Dari Balik Jendela

9:07 AM Nur Mumtahana 0 Comments


Harapnya, pagi mampu menjadi awal baru untuk hati yang rapuh.
Kemudian kubuka tirai jendela dan mendapati udara cerah di luar sana. Indah, dan sejenak mengingatkanku bahwa dulu pernah ada hari yang terasa begitu cerah meski hujan mengguyur sepanjang hari.

Teringat kembali dengan satu masa dimana aku bangun dari tempat tidur dengan semangat yang entah lenyap sejak kapan. Dan satu alasan yang menjadikanku begitu bersemangat adalah ketika tahu bahwa hari ini harus bergegas berangkat sekolah. Bertemu dengan teman-teman, dan berharap bisa bertemu dengannya.

Dia yang dulu pernah menjadi satu bagian cerita hari-hariku. Kehadirannya yang hanya seperti angin. Berlalu sejenak dan meninggalkan kesejukan di hati. Kemudian ia menjelma menjadi hujan. Meski telah berlalu, namun gemercik airnya masih terasa di pucuk-pucuk daun. Dan kini ia seperti udara yang aku hela setiap hari. Selalu ada dan tak pernah hilang.

Seringnya kupandangi dia dari balik jendela kelas. Melihat dia yang berlari di tengah lapangan. Kala hujan ataupun kala udara terik. Dan dari balik jendela, hanya sebatas itu mata ini dapat memandangnya lekat. Berharap dia akan menatap balik. Namun kutunggu selama ini, dan itu tak pernah terjadi.

Penantian tak selamanya memiliki akhir cerita yang sama. Boleh saja semua cerita dalam buku menyajikan penantian yang berbuah manis. Namun tidak dengan cerita yang menggelayutiku selama hampir lima tahun. 

Dan semakin lama menunggu, semakin hilang harapan. Namun tak benar-benar hilang, hanya kian berkurang. Dan dalam satu waktu, terkadang harapan itu muncul bagai karang raksasa di tengah lautan. Begitu kuat, kokoh dan dipenuhi kepercayaan. Mungkinkah itu satu gambar akan keteguhan hati atau justru gambaran atas diri yang berputus asa.

0 comments:

Silakan tinggalkan komentar. Boleh kritik, saran atau apapun.. Jangan lupa untuk selalu menggunakan kata-kata yang santun. Terima kasih.