Terbangun Lagi

1:15 AM Nur Mumtahana 4 Comments

Ini adalah kali pertama bagiku merasakan yang namanya pindah rumah. Tepatnya seminggu yang lalu, di tanggal 2 Oktober 2016. Ternyata pindah rumah itu sangat melelahkan. Bahkan sehari waktu libur tak cukup untuk membereskan semuanya. Bahkan hinggal hari ini. Sebagian barang-barangku masih berceceran dimana-mana. Bukan karena aku malas untuk membereskan, tapi karena tidak ada tempat yang cukup untuk menampung semua barang-barangku. Menyedihkan.

Jam kerja yang panjang dan melelahkan biasanya membuatku sangat mudah tidur dan jarang terbangun sampai pagi. Tapi di kontrakan baru ini aku justru sering terbangun ketika baru tidur dua atau tiga jam. Rasanya sedikit aneh, walaupun kuharap ini tak memberikan dampak yang terlalu berarti untuk kesehatan.

Aku sempat berpikir, mungkin karena suasana yang berbeda dengan tempat tinggalku sebelumnya. Di sana (di tempat tinggal sebelumnya) memang jauh dari keramaian. Lebih dekat dengan kebun kosong yang suasananya tenang. Berbanding terbalik dengan suasana saat ini. Dekat dengan jalan raya, bersebelahan dengan bangunan hotel yang selalu ramai.

Tapi kelihatannya tak cuma karena tingkat kebisingan yang berbeda. Sekarang ini aku harus lebih waspada. Aku sudah pernah mendapati aktivitas koloni semut terbang di dalam lubang kecil di dekat jendela kamarku. Begitu semua anggota koloni tersebut keluar dari persembunyiannya, aku dibuat cukup terkejut. Ternyata jumlahnya sangat banyak. Menggelikan. 

Tak cuma sampai di situ. Sempat juga kudapati lintah di dalam kamar mandi, di kamarku dan di ruang tengah. Seekor anak ular yang masih sangat kecil dan hari ini semua dihebohkan oleh kehadiran dua kelabang. Bayangkan saja bagaimana kekhawatiran yang aku rasakan. Tinggal di tempat yang kurasakan ketidaknyamanannya. Bisa jadi itulah yang membuatku sering terbangun di tengah malam.

Kemudian malam ini aku sulit untuk kembali memejamkan mata. Kedua hidungku mampet, sulit sekali untuk bernafas. Atau ini juga salah satu alasan yang membuatku terbangun. Aku juga makan sepiring nasi. Jangan-jangan lapar yang membangunkanku? Dan aku mulai merasa butuh minuman hangat. Segelas cokelat atau kopi mungkin bisa menghangatkan badanku. Membantu melegakan nafasku yang terasa sesak.

Iya, aku harus ke dapur sekarang. Merebus air. Menyeduh cokelat panas. Pasti enak.

4 comments:

Silakan tinggalkan komentar. Boleh kritik, saran atau apapun.. Jangan lupa untuk selalu menggunakan kata-kata yang santun. Terima kasih.

Mengundang Inspirasi Lewat Kopi

3:35 PM Nur Mumtahana 0 Comments


Jogja mulai diguyur hujan sejak beberapa hari terakhir. Selokan di depan rumah yang biasanya kering mulai nampak tergenangi oleh tetes-tetes air yang sejak semalam menimpa atap rumah. Suaranya masih sama seperti dulu. Merdu dan membuatku ingin meringkuk di atas kasur.

Beberapa hari tak pernah menyapu halaman rumah karena terlalu sibuk dengan rutinitas yang entah adalah sebuah kewajiban atau hanya sebagai formalitas supaya tak dicap sebagai pengangguran. Tapi yang pasti, sebagian atau bahkan hampir semua waktuku tersita di tempat kerja. Kembali ke rumah pun hanya untuk mandi dan tidur, lalu esoknya pergi kerja lagi. Begitu seterusnya. Membuatku tak sempat membersihkan rumah, apalagi menulis seperti kebiasaanku dulu.

Aku hampir putus asa. Mungkin sebagian otakku yang biasanya memunculkan ide-ide menulis mulai kaku, mengeras dan mati. Aku selalu bingung ketika harus memulai kalimat pertama dalam lembaran kosong yang seolah-olah ingin menertawakanku. Aku nampak lucu mungkin dengan kebingungan yang melanda begitu hebat.

