[Cerpen] : Sampai Tiba Waktu Yang Tepat

11:02 AM Nur Mumtahana 4 Comments


Setiap kali hujan datang, tak banyak yang bisa aku lakukan kecuali duduk di dalam kamar. Melihat air yang turun dari langit. Berharap bahwa aku bisa berlari ke sana, ikut merasakan inginnya udara yang mampu menyejukkan pikiran.

Dan setiap kali hal itu terjadi, aku selalu memikirkan hal yang sama. Kebingungan, kebimbangan tentang apa yang ada di dalam benakku. Memikirkan tentang seseorang, tentang ikatan dan arti dari sebuah masa yang pernah dilalui bersama. Aku teringat dengan Al. Sahabatku sejak masih kecil.

Sepuluh tahun lebih kami menghabiskan waktu bersama, berbagi cerita dan kebahagiaan. Kedekatan yang berawal dari kegiatan belajar kelompok sampai menghabiskan hari libur bersama. Kemudian banyak lagi hari yang kami habiskan bersama, dan semakin waktu berlalu, ada hal yang mengusik ketenangan hatiku.

Tak sama lagi rasanya ketika duduk dengannya, Tak sama lagi rasanya ketika dia mengajakku berbicara. Ada semacam keindahan yang aku rasakan, keindahan yang baru aku sadari setelah sekian lama melakukan banyak hal bersamanya. Aku tak pernah tahu apa yang terjadi dalam diriku. Tapi sejenak aku tak berani menatap matanya.

Saat sarapan, aku tak bisa berhenti memikirkannya. Aku menyadari kalau dalam beberapa menit ke depan aku akan bertemu dengannya di sekolah. Memikirkan hal tersebut mendadak menghilangkan selera makanku yang biasanya cukup besar. Bahkan Ibu pun dibuat khawatir dengan keadaanku.

“Ra, kenapa sarapannya belum dimakan?” itu adalah pertanyaan Ibu yang sama setiap hari, setiap pagi.

Aku pun selalu menjawabnya dengan senyum yang sama. Senyum yang menahan beribu kegelisahan di dalam dada. Kegelisahan yang mendadak menyesakkan dada dan membuat perutku sakit.

“Rara mau ke toilet,” langsung aku bangun dari tempat makan dan beranjak ke kamar mandi.

Itu adalah gejala aneh yang timbul setiap kali memikirkan Al. Aku tak tahu kenapa semua ini bisa terjadi, tapi kuharap ada dokter yang bisa menyembuhkan penderitaanku.

Seharusnya sekolah bisa menjadi tempat yang menyenangkan. Sama seperti masa lalu di mana aku bahkan tak pernah suka menghabiskan hari libur di rumah. Bangku nomor 3 dari arah pintu adalah tempat dudukku. Sedangkan tepat di belakangku adalah tempat duduk Al. Mendadak aku jadi begitu cemas, memikirkan apa yang harus aku lakukan  saat bertemu dengannya pagi ini. Aku mencemaskan hal itu setiap hari. Bisa dibayangkan bagaimana sulitnya menjalani hari-hari seperti ini.

“Halo, Ra,” Sekar mengejutkanku ketika tiba-tiba ia datang dengan sebuah kotak kado besar di tangannya. Dia nampak begitu senang, belum pernah aku lihat ekspresi seperti itu. Bahkan di hari di mana akan ada ulangan matematika.

“Kau hari ini ulang tahun?” tanyaku heran.

Dia menggeleng, masih dengan senyum lebar yang membuatku bingung, “Hari ini kan ulang tahun Al. Dan ini hadiahku untuknya.”

Aku cukup kaget mendengarnya. Terlalu sibuk dengan kegelisahanku terhadap Al justru membuatku lupa hari ulang tahunnya. Sahabat macam apa aku ini? Sejenak aku merasa kesal dengan diri sendiri.

“Jangan bilang kau lupa hari ulang tahunnya,” Sekar seolah bisa membaca pikiranku.

