Manusia Paling Tidak Peduli di Malam Menjelang Pagi

3:17 AM Nur Mumtahana 1 Comments



Entah gara-gara tidur cepat atau karena Tuhan ingin aku menyapanya, dia membangunkanku ketika malam masih sangat pekat di luar sana. Iya, aku harus menyapanya. Paling tidak, ada gumpalan rasa yang ingin aku sampaikan, tapi bingung akan kusampaikan pada siapa. Kupikir Tuhanku adalah tempat terbaik untuk mengadukan semua gundah dan gelisah yang belum juga mereda.

Bagaimana bisa aku sampai berada pada titik kehidupan serumit ini? Kupikir aku tak pernah mencoba menyalahi aturan yang ada. Aku bahkan selalu berjalan seperti bagaimana mestinya. Kerumitan ini ada di mana akarnya? Bila dapat kutemukan, setidaknya aku akan mencoba mengurai biar tak makin rancu.

Ketika keadaan makim membuat kita tak nyaman. Ketika banyak orang yang berpikir bahwa kita adalah sesuatu yang hina dan pantas untuk dijauhi. Dan parahnya lagi, ketika makin banyak lisan yang tanpa takut dosa menebar fitnah dan prasangka. Buat apa coba? Puaskah setelah melakukan hal semacam itu? Jangan tanya padaku, karena aku tak tahu.

Bila aku salah, aku akan berkata aku salah. Tapi bagaimana mungkin kita harus mengakui apa yang sebenarnya tidak kita lakukan? Manusia dianugerahi dua mata, tapi tak sedikit yang hanya memandang sesuatu sebelah mata saja. Miris memang. Bahkan di sana ada orang yang tak dapat memandang dan berharap bisa melihat dunia dengan kedua matanya. Bagaimana bisa?

Aku merengek sejadinya. Aku tahu kalau Tuhanku Maha Bijaksana. Kalau keberadaanku saat ini adalah atas kehendaknya, esok atau lusa mungkin aku akan berada di tempat yang lebih baik atas kehendaknya pula. Aku merasa beruntung, karena hingga detik ini aku masih percaya, bahwa langkah yang tak mudah akan membawa kita kepada tempat yang lebih baik. Bukankah untuk berada di puncak kita harus mendaki jalanan yang terjal?

Setelah puas kuadukan semuanya pada Tuhanku, kini aku merasakan kerinduan pada salah satu sahabat yang lama tak ku cium aromanya. Ketika ke dapur dan mendapati dua buah termos kosong melompong, kuputuskan untuk menyalakan kompor. Kurebus air seperempat panci kecil. Sambil menunggu air mendidih, kusapa kawan lainku yang masih terjaga malam itu.

Malam ini damai sekali rasanya. Sunyi, tapi merdu di kalbu. Ketika aku tahu bahwa pagi tak lama lagi akan datang, aku cuma ingin terus meyakinkan diri, bahwa jika saat ini aku sedang memimpikan sebuah kehidupan yang lebih baik, maka saat matahari terbit aku akan berlari untuk mewujudkannya.

Entah kenapa, di malam menjelang pagi ini, aku merasakan kekuatan dan kelemahan di diriku dalam waktu bersamaan. Antara aku merasa tak berdaya karena terkoyak alur kehidupan, dan keoptimisan akan sebuah masa depan. Malam ini, aku seperti mendapat semua yang aku inginkan. Kedekatan dengan Tuhan, secangkir kopi, dan dukungan dari seorang kawan. 

Betapa beruntungnya aku dapat merasakan malam setenang ini. Bahkan suara detik jarum jam jadi pengisi kekosongan di antara ruang udara. Sebenarnya aku ingin berlari ke luar. Aku ingin menyapa kawan-kawanku yang lainnya. Bintang yang menggantung di atas sana, mirip mimpi-mimpiku yang teramat tinggi, tapi mampu bantuku membuat pijakan supaya bisa meloncat. Suatu saat nanti, bisa jadi aku akan dapat menjadi seperti apa yang kuimpikan.

Boleh saja kehidupan ini menjadi teramat rumit. Boleh saja caci maki menghujani sepanjang tapak kaki. Tapi aku tahu, bahwa cuma keyakinan yang dapat memayungi kita sampai tiba di tempat yang tepat. Kadang kita perlu menjadi tuli untuk tidak mendengarkan sesuatu yang mematahkan semangat. Kadang kita juga mesti menjadi buta untuk tidak melihat bagaimana orang mencoba menjatuhkan kita.

Aku bersyukur dengan segala kepercayaan yang aku miliki. Andai saja aku telah terbenam dan larut dalam sandiwara kehidupan, pasti aku sudah mati terkapar. Jazadku bahkan mungkin sudah lenyap. Tapi di sini, di malam menjelang pagi, aku seperti telah menjadi manusia yang paling tidak peduli. Aku tidak peduli bagaimana orang berusaha menjatuhkanku. Aku tidak peduli bagaimana orang ingin mematahkan semangatku. Aku tak peduli bagaimana orang mengikis habis semua harapanku. Buatku sendiri, impian, tujuan dan harapan sudah menjadi kesatuan yang kusimpan jauh di dalam hati dan pikiran tanpa ada orang lain yang mampu mengusiknya. 

Di tengah kerumitan ini, aku tak ingin hilang langkah, apalagi sampai hilang tujuan. Aku tak mau keadaan membuatku harus memakai topeng hanya untuk memperlancar pijakan kaki. Aku mau jadi diriku sendiri.

1 comment:

  1. "cuma keyakinan yang dapat memayungi kita sampai tiba di tempat yang tepat." suka sekali dengan kata-kata ini :)

    ReplyDelete

Silakan tinggalkan komentar. Boleh kritik, saran atau apapun.. Jangan lupa untuk selalu menggunakan kata-kata yang santun. Terima kasih.