[Movie Review] : Batas

10:13 PM Nur Mumtahana 0 Comments




Jaleswari bekerja di sebuah lembaga yang bergelut di bidang sosial. Namun lembaga tempatnya bekerja mengalami beberapa permasalahan selama menjalankan program CSR di pedalaman Kalimantan Barat. Akhirnya Jaleswari ditugaskan untuk menelusuri penyebab kegagalan program CSR tersebut.

Keputusan Jaleswari mendapat teguran keras dari ibunya. Apalagi saat itu Jaleswari sedang hamil. Menurut sang ibu, ada masa depan di dalam rahimnya. Namun sejak sepeninggal suaminya, Jaleswari merasa bahwa tidak ada lagi masa depan. Yang ada hanyalah masa sekarang. Ia pun membulatkan tekadnya untuk menjalankan tugas demi memenuhi tanggungjawab.

Perjalanan yang harus dilalui teramat berat. Ia harus melewati medan terjal dengan cuaca yang sangat panas. Setelah melalui perjalanan darat, ia tiba di tepi sungai. Menyeberang dengan perahu kecil menyusuri sungai Kalimantan yang besar dan berarus deras. Setibanya di tepi sungai sisi yang lain, Jaleswari disambut oleh Adeus, satu-satunya guru yang tinggal di desa tersebut. Dibawanya Jaleswari ke rumah milik panglima, orang dengan kedudukan tertinggi yang dihormati di desa.

Adeus telah mengklaim bahwa Jaleswari adalah seorang guru. Padahal tidak demikian. Bahkan maksud kedatangannya pun bukan untuk memberi pembelajaran pada anak-anak yang tinggal di pedalaman. Namun melihat semangat Borneo, salah satu cucu panglima desa, akhirnya Jaleswari mencoba untuk bisa menjadi seorang guru.

Melihat keinginan belajar anak-anak pedalaman membuat Jaleswari semakin bersemangat. Ia pun bertekad untuk dapat mengembangkan pendidikan bagi anak-anak di desa tersebut. Namun usahanya menemui banyak kendala. Bahkan dia sempat diteror oleh orang-orang yang tidak menghendaki keberadaannya.

Dijelaskan oleh Adeus, bahwa permasalah di desa tersebut sangat kompleks. Perbatasan antara Indonesia dan Malaysia hanya berjarak delapan kilometer. Ditambah dengan perbedaan kondisi yang kontras antara dua negara tersebut. Malaysia jelas memiliki keunggulan yang lebih, baik dari segi perekonomian maupun pendidikan. Hal tersebut membuat tak sedikit orang yang memilih untuk meninggalkan desa dan pergi ke wilayah negara tetangga.

Namun di sini Jaleswari mencoba untuk menumbuhkan semangat nasionalisme di dalam diri para penduduk desa, khususnya pada anak-anak. Iya meyakinkan, bahwa dengan pendidikan, kelak mereka bisa membawa desa ini menjadi lebih baik lagi.

Beberapa waktu sebelum Jaleswari tiba di desa tersebut, warga menemukan seorang perempuan muda yang tergeletak di hutan. Perempuan itu mengalami trauma yang luar biasa. Ternyata dia adalah salah satu korban penyelundupan manusia. Bahkan dia telah diperkosa dan dianiaya. Saat ditemukan, perempuan itu tak ingat namanya. Kemudian oleh Nawara, suami panglima desa, ia diberi nama Ubuh. Setiap malam dia menangis ketakutan. Sorot matanya kosong, dan dia tidak mau bicara pada siapapun, kecuali pada Jaleswari.

Akhirnya terbongkarlah kedok salah satu warga yang ternyata selama ini telah memprofokasi warga lain untuk menolak kehadiran para tenaga pendidik. Dia pula yang selama ini telah melakukan penyelundupan manusia ke negara tetangga. Berkat bantuan Arif, salah satu polisi  yang menjaga perbatasan antara Indonesia dan Malaysia, pelaku akhirnya dapat ditangkap.

Kondisi di desa semakin membaik. Dan saat itulah tugas Jaleswari sudah selesai. Pada akhirnya dia harus meninggalkan tempat yang selama ini telah menjadi rumah barunya. Meninggalkan panglima kepala suku yang bijaksana. Meninggalkan Nawara yang sudah seperti ibunya. eninggalkan Borneo, murid kesayangannya. Meninggalkan Adeus, teman terdekatnya. Meninggalkan Arif, polisi yang senantiasa membantunya. Dan meninggalkan bumi Borneo yang telah mengajarkan arti baru dalam hidupnya.

Kepulangan Jaleswari ke Jakarta dengan keberhasilan program CSR tempatnya bekerja membuat ia mendapat banyak sanjungan. Ia berhasil membukakan mata banyak orang bahwa di luar sana ada banyak hal yang sangat luar biasa.

Di penghujung usia kehamilannya, Jaleswari memutuskan untuk kembali ke desa di pedalaman hutan Kalimantan Barat tersebut. Kehadirannya disambut meriah oleh semua warga. Ia telah berencana untuk melahirkan anaknya yang pertama di desa tempat ia menemukan arti kehidupan dan masa depan. Dengan senang hati, Arif bersedia untuk membantu dan mendampingi Jaleswari selama tinggal di desa tersebut.

0 comments:

Silakan tinggalkan komentar. Boleh kritik, saran atau apapun.. Jangan lupa untuk selalu menggunakan kata-kata yang santun. Terima kasih.