Aku tak bisa berkata banyak, hanya mencoba untuk memberi alasan yang tepat, “Sepertinya aku terlalu serius belajar untuk ulangan hari ini. Sampai-sampai aku melupakan ulang tahunnya.”

Sekar hanya geleng-geleng mendengar alasanku.

Sepanjang waktu ulangan, aku terus menyalahkan diri sendiri yang melupakan hari ulang tahun Al. Hampir setiap malam dia hadir dalam mimpiku, hampir setiap saat aku memikirkannya, tapi aku tak ingat hari lahirnya. Inilah sebuah kesalahan besar yang telah aku lakukan padanya.

“Ra,” dari balik punggung Al berbisik-bisik memanggilku.

Sebelum merespon panggilannya, aku melihat ke sekeliling terlebih dahulu, memastikan kalau Pak Agung tidak sedang melihat ke arahku. Ini bisa jadi bencana. Setelah semuanya nampak aman, aku mencoba sedikit menoleh ke belang dan berbicara dengan suara sepelan mungkin, “Kenapa?”

“Nomor enam jawabannya apa?” ternyata Al memanggilku untuk menanyakan jawaban dari soal ulangan. Ya, ini namanya mencontek.

“298,” jawabku.

Kemudian kami kembali ke kertas ulangan masing-masing. Aku telah menjawab semua soal, dan waktu yang tersisa kugunakan untuk memikirkan orang yang duduk di belakangku. Sahabatku. Namun dalam hati meronta seolah ingin agar ia tahu bagaimana kacaunya pikiranku karenanya akhir-akhir ini.

Tapi nampaknya Al tak memikirkanku seperti bagaimana aku memikirkannya. Mungkin begini saja sudah cukup. Jika aku memang menaruh perasaan padanya, biarlah hanya aku yang tahu. Jika aku jatuh cinta padanya, maka biarlah aku jatuh cinta diam-diam. Aku hanya masih meragu dengan perasaanku sendiri.

Sepulang sekolah, aku, Sekar dan Al sengaja pergi ke kantin untuk merayakan ulang tahun Al. Tahulah bagaimana seorang anak sekolah merayakan ulang tahun. Hanya dengan makan semangkuk bakso, itu sudah cukup.

Sampai akhirnya Sekar memberikan kadonya yang berukuran cukup besar, sementara aku tak membawa apa-apa.

“Maaf, aku tak membawa kadonya. Mungkin akan aku antar ke rumahmu nanti malam,” begitulah janjiku pada Al.

Dan untuk menepati janji, sepulang sekolah aku langsung mencari kado yang pas untuknya. Aku tak pernah punya tabungan yang cukup untuk membelikannya sepatu olah raga. Tapi setidaknya aku tahu bahwa dia sangat menyukai voli. Kubelikan saja dia sebuah bola voli. Mungkin itu akan menjadi hadiah yang bermanfaat untuknya.

Biarlah aku menjadi bagian dari hari-harinya walau hanya sebagai sebuah bola. Setidaknya itulah caraku mengungkapkan rasa cinta dalam diam.

Malamnya aku datang ke rumah Al. Ternyata saat itu di rumah Al sedang ada acara makan malam keluarga untuk merayakan ulang tahunnya. Aku pun diajak untuk bergabung. Bertemu dengan orang tua Al dan kedua kakak perempuannya.

“Sudah lama sekali kamu tidak datang kemari,” ucap Ibu Al yang nampak begitu senang melihat kehadiranku.

Kubalas sambutan itu dengan senyum simpul. Selama ini aku memang tak punya cukup alasan untuk berkunjung kemari. Kalaupun ada tugas kelompok dengan Al, kami lebih sering mengerjakannya di sekolah. Lagipula sekarang rumah Al lebih jauh dari rumah sebelumnya, ketika kami bertetangga dekat.

