Kenapa Naik Gunung ???

6:26 AM Nur Mumtahana 0 Comments



Siapa sangka kalau bocah perempuan yang dulu berfisik lemah ini sekarang punya hobi jalan berkilo-kilo meter. Menyusuri jalanan setapak, memasuki rimbun hutan, menyeberangi sungai, melewati tanjakan curam yang diapit jurang. Merangkak untuk sampai ke satu tempat yang disebut sebagai puncak. Ya, begitulah sekilas tentang mendaki gunung. Tapi terus terang, saya tak senang disebut sebagai pendaki. Saya hanyalah seorang pejalan kaki yang kebetulan diberi kesempatan untuk bisa merasakan bagaimana berjalan menuju ke puncak gunung. 

Banyak orang yang protes karena hobi saya yang satu itu. Kebanyakan orang mendadak sangat 'gender' dalam membuat sebuah pernyataan. Katanya, "anak perempuan kok sukanya naik gunung." Itu adalah salah satu kalimat yang amat mengganggu telinga. Saya sendiri paling tidak suka kalau ada orang yang membuat sebuah pernyataan dengan menjadikan gender sebagai alasan. Ada pula yang berkata, "kalau main ke mall atau ke salon wajar. Tapi kalau ke gunung, kayanya...." ada juga yang pernah bilang, "Naik gunung itu capek. Apa enaknya?" bahkan ada yang mengaitkan kegiatan naik gunung dengan nyawa dan kematian. Itu adalah satu yang kadang membuat saya geram.

Saya tidak pernah merespon setiap kali ada orang yang memberikan pertanyaan atau pernyataan semacam itu. Tapi kalau saja ada orang yang berbicara baik-baik, maka akan saya jelaskan alasan kenapa saya naik gunung.

  1. Menyegarkan pikiran. Setiap hari bangun pagi, bersiap berangkat kerja. Berkutat dengan tumpukan kertas, mata yang harus menatap monitor sepanjang hari, dimarahi atasan, konflik dengan teman, dan sebagainya. Semua rutinitas seperti itu membuat saya bosan. Perlahan semua keluhan-keluhan mengendap di dalam hati. Saya tahu kalau pikiran yang kacau karena rasa jenuh akan mengurangi kualitas kerja saya. Dan dengan pergi ke alam terbuka, melihat pemandangan yang indah dan merasakan udara yang sejuk, diharapkan bisa membuat pikiran lebih segar. Jadis aya akan lebih siap untuk kembali berkutat dengan rutinitas harian yang terkesan monoton itu.
  2. Mencari inspirasi. Sebagai seseorang yang punya cita-cita menjadi penulis #ciiiee, tentu saja saya membutuhkan banyak inspirasi. Inspirasi itu akan datang ketika kita bergerak, melihat banyak hal baru, menapaki banyak tempat dan merasakan suasana yang mampu membuat hati merasa nyaman. Dengan naik gunung, kita bisa merasakan setiap pijakan langkah yang dapat menjadi inspirasi dalam sebuah tulisan nantinya. Itulah sebab kenapa saya harus membawa buku catatan setiap kali hendak mendaki gunung. 
  3. Mengukur diri sendiri. Bukan hanya mengukur kemampuan fisik, tapi dengan melakukan perjalanan seperti mendaki gunung juga mengukur ketahanan mental kita. Dalam setiap perjalanan, pasti selalu ada kendala-kendala yang tidak diinginkan. Di situlah kita harus belajar tentang bagaimana mengendalikan emosi dan melatih kesabaran. Terlebih lagi ketika fisik sudah mulai lelah. Emosi menjadi tidak stabil. Saatnya buat kita untuk menantang diri, mampukah menaklukkan diri sendiri? Dan dari situ pula kita akan lebih mengenal kepribadian kita yang sesungguhnya.
  4. Menghindari kebisingan. Keseharian di tengah hiruk-pikuk kota sering membuat kepala berdenyut-denyut nyeri. Tak cuma suara bising kendaraan bermotor yang berlalu-lalang di jalan raya, tetapi suasana keramaian di tengah-tengah aktivitas keseharian juga tak jarang membuat emosi mudah datang. Dan dengan pergi ke alam terbuka, jauh dari keramaian, kita akan menemukan ketenangan. Sesuatu yang mungkin kita rindukan setelah sekian waktu bergelut dengan keramaian kota. Rasanya seperti pergi ke perasingan yang menghadirkan kebahagiaan.
  5. Me time. Biarpun pergi ke gunung dilakukan secara berkelompok, tapi tetap saja, ketika tiba di puncak, saya akan berjalan sedikit mejauh dari rombongan. Bukan untuk menghindar, apalagi memisahkan diri dari rombongan. Saya hanya butuh waktu sebentar untuk benar-benar berdiskusi dengan diri sendiri. Ada kalanya hati dan pikiran tak akur, jadi di tempat yang tinggi, di depan hamparan awan dan penadangan yang indah, saya mencoba untuk membuat hati dan pikiran dapat berjalan beriringan. Paling tidak, ketika saya kembali dari gunung, saya ingin menjadi pribadi yang tidak hanya memakai hati dalam menilai satu sikap atau hanya memakai pikiran untuk mengambil tindakan. Saya ingin keduanya berjalan selaras.
  6. Quality time dengan teman-teman. Ini dia asiknya naik gunung bersama teman. Kita jalan rame-rame, susah seneng rame-rame. Tidur di tenda rame-rame, masak bareng, makan sepiring berdua, bertiga atau bahkan berempat, berbagi bekal, dan yang pasti bercanda bersama. Menikmati dinginnya udara malam hari sambil berbincang seru, menyaksikan momen-momen matahari terbit yang luar biasa indah. Percaya atau tidak, saat mendaki gunung ada solidaritas yang amat tinggi dari teman-teman kita. Rasanya, kita bisa semakin tahu betapa beruntungnya kita memiliki teman-teman seperti mereka.
  7. Menyemangati diri. Kadang, ada kalanya kita menemukan titik terlemah dalam hidup. Satu masa di mana kita merasa benar-benar lelah dengan semua persoalan hidup. Kesulitan yang dihadapi menjadikan kita berfikir untuk menyerah saja. Tapi, semestinya dengan melakukan pendakian gunung, kita akan tahu, atau setidaknya kita akan memahami bahwa setelah melalui jalanan terjal yang penuh hambatan, kita akan tiba di tempat yang indah. Jadi, mestinya begitulah cara kita dalam memandang masalah dalam hidup.
  8. Mendekatkan diri pada Sang Pencipta. Siapa pencipta alam semesta yang indah ini kalau bukan Tuhan? Baiknya Dia yang telah menyuguhi keindahan semesta, masihkah kita enggan mensyukuri nikmat tersebut? Semakin kita melihat keagungan ciptaanNya, maka sudah sepatutnya bagi kita untuk percaya bahwa Tuhan itu luar biasa. Maka tak ada alasan bagi kita untuk tidak semakin mendekatkan diri kepadaNya.
Adakah salah satu dari deretan tulisan di atas yang mewakili alasan teman-teman naik gunung? Pada dasarnya setiap orang memang memiliki alasan masing-masing untuk melakukan suatu hal. Kira-kira, apa lagi ya alasan yang membuat orang ingin naik gunung? Ada yang bisa menambahkan?

0 comments:

Silakan tinggalkan komentar. Boleh kritik, saran atau apapun.. Jangan lupa untuk selalu menggunakan kata-kata yang santun. Terima kasih.