya belum dimakan?” itu adalah pertanyaan Ibu yang sama setiap hari, setiap pagi.

Aku pun selalu menjawabnya dengan senyum yang sama. Senyum yang menahan beribu kegelisahan di dalam dada. Kegelisahan yang mendadak menyesakkan dada dan membuat perutku sakit.

“Rara mau ke toilet,” langsung aku bangun dari tempat makan dan beranjak ke kamar mandi.

Itu adalah gejala aneh yang timbul setiap kali memikirkan Al. Aku tak tahu kenapa semua ini bisa terjadi, tapi kuharap ada dokter yang bisa menyembuhkan penderitaanku.

Seharusnya sekolah bisa menjadi tempat yang menyenangkan. Sama seperti masa lalu di mana aku bahkan tak pernah suka menghabiskan hari libur di rumah. Bangku nomor 3 dari arah pintu adalah tempat dudukku. Sedangkan tepat di belakangku adalah tempat duduk Al. Mendadak aku jadi begitu cemas, memikirkan apa yang harus aku lakukan  saat bertemu dengannya pagi ini. Aku mencemaskan hal itu setiap hari. Bisa dibayangkan bagaimana sulitnya menjalani hari-hari seperti ini.

“Halo, Ra,” Sekar mengejutkanku ketika tiba-tiba ia datang dengan sebuah kotak kado besar di tangannya. Dia nampak begitu senang, belum pernah aku lihat ekspresi seperti itu. Bahkan di hari di mana akan ada ulangan matematika.

“Kau hari ini ulang tahun?” tanyaku heran.

Dia menggeleng, masih dengan senyum lebar yang membuatku bingung, “Hari ini kan ulang tahun Al. Dan ini hadiahku untuknya.”

Aku cukup kaget mendengarnya. Terlalu sibuk dengan kegelisahanku terhadap Al justru membuatku lupa hari ulang tahunnya. Sahabat macam apa aku ini? Sejenak aku merasa kesal dengan diri sendiri.

“Jangan bilang kau lupa hari ulang tahunnya,” Sekar seolah bisa membaca pikiranku.

Aku tak bisa berkata banyak, hanya mencoba untuk memberi alasan yang tepat, “Sepertinya aku terlalu serius belajar untuk ulangan hari ini. Sampai-sampai aku melupakan ulang tahunnya.”

Sekar hanya geleng-geleng mendengar alasanku.

Sepanjang waktu ulangan, aku terus menyalahkan diri sendiri yang melupakan hari ulang tahun Al. Hampir setiap malam dia hadir dalam mimpiku, hampir setiap saat aku memikirkannya, tapi aku tak ingat hari lahirnya. Inilah sebuah kesalahan besar yang telah aku lakukan padanya.

“Ra,” dari balik punggung Al berbisik-bisik memanggilku.

Sebelum merespon panggilannya, aku melihat ke sekeliling terlebih dahulu, memastikan kalau Pak Agung tidak sedang melihat ke arahku. Ini bisa jadi bencana. Setelah semuanya nampak aman, aku mencoba sedikit menoleh ke belang dan berbicara dengan suara sepelan mungkin, “Kenapa?”

“Nomor enam jawabannya apa?” ternyata Al memanggilku untuk menanyakan jawaban dari soal ulangan. Ya, ini namanya mencontek.

“298,” jawabku.

Kemudian kami kembali ke kertas ulangan masing-masing. Aku telah menjawab semua soal, dan waktu yang tersisa kugunakan untuk memikirkan orang yang duduk di belakangku. Sahabatku. Namun dalam hati meronta seolah ingin agar ia tahu bagaimana kacaunya pikiranku karenanya akhir-akhir ini.

Tapi nampaknya Al tak memikirkanku seperti bagaimana aku memikirkannya. Mungkin begini saja sudah cukup. Jika aku memang menaruh perasaan padanya, biarlah hanya aku yang tahu. Jika aku jatuh cinta padanya, maka biarlah aku jatuh cinta diam-diam. Aku hanya masih meragu dengan perasaanku sendiri.

