Explore Tegal - Curug Luhur

11:35 PM Nur Mumtahana 0 Comments


Waktu itu tanggal 26 Juli 2015. Itu adalah hari libur terakhir sebelum hari kerja efektif berjalan. Libur lebaran selama dua minggu mestinya bisa jadi saat yang menggembirakan. Mestinya saya bisa membuat daftar destinasi tempat-tempat yang wajib dikunjungi. Tapi itu cuma wacana belaka. Realita memang tak selarah dengan ekspektasi. Bahkan ketika teman-teman saya pergi mendaki Gunung Slamet, saya cuma bisa di rumah dengan kesibukan yang luar biasa dikarenakan ada hajatan. Saya sampe nangis-nangis karena ngga bisa ikut bergabung dengan teman-teman. Sedih, kecewa, (sedikit) marah dan entah bagaimana menggambarkan perasaan saat itu. Apa daya, saya cuma bisa pasrah.

Di hari libur terakhir, saya benar-benar ingin menghabiskan waktu untuk berlibur. Walaupun pagi hari ada acara halal bihalal bersama keluarga SMP, tapi setelah dari acara tersebut saya bersama Mba Sary, Mba Dyas dan Om Jet Cell sudah sepakat untuk pergi ke Curug Luhur yang berlokasi di Bojong. Tentu saja kami tidak cuma berempat. Ada Bang Jono dan Bang Dulkim. Duo yang kompak selalu. Kebetulan waktu open trip ke Gunung Prau kita satu tim. Jadilah sekarang kita akrab begini.

Dari Slawi kita naik sepeda motor. Dan sudah pasti saya tidak menyetir sendiri. Kalau saya yang nyetir, bisa-bisa bukan sampai curug, tapi malah sampai ICU. Jangan sampe deh. Akhirnya saya berboncengan dengan Bang Dulkim, Mba Sary dengan Bang Jono dan Mba Dyas dengan suaminya, Om Jet Cell.

Gila benar ! Jalanan macet ketika melewati letter S menuju lokasi. Selain karena arus balik setelah lebaran, ternyata salah satu penyebab kemacetan itu adalah karena adanya karnaval di salah satu desa. Luar biasa sekali. Bayangkan saja bagaimana rasanya macat di jalan menanjak yang kanan kirinya diapit jurang. Ekstrem, broh. Ekstrem. 

Dari pertigaan Tuwel, kita ambil jalan ke arah ke Bumijawa. Melewati SMA Negeri 1 Bojong, ambil arah kanan, lalu masuk Dukuh Kopigandu. Setelah memarkir kendaraan, kami pun mulai tracking menuju lokasi. Bang Jono dan Bang Dulkim yang sudah paham lokasi tersebut berjalan paling depan. Sementara saya, Mba Sary, Mba Dyas dan Om Jet Cell mengikuti di belakang. Jalannya naik turun, tanahnya kering dan sedikit berdebu. Bahkan saya sampai terjatuh dua kali. Tak cuma saya, Mba Sary pun begitu. Tapi jatuh yang ini tak bikin sakit (hati), karena ini bukan jatuh cinta.

Pantang melewatkan foto di perjalanan

Sepanjang jalan, pantang bagi kami untuk melewatkan sesi foto-foto. Apalagi pemandangannya sangat indah ketika melewati pematang sawah, perkebunan, sungai-sungai kecil dan gubuk petani. Setelah sekitar 20 menit berjalan, samar-samar terdengar suara gemercik air yang jatuh dari ketinggian. Itu pasti tempatnya. Begitu kata saya dalam hati.

Dan benar saja. Setelah melewati jalan yang sedikit menurun, kami bertemu dengan sungai yang mengalir dari bawah sebuah air terjun yang airnya melimpah ruah. Gemuruh air terjun di tempat itu benar-benar membuat hati terasa teduh. Pikiran jadi jernih. Sejenak jadi lupa dengan semua beban pikiran, bahkan sampai lupa kalau besok harus mulai berangkat kerja,

Penampakan Curug Luhur yang langsung menyegarkan mata

Rongga goa kecil di tebing yang mengelilingi curug

Airnya bening banget. Asli !!!

Buru-buru saya berlari ke dekat air terjun. Membasahi kaki, membasuh tangan dan cuci muka. Rasanya segar luar biasa. Ditambah dengan angin yang sepertinya hanya berputar-putar di tempat itu. Dan yang paling saya sukai adalah ketika duduk di tepian menghadap air terjun dengan mata terpejam. Mendengarkan suara air terjun yang bergemuruh teduh, Lirih angin yang menggelitik telinga, dan air terjun yang memercikkan air ke wajah. Damai nian. Ini pasti surga dunia, pikir saya.

Anggap saja kalau kita hidup tanpa punya beban

Buat apa gundah gulana kalau bisa memilih bahagia

Salah satu foto favorit saya

"Hana bingung mau pegangan siapa, akhirnya pegang kepala aja" kata Bang Jono

Anggap saja kalau bahagia itu satu-satunya pilihan

Setelah puas berfoto ceria sampai kehabisan gaya, kami istirahat sejenak dan menyantap perbekalan yang sudah dibawa. Setelah itu kami harus berkemas untuk pulang. Apa? Berkemas pulang?

Rehat sejenak, Kawan. 

Sebenarnya saya masih ingin berada di tempat itu lebih lama. Tapi apa boleh buat? Hari sudah sore. Akhirnya kami harus mengucapkan "sampai jumpa. semoga kapan-kapan bisa berkunjung lagi" pada tempat yang indah itu.

Namun sangat disayangkan, karena sepanjang jalan pulang kami menemui beberapa titik yang menjadi tempat untuk membuang sampah bungkus makanan dan botol bekas minuman. Padahal semestinya sebagai penikmat keindahan, kita juga harus turut serta untuk menjaga kebersihan tempat itu sendiri. Jadi, mulai dari sekarang, belajarlah untuk peduli dengan lingkungan. Karena keindahan itu hakikatnya tetang saling menjaga. Jangan berharap kalau alam sudi memperlihatkan pesonanya kalau kita saja tak mau menjaganya. Jadi, intinya saya cuma mau bilang "Jangan lupa bawa pulang sampahmu, kawan." Itu saja. :D

0 comments:

Silakan tinggalkan komentar. Boleh kritik, saran atau apapun.. Jangan lupa untuk selalu menggunakan kata-kata yang santun. Terima kasih.