Kemudian aku ingat, bahwa sudah terlalu banyak waktu yang aku lewati, dan terlewatkan begitu saja tanpa pernah terabadikan. Semua hanya ada dalam pikiranku tanpa ada orang lain yang mampu melihatnya. Padahal, sejak dulu aku selalu ingin orang melihat apa yang aku lihat. Setidaknya lewat tulisan. Aku masih ingat betul dengan keinginanku yang satu itu. 

Maka, di siang menjelang sore yang mendung ini, sengaja aku pergi ke dapur. Menuangkan bubuk kopi dan sedikit gula ke dalam cangkir kecil. Aku jadi sedikit berharap terhadap secangkir kopi panas di hadapanku. Semoga aromanya dapat membangungkan kembali imajinasiku yang sepertinya telah lama pergi.

Tegukan pertama yang membuatku ingat dengan teman-teman di sana. Biasanya kami pergi ke suatu tempat. Ke tengah hutan atau ke tepi pantai. Kemudian menikmati secangkir kopi hitam sembari menikmati deru ombak atau gemercik air terjun. Aku merindukan masa-masa itu.

Tegukan kopi kedua, kudapati lembaran kosong itu mulai terisi. Aku bisa sedikit lega. Setidaknya satu hutangku pada seorang kawan akan bisa terbayar. Iya, aku terlanjur mengiyakan kalau minggu depan ia akan mendapati tulisan baru di bloggku. 

Pada tegukan kopi ketiga dari cangkirku, aku terkejut karena teringat jemuran yang belum diangkat. Hahh! Aku harus bangun dari tempat duduk dan berlari ke halaman belakang. Tapi untungnya salah satu temanku berbaik hati telah memindahkan jemuranku. Melegakan sekali. Jadi aku bisa melanjutkan tulisan yang sempat tertunda.

Tulisanku diselingi kopi hitam beraroma menyegarkan mengantarku pada sore yang menggigil. Sampai akhirnya kudapati cangkir kopiku telah kosong. Saat itu juga aku bingung. Mau menulis apa lagi?

0 comments:

Silakan tinggalkan komentar. Boleh kritik, saran atau apapun.. Jangan lupa untuk selalu menggunakan kata-kata yang santun. Terima kasih.

Hujan, Maaf...

11:31 PM Nur Mumtahana 0 Comments

Satu tetes air dari langit jatuh tepat di atas sepatu baruku. Kemudian belasan, puluhan dan ratusan tetes-tetes air lainnya mulai berdatangan. Beberapa saat kemudian entah berapa ribu atau juta tetesan air yang jatuh ke bumi. Aku tak dapat menghitungnya. Semua di sekelilingku basah, begitu pula dengan diriku.

Kutengadahkan kepala, melihat ke atas, mencoba menatap asal muasal hujan ini datang. Aku tak dapat melihatnya dengan jelas. Tetes-tetes air itu menimpa wajahku. Semakin deras tetesan tersebut, wajahku terasa sedikit sakit. Akhirnya aku pun berlari ke arah pohon trembesi besar di salah satu sisi jalan.

Berdiri sendirian sembari melipat lengan, mencoba agar tubuhku tetap terasa hangat walau baju, tas dan sepatuku telah basah kuyup. Kurasakan dingin yang teramat sangat begitu angin berhembus, membuat air yang turun dari langit pun bergerak ke segala arah bagai ombak di tengah laut.

Suasan siang ini begitu sepi. Aku masih terus mengamati jalanan. Sesungguhnya di dalam hati aku berharap melihat seseorang melintas. Bukan untuk apa-apa, aku hanya ingin memastikan kalau bukan aku satu-satunya makhluk yang hidup di dunia ini.

Beberapa saat menunggu, tapi tak ada apa-apa yang dapat kulihat selain hujan dan pohon yang melambai-lambai seolah mengajakku untuk turut serta menikmati dinginnya siang ini. Aku seharusnya tahu bahwa semua orang sedang menikmati siang di dalam rumah yang hangat, atau bahkan sedang tidur meringkuk di balik selimut. Aku pun berharap begitu.

