Why So Serious ???

7:04 PM nmhana 0 Comments


Terkadang kita menyadari satu perubahan sikap pada orang-orang di sekitar kita. Entah itu saudara, teman-teman, sahabat, kekasih, atau siapapun. Perubahan sikap banyak macamnya. Ada yang biasanya cerewet mendadak jadi pendiam, yang biasanya periang jadi pemurung, yang biasanya suka bertingkah mendadak jadi kalem, dan banyak lagi.

Kadang pula, satu hal yang paling dirasakan adalah ketika ada salah satu teman atau sahabat yang biasanya sangat kocak, suka bercanda, suka membicarakan hal-hal tidak penting sambil tertawa terbahak-bahak, kemudian mendadak jadi diam. Sorot matanya tajam. Bicaranya tak banyak, bahkan kata-kata yang keluar dari mulutnya tidak seperti apa yang kita lihat dalam kesehariannya. Di situ kita biasanya akan merasa heran dan berfikir kalau dia baru saja kerasukan setan penunggu kuburan.

Weitss! Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan. Karena belum tentu apa yang kita pikirkan adalah apa yang sebenarnya terjadi. Kadang kita terlalu sibuk mencari sebab ketika ada satu perubahan sikap pada orang-orang terdekat kita. Ada yang berfikir mungkin dia kerasukan setan, ada yang berfikir kalau dia sedang PMS (khusus perempuan pastinya) atau mungkin kita berfikir kalau dia sedang marah kepada kita. Kemudian kita kembali disibukkan dengan menerka-nerka alasan dia marah, dan seterusnya. Sebaiknya jangan terlalu sering membuat dugaan-dugaan, karena kebanyakan menduga dapat menimbulkan kesalahpahaman yang makin mengakar. Coba lakukan pendekatan. 

Kalau dia adalah sahabat atau saudara dekatmu, ajak dia bicara. Tentu saja kita harus berusaha membuatnya nyaman terlebih dahulu. Tapi, kalau ternyata dia tetap enggan untuk mengatakan alasan atas perubahan sikapnya, jangan lantas kita memaksa. Ingat. Setiap orang tetap memiliki hak untuk menjaga ruang privasinya. 

Kalau rupanya dia tidak memberi kejelasan apapun atas perubahan sikapnya, jangan berpikir negatif terlebih dahulu. Jangan pula terlalu memaksanya untuk menjelaskan. Dan yang paling penting, jangan sampai perubahan sikapnya justru membuat sikap kita ikut berubah terhadapnya. Cobalah untuk sedikit memahami suasana hati orang-orang di sekitar kita. Biarpun dia adalah saudara, teman ataupun sahabat yang sangat kita kenal dengan dekat, tapi tetap saja ada satu dua atau beberapa hal yang mungkin ingin dia simpan sendirian. Mungkin itu masalah tentang dengan dirinya, masalah dengan keluarga, dengan pasangan, atau masalah apapun yang menurutnya tidak perlu untuk kita ketahui.

Setiap orang pasti selalu ingin memiliki waktu dengan dirinya sendiri (me time). Jauh dari wajah-wajah dan keramaian. Mungkin dia sedang mencoba merelakan masa lalunya, atau dia sedang berfikir tentang masa depan. Mungkin itulah yang sedang dialami oleh si dia. Kata lainnya, dia sedang merenung. Di balik perubahan sikapnya, di balik diamnya, bisa jadi di dalam hatinya justru sedang berteriak keras. Atau justru sedang ada perdebatan sengit dalam batinnya. Hal seperti itu wajar terjadi, terlebih lagi pada usia-usia 'kritis' seperti seorang remaja yang beranjak dewasa atau usia dewasa muda yang mulai berfikir tentang kehidupan berumah tangga. 

Dan mungkin kita pun akan mengalami hal seperti itu. Ketika suatu waktu otak kita seperti dipaksa bekerja keras. Ada banyak sekali statement yang keluar dari hati, kemudian ditepis oleh logika. Ketika kita berharap akan satu hal, tapi ada hal lain yang menyadarkan kita bahwa bukan itu yang terbaik. Ketika kita mau menjadi sesuatu, tapi menurut yang lain tak seharusnya kita menjadi seperti yang diinginkan. Dan masih banyak lagi.

Ketika hati dan pikiran sedang berdebat, saat itulah akan nampak sikap-sikap atau wajah-wajah serius. Jadi, pahamilah. Seseorang yang mendadak menjadi serius bukan berarti sedang marah kepada kita. Bukan berarti pula kalau dia baru kerasukan setan kuburan. Dia mungkin sedang berusaha untuk menata keadaan dalam dirinya supaya menjadi lebih baik.

Setelah keadaan dalam dirinya sudah membaik, lihat saja. Dia akan kembali menjadi pribadi seperti yang biasanya kita kenal. Dan bahkan, dia mungkin bisa menjadi lebih ceria atau lebih periang. Cerewetnya bisa bertambah berkali-kali lipat dan sikapnya bisa lebih kocak dari waktu-waktu sebelumnya.

0 comments:

Silakan tinggalkan komentar. Boleh kritik, saran atau apapun.. Jangan lupa untuk selalu menggunakan kata-kata yang santun. Terima kasih.

Dialog dengan Secangkir Kopi ( Bagian 1 )

10:59 PM nmhana 0 Comments


Banyak sekali malam yang aku lewatkan sendirian. Bukan karena aku menghindari keramaian, hanya saja karena kadang aku merasa butuh waktu 'hanya' dengan diri sendiri. Bukan tak mau bersosialisasi, tapi aku merasa bahwa ruang sepi kadang membuatku bisa melihat dunia melebihi apa yang dilihat oleh mata. Kadang, ketika jauh dari hingar bingar dunia, aku merasa bisa mendengar kata hati dengan lebih jelas. Kurang lebih begitu.

Ketika sendirian, aku tak sepenuhnya sendirian. Ada semut yang berlalu lalang di pojok ruangan. Ada bulan di luar jendela yang kadang menampakkan diri, kadang bersembunyi. Ada juga burung-burung yang entah apa namanya, aku tak hafal, tengah bertengger di atas pohon mangga depan rumah. Tak cuma semut, bulan dan burung, karena di sampingku ada segelas minuman panas dengan kepulan asap yang menebarkan aroma wangi. 

Aku pandangi bulan tsabit di atas sana. Tapi sedari tadi ia bersembunyi di balik gumpalan awan yang nampak elok kejatuhan sinar temaram. Dan aku baru menyadari kalau langit malam ini tak berbintang. Kemana mereka semua? Pantas saja rembulan malu menampakkan diri. Ternyata kawan-kawannya pergi semua.

Langit tak begitu menarik. Tapi aku suka sunyi yang ditawarkan malam. 

Kembali lagi perhatianku pada secangkir minuman panas yang kepulan asapnya mulai berkurang. Mungkin karena angin yang masuk lewat jendela. Biarlah. Setidaknya, aku tak perlu repot-repot untuk meniup minuman itu untuk segera bisa diteguk. Lagipula, katanya tak baik meniup minuman atau makanan yang panas. Tapi hingga sekarang aku masih sering melakukan hal itu. Entah karena lupa atau karena aku tak sabaran. Tapi ya begitulah adanya. Kadang untuk mengikuti anjuran yang tepat justru terasa susah, padahal sebenarnya itu mudah dan tidak merepotkan.

