Hari Sumpah Pemuda : YANG MUDA YANG BERKARYA

6:07 PM Nur Mumtahana 4 Comments




Pagi tadi, ketika bangun dan membuka ponsel, menilik akun sosial satu persatu, saya mendapat beberapa posting dari teman-teman yang bertemakan sumpah pemuda. Saya juga melihat ada beberapa lomba di media sosial Instagram bertemakan serupa. Iya, hari ini, tepat tanggal 28 Oktober 2015 adalah Hari Sumpah Pemuda yang ke-87.

Seperti di hari besar nasional lainnya, pagi itu di tempat kerja dilaksanakan upacara bendera. Semua siswa nampak begitu hikmat selama berlangsungnya upacara. Satu hal yang membuat hati saya bergetar adalah ketika dibacakannya sambutan dari Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia, Iman Nachrawi

Peringatan Sumpah Pemuda yang ke-87 tahun ini mengambil tema Revolusi Mental Untuk Kebangkitan Pemuda Menuju Aksi "Satu untuk Bumi". Dalam sambutannya, Beliau menyampaikan tentang fenomena perkembangan teknologi dan modernisasi yang telah merubah pola relasi kemasyarakatan bangsa ini.

Perkembangan teknologi dan informasi bagaikan pisau bermata dua. Ada begitu banyak manfaat yang diperoleh dengan berkembangnya teknologi. Perkembangan teknologi telah mempermudah penyampaian informasi sehingga dapat meningkatkan kapasitas dan skill bagi para pemuda. Namun, di sisi lain, ada pula dampak negatif yang ditimbulkan dari perkembangan teknologi itu sendiri. Di antaranya adalah pornografi, narkoba, pergaulan bebas, hingga radikalisme dan terorisme. Bahkan dari beberapa kasus pembunuhan dan kekerasan yang diberitakan, bermula dari interaski melalui sosial media.

Sosial media kini telah menjadi tempat favorit bagi kaum muda untuk berkumpul. Mereka melakukan interaksi lintas negara, lintas budaya, lintas agama. Interaksi mereka real time 24 jam, dan tidak memudahkan bagi guru, orang tua, lembaga pendidikan atau negara untuk dapat mengontrolnya.

Di sinilah, telah muncul gagasan revolusi mental bagi para kaum muda. Diharapkan, dengan adanya revolusi mental, mampu memperkokoh tekad para pemuda bangsa untuk memerangi dampak negatif yang ditimbulkan oleh arus globalisasi dan modernisasi.

Selain dampak negatif dari perkembangan teknologi, keprihatinan yang kedua adalah tentang pengelolaan sumber daya alam. Indonesia sebagai negara tropis adalah penumpu bagi keseimbangan iklim melalui pasokan oksigennya. Tapi faktanya, sekarang ini Indonesia justru menjadi negara penyumbang polusi terbesar.

Puncak kemarau telah membakar sebagian besar hutan Indonesia. Ketika permasalahan kabut asap mulai menjadi berita panas di dalam negeri, maka saat itulah para pemuda musti ambil peran. Sebagai umat beragama, kita mesti tahu, bahwa di dalam agama, kita diajarkan untuk mencintai dan melestarikan lingkungan demi keseimbangan ekosistem di dalamnya. Oleh karenanya, sebagai kaum muda, kita musti punya kepedulian terhadap lingkungan. Kita adalah generasi yang akan membawa peradaban negeri ini di masa mendatang.

Hebatnya lagi, Indonesia mendapat bonus demografi di mana penduduk berusia produktif sangat tinggi, sementara penduduk usia muda makin kecil dan penduduk usia tua belum banyak. Hal ini menjadikan Indonesia memiliki keunggulan dan kesempatan untuk mempersiapkan strategi menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Dan hal ini menjadikan pemuda Indonesia memiliki peluang besar untuk menguasai pasar ASEAN.

Melalui revolusi mental, diharapkan pemuda Indonesia dapat menjadi pemuda yang mau berjuang demi kepentingan bangsa dan negara. Rela berkorban dengan merendahkan ego golongan atau ego pribadinya demi kepentingan yang lebih besar, seperti para pemuda pendahulu kita.