Bersandar di batang pohon yang begitu besar. Dan baru kusadari bahwa lebar batang pohon tersebut lebih dari lebar punggungku. Dan ternyata pohon di belakangku tersebut benar-benar besar. Dan bagaimana mungkin aku baru menyadarinya. Ketika kutengadahkan kepala, kulihat ranting pohon yang bercabang-cabang banyak sekali, menjulang tinggi, namun melengkung ke bawah di bagian ujungnya, membuat pohon tersebut nampak seperti payung raksasa berwarna hijau.

Baru aku sadari. Aku tak sendirian. Ternyata, selama ini sepiku hanyalah karena jauh dari manusia. Bagaimana mungkin aku lupa dengan semua yang ada di sekelilingku? Angin, pepohonan, rumput, batu, ombak, bahkan hujan. Hadirnya mereka bukan untuk membuatku mengeluh atau berpresepsi. Mereka mungkin hadir karena ingin menyapaku yang kadang mengabaikan keberadaan mereka.

Setidaknya hujan membantuku untuk bermain air. Di musim kemarau lalu, aku selalu berharap hujan turun setiap hari untuk membunuh panas matahari. Atau paling tidak untuk menangkap butiran debu yang kadang membuat tersedak. Dan kini hujan datang menepati janjinya. Sangat salah kalau aku mengeluh. Apalagi sampai menghardiknya. Kusadari aku salah. Bagaimana mungkin aku meminta hujan turun di tengah kemarau, dan mencaci hadirnya di tengah musim penghujan? Hujan, maka izinkan aku untuk mengucap salah. Aku manusia biasa, tak tahu apa-apa. Hanya bisa menyalahkan. Dan itu tak seharusnya aku lakukan.

0 comments:

Silakan tinggalkan komentar. Boleh kritik, saran atau apapun.. Jangan lupa untuk selalu menggunakan kata-kata yang santun. Terima kasih.

Saat Kau Jawab Do'aku

11:13 PM Nur Mumtahana 0 Comments

Dalam malam yang tenang, ketika banyak orang di luar sana tengah merayakan akhir pekan di tengah keramaian, aku hanya bisa berdiam diri di kamar. Bukan karena seorang anti-sosial. Aku hanya merasa butuh waktu untuk sedikit "menjauh" dari keramaian. Dan mungkin ini adalah tempat yang tepat, tempat di mana aku bisa sedikit lebih terbuka melihat realita.

Setidaknya, ada satu nama yang sering kusisipkan di antara do'a-do'a yang terucap, dalam keheningan semacam ini. Tak banyak harapku, aku hanya ingin Tuhan memberikan keyakinan dalam diriku untuk menetapkan hati. Bila nama itu adalah nama yang telah disandingkan untukku, maka jagalah hatiku, diriku, hanya untuknya. Dan pertemuka diriku dengannya di saat yang tepat, di tempat yang tepat. Namun, apabila nama itu bukanlah nama yang Kau kehendaki, maka bantu aku untuk dapat menata hati, menyiapkan diri bila kudapati jawaban atas do'a-do'a tersebut.

Ya Allah, betapa seringnya aku dilanda rasa takut. Aku takut bila aku jatuh hati pada orang yang tak semestinya. Aku takut bila akan jatuh hati pada orang yang pada akhirnya akan bersanding dengan orang lain. Ketakutan-ketakutan yang menutup rapat hatiku, menjadikan hati ini begitu hampa. Maka bantu aku untuk mengisinya dengan mendekatkan diri kepadaMu. 

Dan bila suatu hari nanti, dalam keheningan Kau memberikan jawaban atas do'a-do'aku, ketika pada akhirnya seorang pria datang bertandang ke rumah untuk menemui kedua orang tuaku, maka yakinkanlah diriku, bantuk aku untuk bisa percaya bahwa takdir yang Kau tulis adalah takdir yang harus kujalani.

0 comments:

Silakan tinggalkan komentar. Boleh kritik, saran atau apapun.. Jangan lupa untuk selalu menggunakan kata-kata yang santun. Terima kasih.

Kisah Mereka

7:16 PM Nur Mumtahana 0 Comments

Ada banyak sekali kisah asmara yang pernah aku lihat. Mungkin di layar televisi atau sekedar lewat buku bacaan usang. Beberapa di antaranya berhasil membuatku meneteskan air mata karena perasaan iba terhadap tokoh-tokoh di dalamnya. Beberapa tokoh ditinggal mati oleh kekasihnya. Dan beberapa lagi cinta mereka kandas karena adanya pertentangan dari tokoh-tokoh lainnya. Tapi tak semua tangisan yang timbul adalah karena kisah beralur penuh sengsara. Ada pula segelintir kisah yang berhasil membuatku menangis bahagia. Dan aku tidak tahu bagaimana hal tersebut dapat terjadi padaku. Mengalir begitu saja. Tanpa direncanakan.