Mestinya segera kuangkat cangkir keramik berwarna putih dengan aksen biru tersebut. Sekedar untuk membasahi bibir yang kering diterpa hawa dingin. Tapi rupanya cangkir kecil itu tak begitu menarik perhatianku, seperti langit malam dengan rembulan yang mengintip malu-malu. Aku tahu dia ingin ikut serta menemani sepiku, tapi keraguannya buatku enggan untuk menyapa. Jadi kubiarkan saja dia tenggelam sendirian.

Kulihat ke pojok ruangan. Berharap semut-semut yang berlalu-lalang bisa kuajak bercanda. Tapi rupanya mereka semua sudah tak ada, kembali ke rumah-rumah mereka di bawah tanah. Mestinya aku bisa berada di antara mereka. Iya, aku cuma berharap. Dan aku sadar itu takkan bisa. Jadi kembali lagi perhatianku pada langit. Ternyata masih sama seperti beberapa detik lalu. Dan perhatianku beralih pada secangkir minuman panas yang sudah tidak panas. Tak ada selera untuk meneguknya. Jadi aku beranjak dan membawa minuman dingin yang disebut 'teh' itu ke dapur.

Ketika melewati ruang tengah, samar-samar aku mencium aroma yang menarikku ke meja kecil di samping kursi goyang. Entah bagaimana menggambarkannya, tapi yang jelas seperti ada magnet yang kuat menyeret langkahku. Hidungku mendadak jadi peka. Kemudian otakku seperti terhipnotis, tak mengingat apapun. Aku hanya ingin segera tahu, aroma apa yang membuat rasa penasaranku naik berkali-kali lipat.

Ternyata aroma sedap itu berasal dari minuman berwarna hitam pekat di dalam cangkir keramik. Cangkir itu sama seperti cangkir yang barusan kubawa ke dapur, tapi isi di dalamnya berbeda. Warnanya gelap, bahkan di ruangan dengan lampu yang temaram aku bisa membayangkan betapa pekatnya andai kuteguk.

Tanpa pikir panjang, langsung kubawa minuman itu ke dalam kamar. Aku tak tahu apa alasannya, tapi mendadak aku merasa kalau malamku jadi begitu cerah. Biar langit di luar tetap sama, dengan bulan yang makin rapat menyelimuti diri, tapi aku merasa sepiku pudar. Burung-burung pun sudah tertidur semua. Mestinya sepiku makin menjadi, tapi di dekat minuman hitam beraroma sedap itu, rasanya seperti sedang duduk dengan sosok yang mampu aku sebut sebagai kawan. Kawan yang tak punya nama, hanya sebuah rupa di dalam cangkir yang nampak rapuh.

Tiba-tiba aku tersenyum pada cangkir di sampingku. Aku mungkin sudah tidak waras, tapi aku bahagia. Buru-buru aku angkat cangkir itu, memegangnya dengan kedua tangan, mencoba merasakan kehangatan yang dia berikan. Benar-benar hangat, pikirku.

Semakin kuangkat cangkir itu, semakin jelas kurasakan aromanya. Menyeruak, mengisi ruang paru-paruku. Aku seperti dibawa pergi jauh ke dunia yang tak pernah aku pijak di alam nyata. Aku seperti dibawa ke sebuah padang ilalang luas. Kemudian ada angin yang sesekali membuatku harus merapatkan baju hangat rajutan ibuku.

Dan aku tersadar. Ternyata itu memang hanya imajinasi. Luar biasa sekali minuman di tanganku ini. Aku tak sabar untuk bisa mencicipinya. Dan dengan hati berdebar-debar, perlahan kuangkat cangkir keramik itu dan meneguk isinya sedikit. Sangat sedikit. Dan tiba-tiba aku seperti melihat banyak kunang-kunang. Muncul dari balik semak belukar. Cahayanya indah, bahkan tak pernah ada lampu pesta seindah itu. Rembulan yang malu-malu juga penasaran nampaknya. Kudapati dia mengintip dari balik celah selimut meganya.

Melihat tingkah rembulan di atas sana membuatku lantas kesal. Sedari tadi ia enggan menampakkan diri, tapi kini malu-malu ia mengintip. Kawan macam apa kau ini? Aku ingin marah dan memakinya, tapi tak bisa. Aku cuma melirik tajam, kemudian mengabaikannya.

Aku ingin berdua saja dengan secangkir minuman di tanganku. 

"Siapa namamu?" gilanya aku bertanya seperti itu.

Minuman di tanganku diam saja. Lalu angin bertiup dari luar jendela, membuat aroma minuman itu menyeruak (lagi) di dalam rongga paru-paruku yang sedari tadi seperti menghirup udara hampa. Dia sedang memperkenalkan diri, pikirku.

Mendadak muncul banyak pertanyaan dalam benakku. Aku tak dapat menahannya. Dan pertanyaan itu satu persatu keluar dari mulut yang terasa asam setelah tengukan kecil beberapa detik lalu.

"Nampaknya engakau kawan yang bisa aku andalkan. Bahkan kau bisa membuat rembulan cemburu."

Ia tetap diam, tak bersuara.

Aku tak bisa berhenti menatapnya, menghirup aromanya, kemudian mulai meneguknya sedikit demi sedikit. Sejujurnya, mataku sudah mulai layu, ngantuk. Tapi aku tidak tega meninggalkan minuman di tanganku. Kupikir, aku harus segera menenggak habis bila memang ingin beranjak ke atas kasur. Karena, kalaupun kusisakan sedikit di dalam cangkir, mataku akan tetap terjaga memperhatikannya sepanjang malam. 

Akhirnya kuteguk habis minuman itu, lalu beranjak ke tempat tidur.

Seharusnya aku bisa tidur, tapi kenapa mataku malah terbuka lebar? Apa mungkin barusan aku tak benar-benar menghabiskan minuman itu? 

Buru-buru aku menghampiri cangkir keramik yang kuletakkan di pojok kamar. Minuman itu sudah habis, tinggal ampas hitam yang mengendap di dasar cangkir. Jadi aku kembali ke tempat tidur. Berbaring, menatap langit-langit kamar yang terasa begitu dekat, seperti akan menimpaku. Makin larut, mataku makin terbuka lebar. Nampaknya ada yang aneh. Aku mungkin mulai rindu dengan minuman hitam itu. Iya, aku rindu sampai tak bisa tertidur.

0 comments:

Silakan tinggalkan komentar. Boleh kritik, saran atau apapun.. Jangan lupa untuk selalu menggunakan kata-kata yang santun. Terima kasih.

The Fault In Our Stars - Kekurangan yang Saling Melengkapi

11:25 AM nmhana 8 Comments

Bicara tentang film, saya termasuk salah seorang penikmat film dari berbagai genre. Biar penakut begini, tapi saya juga hobi nonton film horor, dengan catatan nonton filmnya rame-rame. Selain film horor, saya juga menyukai film action karena ide ceritanya selalu membuat terperanga. Apalagi kalau film action sejenis samurai. Wah. Pantang untuk dilewatkan. Tapi, dari semua jenis film, terus terang film yang paling bisa saya nikmati adalah film bergenre roman. Kenapa? Mungkin karena hati saya yang lembut. Ciaaaa.... Engga ko. Bercanda, bercanda. Saya hanya merasa kalau film roman adalah film yang 'saya banget'. Bahkan kadang alur cerita film roman membuat saya berangan-angan, "Andai saja kehidupan saya seperti dalam film itu."

