Explore Dieng Edisi 1st Anniversary Pendaki Laka-laka

12:58 PM Nur Mumtahana 0 Comments

Rasanya rindu melihat bentangan alam yang hijau nan asri. Ruang dalam paru-paru ini ingin menghela udara segar. Karenanya, aku ingin beranjak melangkahkan kaki. Mencari tempat di mana aku bisa mengobati kerinduan yang mengikat hati begitu erat.

Itu dia satu alasan yang membuat saya benar-benar ingin keluar dari ruangan dan melihat birunya langit, atau awan putih. Tidur di atas rumput hijau dan merasakan semilir angin. Saya hampir lupa bagaimana rasanya semua itu setelah sekian lama tertegun di bawah langit-langit kamar.

Kala itu saya mencoba mencari komunitas pecinta alam di sekitar wilayah Tegal. Dan akhirnya saya melihat salah satu grup bernama Pendaki Laka-laka di Facebook. Komunitas pendaki asal Tegal tersebut membuat saya cukup senang karena akhirnya bisa menemukan satu wadah yang mudah-mudahan bisa membantu saya mengobati kerinduan akan alam terbuka. Dan cukup takjub juga ketika akhirnya ada even open trip sebagai perayaan 1st Anniversary komunitas tersebut.

Penampakan Grup Pendaki Laka-laka

Saya langsung mengabari dua teman saya, Mba Dyas dan Mba Sary. Walaupun awalnya sempat merasa kecewa karena kuota sudah penuh, tapi ternyata pada hari terakhir pendaftaran panitia mengabarkan bahwa ada 3 kursi kosong yang masih bisa diisi. Kami bertiga positif ikut. Setelah urusan kontribusi selesai, kami langsung menyiapkan segala hal yang dibutuhkan nantinya.

Cukup lama tubuh tidak diajak bergerak karena lebih sering duduk di kursi. Kami pun memutuskan untuk berolahraga ringan setiap sore. Ternyata kemampuan fisik menurun drastis setelah sekian lama dimanjakan dengan duduk manis. Dan semua latihan tersebut jelas belum cukup untuk bekal pendakian nanti. Tapi karena hari sudah semakin dekat, kami hanya berusaha untuk bisa lebih menyiapkan kebutuhan lain seperti perlengkapan dan logistik.

Dan berkisah tentang tiga sepatu yang kembar, sebenarnya ini tidak disengaja. Kalau sepatu saya sendiri sudah dibeli sekitar dua bulan yang lalu sebelum hari pelaksanaan. Walaupun belum ada rencana untuk mendaki, tapi saya tahu kalau sepatu ini akan dibutuhkan suatu saat nanti. Sedangkan sepatu Mba Dyas sendiri dibeli beberapa hari sebelum pendakian. Dan ternyata sangat kebetulan sepatu yang dibeli sama dengan sepatu saya, hanya saja warnanya sedikit berbeda. Bagaimana dengan sepatu milik Mba Sary? Sepatu milik Mba Sary jelas sama persis dengan sepatu milik saya. Karena kebetulan nomor sepatu saya agak kekecilan dan lebih pas dipakai Mba Sary, akhirnya Mba Sary membeli sepatu dengan ukuran kaki yang cocok untuk saya. Dan kami bertukar sepatu. Jadi tidak ada unsur kesengajaan sama sekali. Rumor tentang beli 2 dapat 3 hanyalah alasan semata karena kami tidak mungkin menceritakan panjang lebar tentang kebenarannya.

H-1 kami membuat surat izin bersama. Dan agar kegiatan pendakian lebih berkesan, kami bertiga sepakat untuk tidak menggunakan ponsel kecuali untuk dokumentasi. Esoknya kami langsung jalankan modus airplane walaupun sebenarnya kami berangkat dengan bus (bukan dengan pesawat) :D


Tanggal 23 Mei 2015. Berangkat dari basecamp Pendaki Laka-Laka yang beralamat di Jalan Kaligung, tepatnya di belakang BRI Alun-alun Tegal sekitar jam 8 dan tiba di Wonosobo jam 3 sore. Setelah ishoma dan mempersiapkan segala sesuatu sebelum pendakian, tim pun dibagi menjadi beberapa kelompok (tepatnya berapa kelompok, saya agak lupa). Kebetulan Saya, Mba Sary dan Mba Dyas tergabung dalam kelompok 4 bersama Bang Jono, Mas Amin, Bang Abdul Hakim (Dulkim) dan Mas Farid.






