Sulit Diartikan

8:28 PM Nur Mumtahana 0 Comments

"Kita teman, kan?" dalam hati selalu menanyakan hal yang sama. 

Bukan karena aku berpikir hubungan di antara kita begitu buruk, hanya saja karena aku merasa ada sesuatu yang lebih dari sekedar teman. Dan aku tak pernah tahu bagaimana menggambarkan hal tersebut.

Seringnya apa yang kau ucapakan membuatku berpikir, "Apakah yang dia maksud adalah aku?" dan seringkali apa yang aku tulis menimbulkan pertanyaan yang sama dalam benakmu. Apa mungkin ada yang salah dalam mengartikan semua ini? Atau mungkin tak seharusnya kami mengartikan sesuatu yang cukup untuk dilihat atau didengar tanpa harus menjadikannya pembahasan.

Sulit diartikan memang tentang apa yang mengikat di antara kita berdua. Tapi aku selalu meyakinkan dalm hati, "Tentu saja kita teman."

Ya, kuharap kita benar-benar bisa menjadi teman yang baik. Biar terkadang ego mengusik perasaan masing-masing, tapi kupercaya bahwa itu adalah sesuatu yang wajar terjadi. Kita manusia biasa, makluk dengan segala bentuk emosi yang mampu timbul tanpa sebab yang dapat dijelaskan.

Aku hanya terlalu takut bila pada akhirnya telah salah mengartikan segala hal yang mengikat kita. Kita pasti adalah teman. Ya, aku yakin itu. Kau adalah temanku. Biar kadang banyak permasalahan yang menimbulkan emosi yang sulit dijelaskan, tapi aku tetap yakin pada pendirianku. Sesuatu yang sulit diartikan ini adalah karena kau seorang teman yang terlalu baik bagiku. 

0 comments:

Silakan tinggalkan komentar. Boleh kritik, saran atau apapun.. Jangan lupa untuk selalu menggunakan kata-kata yang santun. Terima kasih.

Psikopat

9:41 PM Nur Mumtahana 0 Comments



Akhirnya ada orang yang beranggapan kalau aku adalah seorang psikopat. Orang gila. Dan entah sebutan apa lagi yang cocok untuk menggambarkan diriku yang benar-benar terlihat sangat gila di matanya.

Seminggu meluangkan waktu sekedar untuk berbagi cerita lewat pesan singkat. Berbagi kisah kehidupan mulai dari hal yang paling umum sampai yang paling jarang dibicarakan orang. Tentang hidup yang kadang terasa aneh sampai tentang kesenangan menjadi makhluk yang bisa berpijak di tanah, berjalan dan bahkan mendaki gunung. 

Tapi dari sekian banyak obrolan, pada akhirnya dia mengambil keputusan. Katanya aku adalah pribadi yang kritis. Pribadi yang cukup sulit untuk bisa mengimbangi percakapan lawan bicara. Mungkin aku memang seperti itu. Aku hanya mencoba jujur, sebagaimana yang orang lain lakukan.

Sesungguhnya aku lebih suka diam dan mendengarkan. Semua hal yang terlintas di dalam pikiranku tak bisa semuanya terucap lewat mulut. Terkadang aku lebih sering memutarnya kembali ke otak, dan bila dirasa tak penting untuk disampaikan, maka kukubur dalam-dalam. Tapi kali ini terlalu banyak hal yang menjadikanku ingin banyak bicara. Sampai-sampai aku tak menyadari kalau seseorang tengah merasakan ketidak nyamanan atas sikapku tersebut. 

Kritisnya sikapku bahkan disebut seperti orang psikopat. Aku menghargai kejujurannya. Tahukah dia kalau bahkan aku pernah berpikir , "mungkin aku sudah gila". Tapi kalimat itu hanya berputar-putar di otakku saja tanpa bisa mengutarakannya pada orang lain. Mungkin aku terlalu yakin kalau hal tersebut tidak akan menjadi masalah bagi orang lain. Membiarkan aku sendiri yang menanggungnya di dalam diam.

Tapi ketika pada akhirnya seseorang menyadarkanku tentang hal tersebut, aku tahu bahwa ini mungkin memang adalah jati diriku. Biasanya aku diam, tapi ketika aku bicara maka itulah yang keluar dari benakku. Aku berusaha jujur, tidak menutupi apapun. Dan bila ucapanku menyebabkan ketidaknyamanan di benak orang lain, maka di sini sudah pasti aku yang salah. Aku mungkin telah lepas kendali. Atau mungkin otak dan hatiku tak cukup jernih untuk memilih mana-mana yang perlu disampaikan dan yang perlu disimpan sendirian.

Sekarang seseorang menganggapku sebagai orang gila yang sangat suka mengkritisi banyak hal. Mungkin memang begitu. Anggaplah aku gila jika menurutmu begitu. Gila atau waras bukan aku yang mempredikatkan. Tapi orang-orang di sekitarku. Jika aku gila, aku pun menganggap kalian gila. Dan jika kalian ingin menjadi waras di mataku, maka menjadilah gila seperti kalian menganggapku. Gila atau waras hanyalah tentang persamaan presepsi. Tapi faktanya aku terlalu benci hal yang rasional dan linear. Tahukah kalau selama ini aku berusaha untuk keluar dari sekat-sekat yang membatasi imajinasi ini?