Karena film roman adalah satu genre film yang paling saya suka, jadi sekarang saya ingin mereview film roman berjudul The Fault In Our Stars. Film yang diangkat dari sebuah buku best seller karya John Green.


Film yang mengisahkan tentang seorang gadis remaja bernama Hazel Grace Lancaster yang mengidap penyakit kanker stadium akhir pada saluran pernafasannya. Hal tersebut mengharuskan Hazel untuk selalu membawa tas berisi tabung oksigen kemanapun ia pergi.

Suatu hari orang tuanya meminta Hazel untuk bergabung dengan kelompok pendukung, semacam forum yang anggotanya adalah para penderita kanker. Di dalam forum tersebut, anggotanya diajak untuk bisa berbagi cerita, pengalaman dan saling memotivasi satu sama lain. 

Di situlah Hazel memiliki teman baru yang bernama Augustus Waters. Dia adalah seorang mantan pemain basket yang kakinya telah diamputasi karena penyakit kanker. Dan sejak pertemuan pertama, Hazel dan Gus menampakkan saling ketertarikan satu sama lain. Mereka mulai sering menghabiskan waktu bersama, saling berkirim pesan dan bahkan mengunjungi rumah satu sama lain.

Tak hanya bertemu dengan Augustus Waters. Hazel juga bertemu dengan kawan lainnya, yaitu Isaac. Dia adalah sahabat dekat Gus yang mengidap kanker pada matanya, menyebabkan dia mengalami kesulitan melihat dan bahkan harus menjalani operasi untuk pengangkatan bola matanya.

Hazel sangat menyukai sebuah novel berjudul An Imperial Affliction (Kemalangan Luar Biasa) yang di dalamnya mengisahkan tentang kehidupan seorang gadis penderita kanker. Buku tersebut sangat menginspirasi dirinya, dan Hazel pun memiliki keinginan yang besar untuk bisa bertemu dengan Van Houten, sang penulis buku.

Sudah cukup sering Hazel berusaha untuk bisa menghubungi sang penulis, namun e-mailnya tidak pernah mendapatkan respon. Dan berkat bantuan Gus, akhirnya Hazel memiliki kesempatan untuk bisa bertemu dengan Van Houten di Amsterdam.

Pada hari yang sudah ditentukan, Hazel bersama ibunya dan Gus pergi ke Amsterdam. Hal tersebut adalah satu kebahagiaan tak terkira bagi Hazel. Ia bahkan sudah menyiapkan beberapa pertanyaan yang akan diberikan pada Van Houten. Selain itu, Hazel dan Gus juga mendapat kesempatan untuk menikmati makan malam romantis di sebuah restoran terkenal di Amsterdam. Dalam percakapannya, Gus berkata bahwa jas yang dia kenakan malam itu adalah jas yang sudah disiapkan untuk pemakamannya kelak. Ia tidak menyangka kalau akan memakai pakaian itu pada acara makan malam yang romantis. Pada malam itu juga perasaan Hazel dibuat campur aduk antara senang, terharu dan terselip kesedihan, apalagi ketika Gus dengan jelas mengutarakan rasa cintanya. Hazel sampai kehabisan kata-kata, hanya bisa tersenyum dan meneteskan air mata melihat ada orang yang dengan tulus mencitai dirinya.

Esok harinya, Hazel bersama Gus mencari alamat tempat tinggal Van Houten. Namun begitu tiba di rumahnya, Hazel dan Gus dibuat sangat kecewa. Ternyata, penulis yang selama ini ingin ditemuinya tidaklah seperti sosok yang dibayangkan. Van Houten adalah seorang pemabuk berat. Dia pemarah dan suka berbuat kasar. Bahkan Hazel pun merasa tersakiti hatinya dengan perlakuan Van Houten yang semena-mena terhadap orang yang telah datang jauh-jauh untuk menemuinya. Dengan sangat menyesal, asisten Van Houten meminta maaf kepada Hazel dan Gus. Mereka pun memilih untuk pulang.

Usai perjalanan dari Amsterdam, Hazel dan Gus kembali memulai rutinitas mereka. Duduk bersama, berbagi cerita dan saling mengungkapkan perasaan. Walaupun pada akhirnya kisah bahagia mereka harus terhenti ketika Gus mengatakan bahwa kanker yang dideritanya telah menyebar ke bagian tubuh yang lain.

Hati Hazel sangat terpukul mengetahui hal tersebut. Kesedihan melanda hatinya, dan tak ada seorang pun yang dapat menghiburnya. Tapi di situlah Gus selalu berusaha memberi pengertian kepada Hazel. Baginya, adalah sebuah kebahagiaan telah mampu bertemu dengan sosok perempuan bernama Hazel yang begitu istimewa di hatinya.

Gus menyadari bahwa hidupnya tak lama lagi. Oleh karena itu, ia meminta agar Hazel dapat memberikan sambutan di hari pemakamannya kelak. Akhirnya pada suatu malam Hazel berdiri di hadapan Gus dan belajar memberikan sambutan yang tak lama lagi harus dilakukannya di hadapan banyak orang. Saat itu pula secara tak langsung Hazel mengutarakan perasaan cintanya yang terdalam pada Gus. Ia tak mampu menahan air matanya, begitu pula dengan Gus.
Salah satu kutipan yang membuat saya melting...
"There are infinite numbers between 0 and 1. There's .1 and .12 and .112 and an infinite collection of others. Of course, there is a bigger infinite set of numbers between 0 and 2, or between 0 and a million. Some infinities are bigger than other infinities. A writer we used to like taught us that." 

Kemudian setelah hari itu Gus pergi meninggalkan semua orang yang dicintainya.
Ini benar-benar film yang membuat saya menangis sesenggukan. Melihat bagaimana Hazel dan Gus yang berusaha untuk bisa membuat sisa umur mereka jadi lebih berarti. Keduanya yang berusaha saling melengkapi di antara kekkurangan keduanya. Semangat mereka yang benar-benar luar biasa dalam menghadapi penyakit yang dideritanya. Tentang keceriaan mereka dan tentang bagaimana mereka memberi dukungan terhadap satu sama lain.

Pokoknya, ini film yang bisa membuat hati jungkir balik. Tertawa, menangis, terharu, terperanga dan entah bagaimana lagi menggambarkannya. Kalau bertanya tentang rating, saya akan memberi 5 bintang !

Oh ya, ada satu kutipan yang membuat saya berlinang air mata. Kalimat yang diucapkan Hazel setelah Gus meninggal dunia.

Aku mengingat suatu kali, ketika aku tidak bisa bernafas dan dadaku terasa seperti terbakar. Suster itu memintaku untuk mengukur rasa sakitnya. Karena aku tidak bisa berbicara, aku menunjukkan sembilan jari. Sesudahnya ketika aku sudah merasa baikan, suster itu datang dan dia memanggilku seorang petarung, karena aku menyebut angka 9, bukan 10. Tetapi itu tidak benar. Aku menyebutnya 9 bukan karena aku berani. Alasan aku menyebutnya 9 adalah karena menyimpan yang ke 10. – Hazel Grace


Banner Giveaway

8 comments:

Silakan tinggalkan komentar. Boleh kritik, saran atau apapun.. Jangan lupa untuk selalu menggunakan kata-kata yang santun. Terima kasih.