Menempuh perjalanan sejak pukul 16.30. Bahkan ketika hari sudah petang kami masih berada di perjalanan. Sangat disayangkan karena kekuatan fisik yang menurun membuat saya harus merepotkan anggota tim yang lain. Terima kasih kepada Mas Amin dan Bang Dulkim yang rela gendongin tas saya. Buat Bang Jono, terima kasih atas semangat dan motivasinya. Dan acungan jempol untuk Mba Sary yang paling strong. Hahaha.


Pukul 21.00 kami mulai mendirikan tenda dan memasak beberapa makanan instan yang pembuatannya ternyata tidak instan. Ini adalah momen-momen paling seru. Bisa dibilang memang menjadi malam keakraban. Kami yang belum mengenal satu sama lain langsung menjadi seperti teman yang tumbuh bersama sejak lama. Ada banyak obrolan seru kala itu. Mulai dari obrolan yang penting sampai yang tidak penting sama sekali. Bahkan terus terang saya tidak rela ketika akhirnya malam semakin larut, udara dingin menyelimuti sekujur tubuh dan kami memutuskan kembali ke tenda.

Dibalut dengan hawa dingin Gunung Prau, menjadikan tidur bersepuluh di dalam tenda sebagai satu hal yang menyenangkan. Ada banyak hal yang melintas di dalam benak sebelum akhirnya mata terpejam. Otak memutar kembali memori yang baru dilewati. Ketika kami naik ke dalam bus di pagi hari, ketika kami tiba di basecamp, ketika kami memulai langkah pertama. Membayangkan ketika nafas rasanya hampir putus. Ketika pundak tak sanggup menahan beban dan kaki berat melangkah. Tapi di sini, saya bersyukur bisa menemukan kebersamaan yang mungkin memang harus diperjuangkan dengan cara seperti itu.




Hawa dingin pagi hari tak kalah menggigit. Tapi ketika langit di sisi timur mulai membiaskan jingga, kami tahu bahwa tak ada waktu lagi untuk meringkuk mencari kehangatan. Inilah saatnya untuk mendapat hadiah istimewa dari puncak Prau. Matahari terbit paling indah yang pernah dilihat mata. Ditemani oleh kawan-kawan yang luar biasa.






Rasanya beruntung sekali bisa berada di sini. Tapi kami tak bisa berlama-lama. Selesai menikmati hawa dingin, udara segar, matahari terbit dan pemandangan yang indah, rombongan bergegas untuk meninggalkan puncak.


Perjalanan pulang melalui jalur Patak Banteng dengan medan yang luar biasa terjal. Kalau saja harus mendaki dengan jalur ini, sepertinya saya akan menangis. Bahkan si jempol kaki pun mulai lecet-lecet. Untungnya ada yang meminjami saya sandal :D

Setelah turun dari Gunung Prau, kami segera bersih diri, sholat dan makan siang. Perjalanan dilanjutkan dengan mengunjungi beberapa objek wisata di kawasan Dieng. Candi Arjuna adalah tujuan berikutnya. Walapun sudah kelelahan dan ngantuk, tapi melihat suasana di sana benar-benar membuat kita memilih untuk membuka mata lebar-lebar. Menikmati peninggalan prasejarah yang patut untuk dilestarikan. Dan yang pasti, kami tidak lupa untuk berfoto ceria.


 



Usai dari Candi Arjuna, kami menuju ke Kawah Sikidang. Terus terang saja, tidak banyak yang bisa saya ceritakan. Yang pasti, aroma belerang dari kawah benar-benar menusuk hingga ke dalam kalbu #lebai. Saya bersama Mba Sary dan Mba Dyas memutuskan untuk tidak ikut bergabung dengan rombongan dan memilih beristirahat sejenak bersama Bang Jono.


Tak terlalu lama, hanya sekitar setengah jam rombongan kembali ke bus dan bersiap menuju Telaga Warna. Di sini kami tak cuma disuguhi bentangan telaga berwarna biru kehijauan bersemu putih. Tapi ada juga tempat-tempat bersejarah seperti goa peninggalan masa lalu. Beberapa goa yang saya ingat di antaranya adalah goa jaran, goa pengantin dan goa sumur.