Terkadang orang kreatif dan orang gila itu bedanya sangat tipis. Bahkan seorang sutradara Bapak Heru Sudjarwo pun menganggap dirinya sendiri sebagai orang gila. Beliau menyadari bahwa cara berpikirnya jauh dari cara berpikir orang lain. Mungkin ini adalah apa yang terjadi padaku.

0 comments:

Silakan tinggalkan komentar. Boleh kritik, saran atau apapun.. Jangan lupa untuk selalu menggunakan kata-kata yang santun. Terima kasih.

Tempat Curahan hati

3:52 PM Nur Mumtahana 0 Comments


Apa pula yang bisa aku sampaikan...
Kadang juga dalam hidup banyak cerita yang berakhir dalam diam
Kalang kabut mencari tempat cuarahan perasaan, tapi tak jua menemukan
Dalam hidup kadang kita dibuat berputar putar
Atau kadang pula seolah berjalan dalam labirin
Saling mencari, namun tak juga menjumpai
Ada kalanya kita menyerah pada satu titik
Hanya karena kita tak tahu kemana lagi akan pergi

Hati seteguh batu karang kini hanya kiasan
Kenyataan tak berkata demikian
Karena kerapuhan telah menguasai jiwa
Mendayung asa ke dalam tempat yang curam
Membuangnya agar tak dapat lagi ditemukan
Andaikan kita tahu bahwa asa itu ada karena kita yang ciptakan
Lalu mau dibawa ke mana cerita yang belum berakhir?

Terhenti di tengah jalan?
Oh jika memang demikian, malang benar kita ini
Terpenjara dalam jeruji yang dianyam sendiri
Andai mau kita bisa melepaskannya
Mengurai dan menjadikannya tombak pengokoh jiwa
Memilih bangkit meski langkah kian tak pasti

Kawan, jika memang tak kau temui jua tempat curahan perasaan
Tundukkan kepala, lihat tanah yang kau pijak
Atau angkat wajahmu, lihat langit yang memayungimu
Pejamkan mata, biar angin berbisik syahdu di telinga
Dan kau akan tahu
Bahwa semua yang kau butuhkan ada begitu dekat denganmu

Langit tak akan memaki andai kau mencurahkan isi hati
Mungkin saja ia hanya akan menangis
Tanah pun tak akan pernah marah
Dia tetap ada untuk memberikan tempat berpijak dengan kuat
Angin yang berhembus menyanyikan lagu-lagu penghibur hati
Andai kau mau mendengarnya, nyanyian itu indah sekali
Dan kau boleh mengadu sejadinya pada Tuhanmu
Dia yang tahu segala isi hatimu tanpa harus kau berucap sepatah katapun

0 comments:

Silakan tinggalkan komentar. Boleh kritik, saran atau apapun.. Jangan lupa untuk selalu menggunakan kata-kata yang santun. Terima kasih.

Apalah Arti Sebuah Status

9:06 AM Nur Mumtahana 0 Comments

Aku mencintaimu dan kau tahu itu
Kau mencintaiku dan aku tahu itu
Tidakkah itu cukup???
Bayang-bayang ketakutan yang begitu hebat datang
Ketika aku mulai menyadari bahwa selalu ada akhir dalam sebuah cerita
Aku terlalu takut, jika kita memulainya, akan datang pula akhir untuk kita
Aku terlalu takut jika suatu saat nanti kau akan menjadi orang yang "pernah" mencitai dan kucintai
Selalu sulit bagiku menghapus kenangan masa lalu
Apalah arti sebuah status apabila hati tak mau jujur
Biarkan saja hati yang mengikat kita, bukan sebuah kata atau nama
Apalagi status

0 comments:

Silakan tinggalkan komentar. Boleh kritik, saran atau apapun.. Jangan lupa untuk selalu menggunakan kata-kata yang santun. Terima kasih.

Kecil

9:32 PM Nur Mumtahana 0 Comments


Segala sesuatu yang besar bermula dari hal paling kecil,
Bahkan yang tak bisa dilihat kasat mata.
Seperti halnya sebuah perasaan.
Mulanya ia tak nampak, tak diketahui keberadaannya.
Kemudian perlahan menjelma, menunjukkan sosok dan jati diri.
Namun terkadang tak semua orang mampu menerima sesuatu yang besar
Terkadang, hal kecil yang sederhana justru menjadi sebuah hadiah istimewa

Ucapan selamat pagi,
Ucapan Selamat malam,
Kalimat pengantar tidur,
Kata-kata peneguh hati,
Kadang yang sederhana menjadi begitu berarti

Namun sebuah hati kadang tak cukup bijak dalam menerima
Seringnya tak berkenan membahagiakan, namun memberi harapan
Kadang tak berkenan menjaga, namun memaksa memiliki
Ego selalu menyulut api dalam hati yang suci
Betapa nurani menyiksa diri

Pabila memang tak sanggup, maka lepaslah
Apa guna menahan apa yang tak mampu dipertahankan
Jangan paksa hati kecil menahan rasa yang begitu hebat
Kuatkanlah tekadmu. Yakinkan pendiriamu. Jika itu memang pilihanmu.



0 comments:

Silakan tinggalkan komentar. Boleh kritik, saran atau apapun.. Jangan lupa untuk selalu menggunakan kata-kata yang santun. Terima kasih.