(Kisah Klasik) Sahabat Jadi Cinta

8:52 PM nmhana 0 Comments


Tulisan request dari salah satu teman nih. Kayanya dia lagi jatuh cinta sama salah satu sahabatnya. Jadi sekarang dia minta supaya saya nulis tentang kisah cinta di antara persahabatan. Wah, kok saya jadi deg-degan gini ya nulisnya? Padahal, sahabat jadi cinta itu salah satu jenis cinta yang selalu saya hindari selama ini. Kenapa? Sudah, jangan dibahas lagi. Bikin teringat masa lalu.

Sedikit mengutip kisah dari film Heart. Film yang diperankan oleh Nirina Zubir dan Irwansyah. Bayangkan saja ketika kita sudah berteman dekat dengan seseorang. Sejak kecil. Kita lahir dari keluarga yang sudah saling mengenal, kita lahir di lingkungan yang sama. Semua hari dilewati tanpa satupun jeda ketidak hadiran. Kita jadi begitu dekat, bahkan melebihi kedekatan dengan saudara sendiri. Lambat laun, sosok sahabat menjadi memiliki banyak peran. Sahabat kemudian menjadi seperti kakak, adik, saudara, guru, bahkan ada yang beranggapan bahwa sahabat itu seperti orang tua. 

Keberadaan seorang sahabat kadang kala membuat kita merasa sangat nyaman. Dia selalu ada di saat kita butuh, dia selalu bersedia mendengar semua curahan perasaan, dan tak jarang dia membantu kita mencapai tujuan, walaupun harus dengan cara-cara gila yang mungkin tidak akan pernah orang lain lakukan untuk membantu kita.

Ketika kedekatan itu seperti gula yang larut dalam segelas kopi, maka kita tidak akan bisa memilah-milahnya lagi. Begitu pula sebuah perasaan dalam ikatan persahabatan. Kalau hubungannya sudah terlampau dekat, maka akan sulit bagi kita untuk memilah-milah mana perasaan sayang sebagai sahabat dan mana perasaan sayang sebagai 'lebih dari sahabat'.

Seringnya, cinta yang tumbuh di antara hubungan perasahabatan membuat seseorang menjadi ragu. Kenapa ragu? Karena orang tersebut pasti bingung dengan perasaannya sendiri. Ini sayang karena cinta atau sayang karena dia sahabatku? Apalagi kedekatan persahabatan mereka sudah melebihi kedekatan orang yang saling jatuh cinta. Dalam persahabatan mereka sudah menghabiskan banyak waktu bersama. Dalam persahabatan mereka sudah melalui banyak suka cinta bersama. Dan dalam persahabatan itu pula mereka sudah memiliki perasaan saling sayang dan keinginan saling menjaga satu sama lain. Jadi, ketika timbul perasaan baru yang disebut 'cinta', mungkinkah perlu diungkapkan?

Beberapa orang takut mengutarakan perasaan cinta pada sahabatnya, dikarenakan mereka khawatir kalau cinta yang 'bukan atas nama persahabatan' akan memudarkan semua perasaan saling menyayangi yang sudah ada sejak dulu. Mereka takut kehilangan sosok sahabat jika menjelmakannya menjadi sosok yang dicintai. Mereka takut, seandainya suatu saat cinta mereka kandas, maka kandas pula ikatan persahabatan yang sudah begitu lama terjalin.

Kadang, ada yang berpikir untuk memendam saja perasaan cinta itu, dan meleburnya dengan perhatian khusus yang mengatas namakan persahabatan. Tapi tentu saja, dalam hati akan timbul perasaan tersiksa karena ada satu maksud yang tidak bisa tersampaikan. Ada pepatah bilang, "Cinta terpendam lama-lama bisa menjadi dendam." Perasaan yang terpendam begitu lama memang akan membuat hati menjadi keras, dan bisa membuat seseorang menyimpan dendam terhadap dirinya sendiri. Apalagi ketika suatu saat ia menyesal lantaran tak berani mengutarakan perasaannya, sementara ada orang lain yang mendahului dirinya dalam mengungkapkan cinta pada si dia.

Jatuh cinta pada sahabat memang lebih rumit ketimbang jatuh cinta pada orang yang baru dikenal. Terlalu banyak hal yang mesti dipertimbangkan. Apalagi, kadang setelah mengutarakan perasaan cinta pada seorang sahabat, kemudian mendadak kedekatan di antara keduanya berubah. Kalau biasanya berkumpul dan bercanda bersama, setelah mengungkapkan perasaan cinta pasti yang akan timbul adalah rasa ragu dan malu satu sama lain. Manusiawi memang. Tapi itulah satu hal yang kadang menjadi alasan mengapa seseorang ragu untuk mengutarakan rasa cintanya pada sosok sahabat yang sudah begitu dekat.

Tapi, kalau memang ingin menjalin hubungan yang serius. Dalam artian bukan sekedar untuk seru-seruan atau mengikuti tren, cobalah untuk sedikit mengurangi candaan yang biasanya terselip di setiap percakapan. Cobalah untuk mulai membahas sesuatu yang lebih punya arti. Dari obrolan-obrolan yang seperti itu, mungkin akan ditemukan satu kesempatan untuk bisa mengutarakan perasaan dengan cara yang lebih dewasa, dengan pikiran yang terbuka, dengan hati yang tertata.

Bicaralah tentang masa depan. Ajak dia untuk berpikir tentang bagaimana merajut kehidupan yang nanti pasti akan dijalaninya. Entah dengan siapapun. Hidup ini bukan hanya tentang piknik, jalan jalan dan bersenang-senang dengan teman. Ingat, ayah dan ibumu pasti rindu untuk menimang cucu.

Hah! Kenapa jadi membahas masalah cucu segala? Bahkan saya sendiri belum punya pengalaman sama sekali tentang urusan cinta. Tapi kok bisa sok tahu begini ya? Apa mungkin efek keseringen nonton film roman? Atau karena....

Sudah. Lupakan saja! 

Semua kembali lagi pada pribadi masing-masing. Setiap orang pasti punya cara sendiri untuk mengekspresikan cintanya. Entah itu pada sahabat, atau pada siapa saja. Tapi yang pasti, jangan pernah menodai cinta dengan bualan-bualan yang tidak berguna. Luruskan niat, Sob! Cinta itu tentang saling menjaga, saling percaya. Dan untuk bisa mendapatkan keduanya, kita musti menata dulu hati dan pikiran. Cinta itu sesuatu yang amat besar loh! Biarpun awalnya tak nampak, tapi lama kelamaan hati dan pikiran yang tak tertata bisa meledak menahan gejolaknya.

Buat kawanku yang (nampaknya) sedang jatuh cinta pada sahabatnya, bagimana? Sudah siap untuk mengambil sikap?

0 comments:

Silakan tinggalkan komentar. Boleh kritik, saran atau apapun.. Jangan lupa untuk selalu menggunakan kata-kata yang santun. Terima kasih.

Explore Tegal - Curug Luhur

11:35 PM nmhana 0 Comments


Waktu itu tanggal 26 Juli 2015. Itu adalah hari libur terakhir sebelum hari kerja efektif berjalan. Libur lebaran selama dua minggu mestinya bisa jadi saat yang menggembirakan. Mestinya saya bisa membuat daftar destinasi tempat-tempat yang wajib dikunjungi. Tapi itu cuma wacana belaka. Realita memang tak selarah dengan ekspektasi. Bahkan ketika teman-teman saya pergi mendaki Gunung Slamet, saya cuma bisa di rumah dengan kesibukan yang luar biasa dikarenakan ada hajatan. Saya sampe nangis-nangis karena ngga bisa ikut bergabung dengan teman-teman. Sedih, kecewa, (sedikit) marah dan entah bagaimana menggambarkan perasaan saat itu. Apa daya, saya cuma bisa pasrah.