Dan beberapa waktu lalu ada satu hal yang membuatku menangis sejadi-jadinya. Membuatku menjadi seperti bayi kecil yang ditinggal ibunya. Atau mungkin lebih seperti bocah cilik yang tidak tahu harus berekspresi seperti apa ketika mendapat mainan yang paling diinginkannya. Sampai-sampai hanya bisa menangis. Begitulah yang terjadi padaku saat mendengar kabar salah seorang sahabatku akan menikah dengan laki-laki yang sangat dicintainya.

Tak jarang perempuan itu - sahabat yang sudah kuanggap seperti kakak sendiri bercerita tentang bagaimana sayangnya ia pada sosok laki-laki yang telah lama ia kenal. Dari semua ceritanya, dari sikapnya dan dari setiap do'a-do'a yang secara tak sengaja (atau sengaja) ia ucapkan, aku tahu kalau ia sangat tulus mencintai laki-laki itu. Aku cuma berpikir, betapa beruntungnya laki-laki itu. Yang tanpa disadari, ada perempuan yang amat mencintainya.

Aku tahu, bahwa hubungan mereka tak mudah sejak awal. Dan sahabatku yang satu itu masih tetap bertahan dengan perasaannya, walau aku tahu betapa ia sering menangis atau terlukai. Perasaannya tak tergoyahkan. Bahkan aku ingat betul ketika ia berkata, "aku tidak tahu akan seperti apa hidupku kalau tak bersamanya. Mungkin aku akan gila. Atau aku ingin mati saja."

Ada banyak drama cinta yang terkesan berlebihan. Tapi menurutku ini bukanlah sebuah drama yang didramatisir. Ini lebih seperti bagaimana seseorang mencoba bertahan di tengah terpaan badai. Dan seperti sebuah lagu, kalau badai pasti berlalu. Dan mungkin badai di antara mereka benar-benar telah berlalu.

Malam itu aku menangis mendengar kabar kalau akhirnya laki-laki tersebut telah melamar sahabatku. Aku bahagia tak terkira. Rasanya seolah-olah kisah bahagia itu sedang menimpa diriku. Aku masih belum bisa membayangkan, bagaimana perasaan sahabatku. Aku yakin kalau ia amat bahagia.

Melampaui kisah Cinderella atau kisah-kisah negeri dongeng, bagiku kisah mereka adalah benar-benar kisah yang sempurna. Walau tak bisa hadir tepat di acara ijab qobul, tapi do'aku menyertai mereka.

Selamat berbahagia, Sobat.

0 comments:

Silakan tinggalkan komentar. Boleh kritik, saran atau apapun.. Jangan lupa untuk selalu menggunakan kata-kata yang santun. Terima kasih.

Ke Jogja dengan Transportasi Umum

7:38 PM Nur Mumtahana 2 Comments


Gambar : idhotelmurah.com
DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta) adalah salah satu kota besar yang ada di Indonesia. Kota yang satu ini cukup populer. Sering dijadikan sebagai destinasi wisata karena keindahan alam dan budaya yang masih sangat kental. Popularitasnya tak kalah dengan Pulau Dewata - Bali. Bahkan banyak pula para wisatawan manca negara yang menjadikan Yogyakarta sebagai destinasi liburan yang menyenangkan.

Selain dari potensi pariwisata, Yogyakarta juga terkenal sebagai kota pelajar. Ada banyak universitas atau perguruan tinggi berkualitas di Yogyakarta, seperti Universitas Negeri Yogyakarta atau Universitas Gajah Mada dan masih banyak lagi lainnya. Tak heran kalau Yogyakarta adalah salah satu kota yang paling sering dikunjungi oleh orang-orang dari kota lain.

Kalau kita pergi Yogyakarta dengan kendaraan pribadi pasti akan menyenangkan. Bepergian ke banyak tempat tanpa pusing memikirkan kendaraan mana yang harus dinaiki. Tapi kalau ternyata kita pergi Yogyakarta dengan kendaraan umum, bagaimana?