Dan dalam sambutan tersebut, ada satu kata mutiara oleh KH. Wahid Hasyim yang hingga saat ini masih terngiang di dalam kepala.

TAT KALA WAKTUKU HABIS TANPA KARYA, LANTAS APA MAKNA UMURKU INI ???

Mendengar kalimat tersebut kembali menyadarkan tentang semua cita-cita dan keinginan saya untuk dapat menciptakan sebuah karya.

Salah satu teman saya berkata, "Setelah mati, tinggal nama dan nisan yang tertinggal." Tapi saya tak setuju, karena setelah mati, nama pun akan terlupakan. Nisan pun akan lapuk kemudian patah dan lenyap. Satu-satunya hal yang dapat membuat kita tetap hidup meski telah mati adalah dengan melahirkan sebuah karya. Karya yang dapat memberikan manfaat bagi orang banyak.

Karya adalah sebuah bukti bahwa kita pernah ada. Meski waktu menggerus kehidupan, melenyapkan semua yang bernyawa, tapi karya adalah sesuatu yang abadi. Keagungan nama bukanlah pencapaian dari terciptanya sebuah karya. Tapi kepuasan batin dari penciptaan sebuah karya adalah saat kita mampu memberikan manfaat demi masa depan yang lebih baik.

Pemuda memang teramat kritis terhadap segala hal. Keadaan bangsa yang tak stabil kadang menimbulkan rasa enggan untuk peduli. Namun, bila kita tak acuh pada bangsa ini, lantas siapa yang akan membawa pergerakan untuk masa depan?

Para pemuda mestinya jangan berkecil hati ketika saat ini melihat keadaan negeri yang jauh dari pengharapan. Mestinya, saat ada banyak kritik yang keluar dari benak kita, saat itulah kita mulai mengambil sikap. Kita mesti kritis tak hanya untuk menuding ini salah - itu salah. Tapi kita juga mesti kritis dan mau menanggapi permasalahan yang ada demi perubahan yang lebih baik.

Saya tak mau bicara yang muluk-muluk. Nyatanya, di sini saya juga bukan orang yang dapat memberikan perubahan drastis bagi bangsa yang sedang mengalami krisis dari berbagai aspek. Kita mulai saja dari satu langkah kecil. Bercita-citalah untuk memajukan bangsa. Bercita-citalah untuk membawa bangsa ini sebagai bangsa yang maju.

Yang suka menulis, mulailah ciptakan karya-karya yang mampu meningkatkan minat baca para generasi bangsa. Karena kita tahu, bahwa kegemaran membaca adalah satu cara untuk meningkatkan kapasitas pengetahuan. Bagi para ahli di bidang teknologi, ciptakan teknologi yang mampu memberi manfaat bagi kemajuan negara ini. Bagi para ahli di bidang kultur, tunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia adalah negara yang memiliki kompleksitas elemen, yang menjadikan bangsa ini kokoh di berbagai unsur. Bagi para ekonom, bawa perkembangan pesat bagi Indonesia di bidang ekonomi. Bahkan, dulu Indonesia adalah negara dengan perekonomian yang luar biasa maju. Tentu saja kita masih punya kesempatan untuk mengembalikan keadaan tersebut. 

Indonesia memiliki para pemuda yang berpotensi memajukan bangsa lewat karya. Karenanya, berkaryalah. Tunjukan bahwa Indonesia adalah bangsa dengan pemuda yang kaya akan inovasi.


4 comments:

  1. Typo dikit, Pak Imam Nachrawi itu bukan Menteri Pendidikan dan Olahraga, tapi Menteri Pemuda dan Olahraga.

    Saya setuju, pemuda agen perubahan atau pelopor perubahan, pemerintah harus mengatur dan memanfaatkan pemuda utk turut aktif dalam pembangunan bangsa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih untuk koreksinya :D

      Mudah mudahan pemerintah mau ikut mendukung potensi para pemuda Indinesia demi kemajuan bangsa.

      Delete
  2. ayoo, yang masih muda, mari terus berkarya untuk bangsa!

    ReplyDelete

Silakan tinggalkan komentar. Boleh kritik, saran atau apapun.. Jangan lupa untuk selalu menggunakan kata-kata yang santun. Terima kasih.