Dialog dengan Secangkir Kopi ( Bagian 1 )

10:59 PM Nur Mumtahana 0 Comments


Banyak sekali malam yang aku lewatkan sendirian. Bukan karena aku menghindari keramaian, hanya saja karena kadang aku merasa butuh waktu 'hanya' dengan diri sendiri. Bukan tak mau bersosialisasi, tapi aku merasa bahwa ruang sepi kadang membuatku bisa melihat dunia melebihi apa yang dilihat oleh mata. Kadang, ketika jauh dari hingar bingar dunia, aku merasa bisa mendengar kata hati dengan lebih jelas. Kurang lebih begitu.

Ketika sendirian, aku tak sepenuhnya sendirian. Ada semut yang berlalu lalang di pojok ruangan. Ada bulan di luar jendela yang kadang menampakkan diri, kadang bersembunyi. Ada juga burung-burung yang entah apa namanya, aku tak hafal, tengah bertengger di atas pohon mangga depan rumah. Tak cuma semut, bulan dan burung, karena di sampingku ada segelas minuman panas dengan kepulan asap yang menebarkan aroma wangi. 

Aku pandangi bulan tsabit di atas sana. Tapi sedari tadi ia bersembunyi di balik gumpalan awan yang nampak elok kejatuhan sinar temaram. Dan aku baru menyadari kalau langit malam ini tak berbintang. Kemana mereka semua? Pantas saja rembulan malu menampakkan diri. Ternyata kawan-kawannya pergi semua.

Langit tak begitu menarik. Tapi aku suka sunyi yang ditawarkan malam. 

Kembali lagi perhatianku pada secangkir minuman panas yang kepulan asapnya mulai berkurang. Mungkin karena angin yang masuk lewat jendela. Biarlah. Setidaknya, aku tak perlu repot-repot untuk meniup minuman itu untuk segera bisa diteguk. Lagipula, katanya tak baik meniup minuman atau makanan yang panas. Tapi hingga sekarang aku masih sering melakukan hal itu. Entah karena lupa atau karena aku tak sabaran. Tapi ya begitulah adanya. Kadang untuk mengikuti anjuran yang tepat justru terasa susah, padahal sebenarnya itu mudah dan tidak merepotkan.

Mestinya segera kuangkat cangkir keramik berwarna putih dengan aksen biru tersebut. Sekedar untuk membasahi bibir yang kering diterpa hawa dingin. Tapi rupanya cangkir kecil itu tak begitu menarik perhatianku, seperti langit malam dengan rembulan yang mengintip malu-malu. Aku tahu dia ingin ikut serta menemani sepiku, tapi keraguannya buatku enggan untuk menyapa. Jadi kubiarkan saja dia tenggelam sendirian.

Kulihat ke pojok ruangan. Berharap semut-semut yang berlalu-lalang bisa kuajak bercanda. Tapi rupanya mereka semua sudah tak ada, kembali ke rumah-rumah mereka di bawah tanah. Mestinya aku bisa berada di antara mereka. Iya, aku cuma berharap. Dan aku sadar itu takkan bisa. Jadi kembali lagi perhatianku pada langit. Ternyata masih sama seperti beberapa detik lalu. Dan perhatianku beralih pada secangkir minuman panas yang sudah tidak panas. Tak ada selera untuk meneguknya. Jadi aku beranjak dan membawa minuman dingin yang disebut 'teh' itu ke dapur.

Ketika melewati ruang tengah, samar-samar aku mencium aroma yang menarikku ke meja kecil di samping kursi goyang. Entah bagaimana menggambarkannya, tapi yang jelas seperti ada magnet yang kuat menyeret langkahku. Hidungku mendadak jadi peka. Kemudian otakku seperti terhipnotis, tak mengingat apapun. Aku hanya ingin segera tahu, aroma apa yang membuat rasa penasaranku naik berkali-kali lipat.

Ternyata aroma sedap itu berasal dari minuman berwarna hitam pekat di dalam cangkir keramik. Cangkir itu sama seperti cangkir yang barusan kubawa ke dapur, tapi isi di dalamnya berbeda. Warnanya gelap, bahkan di ruangan dengan lampu yang temaram aku bisa membayangkan betapa pekatnya andai kuteguk.