Dan perjalanan kami ditutup dengan berbelanja di pusat oleh-oleh khas Dieng. Makanan olahan kentang dan buah carica menjadi satu hal yang paling dicari. Setelah berbelanja oleh-oleh untuk keluarga dan teman-teman di rumah, kami pun langsung beranjak ke bus dan melanjutkan perjalanan ke Tegal. Pulang ke rumah.

Ada banyak hal yang tidak bisa dituliskan dalam deretan kata-kata di sini. Terlalu banyak hal yang ingin disampaikan, tapi apa daya tangan yang kadang sulit menguraikan kata-kata dari dalam hati. Tapi perjalanan tersebut telah menjadi satu hal baru bagi saya. Banyak hal yang tidak saya temukan di tempat atau pada kesempatan lain.

Teman-teman baru yang seperti telah menjadi keluarga kedua. Kebersamaan kita adalah rumah kedua. Dan selalu ada rasa rindu untuk bisa kembali berjumpa dan bersenda gurau. Terima kasih untuk satu masa yang indah.

0 comments:

Silakan tinggalkan komentar. Boleh kritik, saran atau apapun.. Jangan lupa untuk selalu menggunakan kata-kata yang santun. Terima kasih.

Hanya Ini Yang Tersisa Dalam Hatiku

11:51 PM Nur Mumtahana 0 Comments

Malam ini mendung, tapi angin terasa lebih ramah menyapa. Aku terduduk seperti biasa. Melakukan sesuatu yang biasa aku lakukan, dan menemukan satu hal. Tentang sesuatu yang membuka pikiranku. Yang membuatku harus menggunakan logika dalam mengartikan sebuah perasaan. Dan saat itulah aku merasakan sebuah penyesalan yang hebat akan sebuah masa silam.

Masih terngiang bagaimana pertama kali aku melihatmu dulu. Aku tak pernah percaya pada cinta pandangan pertama. Aku hanya percaya pada cinta pertama. Karena saat pertama bertemu, bukan terbesit rupa atau fisik yang terperangkap dalam pikiranku, tapi sebuah aura yang membangunkan gejolak dalam dada. Aku tak pernah bisa menuliskan bagaimana perasaanku kala itu. 13 Juli 2009.

Entah karena takdir atau karena lingkungan sekolah yang tidak terlalu luas. Banyak kesempatan yang membuatku harus merasakan kehadiranmu. Sekali lagi, aku tak perlu melihat rupa untuk bisa merasakan kehadiranmu. Karena ketika aku duduk dan kau berada tepat di belakangku, aku telah menyadarinya bahkan sebelum aku menoleh. Bahkan aku belum paham bagaimana suaramu. Ya, aku benar-benar belum mengenalmu kala itu. Tapi pertemuan demi pertemuan membuat hatiku semakin terusik. Entah makhluk apa yang hinggap di dalam sana. Aku makin tak mampu untuk mengendalikannya.

Begitu berat rasanya ketika seorang remaja belasan tahun merasakan sesuatu yang bahkan tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Sejak saat itulah, hati yang meronta kucoba tahan. Mencoba meredamnya dalam kesendirian, namun tetap tak bisa. Bahkan getar-getar itu makin hebat dan menjalar hingga ke otak. Melumpuhkan logika. Sejak saat itu aku selalu menuruti kata hati tanpa berkompromi pada otak. Betapa bodohnya aku karena sebuah cinta.

Satu dua tahun tak cukup untuk menyudahinya. Segala hal terasa semakin rumit. Bahkan tak sedikit hal yang mengusik ketenangan di dalam hati. Setiap saat aku mulai mencari. Menatap ke luar jendela kelas, mencoba mencari sosok yang semakin jelas tergambar di dinding hati. Dan aku semakin tak bisa mengabaikan perasaan itu.

Jika aku boleh mengatakan satu hal tentangmu adalah : kau biasa-biasa saja. Kau tidak tampan, kau juga tidak terlalu pintar, kau mudah marah, sangat suka membentak, suaramu membuat orang jantungan, ucapanmu kadang pedas di telinga. Ya, kau benar-benar jauh dari kriteria orang yang pantas untuk dicintai. Tapi di antara semua itu, ada satu hal yang sangat kecil yang membuatku tak bisa berpaling. Satu hal yang kucari hingga saat ini dan belum juga kutemukan.

