(Kisah Klasik) Sahabat Jadi Cinta

8:52 PM Nur Mumtahana 0 Comments


Tulisan request dari salah satu teman nih. Kayanya dia lagi jatuh cinta sama salah satu sahabatnya. Jadi sekarang dia minta supaya saya nulis tentang kisah cinta di antara persahabatan. Wah, kok saya jadi deg-degan gini ya nulisnya? Padahal, sahabat jadi cinta itu salah satu jenis cinta yang selalu saya hindari selama ini. Kenapa? Sudah, jangan dibahas lagi. Bikin teringat masa lalu.

Sedikit mengutip kisah dari film Heart. Film yang diperankan oleh Nirina Zubir dan Irwansyah. Bayangkan saja ketika kita sudah berteman dekat dengan seseorang. Sejak kecil. Kita lahir dari keluarga yang sudah saling mengenal, kita lahir di lingkungan yang sama. Semua hari dilewati tanpa satupun jeda ketidak hadiran. Kita jadi begitu dekat, bahkan melebihi kedekatan dengan saudara sendiri. Lambat laun, sosok sahabat menjadi memiliki banyak peran. Sahabat kemudian menjadi seperti kakak, adik, saudara, guru, bahkan ada yang beranggapan bahwa sahabat itu seperti orang tua. 

Keberadaan seorang sahabat kadang kala membuat kita merasa sangat nyaman. Dia selalu ada di saat kita butuh, dia selalu bersedia mendengar semua curahan perasaan, dan tak jarang dia membantu kita mencapai tujuan, walaupun harus dengan cara-cara gila yang mungkin tidak akan pernah orang lain lakukan untuk membantu kita.

Ketika kedekatan itu seperti gula yang larut dalam segelas kopi, maka kita tidak akan bisa memilah-milahnya lagi. Begitu pula sebuah perasaan dalam ikatan persahabatan. Kalau hubungannya sudah terlampau dekat, maka akan sulit bagi kita untuk memilah-milah mana perasaan sayang sebagai sahabat dan mana perasaan sayang sebagai 'lebih dari sahabat'.

Seringnya, cinta yang tumbuh di antara hubungan perasahabatan membuat seseorang menjadi ragu. Kenapa ragu? Karena orang tersebut pasti bingung dengan perasaannya sendiri. Ini sayang karena cinta atau sayang karena dia sahabatku? Apalagi kedekatan persahabatan mereka sudah melebihi kedekatan orang yang saling jatuh cinta. Dalam persahabatan mereka sudah menghabiskan banyak waktu bersama. Dalam persahabatan mereka sudah melalui banyak suka cinta bersama. Dan dalam persahabatan itu pula mereka sudah memiliki perasaan saling sayang dan keinginan saling menjaga satu sama lain. Jadi, ketika timbul perasaan baru yang disebut 'cinta', mungkinkah perlu diungkapkan?

Beberapa orang takut mengutarakan perasaan cinta pada sahabatnya, dikarenakan mereka khawatir kalau cinta yang 'bukan atas nama persahabatan' akan memudarkan semua perasaan saling menyayangi yang sudah ada sejak dulu. Mereka takut kehilangan sosok sahabat jika menjelmakannya menjadi sosok yang dicintai. Mereka takut, seandainya suatu saat cinta mereka kandas, maka kandas pula ikatan persahabatan yang sudah begitu lama terjalin.

Kadang, ada yang berpikir untuk memendam saja perasaan cinta itu, dan meleburnya dengan perhatian khusus yang mengatas namakan persahabatan. Tapi tentu saja, dalam hati akan timbul perasaan tersiksa karena ada satu maksud yang tidak bisa tersampaikan. Ada pepatah bilang, "Cinta terpendam lama-lama bisa menjadi dendam." Perasaan yang terpendam begitu lama memang akan membuat hati menjadi keras, dan bisa membuat seseorang menyimpan dendam terhadap dirinya sendiri. Apalagi ketika suatu saat ia menyesal lantaran tak berani mengutarakan perasaannya, sementara ada orang lain yang mendahului dirinya dalam mengungkapkan cinta pada si dia.

Jatuh cinta pada sahabat memang lebih rumit ketimbang jatuh cinta pada orang yang baru dikenal. Terlalu banyak hal yang mesti dipertimbangkan. Apalagi, kadang setelah mengutarakan perasaan cinta pada seorang sahabat, kemudian mendadak kedekatan di antara keduanya berubah. Kalau biasanya berkumpul dan bercanda bersama, setelah mengungkapkan perasaan cinta pasti yang akan timbul adalah rasa ragu dan malu satu sama lain. Manusiawi memang. Tapi itulah satu hal yang kadang menjadi alasan mengapa seseorang ragu untuk mengutarakan rasa cintanya pada sosok sahabat yang sudah begitu dekat.

Tapi, kalau memang ingin menjalin hubungan yang serius. Dalam artian bukan sekedar untuk seru-seruan atau mengikuti tren, cobalah untuk sedikit mengurangi candaan yang biasanya terselip di setiap percakapan. Cobalah untuk mulai membahas sesuatu yang lebih punya arti. Dari obrolan-obrolan yang seperti itu, mungkin akan ditemukan satu kesempatan untuk bisa mengutarakan perasaan dengan cara yang lebih dewasa, dengan pikiran yang terbuka, dengan hati yang tertata.

Bicaralah tentang masa depan. Ajak dia untuk berpikir tentang bagaimana merajut kehidupan yang nanti pasti akan dijalaninya. Entah dengan siapapun. Hidup ini bukan hanya tentang piknik, jalan jalan dan bersenang-senang dengan teman. Ingat, ayah dan ibumu pasti rindu untuk menimang cucu.

Hah! Kenapa jadi membahas masalah cucu segala? Bahkan saya sendiri belum punya pengalaman sama sekali tentang urusan cinta. Tapi kok bisa sok tahu begini ya? Apa mungkin efek keseringen nonton film roman? Atau karena....

Sudah. Lupakan saja! 

Semua kembali lagi pada pribadi masing-masing. Setiap orang pasti punya cara sendiri untuk mengekspresikan cintanya. Entah itu pada sahabat, atau pada siapa saja. Tapi yang pasti, jangan pernah menodai cinta dengan bualan-bualan yang tidak berguna. Luruskan niat, Sob! Cinta itu tentang saling menjaga, saling percaya. Dan untuk bisa mendapatkan keduanya, kita musti menata dulu hati dan pikiran. Cinta itu sesuatu yang amat besar loh! Biarpun awalnya tak nampak, tapi lama kelamaan hati dan pikiran yang tak tertata bisa meledak menahan gejolaknya.

Buat kawanku yang (nampaknya) sedang jatuh cinta pada sahabatnya, bagimana? Sudah siap untuk mengambil sikap?

0 comments:

Silakan tinggalkan komentar. Boleh kritik, saran atau apapun.. Jangan lupa untuk selalu menggunakan kata-kata yang santun. Terima kasih.