Ketika Introvert Menantang Diri

11:13 PM Nur Mumtahana 0 Comments

Membaca puisi? Yang benar saja? Berdiri di hadapan orang banyak saja kadang membuat perutku mulas. Betapa malangnya aku dengan segala kelemahan ini.

Kadang, iri juga. Ada rasa ingin bisa seperti mereka yang mampu berbicara di hadapan orang banyak. Menyampaikan gagasan, aspirasi atau sekedar kritik. Jangankan seperti mereka. Untuk sekedar maju ke depan kelas membacakan hasil diskusi saja kadang membuatku uring-uringan.

Terus terang, bukannya sok pintar, tapi aku memang suka membaca. Dan bacaanku seringkali menggugah banyak pertanyaan. Aku juga sangat suka berpikir, walaupun seharusnya tak perlu untuk terlalu memikirkan apa yang tak bukan urusanku. Tapi dalam sekejap, pikiranku menangkap segala fenomena yang ada dan sulit untuk mengabaikannya. Segala macam informasi yang masuk ke otak langsung diolah, dan dalam sekejap mulai timbul banyak hal yang ingin kukritisi.

Aku berharap bisa menyelesaikan segala gejolak yang timbul di dalam batin. Aku ingin mendapat jawaban dari semua pertanyaan yang timbul setelah membaca buku-buku tersebut. Aku juga ingin menanggapi atau menyampaikan kritik dari setiap hal yang ditangkap oleh pikiran. Tapi rupanya sangat sulit buatku untuk melakukan semua itu.

Seringnya aku bertanya, apa yang membuatku malu untuk berbicara di depan banyak orang? Padahal, aku yakin, kalau aku berbicara di depan khalayak umum, mereka pasti akan melihatku seperti bagaimana mereka melihat orang lain berbicara. Jadi, kenapa aku masih sangat kesulitan untuk memulainya?
Banyak yang menjelaskan, bahwa seorang introvert memang mengalami kesulitan untuk berbicara di hadapan orang banyak. Tapi aku tak ingin kalau sifat introvert membatasiku untuk bisa berkembang dan menjadi lebih baik.

Sungguh, dalam hati sering timbul keinginan untuk menantang diri sendiri. Mampukah aku melakukan hal yang selama ini membuatku ragu? Mampukah aku menjadi seperti sosok yang selalu aku kagumi? Aku tak mau terkurung menjadi sosok yang pasif, tak berkembang, hanya karena aku menyandang predikat sebagai seorang introvert. Aku yakin, aku bisa menjadi lebih baik dari diriku saat ini.

Waktu itu, 17 Oktober 2015. Aku masih sangat ingat. Tentu saja. Bagaimana mungkin aku bisa lupa? Ketika akhirnya aku harus berbicara di dalam ruangan kecil dengan suhu ruangan yang sangat dingin? Aku bukan berada di dalam lemari pendingin. Tapi aku berada di dalam sebuah ruang siaran radio. Kalian mungkin bertanya, apa yang akan aku lakukan di dalam sebuah ruang siaran radio.

Hari itu, perasaanku teramat kacau. Tidak tahu bagaimana menggambarkannya. Ketika aku ditunjuk sebagai salah satu dari lima orang yang mewakili komunitas dalam sebuah acara talkshow di stasiun radio lokal. "Aku tidak bisa berbicara," begitu alasankku untuk menolak ketika ditunjuk mengikuti acara siaran radio tersebut. Tapi di dalam hati juga timbul rasa tertantang. Ini adalah kesematan yang langka. Bahkan beberapa teman pun berkatan kalau mereka berharap mendapatkan kesempatan tersebut. Jadilah aku berpikir lagi. Ini mungkin memang kesempatan yang baik untuk menantang diri menjadi lebih baik. Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Mumpung masih mudah, begitu kata salah satu temanku.

Betapa baiknya teman-temanku. Mereka terus memberi semangat. Mereka adalah salah satu alasan yang membuatku mau mencoba. Hatiku deg-degan tidak karuan. Bahkan sampai keluar keringat dingin juga. Tapi dari jendela kaca terlihat mereka dengan setia memberikan dukungan dan semangat. Tentu saja, aku secara pribadi merasa senang, dan terharu #lebai.

Benar-benar luar biasa malam itu. Suara medhok yang satu ini memenuhi ruang udara di frekuensi 106.6 HMz. Dan rasanya sangat melegakan setelah acara siaran selesai. Rupanya, berbicara di depan orang lain tidak terlalu buruk juga. Bahkan terus terang, jadi muncul rasa tertantang di dalam diri. Kapan-kapan, mungkin perlulah mencoba untuk bisa lebih aktif dalam sebuah forum. Ingat, jangan jadikan status introvert sebagai alasan bagi kita untuk membatasi diri.

Dan malam ini, aku coba kirim sebuah puisi karya Joko Pinurbo kepada salah satu teman yang dari dulu sering minta supaya aku membacakan sebuah puisi. Jadi, mumpung rumah sedang sepi, aku bisa berekspresi, berseru sambil membaca puisi. Karena terus terang, aku juga masih malu untuk mengeskpresikan diri di depan keluarga.

Alhamdulillah, akhirnya bisa memenuhi permintaan temanku yang satu itu. Walaupun hasilnya masih jauuuuuuhhh dari kata bagus.

Tapi, biar bagaimanapun juga, dengan menyampaikan pendapat, kritik atau mengekspresikan sebuah karya pada orang lain, kita akan mendapatkan feed back yang bisa dijadikan sebagai langkah untuk evaluasi diri. Melalui masukan dari teman tentang caraku membaca puisi, paling tidak sekarang aku tahu apa yang harus dilakukan supaya bisa membaca puisi dengan cara yang lebih baik.

Intinya, berbicara di depan orang lain mampu memberikan banyak manfaat. Selain untuk menyampaikan pemikiran-pemikiran yang mungkin dapat membawa perubahan baik, melalui berbicara di depan publik juga bisa meningkatkan rasa percaya diri, serta menjadi satu cara bagi kita untuk mengoreksi diri melalui tanggapan dari orang lain.

0 comments:

Silakan tinggalkan komentar. Boleh kritik, saran atau apapun.. Jangan lupa untuk selalu menggunakan kata-kata yang santun. Terima kasih.