Dan diam selalu menjadi jawaban atas amukan hati. Mencoba menahannya sendirian begitu berat. Ketika terlintas sosokmu di dalam pikiran, aku hanya diam. Ketika tak bertemu denganmu dan hati mulai diguncang rasa rindu, aku pun diam. Saat merasakan percikan api cemburu, aku tetap diam. Aku terus diam dan diam. Semua itu berhasil aku lalui setidaknya selama dua tahun. Sampai tiba saatnya untuk melepasmu. Tapi di dalam hati, aku belum sanggup. Tahun 2011.

Aku berharap bisa diam di hari perpisahan itu. Aku duduk di antara kerumunan orang. Melihatmu di atas pentas menyanyikan lagu perpisahan bersama teman-teman. Aku terus diam. Perasaanku campur aduk kala itu. Ada rasa takut kehilangan. Ada rasa cemas kalau nanti tak bisa melihatmu lagi. Ada pula rasa sakit karena ditinggalkan, padahal sesungguhnya kau pun tak pernah mengenalku. Aku yakin, kalau kau juga pasti tidak tahu namaku sama sekali. Tak seperti cermin yang saling tatap. Cerita ini lebih seperti aku yang menatap bayangan. Mengejar, tapi tak tergapai. Akhirnya hari itu aku tak sanggup menahan semua perasaan yang terbendung sekian lama. Hatiku terlalu kecil untuk menampung perasaan yang teramat besar. Aku pun menangis sejadi-jadinya seperti anak kecil yang ditinggal pergi ibunya. Teman-temanku termangu melihat bagaimana aku menangis hingga tersedu-sedu. Aku hanya menangis tak berkata apa-apa, tapi pada akhirnya mereka bisa tahu tanpa aku harus mengatakan sepatah katapun.

Teman-teman langsung membawaku ke kelas. Mencoba menghiburkku walaupun mereka tahu kalau semua itu tidak akan mengubah perasaanku. Butuh waktu lama hingga tangisku reda. Namun setelahnya sorot mataku kosong. Aku merasa kalau hari-hariku telah berakhir. Ya, aku kini seperti sehelai bulu yang ditiup dari puncak menara. Aku tak tahu arah, hanya berjalan ke mana angin membawaku pergi.

Aku mulai buta. Aku tak tahu arah, aku tak tahu mana yang benar dan salah. Aku hanya ingin kau melihatku. Aku berusaha melakukan segala hal. Mencari perhatian dengan memulai perang dingin. Semua itu kulakukan bukan karena aku benar-benar ingin mencari masalah denganmu. Aku hanya ingin sedikit lebih lama membuat percakapan denganmu. Meski hanya lewat pesan tulisan. Tapi semua kata itu seolah-olah keluar dari mulutmu dan sampai ke telingaku. Aku mulai sering mengusikmu. Berbuat ulah bahkan melakukan hal-hal yang tidak penting sama sekali. Hingga aku tahu kau semakin muak dengan sikapku. Kau memilih untuk mengakhiri semuanya. Tidak ada lagi cara bagiku untuk bisa menyambung percakapan itu. Ya. Semua selesai sampai di situ.

Dalam diam, setiap malam aku masih sering menuliskan namamu, tentang dirimu di dalam buku harianku. Dulu aku sempat ingin membuang buku tersebut karena aku terlalu sering menuliskan semua tentangmu. Tapi aku tahu, bahwa setelah membuang buku itu aku tidak akan punya sesuatu untuk dikenang dari perasaan yang pernah tumbuh begitu hebat. Akhirnya kuurungkan niat tersebut. Ya, rinduku sedikit terobati setelah menulis banyak hal tentangmu. Walaupun kadang itu membuatku seperti orang gila.

