[Cerpen Islami] : Membagi, Terbagi --Based On True Story--

2:52 PM Nur Mumtahana 0 Comments





Kita bisa memilih mau menikah dengan siapa. Tapi kita tidak pernah bisa memilih mau jatuh cinta pada siapa.

Aku masih ingat hari itu. Ketika ia menyapaku. Kemudian duduk di sebelahku. Dibentangkannya jilbab panjang di hadapanku, lalu ia bantu aku menutup bagian rambut kepalaku dengan jilbab itu. Aku tidak tahu apa maksud dari sikapnya. Aku gugup. Hatiku tergetar. Dan sulit bagiku menggambarkan perasaan yang bahkan debar-debarnya dapat aku rasakan hingga saat ini.

Setelah hari itu, aku yang biasanya masih sering membuka tutup jilbab mulai meyakinkan diri untuk kembali pada pendirian di masa lalu yang sempat goyah. Aku ingin memperbaiki segalanya. Aku tahu, bahwa aku punya pilihan untuk menjadi lebih baik. 

Aku yakin, bahwa Tuhan punya alasan mengapa ia menghadirkan orang-orang di sekitarku. Bahkan aku ingin mengucapkan terima kasih kepada mantan kekasihku di masa lalu. Biarpun ia mengiris dan meremuk hatiku dengan sikapnya, tapi aku tahu bahwa itu adalah pengalaman bergarga dalam hidupku Tuhan pada akhirnya menunjukkan padaku, bahwa selama ini aku telah terlarut dalam cinta yang salah. Dan aku pun yakin, bahwa sosok baru dalam hidupku hadir untuk dapat membawaku kepada jalan yang seharusnya. 

Aku tak mau mengambil kesimpulan bahwa aku jatuh cinta padanya. Bahkan aku belum pernah tahu alasan atas semua kebaikannya padaku. Aku hanya merasa nyaman saat ia bersamaku. Dia membuatku lebih ingat pada Tuhanku. Dia tak pernah segan menasihatiku, membantuku untuk dapat menjadi muslimah yang lebih baik. Dan entah mengapa, sejak saat itu aku tak pernah bisa berhenti untuk menyertakan namanya dalam setiap barisan do'aku.

Dia bukan sosok yang romantis. Dia juga tak pandai merangkai kata untuk membuat perempuan jatuh hati padanya. Tapi semua sikapnya, seperti telah mewakili betapa dia sangat ingin menjaga perempuan yang ada dalam hidupnya. Jangan berharap kalau dia akan menggandeng tanganku. Bahkan ia tak bisa menatap langsung ke dalam mataku. Aku tak tahu, apa yang salah dalam diriku. Atau mungkin semua itu dilakukannya karena ingin menjaga kehormatanku sebagai seorang perempuan.

Ribuan kata cinta hanya akan menjadi debu yang terbang diterpa angin. Tapi sikapnya padaku seperti udara yang dapat aku rasakan keberadaannya. Aku belum mengambil kesimpulan bahwa aku jatuh cinta padanya. Aku masih teguh pada pendirianku, bahwa aku hanya merasa nyaman dan dapat semakin mengenal Tuhanku saat bersamanya. Dia membantuku membuka mata, menunjukkan padaku tentang bagaimana seharusnya menyikapi hidup yang kadang tak bersahabat. Sungguh, hanya dirinya sosok laki-laki yang mampu membuatku yakin bahwa tujuan hidup ini adalah untuk mencari ridho menuju surga-Nya.

Apabila ingin membahas tentang 'status', maka kami tak pernah mengikrarkan ikatan apapun. Tapi ia pernah sekali, mengajakku berbicara dengan penuh keseriusan. Aku tahu dia bukan orang yang gemar bercanda. Bahkan aku sangat jarang melihatnya tertawa, menggila, atau menangis. Tapi dia melakukan semua itu di hadapanku. Bahkan aku ingat sekali saat dia berkata, "Hanya saat bersamamu aku bisa menjadi diriku sendiri. Tertawa terbahak-bahak, menggila, bahkan sampai menangis seperti anak kecil. Semua itu hanya bisa aku lakukan saat bersamamu."

Mulutku terkatup rapat. Lidahku kelu. Aku tak punya cukup kosa kata untuk dapat menanggapi ucapannya. Tapi sungguh, hatiku berdebar-debar amat kencang kala itu. Mungkinkah dia .... ?