Di hari libur terakhir, saya benar-benar ingin menghabiskan waktu untuk berlibur. Walaupun pagi hari ada acara halal bihalal bersama keluarga SMP, tapi setelah dari acara tersebut saya bersama Mba Sary, Mba Dyas dan Om Jet Cell sudah sepakat untuk pergi ke Curug Luhur yang berlokasi di Bojong. Tentu saja kami tidak cuma berempat. Ada Bang Jono dan Bang Dulkim. Duo yang kompak selalu. Kebetulan waktu open trip ke Gunung Prau kita satu tim. Jadilah sekarang kita akrab begini.

Dari Slawi kita naik sepeda motor. Dan sudah pasti saya tidak menyetir sendiri. Kalau saya yang nyetir, bisa-bisa bukan sampai curug, tapi malah sampai ICU. Jangan sampe deh. Akhirnya saya berboncengan dengan Bang Dulkim, Mba Sary dengan Bang Jono dan Mba Dyas dengan suaminya, Om Jet Cell.

Gila benar ! Jalanan macet ketika melewati letter S menuju lokasi. Selain karena arus balik setelah lebaran, ternyata salah satu penyebab kemacetan itu adalah karena adanya karnaval di salah satu desa. Luar biasa sekali. Bayangkan saja bagaimana rasanya macat di jalan menanjak yang kanan kirinya diapit jurang. Ekstrem, broh. Ekstrem. 

Dari pertigaan Tuwel, kita ambil jalan ke arah ke Bumijawa. Melewati SMA Negeri 1 Bojong, ambil arah kanan, lalu masuk Dukuh Kopigandu. Setelah memarkir kendaraan, kami pun mulai tracking menuju lokasi. Bang Jono dan Bang Dulkim yang sudah paham lokasi tersebut berjalan paling depan. Sementara saya, Mba Sary, Mba Dyas dan Om Jet Cell mengikuti di belakang. Jalannya naik turun, tanahnya kering dan sedikit berdebu. Bahkan saya sampai terjatuh dua kali. Tak cuma saya, Mba Sary pun begitu. Tapi jatuh yang ini tak bikin sakit (hati), karena ini bukan jatuh cinta.

Pantang melewatkan foto di perjalanan

Sepanjang jalan, pantang bagi kami untuk melewatkan sesi foto-foto. Apalagi pemandangannya sangat indah ketika melewati pematang sawah, perkebunan, sungai-sungai kecil dan gubuk petani. Setelah sekitar 20 menit berjalan, samar-samar terdengar suara gemercik air yang jatuh dari ketinggian. Itu pasti tempatnya. Begitu kata saya dalam hati.

Dan benar saja. Setelah melewati jalan yang sedikit menurun, kami bertemu dengan sungai yang mengalir dari bawah sebuah air terjun yang airnya melimpah ruah. Gemuruh air terjun di tempat itu benar-benar membuat hati terasa teduh. Pikiran jadi jernih. Sejenak jadi lupa dengan semua beban pikiran, bahkan sampai lupa kalau besok harus mulai berangkat kerja,

Penampakan Curug Luhur yang langsung menyegarkan mata

Rongga goa kecil di tebing yang mengelilingi curug

Airnya bening banget. Asli !!!

Buru-buru saya berlari ke dekat air terjun. Membasahi kaki, membasuh tangan dan cuci muka. Rasanya segar luar biasa. Ditambah dengan angin yang sepertinya hanya berputar-putar di tempat itu. Dan yang paling saya sukai adalah ketika duduk di tepian menghadap air terjun dengan mata terpejam. Mendengarkan suara air terjun yang bergemuruh teduh, Lirih angin yang menggelitik telinga, dan air terjun yang memercikkan air ke wajah. Damai nian. Ini pasti surga dunia, pikir saya.

Anggap saja kalau kita hidup tanpa punya beban

Buat apa gundah gulana kalau bisa memilih bahagia

Salah satu foto favorit saya

"Hana bingung mau pegangan siapa, akhirnya pegang kepala aja" kata Bang Jono

Anggap saja kalau bahagia itu satu-satunya pilihan

Setelah puas berfoto ceria sampai kehabisan gaya, kami istirahat sejenak dan menyantap perbekalan yang sudah dibawa. Setelah itu kami harus berkemas untuk pulang. Apa? Berkemas pulang?

Rehat sejenak, Kawan. 

Sebenarnya saya masih ingin berada di tempat itu lebih lama. Tapi apa boleh buat? Hari sudah sore. Akhirnya kami harus mengucapkan "sampai jumpa. semoga kapan-kapan bisa berkunjung lagi" pada tempat yang indah itu.

Namun sangat disayangkan, karena sepanjang jalan pulang kami menemui beberapa titik yang menjadi tempat untuk membuang sampah bungkus makanan dan botol bekas minuman. Padahal semestinya sebagai penikmat keindahan, kita juga harus turut serta untuk menjaga kebersihan tempat itu sendiri. Jadi, mulai dari sekarang, belajarlah untuk peduli dengan lingkungan. Karena keindahan itu hakikatnya tetang saling menjaga. Jangan berharap kalau alam sudi memperlihatkan pesonanya kalau kita saja tak mau menjaganya. Jadi, intinya saya cuma mau bilang "Jangan lupa bawa pulang sampahmu, kawan." Itu saja. :D

0 comments:

Silakan tinggalkan komentar. Boleh kritik, saran atau apapun.. Jangan lupa untuk selalu menggunakan kata-kata yang santun. Terima kasih.

Baper, Oh, Baper

3:00 PM nmhana 0 Comments


Heh? Kenapa tiba-tiba ngomongin masalah baper? Emang baper apaan sih?

Nih, buat teman-teman yang belum tahu, baper itu sebenarnya singkatan atau istilah keren dari Kebawa Perasaan. 

Emang kebawa perasaan yang kaya gimana? 

Jadi begini, kadang kan ada kalanya, pada satu waktu, pada satu kesempatan, ada hal yang membuat kita jadi begitu dekat sama seseorang. Entah itu sengaja ataupun karena kebetulan (walaupun kata orang bijak tidak ada yang kebetulan di dunia ini). Kesempatan yang akhirnya menjadikan seseorang jadi bersikap 'seolah-olah' mengistimewakan kita. Mungkin dia jadi sangat baik, perhatian, suka tanya kabar, ini itu dan bla bla bla yang kesannya membuat kita jadi spesial. 

Kebanyakan orang baper berujung pada kekecewaan loooh.... Hah?! Yang benar?! Kenapa?

Karena mereka sudah terlanjur terbawa perasaan dan sudah menaruh pengharapan terhadap orang yang 'seolah-olah' membuatnya merasa spesial. Kadang juga membuat kita berfikir, "mungkin dia suka sama aku. buktinya dia perhatian banget'. 

Walaupun tak semua orang baper berujung pada kekecewaan, tapi mayoritas memang begitu. Baper itu berawal dari sikap GR (Gede Rasa). Anggapnya si doi baik sama kita aja, padahal dia memang baik sama semua orang. Itu bagian yang kadang bikin nyesek di dada.