Tanpa pikir panjang, langsung kubawa minuman itu ke dalam kamar. Aku tak tahu apa alasannya, tapi mendadak aku merasa kalau malamku jadi begitu cerah. Biar langit di luar tetap sama, dengan bulan yang makin rapat menyelimuti diri, tapi aku merasa sepiku pudar. Burung-burung pun sudah tertidur semua. Mestinya sepiku makin menjadi, tapi di dekat minuman hitam beraroma sedap itu, rasanya seperti sedang duduk dengan sosok yang mampu aku sebut sebagai kawan. Kawan yang tak punya nama, hanya sebuah rupa di dalam cangkir yang nampak rapuh.

Tiba-tiba aku tersenyum pada cangkir di sampingku. Aku mungkin sudah tidak waras, tapi aku bahagia. Buru-buru aku angkat cangkir itu, memegangnya dengan kedua tangan, mencoba merasakan kehangatan yang dia berikan. Benar-benar hangat, pikirku.

Semakin kuangkat cangkir itu, semakin jelas kurasakan aromanya. Menyeruak, mengisi ruang paru-paruku. Aku seperti dibawa pergi jauh ke dunia yang tak pernah aku pijak di alam nyata. Aku seperti dibawa ke sebuah padang ilalang luas. Kemudian ada angin yang sesekali membuatku harus merapatkan baju hangat rajutan ibuku.

Dan aku tersadar. Ternyata itu memang hanya imajinasi. Luar biasa sekali minuman di tanganku ini. Aku tak sabar untuk bisa mencicipinya. Dan dengan hati berdebar-debar, perlahan kuangkat cangkir keramik itu dan meneguk isinya sedikit. Sangat sedikit. Dan tiba-tiba aku seperti melihat banyak kunang-kunang. Muncul dari balik semak belukar. Cahayanya indah, bahkan tak pernah ada lampu pesta seindah itu. Rembulan yang malu-malu juga penasaran nampaknya. Kudapati dia mengintip dari balik celah selimut meganya.

Melihat tingkah rembulan di atas sana membuatku lantas kesal. Sedari tadi ia enggan menampakkan diri, tapi kini malu-malu ia mengintip. Kawan macam apa kau ini? Aku ingin marah dan memakinya, tapi tak bisa. Aku cuma melirik tajam, kemudian mengabaikannya.

Aku ingin berdua saja dengan secangkir minuman di tanganku. 

"Siapa namamu?" gilanya aku bertanya seperti itu.

Minuman di tanganku diam saja. Lalu angin bertiup dari luar jendela, membuat aroma minuman itu menyeruak (lagi) di dalam rongga paru-paruku yang sedari tadi seperti menghirup udara hampa. Dia sedang memperkenalkan diri, pikirku.

Mendadak muncul banyak pertanyaan dalam benakku. Aku tak dapat menahannya. Dan pertanyaan itu satu persatu keluar dari mulut yang terasa asam setelah tengukan kecil beberapa detik lalu.

"Nampaknya engakau kawan yang bisa aku andalkan. Bahkan kau bisa membuat rembulan cemburu."

Ia tetap diam, tak bersuara.

Aku tak bisa berhenti menatapnya, menghirup aromanya, kemudian mulai meneguknya sedikit demi sedikit. Sejujurnya, mataku sudah mulai layu, ngantuk. Tapi aku tidak tega meninggalkan minuman di tanganku. Kupikir, aku harus segera menenggak habis bila memang ingin beranjak ke atas kasur. Karena, kalaupun kusisakan sedikit di dalam cangkir, mataku akan tetap terjaga memperhatikannya sepanjang malam. 

Akhirnya kuteguk habis minuman itu, lalu beranjak ke tempat tidur.

Seharusnya aku bisa tidur, tapi kenapa mataku malah terbuka lebar? Apa mungkin barusan aku tak benar-benar menghabiskan minuman itu? 

Buru-buru aku menghampiri cangkir keramik yang kuletakkan di pojok kamar. Minuman itu sudah habis, tinggal ampas hitam yang mengendap di dasar cangkir. Jadi aku kembali ke tempat tidur. Berbaring, menatap langit-langit kamar yang terasa begitu dekat, seperti akan menimpaku. Makin larut, mataku makin terbuka lebar. Nampaknya ada yang aneh. Aku mungkin mulai rindu dengan minuman hitam itu. Iya, aku rindu sampai tak bisa tertidur.

0 comments:

Silakan tinggalkan komentar. Boleh kritik, saran atau apapun.. Jangan lupa untuk selalu menggunakan kata-kata yang santun. Terima kasih.