Baper, Oh, Baper

3:00 PM Nur Mumtahana 0 Comments


Heh? Kenapa tiba-tiba ngomongin masalah baper? Emang baper apaan sih?

Nih, buat teman-teman yang belum tahu, baper itu sebenarnya singkatan atau istilah keren dari Kebawa Perasaan. 

Emang kebawa perasaan yang kaya gimana? 

Jadi begini, kadang kan ada kalanya, pada satu waktu, pada satu kesempatan, ada hal yang membuat kita jadi begitu dekat sama seseorang. Entah itu sengaja ataupun karena kebetulan (walaupun kata orang bijak tidak ada yang kebetulan di dunia ini). Kesempatan yang akhirnya menjadikan seseorang jadi bersikap 'seolah-olah' mengistimewakan kita. Mungkin dia jadi sangat baik, perhatian, suka tanya kabar, ini itu dan bla bla bla yang kesannya membuat kita jadi spesial. 

Kebanyakan orang baper berujung pada kekecewaan loooh.... Hah?! Yang benar?! Kenapa?

Karena mereka sudah terlanjur terbawa perasaan dan sudah menaruh pengharapan terhadap orang yang 'seolah-olah' membuatnya merasa spesial. Kadang juga membuat kita berfikir, "mungkin dia suka sama aku. buktinya dia perhatian banget'. 

Walaupun tak semua orang baper berujung pada kekecewaan, tapi mayoritas memang begitu. Baper itu berawal dari sikap GR (Gede Rasa). Anggapnya si doi baik sama kita aja, padahal dia memang baik sama semua orang. Itu bagian yang kadang bikin nyesek di dada.

Nah, lalu gimana nih cara buat mengantisipasi supaya kita ngga kecewa gara-gara terlanjur baper?

Hal pertama yang harus dilatih adalah hindari sikap GR (Gede Rasa) yang berlebihan. Kalau tiba-tiba ada seseorang yang begitu baik atau perhatian sama kita (khususnya lawan jenis), coba deh untuk jangan merasa GR dulu. Kalau kamu terlanjur gede rasa dan berpikir kalau doi benar-benar mengkhususkan perhatiannya buat kamu seorang, ujung-ujungnya kamu bakal kecewa setelah tahu kalau ternyata doi memang baik dan perhatian sama semua orang. Jadi, coba deh untuk menghindari sikap GR. Kita berpikir lurus aja. Jangan belok kanan kiri apa lagi sampai melambung tinggi. Kalau sudah terlanjur bertengger di atas (kaya burung), kadang untuk turun kita harus merasakan sakit (karena kita bukan burung yang bisa terbang).

Untuk yang sudah pernah merasakan sakit hati akibat baper, mending buruan kalian membentengi hati. Jangan sampai perhatian seseorang yang berlebihan membuat kalian terbuai dan terhanyut. Kemudian tergantunglah harapan di atas sana (seperti jemuran). Bedanya jemuran sama harapan, kalau jemuran lama digantung hilang. Tapi kalau harapan yang lama digantung, timbulnya nyesek di dada. 

Tapi, sikap baper juga bukan sepenuhnya kesalahan 'para korban' yang terlanjur gede rasa. Kadang si pelaku juga juga tidak pikir panjang, kalau sikap dan perhatiannya bisa membuat orang lain berpikir 'seolah-olah' dia memberikan perhatian khusus. 

Tidak laki-laki, tidak perempuan. Ingat, bahwa bersikap baik itu perlu (dan harus). Tapi ketahuilah batas-batasnya, karena kita tidak pernah tahu apa yang mungkin akan timbul dalam pikiran orang-orang yang kita beri perhatian. Jangan sampai kita menyakiti perasaan seseorang karena kita pupuskan harapan mereka.

Ibarat kata pepatah, "Jangan pernah membuat orang lain jatuh cinta kepadamu jika kau tidak bermaksud untuk menikah dengannya." JLEBB banget di hati. Tapi saya pribadi sangat setuju dengan kalimat itu. Jangan pernah membuat orang lain jatuh cinta dengan kita kalau kita tidak punya keinginan untuk membalas cintanya.

Jadi, marilah kita bersama-sama menjaga perasaan satu sama lain. Kalaupun memang berawal dari baper dan berujung pada keseriusan, cobalah untuk berterus terang untuk menghindari kesalah pahaman. Karena tanpa sikap terus terang, terkadang yang timbul adalah dugaan-dugaan belaka, yang pada akhirnya menjadikan perasaan keduanya seperti sedang digantung. Ingat, ini bukan jemuran yang kalau lama digantung bisa hilang. Perasaan kalau digantung terlalu lama itu bisa bikin nyesek di dada. Rasanya ngga enak banget. Beneran. Ngga bohong (sok berpengalaman). Hihihihi 

0 comments:

Silakan tinggalkan komentar. Boleh kritik, saran atau apapun.. Jangan lupa untuk selalu menggunakan kata-kata yang santun. Terima kasih.