Sepulang sekolah, aku, Sekar dan Al sengaja pergi ke kantin untuk merayakan ulang tahun Al. Tahulah bagaimana seorang anak sekolah merayakan ulang tahun. Hanya dengan makan semangkuk bakso, itu sudah cukup.

Sampai akhirnya Sekar memberikan kadonya yang berukuran cukup besar, sementara aku tak membawa apa-apa.

“Maaf, aku tak membawa kadonya. Mungkin akan aku antar ke rumahmu nanti malam,” begitulah janjiku pada Al.

Dan untuk menepati janji, sepulang sekolah aku langsung mencari kado yang pas untuknya. Aku tak pernah punya tabungan yang cukup untuk membelikannya sepatu olah raga. Tapi setidaknya aku tahu bahwa dia sangat menyukai voli. Kubelikan saja dia sebuah bola voli. Mungkin itu akan menjadi hadiah yang bermanfaat untuknya.

Biarlah aku menjadi bagian dari hari-harinya walau hanya sebagai sebuah bola. Setidaknya itulah caraku mengungkapkan rasa cinta dalam diam.

Malamnya aku datang ke rumah Al. Ternyata saat itu di rumah Al sedang ada acara makan malam keluarga untuk merayakan ulang tahunnya. Aku pun diajak untuk bergabung. Bertemu dengan orang tua Al dan kedua kakak perempuannya.

“Sudah lama sekali kamu tidak datang kemari,” ucap Ibu Al yang nampak begitu senang melihat kehadiranku.

Kubalas sambutan itu dengan senyum simpul. Selama ini aku memang tak punya cukup alasan untuk berkunjung kemari. Kalaupun ada tugas kelompok dengan Al, kami lebih sering mengerjakannya di sekolah. Lagipula sekarang rumah Al lebih jauh dari rumah sebelumnya, ketika kami bertetangga dekat.

Usai makan malam aku dan Al duduk di ruang tamu. Aneh sekali suasananya. Kami berdua nampak sama-sama canggung, atau hanya aku yang canggung. Aku sampai tak tahu harus berkata apa. Hanya diam dan tak bisa berhenti tersenyum.

Kami sudah saling mengenal cukup lama. Selalu belajar di kelas yang sama sejak SD, dan sekarang kami hanya duduk berhadapan tanpa banyak suara. Sejujurnya, aku benci suasana seperti ini. Seandainya ada Sekar, tentu saja tidak akan sesepi sekarang. Dia selalu bisa mencairkan suasana. Ia selalu mampu menutupi rasa canggungku setiap kali berhadapan dengan Al. Dan sekarang dalam hati aku berharap tiba-tiba Sekar muncul di sini.

“Ngomong-ngomong, terima kasih untuk kadonya,” Al memecah keheningan di antara kami. Nampaknya ia tak tahan kalau harus saling diam seperti ini.

Aku mengangguk, “Ya, kuharap kau menyukainya.”

“Kau pasti bersusah payah untuk mencari kado untukku. Kau sudah memberikan semua yang aku inginkan. Sebuah mobil tamiya di kelas 5 SD, sebuah harmonika di kelas 1 SMP, jersey pemain favoritku di kelas 2 SMP, poster jumbo tim voli idolaku, dan sekarang entah apa lagi yang kau berikan untukku.”

Kurasa terlalu berlebihan jika Al mengingat semua kado yang pernah aku berikan untuknya, “Itu hanya hadiah kecil. Hadiah yang kuharap bisa membuatmu senang,” ujarku, “Aku tahu kau sangat ingin memiliki sepatu yang sama dengan pemain voli favoritmu. Tapi aku tak membelikan itu kali ini.”

Al tersenyum padaku, “Sebenarnya sepatu itu bukanlah hal yang benar-benar aku inginkan.”

“Benarkah?” aku hampir tak bisa menyangkanya. Al begitu sering memicarakan tentang sepatu idamannya, “Lalu apa yang paling kau inginkan?” mendadak aku jadi penasaran.

“Kau,” jawabnya.

Aku masih belum paham dengan maksud ucapan tersebut, “Apa?”

Al mengulangi jawabannya, “Hal yang paling aku inginkan saat ini adalah kau.”