Tapi setidaknya perpisahan kala itu bukan benar-benar akhir perjumpaanku denganmu. Di hari yang lain, di kesempatan yang lain, di tempat yang berbeda, tak lagi dengan seragam sekolah, aku melihatmu. Duduk menghadap jendela di antara deretan rak buku. Andai kau tahu, bahwa di situ pula biasanya aku duduk dan membaca buku-buku kesukaanmu. Karya Mira W. Segurat Bianglala di Pantai Senggigi. Sayang sekali, aku tak sempat menyelesaikan buku tersebut. Tapi melihatmu yang sedang serius dengan buku ditangan, aku hanya melihat dari balik celah deretan buku. Berharap kau bisa melihatku, walaupun aku tahu itu tak mungkin. Akhirnya kuputuskan untuk beranjak pergi. Aku tak mau rindu yang telah terobati dengan perjumpaan singkat akan menjadi satu perasaan yang semakin besar.

Empat tahun sejak perpisahan itu. Percayakah bahwa hingga detik ini perasaanku belum berubah sama sekali? Tapi kini aku telah merubah caraku menyikapi perasaan tersebut. Aku sadar, bahwa sejak dulu aku terlalu mengikuti kata hati. Hal itu membekukan otakku. Membuatku menjadi makhluk bodoh yang dibutakan cinta. Aku telah salah selama ini. Aku tahu bahwa bukan begitu cara menyikapi cinta. Aku telah salah menjadikan cinta sebagai alasan untuk melakukan hal yang bahkan membuat orang lain membenciku. Aku tahu kau membenciku. Aku hanya tak tahu harus bersikap bagaimana kala itu untuk membuatmu melihatku.

Kini aku menyadari, bahwa aku benar-benar telah melakukan kesalahan besar. Seharusnya aku telah tahu bahwa mencintai saja itu cukup. Tapi untuk bisa dicintai, biarkan seseorang mencintaimu dengan tulus bukan karena kau memaksakan perasaan tersebut. Aku tahu bahwa kau pun memiliki perasaan cinta, meskipun itu untuk orang lain. Kini aku mencoba untuk benar-benar menghargai perasaanmu. Aku paham, bahwa terkadang cinta harus tulus. Bahkan tulus untuk melepaskan. 

Aku tak mau membohongi hati. Aku belum bisa melupakanmu, tapi aku akan melepaskanmu. Membiarkanmu menggapai segala impian yang telah kau gantungkan. Bahkan impian untuk dapat berdampingan dengan orang yang kau cintai. Aku hanya tak mau cinta membutakanku untuk kedua kalinya. Aku tahu bahwa cinta yang tak terbalas itu menyakitkan. Tapi tak banyak yang bisa aku lakukan. Apabila aku memilih untuk terus mengejarmu, maka saat itulah aku sedang mengulangi kesalahan yang sama. Tapi kini aku memilih untuk diam. Melihatmu dari kejauhan. Mencoba untuk berhenti berharap bahwa suatu saat kau akan melihatku. Aku bangun dari mimpi panjang yang seolah menghapus masa depanku. Aku tahu, ada jalan panjang di hadapanku. Aku harus berhenti menoleh ke belakang. 

Ketika aku telah berpikir demikian, tak banyak lagi yang ingin aku katakan. Aku hanya ingin meminta maaf atas segala sikapku di masa lampau. Aku yang telah mengacaukan hari-harimu. Aku yang terkadang membuatmu kesal, bahkan muak. Aku yang telah menghabiskan waktu berhargamu. Aku yang telah mengusik impian-impianmu. Aku tahu kau orang yang begitu tegar dalam menyikapi hidup yang terkadang tak ramah. Dan aku tahu bahwa itu adalah satu hal yang tak akan pernah aku hapus dalam kenangan tentangmu. Semangatmu menjalani hidup adalah satu kekuatan yang kini aku tumbuhkan di dalam diri. Terima kasih telah memberiku kekuatan untuk bisa menjadi lebih tegar. Terima kasih. Dan sekali lagi, dari lubuk hati yang paling dalam aku meminta maaf. Maaf untuk segalanya.

0 comments:

Silakan tinggalkan komentar. Boleh kritik, saran atau apapun.. Jangan lupa untuk selalu menggunakan kata-kata yang santun. Terima kasih.

Di Balik Hari Libur

8:32 AM Nur Mumtahana 3 Comments

Image : http://www.nanigans.com

Setiap kali H-1 tanggal merah, saya selalu girang, "Hore! Besok Libur! Besok Libur!" Hal itu sampai membuat teman-teman di kantor bingung dan bilang, "Kamu kok hafal sih setiap kali ada tanggal merah?" Saya cuma senyum.

