Hanya Ini Yang Tersisa Dalam Hatiku

11:51 PM Nur Mumtahana 0 Comments

Malam ini mendung, tapi angin terasa lebih ramah menyapa. Aku terduduk seperti biasa. Melakukan sesuatu yang biasa aku lakukan, dan menemukan satu hal. Tentang sesuatu yang membuka pikiranku. Yang membuatku harus menggunakan logika dalam mengartikan sebuah perasaan. Dan saat itulah aku merasakan sebuah penyesalan yang hebat akan sebuah masa silam.

Masih terngiang bagaimana pertama kali aku melihatmu dulu. Aku tak pernah percaya pada cinta pandangan pertama. Aku hanya percaya pada cinta pertama. Karena saat pertama bertemu, bukan terbesit rupa atau fisik yang terperangkap dalam pikiranku, tapi sebuah aura yang membangunkan gejolak dalam dada. Aku tak pernah bisa menuliskan bagaimana perasaanku kala itu. 13 Juli 2009.

Entah karena takdir atau karena lingkungan sekolah yang tidak terlalu luas. Banyak kesempatan yang membuatku harus merasakan kehadiranmu. Sekali lagi, aku tak perlu melihat rupa untuk bisa merasakan kehadiranmu. Karena ketika aku duduk dan kau berada tepat di belakangku, aku telah menyadarinya bahkan sebelum aku menoleh. Bahkan aku belum paham bagaimana suaramu. Ya, aku benar-benar belum mengenalmu kala itu. Tapi pertemuan demi pertemuan membuat hatiku semakin terusik. Entah makhluk apa yang hinggap di dalam sana. Aku makin tak mampu untuk mengendalikannya.

Begitu berat rasanya ketika seorang remaja belasan tahun merasakan sesuatu yang bahkan tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Sejak saat itulah, hati yang meronta kucoba tahan. Mencoba meredamnya dalam kesendirian, namun tetap tak bisa. Bahkan getar-getar itu makin hebat dan menjalar hingga ke otak. Melumpuhkan logika. Sejak saat itu aku selalu menuruti kata hati tanpa berkompromi pada otak. Betapa bodohnya aku karena sebuah cinta.

Satu dua tahun tak cukup untuk menyudahinya. Segala hal terasa semakin rumit. Bahkan tak sedikit hal yang mengusik ketenangan di dalam hati. Setiap saat aku mulai mencari. Menatap ke luar jendela kelas, mencoba mencari sosok yang semakin jelas tergambar di dinding hati. Dan aku semakin tak bisa mengabaikan perasaan itu.

Jika aku boleh mengatakan satu hal tentangmu adalah : kau biasa-biasa saja. Kau tidak tampan, kau juga tidak terlalu pintar, kau mudah marah, sangat suka membentak, suaramu membuat orang jantungan, ucapanmu kadang pedas di telinga. Ya, kau benar-benar jauh dari kriteria orang yang pantas untuk dicintai. Tapi di antara semua itu, ada satu hal yang sangat kecil yang membuatku tak bisa berpaling. Satu hal yang kucari hingga saat ini dan belum juga kutemukan.

Dan diam selalu menjadi jawaban atas amukan hati. Mencoba menahannya sendirian begitu berat. Ketika terlintas sosokmu di dalam pikiran, aku hanya diam. Ketika tak bertemu denganmu dan hati mulai diguncang rasa rindu, aku pun diam. Saat merasakan percikan api cemburu, aku tetap diam. Aku terus diam dan diam. Semua itu berhasil aku lalui setidaknya selama dua tahun. Sampai tiba saatnya untuk melepasmu. Tapi di dalam hati, aku belum sanggup. Tahun 2011.

Aku berharap bisa diam di hari perpisahan itu. Aku duduk di antara kerumunan orang. Melihatmu di atas pentas menyanyikan lagu perpisahan bersama teman-teman. Aku terus diam. Perasaanku campur aduk kala itu. Ada rasa takut kehilangan. Ada rasa cemas kalau nanti tak bisa melihatmu lagi. Ada pula rasa sakit karena ditinggalkan, padahal sesungguhnya kau pun tak pernah mengenalku. Aku yakin, kalau kau juga pasti tidak tahu namaku sama sekali. Tak seperti cermin yang saling tatap. Cerita ini lebih seperti aku yang menatap bayangan. Mengejar, tapi tak tergapai. Akhirnya hari itu aku tak sanggup menahan semua perasaan yang terbendung sekian lama. Hatiku terlalu kecil untuk menampung perasaan yang teramat besar. Aku pun menangis sejadi-jadinya seperti anak kecil yang ditinggal pergi ibunya. Teman-temanku termangu melihat bagaimana aku menangis hingga tersedu-sedu. Aku hanya menangis tak berkata apa-apa, tapi pada akhirnya mereka bisa tahu tanpa aku harus mengatakan sepatah katapun.

Teman-teman langsung membawaku ke kelas. Mencoba menghiburkku walaupun mereka tahu kalau semua itu tidak akan mengubah perasaanku. Butuh waktu lama hingga tangisku reda. Namun setelahnya sorot mataku kosong. Aku merasa kalau hari-hariku telah berakhir. Ya, aku kini seperti sehelai bulu yang ditiup dari puncak menara. Aku tak tahu arah, hanya berjalan ke mana angin membawaku pergi.