Seketika jantungku seolah berhenti, nafasku sesak dan aku seperti ingin pingsan. Atau mungkin sebaliknya, jantungku berdebar kencang, nafasku memburu dan aku seperti akan meledak. Ada hal aneh yang mendadak menyerang diriku.

Ia melanjutkan ucapannya, “Kurasakan kau sedikit berubah akhir-akhir ini. Aku selalu takut kalau ternyata aku telah membuatmu merasa tak nyaman berada di dekatku. Aku hanya ingin kau yang dulu kembali.”

“Saat kau mulai merasakan sikap anehku, saat itulah sebenarnya aku mulai menyukaimu. Aku jatuh cinta padamu,” ucapku. Namun hanya dalam hati. Kuharap aku bisa mengatakan padamu. Tapi mendadak lidahku kelu. Aku takut mengutarakan perasaanku. Aku takut perasaan itu akan merubah persahabatan yang indah di antara kita.

Maka, biarlah aku simpan kalimat itu, sampai tiba waktu yang tepat untuk mengatakannya.



4 comments:

Silakan tinggalkan komentar. Boleh kritik, saran atau apapun.. Jangan lupa untuk selalu menggunakan kata-kata yang santun. Terima kasih.

Jomblo - Bukan Tak Laku, Hanya Saja Masih Menunggu

8:27 AM Nur Mumtahana 2 Comments

Happy Girl,HD Wallpapers,Images,Pictures

"Orang mana yang belum pernah pacaran?" 

Jika memang kalimat itu keluar dari mulut seseorang, maka ia tengah bermaksud menyindir mereka yang telah memutuskan untuk tidak mengikat hubungan dengan orang lain sebagai pacar atau kekasih. Dan mungkin saya adalah salah satu dari beberapa orang yang mereka sindir. Walaupun demikian, saya merasa semuanya baik-baik saja.

Seringkali saya mendapati para muda-mudi tengah berjalan berdua, makan berdua, bermain berdua bersama pasangannya. Saya hanya melihat sesaat, kemudian mengabaikan mereka. Ya, secara jelas setiap kali saya melihat pemandangan seperti itu, saya sedang sendirian. Menghabiskan waktu sebagai seorang yang tak punya pasangan. Bukan tak punya, lebih tepatnya belum punya.

Beberapa orang mengeluh, berfikir bahwa dunia ini berakhir ketika semua orang berpasangan tapi dirinya masih sendiri. Kenapa mereka berpikir demikian? Mungkin karena mereka kesepian. Mereka belum tahu saja, kalau sebenarnya sendirian itu tidak selamanya menjadi momok yang menakutkan. Terkecuali kalau sendirian di tengah tempat berhantu, pastinya.

Menjadi seorang jomblo bukanlah hal yang buruk. Tapi satu yang pasti, saya tidak pernah mau disebut sebagai jones (jomblo ngenes). Sejujurnya saya tidak sengenes itu. Kalaupun harus pergi belanja sendirian, it's okay. Saya punya kebebasan seluas-luasnya tanpa khawatir seseorang merasa bosan dengan hal tersebut. Kalaupun makan sendirian, itu tidak akan mengurangi selera makan saya.

Dan yang pasti, saat sendirian adalah saat-saat emas di mana kita bisa menyelami diri kita yang sesungguhnya. Kita akan membangun jati diri tanpa takut ada orang lain yang tak menyukainya. Apalabila memiliki pasangan, mungkin kita akan merasa sedikit tertekan, kita akan mulai sedikit lari dari diri kita yang sesungguhnya semata-mata untuk menutupi kekurangan yang ada. Dan saat menjadi seorang jomblo, apa dan untuk siapa kita menutupi kekurangan ini? Kita mungkin bisa menjadi jati diri yang seutuhnya dan bukan menutupi kekurangan, melainkan mulai mencoba untuk memperbaikinya.

Selain itu, saat berstatus menjadi jomlo adalah saat yang tepat bagi kita untuk mengeksplor segala kemampuan yang kita miliki. Kembangkan kemampun tersebut menjadi hal yang bermanfaat bagi diri sendiri atau orang lain. Kita juga bisa lebih mendalami hobi kita selama ini. Jika memiliki hobi menulis atau fotografi, cobalah untuk bisa menjadikan hobi tersebut sebagai pasang setiamu. Jadikan ia sebagai satu sosok yang mampu membuat hari-harimu lebih menyenangkan.

