[Flash Fiction] : Taksi

9:40 PM Nur Mumtahana 1 Comments

Pagi tadi, kudapati sebuah kiriman paket di dalam kotak surat. Sebuah paket berbentuk kotak yang tak terlalu besar. Alamat yang tertulis adalah benar alamat rumahku, tapi jelas tidak ada orang bernama Andre yang tinggal di sini. Andre bukan nama ayahku, dan aku juga tak punya saudara laki-laki. Mungkin aku akan membawanya ke kantor polisi atau ke agen pengantar barang ini.

"Taksi!" teriakku saat sebuah taksi melintas di depan rumah. Aku tahu kalau aku akan terlambat masuk ke kelas hari ini. Tapi kuharap dosen yang mengajar pun akan datang terlambat.

Begitu masuk ke taksi, aku merasa bingung, kulihat wajah sopir taksi itu nampak muram. Matanya merah dan berkaca-kaca. Aku yakin kalau sopir taksi itu sedang menahan air mata, atau lebih tepatnya dia baru saja menangis.

Aku sebenarnya penasaran, tapi lebih memilih diam. Kupikir keputusanku tidak salah. Lagipula aku sendiri sedang sibuk memikirkan paket yang tiba-tiba ada di dalam kotak surat rumahku. Aku akan mengembalikannya kepada kurir pengiriman barang siang ini.

Tiba di kampus, aku langsung berlari ke arah kelas. Kuharap aku belum terlambat. Ini akan menjadi hari yang panjang seandainya aku melewatkan penjelasan tentang materi ulangan tengah semester nanti.

Rasanya melegakan ketika bisa selamat dari segala macam kekhawatiran terhadap hari ini. Seperti yang sudah direncanakan, aku akan mengembalikan paket salah kirim tersebut. Namun begitu aku cari, ternyata kotak paket tersebut tidak ada di dalam tas. Saat itulah aku ingat kalau selama di dalam taksi aku memegangnya. Dan kurasa kotak tersebut tertinggal di dalam taksi.

Kini tak ada lagi yang bisa aku lakukan. Mungkin seseorang di luar sana sedang menunggu kiriman paket datang padanya. Namun di dalam hati aku berkhayal, semoga saja sopir itu adalah pemilik dari paket yang aku tinggalkan di dalam taksinya. Kuharap.

Beberapa hari kemudian aku melihat taksi itu melintas kembali di depan rumah. Aku hafal betul plat nomor dan stiker yang tertempel di kaca depan taksi tersebut. Aku masuk, dan kulihat sopir taksi itu tak semuram sebelumnya. Ia nampak cerita.

“Mau kemana, Mba?” tanyanya dengan nada penuh keriangan.

“Kampus,” jawabku.

Kemudian aku mulai teringat dengan paket yang tertinggal di dalam taksi ini, akhirnya aku coba menanyakannya, “Pak, apa beberapa hari yang lalu Bapak menemukan sebuah kotak paket di dalam sini?”

Sopir taksi itu menoleh ke arahku, “Iya. Saya menemukannya. Paket untuk orang bernama Andre, kan?”

“Ya.”

“Apa Mbak yang meninggalkannya?” tanya sopir taksi itu.

Kemudian kujelaskan semuanya. Tentang asal mula paket yang salah kirim tersebut.

“Perkenalkan, nama saya Andre,” katanya memperkanlkan diri. Tentu saja, tertulis jelas di kartu nama yang terletak di dekat kemudi. “ Sebenarnya alamat yang tertulis pada paket itu mirip dengan alamat rumah saya. Hanya saja rumah saya berada di blok D, sedangkan dalam paket ditulis blok P.”

Aku terkejut. Hal itu sama persis seperti yang kuharapkan. Dan ternyata itu adalah paket dari putranya yang tinggal di luar negeri. Sopir taksi itu pun membagi rahasianya bahwa isi kotak itu adalah sebuah cincin, hadiah ulang tahun untuk sang ibu.

Seketika aku merasa sangat lega mendengar hal tersebut.


Tentang-Kita-Blog-Tour

1 comment:

Silakan tinggalkan komentar. Boleh kritik, saran atau apapun.. Jangan lupa untuk selalu menggunakan kata-kata yang santun. Terima kasih.