Aku mulai buta. Aku tak tahu arah, aku tak tahu mana yang benar dan salah. Aku hanya ingin kau melihatku. Aku berusaha melakukan segala hal. Mencari perhatian dengan memulai perang dingin. Semua itu kulakukan bukan karena aku benar-benar ingin mencari masalah denganmu. Aku hanya ingin sedikit lebih lama membuat percakapan denganmu. Meski hanya lewat pesan tulisan. Tapi semua kata itu seolah-olah keluar dari mulutmu dan sampai ke telingaku. Aku mulai sering mengusikmu. Berbuat ulah bahkan melakukan hal-hal yang tidak penting sama sekali. Hingga aku tahu kau semakin muak dengan sikapku. Kau memilih untuk mengakhiri semuanya. Tidak ada lagi cara bagiku untuk bisa menyambung percakapan itu. Ya. Semua selesai sampai di situ.

Dalam diam, setiap malam aku masih sering menuliskan namamu, tentang dirimu di dalam buku harianku. Dulu aku sempat ingin membuang buku tersebut karena aku terlalu sering menuliskan semua tentangmu. Tapi aku tahu, bahwa setelah membuang buku itu aku tidak akan punya sesuatu untuk dikenang dari perasaan yang pernah tumbuh begitu hebat. Akhirnya kuurungkan niat tersebut. Ya, rinduku sedikit terobati setelah menulis banyak hal tentangmu. Walaupun kadang itu membuatku seperti orang gila.

Tapi setidaknya perpisahan kala itu bukan benar-benar akhir perjumpaanku denganmu. Di hari yang lain, di kesempatan yang lain, di tempat yang berbeda, tak lagi dengan seragam sekolah, aku melihatmu. Duduk menghadap jendela di antara deretan rak buku. Andai kau tahu, bahwa di situ pula biasanya aku duduk dan membaca buku-buku kesukaanmu. Karya Mira W. Segurat Bianglala di Pantai Senggigi. Sayang sekali, aku tak sempat menyelesaikan buku tersebut. Tapi melihatmu yang sedang serius dengan buku ditangan, aku hanya melihat dari balik celah deretan buku. Berharap kau bisa melihatku, walaupun aku tahu itu tak mungkin. Akhirnya kuputuskan untuk beranjak pergi. Aku tak mau rindu yang telah terobati dengan perjumpaan singkat akan menjadi satu perasaan yang semakin besar.

Empat tahun sejak perpisahan itu. Percayakah bahwa hingga detik ini perasaanku belum berubah sama sekali? Tapi kini aku telah merubah caraku menyikapi perasaan tersebut. Aku sadar, bahwa sejak dulu aku terlalu mengikuti kata hati. Hal itu membekukan otakku. Membuatku menjadi makhluk bodoh yang dibutakan cinta. Aku telah salah selama ini. Aku tahu bahwa bukan begitu cara menyikapi cinta. Aku telah salah menjadikan cinta sebagai alasan untuk melakukan hal yang bahkan membuat orang lain membenciku. Aku tahu kau membenciku. Aku hanya tak tahu harus bersikap bagaimana kala itu untuk membuatmu melihatku.

Kini aku menyadari, bahwa aku benar-benar telah melakukan kesalahan besar. Seharusnya aku telah tahu bahwa mencintai saja itu cukup. Tapi untuk bisa dicintai, biarkan seseorang mencintaimu dengan tulus bukan karena kau memaksakan perasaan tersebut. Aku tahu bahwa kau pun memiliki perasaan cinta, meskipun itu untuk orang lain. Kini aku mencoba untuk benar-benar menghargai perasaanmu. Aku paham, bahwa terkadang cinta harus tulus. Bahkan tulus untuk melepaskan. 

Aku tak mau membohongi hati. Aku belum bisa melupakanmu, tapi aku akan melepaskanmu. Membiarkanmu menggapai segala impian yang telah kau gantungkan. Bahkan impian untuk dapat berdampingan dengan orang yang kau cintai. Aku hanya tak mau cinta membutakanku untuk kedua kalinya. Aku tahu bahwa cinta yang tak terbalas itu menyakitkan. Tapi tak banyak yang bisa aku lakukan. Apabila aku memilih untuk terus mengejarmu, maka saat itulah aku sedang mengulangi kesalahan yang sama. Tapi kini aku memilih untuk diam. Melihatmu dari kejauhan. Mencoba untuk berhenti berharap bahwa suatu saat kau akan melihatku. Aku bangun dari mimpi panjang yang seolah menghapus masa depanku. Aku tahu, ada jalan panjang di hadapanku. Aku harus berhenti menoleh ke belakang. 

Ketika aku telah berpikir demikian, tak banyak lagi yang ingin aku katakan. Aku hanya ingin meminta maaf atas segala sikapku di masa lampau. Aku yang telah mengacaukan hari-harimu. Aku yang terkadang membuatmu kesal, bahkan muak. Aku yang telah menghabiskan waktu berhargamu. Aku yang telah mengusik impian-impianmu. Aku tahu kau orang yang begitu tegar dalam menyikapi hidup yang terkadang tak ramah. Dan aku tahu bahwa itu adalah satu hal yang tak akan pernah aku hapus dalam kenangan tentangmu. Semangatmu menjalani hidup adalah satu kekuatan yang kini aku tumbuhkan di dalam diri. Terima kasih telah memberiku kekuatan untuk bisa menjadi lebih tegar. Terima kasih. Dan sekali lagi, dari lubuk hati yang paling dalam aku meminta maaf. Maaf untuk segalanya.

0 comments:

Silakan tinggalkan komentar. Boleh kritik, saran atau apapun.. Jangan lupa untuk selalu menggunakan kata-kata yang santun. Terima kasih.