Jika seseorang melihat kita sebagai sosok yang malang karena terhanyut dalam kesendirian, mereka salah. Mereka tak tahu saja kalau sendirian ternyata bisa menjadi cara ternyaman untuk menjalani hari-hari. Pacar tak selamanya menjadi tolok ukur semangat kita, karena pada dasarnya orang-orang di sekitar kita, seperti keluarga dan teman-teman tentu bisa menjadi motivasi yang luar biasa.

Percaya, kan bahwa tulang rusuk tidak akan pernah tertukar? Biarlah kita menjadi seorang jomblo di masa kini, tapi di masa mendatang, kita mungkin akan hidup bahagia, berpasangan dengan seseorang dan memiliki ikatan yang sah.

Dan ketahuilah kawan. Saat sendiri adalah saat terbaik bagi kita untuk merenungi satu hal. Tentulah dalam hati kita punya keinginan untuk bisa hidup bahagia dengan seseorang suatu hari nanti. Dan inilah saat yang tepat untuk mempersiapkan hal tersebut. Mulailah untuk memperbaiki diri. Karena hanya dengan hal tersebut, kita mungkin akan mendapat pasangan sejati yang baik pula. 

Jadi, berhentilah mengolok-olok seorang jomblo. Karena bukannya ia tak laku, ia hanya sedang menunggu seseorang yang tepat baginya. Bukan untuk berpacaran, tapi untuk menjalin hubungan sah di hadapan sang pemilik alam semesta. Insya Allah.

Jaga selalu hati ini.

2 comments:

Silakan tinggalkan komentar. Boleh kritik, saran atau apapun.. Jangan lupa untuk selalu menggunakan kata-kata yang santun. Terima kasih.

[Movie Review] : The Fault In Our Star

12:58 PM Nur Mumtahana 4 Comments


Sudah cukup lama saya menonton film ini, tapi baru sempat untuk mereviewnya. So check it out!

Dalam film yang diangkat dari novel berjudul sama, mengisahkan tentang seorang gadis remaja bernama Hazel Grace Lancaster yang mengidap penyakit kanker stadium akhir pada saluran pernafasannya. Hal tersebut mengharuskan Hazel untuk selalu membawa tas berisi tabung oksigen kemanapun ia pergi.

Suatu hari orang tuanya meminta Hazel untuk bergabung dengan kelompok pendukung, semacam forum yang anggotanya adalah para penderita kanker. Di dalam forum tersebut, anggotanya diajak untuk bisa berbagi cerita, pengalaman dan saling memotivasi satu sama lain. 

Di situlah Hazel memiliki teman baru yang bernama Augustus Waters. Dia adalah seorang mantan pemain basket yang kakinya telah diamputasi karena penyakit kanker. Dan sejak pertemuan pertama mereka, Hazel dan Gus menampakkan saling ketertarikan satu sama lain. Mereka mulai sering menghabiskan waktu bersama, saling berkirim pesan dan bahkan mengunjungi rumah satu sama lain.

Hazel sangat menyukai sebuah novel berjudul An Imperial Affliction (Kemalangan Luar Biasa) yang di dalamnya mengisahkan tentang kehidupan seorang gadis penderita kanker. Buku tersebut sangat menginspirasi dirinya, dan Hazel pun memiliki keinginan yang besar untuk bisa bertemu dengan Van Houten, sang penulis buku.

Sudah cukup sering Hazel berusaha untuk bisa menghubungi sang penulis, namun e-mailnya tidak pernah mendapatkan respon. Dan berkat bantuan Gus, akhirnya Hazel memiliki kesempatan untuk bisa bertemu dengan Van Houten di Amsterdam.