Nah, lalu gimana nih cara buat mengantisipasi supaya kita ngga kecewa gara-gara terlanjur baper?

Hal pertama yang harus dilatih adalah hindari sikap GR (Gede Rasa) yang berlebihan. Kalau tiba-tiba ada seseorang yang begitu baik atau perhatian sama kita (khususnya lawan jenis), coba deh untuk jangan merasa GR dulu. Kalau kamu terlanjur gede rasa dan berpikir kalau doi benar-benar mengkhususkan perhatiannya buat kamu seorang, ujung-ujungnya kamu bakal kecewa setelah tahu kalau ternyata doi memang baik dan perhatian sama semua orang. Jadi, coba deh untuk menghindari sikap GR. Kita berpikir lurus aja. Jangan belok kanan kiri apa lagi sampai melambung tinggi. Kalau sudah terlanjur bertengger di atas (kaya burung), kadang untuk turun kita harus merasakan sakit (karena kita bukan burung yang bisa terbang).

Untuk yang sudah pernah merasakan sakit hati akibat baper, mending buruan kalian membentengi hati. Jangan sampai perhatian seseorang yang berlebihan membuat kalian terbuai dan terhanyut. Kemudian tergantunglah harapan di atas sana (seperti jemuran). Bedanya jemuran sama harapan, kalau jemuran lama digantung hilang. Tapi kalau harapan yang lama digantung, timbulnya nyesek di dada. 

Tapi, sikap baper juga bukan sepenuhnya kesalahan 'para korban' yang terlanjur gede rasa. Kadang si pelaku juga juga tidak pikir panjang, kalau sikap dan perhatiannya bisa membuat orang lain berpikir 'seolah-olah' dia memberikan perhatian khusus. 

Tidak laki-laki, tidak perempuan. Ingat, bahwa bersikap baik itu perlu (dan harus). Tapi ketahuilah batas-batasnya, karena kita tidak pernah tahu apa yang mungkin akan timbul dalam pikiran orang-orang yang kita beri perhatian. Jangan sampai kita menyakiti perasaan seseorang karena kita pupuskan harapan mereka.

Ibarat kata pepatah, "Jangan pernah membuat orang lain jatuh cinta kepadamu jika kau tidak bermaksud untuk menikah dengannya." JLEBB banget di hati. Tapi saya pribadi sangat setuju dengan kalimat itu. Jangan pernah membuat orang lain jatuh cinta dengan kita kalau kita tidak punya keinginan untuk membalas cintanya.

Jadi, marilah kita bersama-sama menjaga perasaan satu sama lain. Kalaupun memang berawal dari baper dan berujung pada keseriusan, cobalah untuk berterus terang untuk menghindari kesalah pahaman. Karena tanpa sikap terus terang, terkadang yang timbul adalah dugaan-dugaan belaka, yang pada akhirnya menjadikan perasaan keduanya seperti sedang digantung. Ingat, ini bukan jemuran yang kalau lama digantung bisa hilang. Perasaan kalau digantung terlalu lama itu bisa bikin nyesek di dada. Rasanya ngga enak banget. Beneran. Ngga bohong (sok berpengalaman). Hihihihi 

0 comments:

Silakan tinggalkan komentar. Boleh kritik, saran atau apapun.. Jangan lupa untuk selalu menggunakan kata-kata yang santun. Terima kasih.

17an di Merbabu

11:58 AM nmhana 0 Comments


SAYA BUTUH PIKNIK !!!

Sangat sering kalimat itu terlontar dari mulut saya. Saya tidak bohong dan tidak mengada-ada. Terus terang saya memang kurang piknik. Bagaimana tidak? Seharian dari pagi sampai sore saya mesti menghabiskan waktu di tempat kerja. Mengerjakan ini itu, bahkan kadang lembur sampai malam. Tingkat stres meninggi, jerawat muncul dimana-mana, mendadak jadi sensitif dan mudah marah. Tak jarang dalam kondisi seperti itu membuat orang-orang di sekitar saya jadi korban. Mereka bicara baik-baik, tapi saya sahut dengan ketus. Ya, begitulah salah satu ciri-ciri orang yang kurang piknik. Menakutkan dan amat berbahaya.

Selain karena urusan pekerjaan, suasana hati yang kadang memburuk karena urusan cinta (ciiieee... ngomongin cinta) juga jadi salah satu alasan yang mendorong saya ingin sekali keluar dari rutinitas harian. Setidaknya saya ingin menyegarkan pikiran, menata ulang hati yang berantakan gara-gara cinta (tak terbalas) dan sekelumit masalah yang kadang membuat saya frustasi berat.

Di tengah kondisi seperti itu, beruntung ada salah satu teman saya mengajak trip ke Gunung Merbabu. Sebut saja dia Arab, orang yang sangat terobsesi untuk menjadi sosok seorang Bang Zafran. Wah, tawaran seperti ini sangat pantang ditolak. Karena kesempatan tidak datang dua kali. Pelaksanaan yang bertepatan dengan Peringatah HUT RI ke-70 sempat membuat saya bingung. Pasalnya pada tanggal-tanggal itu saya mesti ikut kegiatan upacara bendera. Tapi apa salahnya ikut upacara di puncak gunung. Sensasinya pasti beda.

Setelah mengurus izin ini itu supaya bisa ikut trip ke Gunung Merbabu, akhirnya saya fix untuk bergabung dalam trip tersebut. Tim kami berjumlah 8 orang, diantaranya Mas Samsul, Kang Apeh, Zulfikar, Bang Cuex, Bang Arab, Saya, Mba Dyas dan suaminya, sebut saja Om Jet Cell.

Sore hari, sekitar pukul 16.00 waktu Debong, kami berkumpul di rumah Bang Jono. Karena sudah berpengalaman dalam urusan pendakian gunung, kami pun meminta supaya diberi wejangan agar dapat mematangkan persiapan sebelum pendakian. Kami juga meminta pada Bang Jono untuk membantu kami menata kembali barang-barang bawaan ke dalam tas agar lebih nyaman ketika digendong. Kami berangkat dari Tegal pada tanggal 15 Agustus 2015 pukul 19.00. Ini adalah pertama kali bagi saya untuk berkendara sepeda motor jarak jauh. Biasanya berkendara motor paling jauh hanya Tegal-Pemalang. Tapi sekarang harus merasakan sensasinya duduk di atas jok sepeda motor dari Tegal samapi Magelang. Pasti luar biasa sekali (pegelnya).

Sebelum berangkat, kami berdo'a bersama demi kelancaran perjalanan kali ini. Semoga juga setelah perjalanan ini suasana hati saya bisa membaik dan penyakit kurang piknik yang saya idap bisa sembuh. Aamiin...

Perjalanan dimulai...

Jalan beraspal pun kerap berlubang. Itu adalah istilah yang saya buat sendiri. Sedangkan yang terjadi adalah 'motor yang sudah diservis pun kerap mogok di jalan'. Itulah yang terjadi ketika kami melintasi jalur pantura di wilayah Comal. Motor yang dikendarai Bang Samsul dan Kang Apeh tiba-tiba mogok.

