Hujan

5:57 PM Nur Mumtahana 2 Comments


Salah satu materi IPS di waktu SD menjelaskan kalau Indonesia terbagi menjadi dua musim. Musim kemarau dan musim penghujan. Di buku dijelaskan kalau musim kemarau berlangsung pada bulan April hingga September. Sedang musim penghujan terhitung mulai Oktober sampai Maret. Terkadang, suasana musim kemarau yang panas dan mudah menimbulkan emosi membuat orang-orang menunggu datangnya musim penghujan. Tapi begitu musim penghujan datang, orang-orang justru makin sering mengeluh.

Para ibu rumah tangga mengeluh karena cucian yang tidak kunjung kering. Anak sekolah yang mengeluh ketika harus hujan-hujanan saat berangkat atau pulang sekolah. Para penambak ikan yang cemas ketika hujan turun deras, khawatir tambaknya meluap dan ikan-ikannya terbawa arus. Tak jarang juga petani gagal panen karena curah hujan yang tinggi.

Tapi, di sini ada yang merindukan hujan. Saya salah satunya. Kenapa? Mungkin karena musim penghujan membuat suasana tidak begitu panas. Seringnya, saya yang berangkat dan pulang kerja dengan sepeda harus merasakan guyuran matahari yang menyengat. Kulit yang hitam makin menghitam. Bahkan terkadang mata terasa sangat panas karena harus menatap ke arah matahari. Di pagi hari, saya berangkat kerja dari arah barat ke timur, otomatis menatap langsung ke arah matahari. Sorenya, saya pulang kerja dari timur ke barat. Menatap matahari lagi. Luar biasa sekali.

Ketika biasanya banyak orang yang mengeluh karena hujan di pagi hari, entah kenapa saya justru merasa senang. Ketika bangun dan mendengar suara gemercik hujan yang jatuh menimpa atap rumah atau kaca jendela, rasanya damai sekali hidup ini. Begitu membuka pintu rumah, melihat air yang mengalir di tepian jalan membuat saya makin terhanyut dalam buaian alam. Hah! Buaian alam. Berlebihan sekali. Tapi ya memang begitu. Hujan kan bagian dari interaksi alam terhadap kita.

Banyak orang yang merasa direpotkan karena hujan. Untuk berangkat beraktivitas mereka harus mengenakan jas hujan, payung, atau sebagainya. Kalau saya sendiri, terus terang ingin sekali berangkat kerja dengan sepeda sambil hujan-hujanan. Tapi saya ingat, tidak mungkin kalau nanti harus bekerja dengan keadaan baju basah kuyup. Akhirnya mau tak mau saya juga harus mengenakan jas hujan. Berbeda kalau hujan di saat hendak pulang kerja, kadang saya malah sengaja hujan-hujanan. Karena bersepeda di bawah hujan itu rasanya benar-benar menyenangkan.

Rasanya benar-benar rindu. Rindu yang saya rasakan pada hujan seperti rindu pada sosok yang benar-benar berarti dalam hidup saya. Tapi seberapa besarpun rasa rindu itu, saya tak punya daya apa-apa. Saya tak mampu berbuat sesuatu untuk bisa berjumpa dengannya. Hanya bisa berdo'a, berharap Yang Maha Kuasa akan segera mempertemukan saya dengannya. Dengan hujan.


Gambar : www.waba.org

2 comments:

  1. Kami Juga Merindukan Hujan Itu Hadir, Semoga dan Semoga. Amn :'((

    ReplyDelete
  2. Selalu menarik setiap orang yang menulis tentang hujan. Hujan bisa berarti suka, hujan bisa isyaratkan duka.

    Pernah baca DAN HUJANPUN BERHENTI?

    ReplyDelete

Silakan tinggalkan komentar. Boleh kritik, saran atau apapun.. Jangan lupa untuk selalu menggunakan kata-kata yang santun. Terima kasih.