Pada hari yang sudah ditentukan, Hazel bersama ibunya dan Gus pergi ke Amsterdam. Hal tersebut adalah satu kebahagiaan tak terkira bagi Hazel. Ia bahkan sudah menyiapkan beberapa pertanyaan yang akan diberikan pada Van Houten. Selain itu, Hazel dan Gus juga mendapat kesempatan untuk menikmati makan malam romantis di sebuah restoran terkenal di Amsterdam. Dalam percakapannya, Gus berkata bahwa jas yang dia kenakan malam itu adalah jas yang sudah disiapkan untuk pemakamannya kelak. Ia tidak menyangka kalau akan memakai pakaian itu pada acara makan malam seperti ini. Pada malam itu juga perasaan Hazel dibuat campur aduk antara senang, terharu dan terselip kesedihan, apalagi ketika Gus dengan jelas mengutarakan rasa cintanya. Hazel sampai kehabisan kata-kata, hanya bisa tersenyum dan meneteskan air mata melihat ada orang yang dengan tulus mencitai dirinya.

Esok harinya, Hazel bersama Gus mencari alamat tempat tinggal Van Houten. Namun begitu tiba di rumahnya, Hazel dan Gus dibuat sangat kecewa. Ternyata, penulis yang selama ini ingin ditemuinya tidaklah seperti sosok yang dibayangkan. Van Houten adalah seorang pemabuk berat. Dia pemarah dan suka berbuat kasar. Bahkan Hazel pun merasa tersakiti hatinya dengan perlakuan Van Houten yang semena-mena terhadap orang yang telah datang jauh-jauh untuk menemuinya. Dengan sangat menyesal, asisten Van Houten meminta maaf kepada Hazel dan Gus. Mereka pun memilih untuk pulang.

Usai perjalanan dari Amsterdam, Hazel dan Gus kembali memulai rutinitas mereka. Duduk bersama, berbagi cerita dan saling mengungkapkan perasaan. Walaupun pada akhirnya kisah bahagia mereka harus terhenti ketika Gus mengatakan bahwa kanker yang dideritanya telah menyebar ke bagian tubuh yang lain.

Hati Hazel sangat terpukul mengetahui hal tersebut. Kesedihan melanda hatinya, dan tak ada seorang pun yang dapat menghibur. Tapi di situlah Gus selalu berusaha memberi pengertian kepada Hazel. Baginya, adalah sebuah kebahagiaan telah mampu bertemu dengan sosok perempuan yang begitu istimewa di hatinya.

Gus menyadari bahwa usianya tak lama lagi. Oleh karena itu ia meminta agar Hazel dapat memberikan sambutan di hari pemakamannya kelak. Akhirnya pada suatu malam Hazel berdiri di hadapan Gus dan belajar memberikan sambutan yang tak lama lagi harus dilakukannya di hadapan banyak orang. Saat itu pula secara tak langsung Hazel mengutarakan perasaan cintanya yang terdalam pada Gus. Ia tak mampu menahan air matanya, begitu pula dengan Gus.

Kemudian hari itu benar-benar datang. Gus pergi meninggalkan semua orang yang mencintainya.

Tepat saat pemakaman Gus, tiba-tiba Van Houten datang untuk menemui Hazel. Namun Hazel yang pernah disakiti hatinya pun memilih untuk tak menghiraukan Van Houten. Ternyata kehadiran orang tersebut adalah untuk meminta maaf. Diberikannya sepucuk surat kepada Hazel, namun Hazel justru membuang surat tersebut. Dan begitu mengetahui bahwa surat itu adalah dari Gus, Hazel langsung mencari kembali surat yang telah dibuangnya.

Dan itulah akhir cerita di antara Hazel dan Gus. Memang tak panjang waktu yang mereka lalui, namun keduanya telah memahami bahwa perpisahan seperti ini pasti akan segera terjadi. Dan dengan meyakinkan diri, Hazel percaya bahwa ini adalah yang terbaik untuk semuanya.

4 comments:

Silakan tinggalkan komentar. Boleh kritik, saran atau apapun.. Jangan lupa untuk selalu menggunakan kata-kata yang santun. Terima kasih.

Dari Balik Jendela

9:07 AM Nur Mumtahana 0 Comments


Harapnya, pagi mampu menjadi awal baru untuk hati yang rapuh.
Kemudian kubuka tirai jendela dan mendapati udara cerah di luar sana. Indah, dan sejenak mengingatkanku bahwa dulu pernah ada hari yang terasa begitu cerah meski hujan mengguyur sepanjang hari.