Jangan khawatir. Di sini saya mau share sedikit tentang pengalaman perjalanan saya dari Tegal ke Yogyakarta dengan kendaraan umum.

Kalau dari Tegal, tepatnya dari Slawi, ada dua alternatif kendaraan umum untuk menuju ke Yogyakarta. Yang pertama adalah dengan bus, dan yang kedua adalah dengan kereta. Ayo kita coba bahas satu persatu.

1. Slawi - Yogyakarta dengan kereta

Gambar : beritakereta.wordpress.com
Kalau ingin ke Yogyakarta dengan kereta, kita harus bersiap untuk berangkat pukul 08.06 pagi. Belilah tiket dengan tujuan perjalanan Stasiun Purwokerto. Kereta Kamandaka dengan tarif Rp. 45.000 cukup ekonomis untuk perjalanan yang nyaman, aman dan efisien.

Dengan Kereta Kamandaka, kita akan tiba di Stasiun Purwokerto sekitar pukul 09.42. Langsung saja menuju ke loket untuk membeli tiket Kereta Joglogkerto jurusan Yogyakarta. Bisa pilih mau turun di Stasiun Tugu (Yogyakarta) atau Stasiun Lempuyangan. Tarifnya Rp. 60.000. Kereta Joglokerto jurusan Yogyakarta berangkat pukul 10.38, jadi kita tidak perlu menunggu terlalu lama. Dan kita akan tiba di stasiun tujuan pukul 13.50. 

2. Slawi - Yogyakarta dengan bus

Gambar : www.bismania.com
Kalau kita memilih perjalanan malam, kita bisa menggunakan bus Citra Adi Lancar (CAL) dari Terminal Slawi. Kita tidak bisa menbooking tiket untuk bus yang satu ini. Loketnya sendiri baru buka sekitar pukul 20.00. Dengan harga Rp. 115.000 bus CAL akan membawa kita ke Yogyakarta dengan fasilitas yang lumayan oke. Kita disediakan bantal dan selimut karena AC dalam bus yang bisa membuat hipotermia. 

Dengan bus CAL, kita akan diantar sampai ke tempat tujuan kita (khusus wilayah Kota Yogyakarta). Fasilitas tersebut sudah termasuk dalam tiket yang kita bayar. Jadi begitu tiba di pool / agen bus, kita akan mendapat jemputan untuk kemudian diantar ke tempat tujuan. Hampir mirip seperti travel. Jadi kalau kita masih bingung arah, kita cukup beritahukan alamat tempat yang akan dituju.

Kalau sudah sampai Yogyakarta, trus kita mau jalan-jalan, enaknya pakai kendaraan apa ya?

Ada nih salah satu alat transportasi favorit di Yogyakarta. Bus Trans Jogja. Hampir mirip seperti Bus Trans Jakarta. Untuk menuju ke satu tempat, kita tinggal cari halte Trans Jogja terdekat. Ada dua jenis halte. Yang pertama adalah halte umum yang menyediakan tiket. Kemudian ada juga halte portable yang tidak melayani penumpang naik (hanya bisa dijadikan tempat untuk turun). 

Gambar : yogyakarta.panduanwisata.id
Trans Jogja memiliki beberapa trayek. Kalau kita belum paham tentang tujuan masing-masing trayek, tinggal bisang saja dengan penjaga tiketnya. Nanti petugas halte akan mengarahkan kita untuk naik trayek yang sesuai dengan tujuan.
Bagaimana dengan harga tiketnya? Jangan khawatir. Harganya cukup terjangkau. Bahkan tidak sampai Rp. 10.000 kita sudah bisa keliling Yogyakarta. 

Sekedar untuk pegangan, alangkah baiknya kalau kita menyiapkan denah rute Trans Jogja kalau memang sudah berniat jalan-jalan keliling Yogyakarta dengan Trans Jogja. Dijamin perjalanan keliling Kota Yogyakarta bakal menyenangkan.
Gambar : liburmulu.com
Kalau sudah selesai dengan urusan di Yogyakarta, sekarang saatnya pulang ke kota tercinta ---- Slawi.

