Memasuki Dunia Anak Kecil

7:01 PM Nur Mumtahana 1 Comments

Siang ini menjenuhkan. Selain karena harus diPHP oleh awan mendung di luar sana, pekerjaan yang itu-itu saja membuatku mengantuk. Siang tadi benar-benar tak bersahabat.

Ketika masih sibuk dengan PC untuk menyusun statistik pengunjung perpustakaan, tiba-tiba datang sosok perempuan cilik dengan seragam pramuka SD. Namanya Rere. Dia sangat cantik dan manis. Terus terang, aku sendiri sangat gemas dengan bocah yang satu itu. Tapi kehadirannya kadang kala menimbulkan kepanikan.

Kenapa? Karena dia sangat usil dan cerewet. Bisa dibilang dia hiperaktif. Tak jarang dia mengerjai orang-orang dewasa di sekelilingnya. Bakan aku termasuk yang sering dibuat uring-uringan oleh bocah cilik itu.

Pernah satu hari, dia baru saja membeli petasan. Aku juga heran. Biasanya anak perempuan lebih suka bermain boneka atau rumah-rumahan. Tapi anak perempuan yang satu ini justru lebih suka bermain petasan. Kalau dia sekedar membeli petasan saja tidak apa-apa. Parahnya, dia malah mengejarku dan melempar petasan itu ke arahku. Tentu saja aku panik luar biasa. Bahkan saking takutnya, saya sampai sembunyi di kolong meja dan di dalam kamar mandi.

Selain dikerjai dengan petasan, Rere juga pernah satu hari menyembunyikan sepatuku. Aku sampai dibuat pusing mencari di mana dia menyembunyikannya. Kadang kesal. Tapi mau gimana lagi? Dia cuma anak-anak yang memang sukanya main-main. Walaupun kadang caranya bermain agak keterlaluan.

Ternyata, hari ini Rere datang ke perpustakaan dengan membawa selemar kertas bergambar dan krayon. Katanya dia mau mewarnai. Karena takut dikerjai lagi dengan tingkahnya yang selalu ada-ada saja, akhirnya aku sekalian ajak dia main. Aku cetakkan juta satu gambar untuk menemaninya mewarnai. Terus terang, aku juga sangat suka mewarnai. Dari dulu sampai sekarang.

Tiba-tiba aku dikagetkan ketika bocah itu membawa sebuah cup minuman berisi kopi.

"Rere, kamu anak kecil ko minumnya kopi?"

Dengan lantang dia menjawab, "Biar sehat!!!"

Haaahhh! Anak kecil yang satu ini memang unik. Cuma itu yang bisa aku katakan dalam hati.


Awalnya memang khawatir dan agak takut kalau Rere bakal bikin gaduh. Akhirnya aku buat supaya Rere seneng. Sekalian saja aku ajak Rere lomba-lombaan mewarnai. Dia girangnya minta ampun. Dan ternyata seru juga. Rasanya sudah lama tidak berkutat dengan kertas gambar dan krayon.

Kalau diamati, ternyata Rere jago mewarnai. Kagum juga dengan anak kelas 1 SD yang bisa mewarnai dengan sangat rapi. 

Beberapa kali dia meminta saran, "Kalau bunga yang ini bagusnya warna apa?"

Lalu aku ambilkan krayon merah dan kuning. Dia makin senang (seperti biasanya).

Tanpa terasa, satu jam berlalu. Bel sekolah berbunyi pukul 12.10. Itu artinya perpustakaan juga harus tutup.

Sayang sekali. Padahal kami sedang asik-asiknya mewarnai. Rere juga kelihatan sedih saat aku bilang perpustakaannya harus tutup. Tapi mau bagaimana lagi? Rere juga harus pulang dengan ayahnya, salah satu guru yang mengajar di sekolah. Akhirnya kami segera mengemasi krayon dan menyimpan kertas gambar itu.

Kata Rere, "Buat PR ya. Nanti dikumpulin ke aku. Hari senin atau selasa aku ke sini lagi."

Aku cuma tersenyum melihat pola tingkah bocah itu. Aku senang. Karena tidak dibuat uring-uringan oleh Rere hari ini. 


Ternyata kita memang harus jadi anak kecil untuk bisa memasuki dunia mereka. Dengan begitu, anak kecil akan menaruh perhatian lebih untuk merespon apa yang kita sampaikan. Mungkin begitu pula yang harus dilakukan oleh orang dewasa atau orang tua dalam menasihat anak-anaknya. Karena yang sering kita lihat, anak kecil justru akan membantah bila dinasihati dengan nada tinggi. Setidaknya, itulah pelajaran yang didapatkan hari ini.

1 comment:

Silakan tinggalkan komentar. Boleh kritik, saran atau apapun.. Jangan lupa untuk selalu menggunakan kata-kata yang santun. Terima kasih.