Di Bawah Cemara Laut

7:46 PM Nur Mumtahana 0 Comments




Siang itu cuaca panas sekali. Tepat di puncak musim kemarau yang tak kunjung usai meski Oktober telah tiba di penghujung. Di antara rasa lelah setelah perjalanan panjang menyisir Pantai Muarareja, aku dan beberapa kawan mencoba menikmati sisa-sisa waktu yang ada. Paling tidak, kami bisa menikmati pemandangan pantai yang berombak besar.

Aku tidak tahu sejak kapan pohon-pohon cemara laut ini ditanam. Tapi yang pasti, aku sangat senang berteduh di bawahnya. Nyaman sekali, bahkan aku dapat berbaring di atas tanah berlapis daun-daun keringnya yang halus mirip kasur jerami.

Matahari di atas sana menyengat ganas. Tapi di bawah cemara laut ini, aku bisa merasakan keteduhan yang luar biasa. Hawa panas di sana tersapu juga oleh angin dari arah pesisir. Deru ombaknya yang datang datang dan pergi membawa aroma asin yang memekakan penciuman. Aku tak begitu menyukai aroma anyir itu. Tapi aku suka semua yang ada di sekelilingku.

Tak ada yang lebih sempurna ketimbang berteduh di bawah pohon cemara, melihat pemandangan laut lepas, mendengar deru ombak, dan angin yang seperti hendak membawaku terbang melayang di udara seperti dedaunan kering. Dan mereka, teman-temanku, adalah pelengkap kesempurnaan di akhir pekan.

Sekian lama aku merindukan hujan, namun tak kunjung tiba. Aku rindu. Tapi melihat air yang melimpah ruah seolah mampu sedikit obati rinduku. Kesendirian yang selama ini menggelayuti akhirnya pecah jua. Berganti dengan tawa di sela-sela obrolan ringan. Disuarakannya pula senandung lagu-lagu lawas dengan penuh penghayatan oleh salah satu kawanku. Kurasa ia lebih mahir ketimbang penyanyi yang ngehits hanya karena umbar sensasi.

Mereka masih sibuk dengan candaan dan senandung lagu itu. Tapi aku tak bisa berpaling melihat langit yang tertutup oleh rangkaian ranting cemara laut yang seolah saling berpegang erat. Cemara laut yang amat baik. Ia terus meneduhiku dari guyuran ultraviolet. Sungguh, aku tak takut bila kulitku menghitam karena matahari. Faktanya, ada banyak orang yang mendambakan kulit hitam eksotis. Dan tanpa harus berjemur atau melalui beragam perawatan, aku sudah memiliki kulit hitamku sendiri.

Kurasa aku jatuh cinta pada tempat ini. Kutahu bahwa sejak dulu ranting-ranting pohon selalu mengingatkan tentangg apa yang ada dalam otak manusia. Dalam otakku juga. Tentang manusia dengan otaknya yang gemar memikirkan banyak hal, berangan dan bercita-cita. Beberapa yang dipikirkannya menjadi semakin kuat dan kokoh. Tapi sebagian menjadi rapuh kemudian patah. Sama seperti banyaknya cita-cita yang kugantung di atas sana. 

Harapku bisa melihat matahari terbit atau senja di tempat ini. Pasti indah. Oh ya, aku pernah melihat senja di tempat ini. Sekali. Tapi kala itu aku tak punya waktu terlalu banyak untuk merasakan semua kesempurnaan yang tidak aku dapat di pelataran rumah. Debur ombak tetap jadi satu hal yang paling aku sukai dari sebuah pesisir. Apalagi saat terdengar bagai dentuman begitu ombak terpecah oleh bebatuan. Aku suka air yang menyiprat ke wajah. Meskipun terasa asin bila mengalir dari ujung hidung dan jatuh tepat di sudut bibir.

Dengan ajaib, cemara laut itu membawaku pergi jauh. Ke tempat di mana hanya aku yang tahu. Ke dalam sebuah ruang yang bahkan tidak memiliki pintu. Dan aku tidak tahu cara untuk keluar. Aku terperangkap dalam ruang yang membuatku merasa nyaman. Aku seperti dibawa ke tempat yang selama  ini aku cari di sela-sela kesibukan duniawi.

Cemara laut ini membuatku ingat kepada Tuhanku yang menciptakannya, menciptakanku dan semua yang kukagumi kala itu. Kadang, aku malu. Bagaimana mungkin aku masih sulit untuk mensyukuri nikmatNya? Padahal jelas-jelas aku telah dibuat kagum dan terpesona oleh semua yang Ia ciptakan di sekelilingku. Hatiku terlampau keras karena dunia yang makin panas dibakar perkembangan peradaban. 

Bila cemara laut ini dapat membantu untuk lebih bersyukur atas nikmat Tuhanku, maka aku akan sering-sering datang untuk berteduh di bawahnya. Mungkinkah aku harus membawa cemara laut itu ke halaman rumah? Atau aku perlu membangun gubug kecil di bawah cemara laut? Tepat di tepi pantai maksudku.

0 comments:

Silakan tinggalkan komentar. Boleh kritik, saran atau apapun.. Jangan lupa untuk selalu menggunakan kata-kata yang santun. Terima kasih.