Motor mogok di jalur pantura
Kami coba cari bengkel kesana kemari. Begitu ketemu bengkel, katanya si motor harus dibawa ke dealer. Sambil menunggu balai bantuan (ciiieee... balai bantuan) kami duduk duduk dulu di lampu merah comal. Tepatnya di sebelah pos polisi. Kita coba lobi sama Pak Polisi yang berjaga, siapa tahu bisa dapat pinjaman motor (ini sebenernya ide gila). Dan tentu saja Pak Polisi menolaknya dengan mentah-mentah. Tapi mungkin karena kasihan, akhirnya seorang polisi tua datang menghampiri kita dan ngasih sekotak getuk (tapi kenapa cuma ngasih getuk? Ngga sekalian minjemin motornya, Pak? Hihihihi).

Rehat sejenak sambil bingung mikirin nasib
Akhirnya kami memutuskan untuk putar arah dan menginap di salah satu komplek pondok pesantren yang jaraknya lumayan jauh. Tapi di situ kami bisa beristirahat untuk persiapan melanjutkan perjalanan esok hari.

Alhamdulillah, bisa istirahat di tempat yang nyaman

Pas lagi asik foto, muncullah penampakan (In frame : Japran KW 86)
Pukul 07.00 waktu Comal kami langsung menuju ke dealer terdekat. Sembari menunggu motor selesai diservis, kami bisa duduk-duduk dulu. Nonton acara TV di minggu pagi dan menikmati minuman panas. Buat waktu menunggu jadi terasa menyenangkan. 

Nungguin motor yang lagi diservis
Sambil nunggu, mari ngopi (In frame : Bang Samsul & Bang Cuex)
Alhamdulillah. Akhirnya si motor sudah keluar dari kamar rawat. Kami pun bersiap-siap melanjutkan perjalanan. Perjalanan siang. Kendaraan berlalu-lalang, padat merayap. Bahkan di beberapa titik terjadi macet. Tapi rupanya Zul begitu mahir selip kanan kiri di antara kendaraan-kendaraan besar. Benar-benar ekstrem. Tapi, rupanya motor mogok bukanlah satu-satunya masalah yang membuat perjalanan kali ini jadi penuh sensasi. Kami juga mesti berhadapan dengan operasi lalu lintas. Sebagai pengendara sepeda motor yang normal, sudah pasti kami langsung dag-dig-dug. Apalagi saya yang benar-benar takut sama operasi lalu lintas. Sedikit cerita saja, kalau saya sangat sering mimpi ditilang polisi. Dan satu-satunya alasan yang bikin saya takut berkendara motor jauh-jauh adalah karena saya belum punya SIM. Sayang kan kalau uang jajan lenyap karena ditilang.

Ada operasi lalu lintas !!!
STOP !!! Cekl kelengkapan surat kendaraan (In frame : Om Jet Cell & Zul)
Selagi menunggu urusan dengan Pak Polisi selesai, saya dan Mba Dyas menyempatkan diri untuk berbelanja sayuran yang dijual di pinggir jalan tersebut. Di dalam kepala langsung terbayang betapa enaknya makan sayur sop di atas gunung. Sedaaaapp...

Saya tidak tahu persis apa saja yang membuat dua teman saya terkenal tilang. Tapi setelah urusan itu selesai, kami melanjutkan perjalanan mencari gerbang Desa Wekas, jalur pendakian yang akan kami lewati. Kebetulan di antara delapan orang memang belum pernah ada yang melakukan pendakian lewat jalur ini, jadi harus tanya-tanya juga setiap kali ada orang lewat.

Beneran ini jalannya ???
Mending tanya aja deh. Daripada nyasar (In frame : Bang Samsul & ibu-ibu)

Beberapa saat kemudian kami melihat sebuah gapura bertuliskan Base camp Wekas. Ini dia. Artinya kami sudah sampai. kami masih harus menempuh perjalanan hingga ke basecamp yang jaraknya sekitar 3 km. Setelah melalui deretan hutan pinus, pukul 14.00 kami tiba di basecamp. Istirahat, makan siang kemudian re-packing untuk persiapan pendakian sore harinya.



Gapura Basecamp Wekas
Gerbang jalur pendakian Wekas
Jalan menuju basecamp
Tiba di basecamp pendakian Gunung Merbabu
Jangan lupa makan siang, sob !
Pendakian sore hari membuat kami bisa menikmati senja yang indah. Dan begitu malam tiba, terlihat pula langit cerah berbintang yang membuat saya enggan menundukkan kepala ketika sedang beristirahat di tengah-tengah perjalanan.

Selama perjalanan, tim kami tidak berjalan sebagai satu pasukan. Bang Samsul dan Kang Apeh sudah berada di posisi paling depan untuk bisa memasang tenda di pos 2. Kemudian di belakangnya, saya bersama Bang Arab. Dilanjutkan dengan Mba Dyas bersama Om Jet Cell yang dibantu Zul. Dan ada Bang Cuex yang mengkondisikan tim dari belakang.


Mari mulai melangkah
Indahnya langit senja kala itu
Pukul 21.00 kami tiba di pos 2. Setelah mendirikan tenda, acara masak memasak pun dimulai. Tempe goreng tepung dan mie instan sudah cukup untuk menemani nasi panas yang baru ditanak. Dan yang tidak boleh ketinggalan adalah kopi. Terus terang saya sedih karena tidak berani minum kopi. Perut saya memang sulit diajak berkompromi untuk jenis minuman yang satu itu.

Karena pagi buta nanti kami harus melanjutkan perjalanan ke puncak, akhirnya kami memutuskan untuk bergegas tidur. Awalnya saya sulit tidur karena udara yang sangat dingin. Sekujur tubuh seperti hampir mati rasa. Bahkan saya sampai harus memakai dua jaket sekaligus. Masuk ke dalam sleeping bag dan berusaha membuat badan senyaman mungkin di suhu udara yang ekstrim.

Mari makrab biar tambah akrab
Tanggal 17 Agustus 2015 pukul 03.00 dini hari kami bangun. Sebelum summit attack, kami harus mempersiapkan kondisi tubuh yang prima. Jangan lupa untuk makan (yang mungkin lebih mirip seperti sahur). Setelah semua siap, kami bergegas untuk melanjutkan pendakian ke puncak. Tas-tas besar ditinggal di tendah, kami cukup membawa perbekalan yang sekiranya diperlukan untuk sampai di puncak saja.

Persiapan summit attact
Dari langit yang gelap kemudian berubah bersemu jingga. Rupanya tak terasa kami telah berjalan selama beberapa jam sampai akhirnya melihat matahari yang menyingkap kabut. Dari tempat saya berdiri, saya bisa melihat gumpalan awan yang luar biasa indah. Gunung Sindoro - Sumbing dan Prau pun nampak dari kejauhan.

Pemandangan ketika fajar tiba. Saya sampe hampir nangis liat beginian (lebai)
Pantang melewatkan foto siluet
Ciiieee... pasangan merbabu yang romantis abiss  ^_^
Karena belum punya pasangan (ekheemm) foto sendirian aja deh
Ketika hari mulai siang
Ini dia apa yang saya butuhkan. Melihat pemandangan yang tidak bisa saya jumpai di mall, apalagi di tempat kerja. Saya bisa menghirup udara segar yang tak tercemar. Tak ada suara gaduh lalu lalang kendaraan. Dan yang pasti adalah tidak ada tumpukan pekerjaan yang sering menimbulkan pusing kepala.

Pemandangan indah seperti itu rupanya belum seberapa. Kami masih harus melewati jalanan yang lebih terjal lagi. Menanjak, berbatu, berdebu dan seringnya membuat kaki tergelincir. Beruntung deh ada kawan yang siap membantu. Hehehehe...