Teringat kembali dengan satu masa dimana aku bangun dari tempat tidur dengan semangat yang entah lenyap sejak kapan. Dan satu alasan yang menjadikanku begitu bersemangat adalah ketika tahu bahwa hari ini harus bergegas berangkat sekolah. Bertemu dengan teman-teman, dan berharap bisa bertemu dengannya.

Dia yang dulu pernah menjadi satu bagian cerita hari-hariku. Kehadirannya yang hanya seperti angin. Berlalu sejenak dan meninggalkan kesejukan di hati. Kemudian ia menjelma menjadi hujan. Meski telah berlalu, namun gemercik airnya masih terasa di pucuk-pucuk daun. Dan kini ia seperti udara yang aku hela setiap hari. Selalu ada dan tak pernah hilang.

Seringnya kupandangi dia dari balik jendela kelas. Melihat dia yang berlari di tengah lapangan. Kala hujan ataupun kala udara terik. Dan dari balik jendela, hanya sebatas itu mata ini dapat memandangnya lekat. Berharap dia akan menatap balik. Namun kutunggu selama ini, dan itu tak pernah terjadi.

Penantian tak selamanya memiliki akhir cerita yang sama. Boleh saja semua cerita dalam buku menyajikan penantian yang berbuah manis. Namun tidak dengan cerita yang menggelayutiku selama hampir lima tahun. 

Dan semakin lama menunggu, semakin hilang harapan. Namun tak benar-benar hilang, hanya kian berkurang. Dan dalam satu waktu, terkadang harapan itu muncul bagai karang raksasa di tengah lautan. Begitu kuat, kokoh dan dipenuhi kepercayaan. Mungkinkah itu satu gambar akan keteguhan hati atau justru gambaran atas diri yang berputus asa.

0 comments:

Silakan tinggalkan komentar. Boleh kritik, saran atau apapun.. Jangan lupa untuk selalu menggunakan kata-kata yang santun. Terima kasih.

Pahlawan Cilik - Ninja Hatori

6:42 PM Nur Mumtahana 5 Comments


Mendaki gunung, lewati lembah
Sungai mengalir indah ke samudera
Bersama teman bertualang...

Itu adalah satu lagu pembuka film kartu yang sempat ngehits di tahun 90an sampai awal 2000an. Film kartun yang satu ini mengisahkan tentang sosok ninja asal Gozaru bernama Hatori Kanzo. Hatori bersahabat dengan seorang siswa SD bernama Kenichi Mitsuba. Tak cuma bersahabat, bahkan Hatori pun bersama Shinzo, saudara kecilnya dan Shishimaru, anjing ninja milik Shinzo tinggal bersama di rumah keluarga Mitsuba.

Dalam kesehariannya, terkadang Kenichi mendapatkan masalah karena ulah teman-temannya. Apalagi mengetahui Kenichi menyukai Yumeko, salah satu teman sekolahnya, Kimimaki si ninja nakal selalu berusaha mengganggu Kenichi. Dan saat itulah Kenichi meminta bantuan kepada Hatori untuk bisa melindunginya.

Sementara Hatori melindungi Kenichi dari kejahilan Kimimaki, si anjing Shishimaru pun sangat bermusuhan dengan Kagechiyo, kucing hitam milik Kimimaki yang selalu membantu tuannya melakukan rencana-rencana nakal.

Alur cerita film yang satu ini sangat ringan. Cukup mudah untuk dinikmati oleh anak-anak. Dan ada banyak keseruan petualangan si Ninja Hatori yang pantang untuk dilewatkan. Namun sayang sekali karena film yang satu ini sudah tak nampak lagi di layar kaca. Semoga saja akan ada salah satu stasiun TV yang bisa menghadirkan kembali film Ninja Hatori agar anak-anak masa kini juga bisa menikmatinya.

5 comments:

Silakan tinggalkan komentar. Boleh kritik, saran atau apapun.. Jangan lupa untuk selalu menggunakan kata-kata yang santun. Terima kasih.