"Aku ingin menjalani semuanya denganmu." Begitu kalimat yang membuat jantungku seperti ingin meledak.

Lidahku makin kelu, mulutku terkunci rapat. Tapi aku memaksakan diri untuk berucap padanya, "Kalau begitu kita jalani saja," sahutku dengan nada gemetar akibat jantung yang berdebar tak karuan.

Aku tak paham apa status hubungan antara diriku dengannya. Kupikir, kami tetaplah teman. Tapi aku tak pernah bisa melewati hari-hari tanpanya. Kadang aku merasa gelisah dan cemas. Bahkan ketika rinduku padanya muncul ke permukaan, aku hanya bisa menangis. Dia memang telah membuatku merasakan kenyamanan. Dan tanpa disadari, mulai terselip rasa cinta di antara retakan hatiku karena luka masa lalu. Perlahan, dia mampu menyempurnakan kembali retakan-retakan itu. Saat bersamanya, aku mulai berhenti mencari. Karena semua yang ingin aku miliki telah ada dalam dirinya. Sosok sederhana yang mampu memberikan ketenangan dalam batinku.

Kisahku dengannya bukan kisah bertepuk sebelah tangan. Dan mestinya ini bisa menjadi satu kisah sempurna dari dua insan yang jatuh cinta. Mestinya hubungan ini dapat disatukan dalam ikatan suci pernikahan. Aku harap begitu.

Hari itu tiba. Hari pernikahanku. Aku ingin bahagia. Tapi bagaimana bisa? Aku menikah bukan dengan orang yang aku cintai. Dan saat itu aku masih bingung, mengapa aku memilih untuk menikah dengan orang lain? Kenapa bukan dengan orang yang aku cintai? Kalau boleh, aku ingin jatuh cinta kepada orang yang menikahiku. Biar hidupku bahagia bak cerita dalam dongeng. Tapi kenyataannya tak begitu.

Perasaanku terhadapnya teramat dalam. Bahkan, saat aku telah menjalani kehidupan rumah tangga, hati ini masih terpaut padanya. Dan secara terus terang dia mengatakan padaku, dirinya tidak akan pernah bisa melupakanku selamanya. Hal itu terkadang menimbulkan rasa bersalah terhadap orang yang saat ini hidup bersamaku. Pasalnya, aku pun belum dapat menghapus rasa cintaku pada sosok yang telah membawaku ke jalan yang lebih baik.

Ketika suatu hari kudengar kabar pertunangannya, aku turut bergembira. Setidaknya, di situ aku bisa melepas satu hal yang membebani hatiku. Sungguh, melihatnya yang masih menyimpan perasaan terhadapku membuatku berat menjalani kehidupan rumah tangga ini. Aku tak ingin membuatnya merasa ditinggalkan. Apalagi sampai membuatnya merasa kesepian. Aku ingin dia bahagia dengan pasangannya, agar aku dapat bahagia dengan kehidupan baruku.

Tapi rupanya tidak semudah itu. Ia terlanjur mengutuk diri sendiri untuk mencintaiku selamanya. Bahkan beberapa pertunangannya harus mengalami kegagalan karena hatinya masih terpaut padaku. Tahu apa yang aku rasakan? Aku merasa bersalah. Mengapa aku harus memilih untuk menikahi orang lain? Dan kenapa aku belum bisa menghapus perasaanku terhadapnya?

Aku mungkin sempat hilang arah, hingga masih berharap dapat menjalin kehidupan dengannya. Sementara aku sendiri telah menikah. Dia bahkan tak peduli pada kenyataan bahwa aku telah menikah. Ia tetap mencintaku seperti dulu. Semua itu kadang membuatku bertanya, mau sampai kapan ini terjadi?

Aku tak ingin menyakiti hati siapapun. Tak ingin aku menyakiti hati suamiku. Aku pun tak ingin membuat sosok istimewa itu terjebak dalam kutukan yang dibuatnya sendiri. Aku ingin dia bahagia. Dengan siapapun pasangannya kelak. Aku ikhlas. Ketika dia bahagia, aku pun akan bahagia. Setidaknya, itulah caraku menjaga rasa cinta terhadapnya, tanpa ada maksud untuk membagi perasaan.



0 comments:

Silakan tinggalkan komentar. Boleh kritik, saran atau apapun.. Jangan lupa untuk selalu menggunakan kata-kata yang santun. Terima kasih.