Usai makan malam aku dan Al duduk di ruang tamu. Aneh sekali suasananya. Kami berdua nampak sama-sama canggung, atau hanya aku yang canggung. Aku sampai tak tahu harus berkata apa. Hanya diam dan tak bisa berhenti tersenyum.

Kami sudah saling mengenal cukup lama. Selalu belajar di kelas yang sama sejak SD, dan sekarang kami hanya duduk berhadapan tanpa banyak suara. Sejujurnya, aku benci suasana seperti ini. Seandainya ada Sekar, tentu saja tidak akan sesepi sekarang. Dia selalu bisa mencairkan suasana. Ia selalu mampu menutupi rasa canggungku setiap kali berhadapan dengan Al. Dan sekarang dalam hati aku berharap tiba-tiba Sekar muncul di sini.

“Ngomong-ngomong, terima kasih untuk kadonya,” Al memecah keheningan di antara kami. Nampaknya ia tak tahan kalau harus saling diam seperti ini.

Aku mengangguk, “Ya, kuharap kau menyukainya.”

“Kau pasti bersusah payah untuk mencari kado untukku. Kau sudah memberikan semua yang aku inginkan. Sebuah mobil tamiya di kelas 5 SD, sebuah harmonika di kelas 1 SMP, jersey pemain favoritku di kelas 2 SMP, poster jumbo tim voli idolaku, dan sekarang entah apa lagi yang kau berikan untukku.”

Kurasa terlalu berlebihan jika Al mengingat semua kado yang pernah aku berikan untuknya, “Itu hanya hadiah kecil. Hadiah yang kuharap bisa membuatmu senang,” ujarku, “Aku tahu kau sangat ingin memiliki sepatu yang sama dengan pemain voli favoritmu. Tapi aku tak membelikan itu kali ini.”

Al tersenyum padaku, “Sebenarnya sepatu itu bukanlah hal yang benar-benar aku inginkan.”

“Benarkah?” aku hampir tak bisa menyangkanya. Al begitu sering memicarakan tentang sepatu idamannya, “Lalu apa yang paling kau inginkan?” mendadak aku jadi penasaran.

“Kau,” jawabnya.

Aku masih belum paham dengan maksud ucapan tersebut, “Apa?”

Al mengulangi jawabannya, “Hal yang paling aku inginkan saat ini adalah kau.”

Seketika jantungku seolah berhenti, nafasku sesak dan aku seperti ingin pingsan. Atau mungkin sebaliknya, jantungku berdebar kencang, nafasku memburu dan aku seperti akan meledak. Ada hal aneh yang mendadak menyerang diriku.

Ia melanjutkan ucapannya, “Kurasakan kau sedikit berubah akhir-akhir ini. Aku selalu takut kalau ternyata aku telah membuatmu merasa tak nyaman berada di dekatku. Aku hanya ingin kau yang dulu kembali.”

“Saat kau mulai merasakan sikap anehku, saat itulah sebenarnya aku mulai menyukaimu. Aku jatuh cinta padamu,” ucapku. Namun hanya dalam hati. Kuharap aku bisa mengatakan padamu. Tapi mendadak lidahku kelu. Aku takut mengutarakan perasaanku. Aku takut perasaan itu akan merubah persahabatan yang indah di antara kita.

Maka, biarlah aku simpan kalimat itu, sampai tiba waktu yang tepat untuk mengatakannya.



4 comments:

  1. keren.. aku jadi ikut deg-deg an pengen ngungkapin isi hati.. good luck ya.. aku juga ikutan nih..

    ReplyDelete
    Replies
    1. siap untuk kunjungan balik nih...
      Meluncur....

      Delete
  2. Whoooh... kirain si Al juga suka. Tapi ternyata dia hanya merasa kehilangan sosok sahabatnya.
    nice story :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Endingnya lumayan bikin kecewa ya? :)

      Delete

Silakan tinggalkan komentar. Boleh kritik, saran atau apapun.. Jangan lupa untuk selalu menggunakan kata-kata yang santun. Terima kasih.