[Movie Review] : The Fault In Our Star

12:58 PM Nur Mumtahana 4 Comments


Sudah cukup lama saya menonton film ini, tapi baru sempat untuk mereviewnya. So check it out!

Dalam film yang diangkat dari novel berjudul sama, mengisahkan tentang seorang gadis remaja bernama Hazel Grace Lancaster yang mengidap penyakit kanker stadium akhir pada saluran pernafasannya. Hal tersebut mengharuskan Hazel untuk selalu membawa tas berisi tabung oksigen kemanapun ia pergi.

Suatu hari orang tuanya meminta Hazel untuk bergabung dengan kelompok pendukung, semacam forum yang anggotanya adalah para penderita kanker. Di dalam forum tersebut, anggotanya diajak untuk bisa berbagi cerita, pengalaman dan saling memotivasi satu sama lain. 

Di situlah Hazel memiliki teman baru yang bernama Augustus Waters. Dia adalah seorang mantan pemain basket yang kakinya telah diamputasi karena penyakit kanker. Dan sejak pertemuan pertama mereka, Hazel dan Gus menampakkan saling ketertarikan satu sama lain. Mereka mulai sering menghabiskan waktu bersama, saling berkirim pesan dan bahkan mengunjungi rumah satu sama lain.

Hazel sangat menyukai sebuah novel berjudul An Imperial Affliction (Kemalangan Luar Biasa) yang di dalamnya mengisahkan tentang kehidupan seorang gadis penderita kanker. Buku tersebut sangat menginspirasi dirinya, dan Hazel pun memiliki keinginan yang besar untuk bisa bertemu dengan Van Houten, sang penulis buku.

Sudah cukup sering Hazel berusaha untuk bisa menghubungi sang penulis, namun e-mailnya tidak pernah mendapatkan respon. Dan berkat bantuan Gus, akhirnya Hazel memiliki kesempatan untuk bisa bertemu dengan Van Houten di Amsterdam.

Pada hari yang sudah ditentukan, Hazel bersama ibunya dan Gus pergi ke Amsterdam. Hal tersebut adalah satu kebahagiaan tak terkira bagi Hazel. Ia bahkan sudah menyiapkan beberapa pertanyaan yang akan diberikan pada Van Houten. Selain itu, Hazel dan Gus juga mendapat kesempatan untuk menikmati makan malam romantis di sebuah restoran terkenal di Amsterdam. Dalam percakapannya, Gus berkata bahwa jas yang dia kenakan malam itu adalah jas yang sudah disiapkan untuk pemakamannya kelak. Ia tidak menyangka kalau akan memakai pakaian itu pada acara makan malam seperti ini. Pada malam itu juga perasaan Hazel dibuat campur aduk antara senang, terharu dan terselip kesedihan, apalagi ketika Gus dengan jelas mengutarakan rasa cintanya. Hazel sampai kehabisan kata-kata, hanya bisa tersenyum dan meneteskan air mata melihat ada orang yang dengan tulus mencitai dirinya.

Esok harinya, Hazel bersama Gus mencari alamat tempat tinggal Van Houten. Namun begitu tiba di rumahnya, Hazel dan Gus dibuat sangat kecewa. Ternyata, penulis yang selama ini ingin ditemuinya tidaklah seperti sosok yang dibayangkan. Van Houten adalah seorang pemabuk berat. Dia pemarah dan suka berbuat kasar. Bahkan Hazel pun merasa tersakiti hatinya dengan perlakuan Van Houten yang semena-mena terhadap orang yang telah datang jauh-jauh untuk menemuinya. Dengan sangat menyesal, asisten Van Houten meminta maaf kepada Hazel dan Gus. Mereka pun memilih untuk pulang.

Usai perjalanan dari Amsterdam, Hazel dan Gus kembali memulai rutinitas mereka. Duduk bersama, berbagi cerita dan saling mengungkapkan perasaan. Walaupun pada akhirnya kisah bahagia mereka harus terhenti ketika Gus mengatakan bahwa kanker yang dideritanya telah menyebar ke bagian tubuh yang lain.

Hati Hazel sangat terpukul mengetahui hal tersebut. Kesedihan melanda hatinya, dan tak ada seorang pun yang dapat menghibur. Tapi di situlah Gus selalu berusaha memberi pengertian kepada Hazel. Baginya, adalah sebuah kebahagiaan telah mampu bertemu dengan sosok perempuan yang begitu istimewa di hatinya.

Gus menyadari bahwa usianya tak lama lagi. Oleh karena itu ia meminta agar Hazel dapat memberikan sambutan di hari pemakamannya kelak. Akhirnya pada suatu malam Hazel berdiri di hadapan Gus dan belajar memberikan sambutan yang tak lama lagi harus dilakukannya di hadapan banyak orang. Saat itu pula secara tak langsung Hazel mengutarakan perasaan cintanya yang terdalam pada Gus. Ia tak mampu menahan air matanya, begitu pula dengan Gus.

Kemudian hari itu benar-benar datang. Gus pergi meninggalkan semua orang yang mencintainya.

Tepat saat pemakaman Gus, tiba-tiba Van Houten datang untuk menemui Hazel. Namun Hazel yang pernah disakiti hatinya pun memilih untuk tak menghiraukan Van Houten. Ternyata kehadiran orang tersebut adalah untuk meminta maaf. Diberikannya sepucuk surat kepada Hazel, namun Hazel justru membuang surat tersebut. Dan begitu mengetahui bahwa surat itu adalah dari Gus, Hazel langsung mencari kembali surat yang telah dibuangnya.

Dan itulah akhir cerita di antara Hazel dan Gus. Memang tak panjang waktu yang mereka lalui, namun keduanya telah memahami bahwa perpisahan seperti ini pasti akan segera terjadi. Dan dengan meyakinkan diri, Hazel percaya bahwa ini adalah yang terbaik untuk semuanya.

4 comments:

  1. Bagian kerennya pas "we all want to leave a mark, but not Hazel"

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, betul banget... Hazel memang selalu punya cara pandang yang berbeda dari kebanyakan orang.

      Delete
  2. gue punya nih kasetnya. john green emang kece. ending-endingnya udah ketebak, pasti ada yang meninggal..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Awalnya dikira Hazel yang bakal meninggal. Ternyata Gus...

      Delete

Silakan tinggalkan komentar. Boleh kritik, saran atau apapun.. Jangan lupa untuk selalu menggunakan kata-kata yang santun. Terima kasih.