Medannya ngga main-main deh...
Apalagi ketika kami tiba di tempat yang lebih tinggi, angin bertiup sangat kencang. Beneran, ngga bohong. Seger sih, tapi bikin debu terbang kemana-mana. Mengingat kacamata hitam yang mesti pesiun dini setelah tragedi di Gunung Prau, alhasil si mata jadi korban - kemasukan debu. Biarpun ditawari pake kacamata punya Bang Arab, tapi saya tolak. Kenapa? Karena melihat pemandangan hijau pake kacamata hitam pasti jadi kurang WAH.

Kami lanjutkan... jalan... jalan... jalan... dan akhirnya menemukan spot yang bagus untuk beristirahat. Kami duduk-duduk sejenak dan (jangan lupa) berfoto-foto. Bahkan, saking menikmatinya, Saya bersama Mba Dyas, Bang Arab dan Om Jet Cell sampai tertidur ketika sedang beristirahat sembari berbaring di tepian jalur pendakian.

Entah bagaimana, kami sampai tertidur begini
Pengin foto model begini, ngga kesampean (In frame : Kang Apeh)
Zul yang berhasil mencapai cita-citanya (membalikkan papan arah puncak)
Pendaki Laka-laka di puncak Merbabu (In frame : Bang Samsul)
Sebut saja dia Bang Arab yang terobsesi jadi Bang Zafran (In Frame : Bang Rohman)

Ketika sedang berbaring di tepian jalur pendakian, ketika mata melihat langit biru cerah tanpa awan, entah mengapa jadi ada obrolan panjang di dalam benak sendiri. Seperti biasa. Dialog-dialog antara perasaan dan logika. Banyak hal yang terlintas di dalam pikiran. Mendadak seperti muncul benang-benang kusut yang musti diluruskan. Iya, inilah saatnya. Seperti tujuan yang membawa saya ke tempat ini. Saatnya menyegarkan pikiran, menata ulang hati yang berantakan. Melepas beban, biar saat pulang semua terasa lebih ringan.

Dia seperti langit. Ada, nampak jelas, indah, namun tak tergapai
Jadi, lepas saja semua beban di sini

Sebelum melangkah turun, saya telah membulatkan tekad. Sepulang dari tempat ini, saya harus bisa menjadi pribadi yang lebih baik. Ya, setidaknya saya harus menjadi pribadi dengan hati yang telah tertata kembali. Dengan pikiran yang benar-benar telah dinetralkan dari segala macam beban. Saya ingin bisa merelakan apa yang harus dilepaskan. Sepulang dari perjalanan ini, saya berjanji untuk tidak galau lagi. (semoga bisa, aamiin).



Tak lama setelah menikmati semua keindahan di atas sana. Setelah merenungkan banyak hal di depan hamparan pemandangan yang luar biasa menakjubkan, saya telah siap untuk kembali pulang. Saya telah siap untuk kembali bergelut dengan rutinitas harian saya. Iya, penyakit 'kurang piknik' yang menjangkit saya nampaknya sudah terobati.

Dan ketika turun menuju ke pos 2, di jalan kami bertemu dengan seorang gadis cilik berusia tiga tahun. Namanya Edelweis. Terus terang dalam hati saya berdecak kagum. Melihat dia bersama ayah dan ibunya. Duhhh... bikin ngiri asli ! Pengin dong kelak bisa piknik keluarga kaya gitu. Aamiin aamiin aamiin...

Setelah foto-foto dengan Dede Edelweis, saya dan teman-teman melanjutkan perjalanan. Sampai di pos 2 kami langsung menyiapkan makan siang. Tapi kami juga harus mengantri air. Antriannya lumayan panjang, ngga kalah dengan antrian di kasir supermarket. Setelah mencuci nesting dan mengambil air, saatnya memasak untuk makan siang.  Menu kali ini ada Sop di Atas Awan dan Sarden Kecap Pedas. Ini benar-benar makanan istimewa. Luar biasa enaknya disantap bersama nasi yang panas.

Mari memasak
Dan harap sabar menunggu
Ini dia penampakan Bang Cuex - Sahabat Kotak
Makan siang sudah siapppp! Santaaappp !!!
Bersamaan dengan turunnya kabut di siang hari, kami bergegas menyantap makanan tersebut sebelum dingin. Luar biasa sekali. Ini adalah makanan paling enak yang pernah saya makan. Bahkan sayur sop di rumah pun tidak pernah seenak ini.


Kabut mulai turun di pos 2
Selesai dengan makan siang, kami berkemas. Membongkar tenda, menggulung matras dan packing kembali. Kami tiba kembali di basecamp pada sore hari. Sebelum melakukan perjalanan pulang, kami berdo'a supaya diberi kelancaran hingga tiba di rumah.

Setelah berkemas, timsiap turun ke bawah
Perjalanan kembali ke basecamp pun tak kalah seru. Bahkan bisa dibilang lebih ekstrem. Kondisi tanah yang benar-benar kering membuat medan makin licin. Saya pun jatuh berkali-kali. Bahkan sampai kaki hampir tidak bisa untuk berjalan. Alhasil harus berjalan dengan menyeret kaki kanan saya yang mulai nyeri di bagian sana sini.

Apa yang Anda pikirkan ???
Di jalan, sebelum tiba di pos 1 saya mendapati monyet-monyet yang bergelantungan di atas pohon. Ada 4 monyet yang saya lihat. Dan ukurannya cukup besar juga. Sebenarnya ingin membawa salah satu monyet itu ke rumah (jangan ditiru). Tapi nanti mau dibawa pake apa? Mau diboncengin dimana? Kasihan juga kalau keluarganya nanti nyariin. Jadi saya mesti merelakan monyet-monyet menggemaskan itu tetap di habitatnya. Janga diri baik-baik ya, Nyet... Mudah mudahan nanti kita bisa berjumpa lagi.

Selamat tinggal Pos 1. Sampai jumpa lagi...
Kami menyempatkan diri istirahat di pos 1 sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan ke basecamp. Tiba di basecamp sekitar pukul 16.00. Langsung kami bersih diri, makan (lagi) dan istirahat. Berusaha untuk tidur barang sejenak untuk persiapan perjalanan malam nanti. Ba'da Maghrib kami langsung berkemas-kemas dan bersiap untuk kembali ke Tegal.

Okeh. Ternyata perjalanan malam dengan kondisi tubuh yang lelah membuat sedikit tak enak badan. Ngantuknya luar biasa. Saya berusaha untuk tetap terjaga, tapi akhirnya tidur juga selama perjalanan dari Magelang sampai Pemalang. Hanya terbangun beberapa saat ketika rehat di pom bensin atau di swalayan untuk minum kopi. Kemudian tertidur lagi.

Ngopi dulu gaes...

Aku sih mau tidur ajahh... Antuk !!!

Hah! Ini benar-benar perjalanan yang luar biasa. Biarpun badan pegel-pegel begitu turun dari motor, tapi insya allah tidak akan kapok. Bagaimana mau kapok kalau perjalanan semacam itu benar-benar menyenangkan. Dan yang lebih berarti lagi ada kebersamaan yang begitu erat. Beruntungnya memiliki kawan-kawan seperti kalian. Kalian luar biasa !!!

0 comments:

Silakan tinggalkan komentar. Boleh kritik, saran atau apapun.. Jangan lupa untuk selalu menggunakan kata-kata yang santun. Terima kasih.