Tentu saja saya hafal semua tanggal merah. Karena tanggal merah adalah satu hal yang saya nanti-nanti setiap waktu. Dan H-1 menjelang hari libur adalah puncak kebahagiaan, terlebih lagi saat pulang kerja. Membayangkan kalau besok akan menjadi hari yang luar biasa. Bisa bangun lebih siang, bisa bersantai dan menonton TV, bisa beres-beres kamar atau jalan bersama teman-teman.

Jalan bersama teman-teman menjadi hal yang sangat menyenangkan. Tapi seandainya di hari libur tidak ada teman yang mengajak ke luar, tentu saja saya akan berdiam di rumah. Tapi jangan berpikir kalau saya hanya berdiam diri seperit orang yang baru ditinggal kawin lari. Saya punya satu hal yang hanya bisa saya lakukan ketika sedang sendiri. Hal yang tidak akan pernah bisa dilakukan ketika ada orang yang berusaha berinteraksi dengan saya. Tahu apa itu? Terjun ke dunia imajinasi di dalam pikiran.


Di dalam pikiran saya ada satu ruang yang memang tertutup dan sulit untuk dihubungkan dengan dunia luar yang penuh keramaian. Ruang itu adalah satu tempat yang hanya bisa saya masuki ketika sedang menyendiri. Di dalam ruang itu ada satu kehidupan yang tidak bisa dilihat oleh orang lain. Sebagaimana kehidupan manusia pada umumnya, di dalam ruang pikiran saya yang satu itu terdapat banyak karakter dengan sifat mereka masing-masing. Melakukan aktivitas kehidupan layaknya kehidupan manusia. Hanya saja saya bisa mengatur kehidupan dalam pikiran saya sendiri. Saya bisa menciptakan kehidupan sedih, bahagia atau apapun yang saya inginkan.

Ketika bisa memasuki ruang tersebut, itu artinya saya sedang dalam keadaan menyendiri dari dunia realita. Saya terus menulis alur cerita untuk kehidupan yang ada di dalam pikiran saya. Menciptakan konflik dan menemukan solusi. Dan tidak ada orang yang pernah tahu tentang hal tersebut. Bahkan meskipun saya tulis di sini, belum tentu pembaca juga memahaminya.

Kehidupan yang ada di dalam pikiran saya perlahan coba saya tuangkan lewat tulisan. Harapannya agar suatu saat dunia di dalam pikiran saya tersebut bisa diketahui oleh orang lain. Agar orang lain mengakui keberadaan dunia yang selama ini hidup di dalam pikiran saya. Meskipun kadang orang berpikir kalau saya sedikit gila menciptakan kehidupan yang aneh dan jungkir balik, tapi begitulah hal yang saya inginkan. Di dalam pikiran saya, tidak ada hal yang bisa membatasi segala kemungkinan yang akan terjadi. Mungkin saja saya bisa menciptakan kucing bersayap atau kambing bersirip yang bisa berenang di lautan luas. Itu semua hidup di dalam pikiran saya, dan tidak ada yang berhak untuk menentangnya.

Setidaknya menyelami dunia di dalam pikiran saya bisa membuat hari libur di rumah menjadi lebih menyenangkan. Tentu saja perasaan senang ini tidak bisa dilihat atau dirasakan oleh orang lain. Hanya bisa dirasakan oleh saya. Karena yang akan mereka dapati ketika melihat saya hanyalah seorang perempuan yang sedang menyendiri di kamar. Berbaring dan menatap langit-langit kamar atau duduk di depan monitor dengan jemari yang mencoba untuk menyampaikan setiap kata.

Bagaimanapun juga, menyendiri di hari libur bukanlah hal yang buruk. Hal tesebut justru bisa menjadi quality time bersama diri sendiri. Mendamaikan setiap serpihan hati dan pikiran yang kadang tak sejalan. Jadi itu dia alasan utama yang membuat saya begitu girang ketika hari libur datang :D

3 comments:

Silakan tinggalkan komentar. Boleh kritik, saran atau apapun.. Jangan lupa untuk selalu menggunakan kata-kata yang santun. Terima kasih.