Abstrak

8:38 PM Nur Mumtahana 0 Comments


Roda sepeda berputar cepat. Setiap detik berlalu bersama dengan jarak yang ditempuh olehnya. Sesekali matanya terpajam, wajahnya menengadah ke atas, menantang langit cerah pagi hari. Menikmati hembusan angin yang menyejukkan hati. Goresan senyum masih melekat di wajahnya. Hingga tibalah ia di tempat tujuan.

Langkahnya tenang, namun mantap. Tas ransel menggantung di punggungnya. Ia masih tenang. Tak banyak bicara. Namun hati yang sejuk tak bisa selalu sejuk. Kemudian banyak hal yang mulai menimbulkan percikan api. Segala penat dan kekesalan menghinggapi hati ketika beribu beban menyentuh hati dan pikiran. Kemudian menyalalah api. Kalau bukan mengadu pada kawan, pastilah ia menahan tangis hingga tiba di rumah dan bertutur pada sang ibu.

Terlepas dari segala penat yang kadang menghinggap, ia ingin menjadi sosok yang bebas bagai burung di angkasa. Banyak mimpi melayang-layang di atas kepalanya. Ia ingin menggapai semua mimpi-mimpi itu. Ia berupaya untuk semua hal, namun terkadang tekadnya tak begitu bulat. Orang bilang dia selalu setengah-setengah dalam melakukan sesuatu. Dirinya memang sering dibuat bimbang, ia tak begitu yakin.

Dia mungkin pendiam, tapi jangan berpikir kalau dia benar-benar pribadi seperti deretan lagu klasik yang sering didengarkannya. Dalam waktu-waktu tertentu dia juga penikmat lagu yang bisa membuat kaca jendela kamar bergetar. Selain itu, dia adalah penikmat semua jenis lagu. Semua lagu bagus baginya, asalkan bisa mewakili perasaan. Begitu pula dengan film dan buku. Hampir semua genre digemarinya. 

Berbicara tentang kebebasan seperti burung yang terbang di angkasa, ia pun berharap bisa menjadi seperti ikan yang mampu menyelam hingga lautan terdalam. Menemukan apa yang tidak dapat ditemukannya di permukaan. Terkadang ingin menantang diri, namun terkadang pula ketakutan datang padanya. Sesekali sosoknya menjadi begitu tegar, namun dalam waktu bersamaan dia juga menjadi begitu rapuh.

Langkahnya seperti daun kering yang tertiup angin. Hanya mengikuti takdir membawanya ke sebuah tempat. Dan berharap bahwa tempatnya bermuara adalah seperti lautan lepas yang memberinya kebebasan dalam memilih arah. Bagaimanapun juga, bintang-bintang di langit malam selalu menunjukkan jalan yang tepat. Biar begitu selalu ada pula sosok yang mampu menjadi panutan. Sang ibu. Wanita yang tentu telah melalui lebih banyak masa ketimbang gadis tersebut.

Tak semua orang bisa mengerti tentang gadis tersebut. Dan kini ada satu hal yang bisa disimpulkan atas sosok si gadis. Ada satu hal yang bisa menggambaran gadis tersebut. Ia bagaikan sebuah lukisan abstrak. Ada banyak warna, bercampur, membaur menjadi satu. Ada beribu kata yang ingin disampaikan, ada beribu rasa yang ingin dicurahkan, namun semua itu terkubur dalam diam, dalam kalutnya sebuah perasaan yang berbaur dalam satu bingkai. Beberapa atau sebagian besar orang mengabaikannya. Namun hanya orang-orang tertentu yang bisa melihat kebenaran dalam dirinya. Karena sesungguhnya si gadis pun tak pernah tahu bagaimana sosoknya, kepribadiannya. Ia hanya merasakan sebuah jiwa yang menempati sebuah raga.

Ya, dia memanglah seorang yang abstrak.

0 comments:

Silakan tinggalkan komentar. Boleh kritik, saran atau apapun.. Jangan lupa untuk selalu menggunakan kata-kata yang santun. Terima kasih.