Seandainya kita check out dari Yogyakarta pagi hari, alangkah baiknya kalau memilih naik kereta. Kenapa kereta? Sekali lagi, karena kereta adalah alat transportasi yang paling nyaman. Dari Stasiun Lempuyangan atau Stasiun Tugu (Yogyakarta) kita bisa naik Kereta Joglokerto dengan tujuan akhir Purwokerto. Harga tiketnya sama seperti saat kita berangkat, Hanya Rp. 60.000. Kereta sekitar pukul 07.00 dan kadang agak terlambat sedikit. Setibanya di Stasiun Purwokerto sekitar pukul 10.00. Kita bisa langsung membeli tiket di loket untuk tujuan Slawi dengan Kereta Kamandaka. Harga tiketnya masih sama, Rp. 45.000. 

Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Kereta api yang terkenal sebagai kendaraan paling tepat waktu pun kadang bisa terlambat. Pernah satu kali kereta Joglokerto dari Stasiun Lempuyangan datang terlambat setengah jam. Alhasil tiba di Stasiun Purwokerto pun terlambat. Sampai di sana Kereta Kamandaka sudah berangkat, jadi saya terpaksa pergi ke Terminal Purwokerto dan menuju ke Slawi menggunakan bus. Untuk tarif bus dari Purwokerto ke Slawi cukup Rp. 25.000. Dan kalau malam biasanya harga ditambah menjadi Rp. 30.000.

Nahh... itu dia secuil cerita tentang perjalanan dari Slawi ke Yogyakarta dengan kendaraan umum. Siapa tahu ada teman-teman yang lagi cari referensi pas mau berkunjung ke Yogyakarta. Semoga bermanfaat, dan jangan lupa kriti sarannya :D

2 comments:

Silakan tinggalkan komentar. Boleh kritik, saran atau apapun.. Jangan lupa untuk selalu menggunakan kata-kata yang santun. Terima kasih.

Cantigi dengan Segala Kesederhanaannya

9:22 AM Nur Mumtahana 3 Comments



Aku jatuh cinta pada Cantigi jauh sebelum aku mengenalnya. Nama itu seperti benang merah yang mengikat hati, meleburnya ke dalam rindu, kemudian memperdengarkan seruan di telinga bahwa aku harus menjumpainya.

Dia menyeret langkahku. Biar aku kadang tak yakin mampu menjumpainya. Bila dikata jauh, dia memang jauh. Butuh puluhan kilometer atau bahkan lebih untuk dapat menjumpai sosok rupawan itu. Dan semua haruslah dengan satu demi satu pijakan langkah.

Di balik remang hutan yang dingin dan basah, kusadari bahwa keberadaan dirinya mengantarku kepada tempat yang tak terbayang akan kupijak. Dia seperti pengatar mimpi menjadi nyata. Cengkeramannya pada tanah tempat berpijak, bantu kaki ini dapat berjalan lebih jauh, lebih lama, menuju tempat yang lebih tinggi.


Dia rupawan, meski tak seanggun Edelweiss. Cantigi mungkin tak abadi seperti bunga yang menjadi sosok ratu di ketinggian. Dia hanyalah Cantigi dengan segala kesederhanaannya. Tak banyak orang yang mengagungkan sosok itu. Bahkan kadang ia terabaikan.

Cantigi hijau tumbuh tinggi menjulang ke langit. Kerupawanan tak menjadi modal daya tarik. Dibanding dengan Edelweiss yang selalu jadi gambaran keindahan, Cantigi hanyalah batang kayu dengan dedaunan yang lebat. Dia sesederhana itu, hingga tak banyak yang menyadari keberadaannya.
 

Cantigi tak mengharapkan pengakuan dari banyak sosok. Dia cuma mau jadi diri sendiri. Menjadi sebagaimana mestinya. Ia ada bukan untuk menebar pesona keindahan. Ia ada untuk melindungi, menjadi satu tempat bernaung dari cambuk udara yang kadang tak sopan.

Akar-akar itu bantu kita berdiri. Batang pohon itu, jadi tempat kita berpegang. Daun-daunnya meneduhkan. Dan ia menghalau alam yang kadang semena-mena meluapkan amarah.
 

Cantigi merah seperti bayi yang baru lahir, menggambarkan kesucian, kemurnian. Kehadirannya mengantar bahagia melalui pucuk-pucuk yang merekah. Ia tunjukkan betapa kuat tekad dalam diri. Tumbuh dari balik tanah keras berbatu. Dan seolah ia berseru, "Suatu saat nanti, aku akan jadi setegar itu. Menjadi sekuat itu. Melindungi kalian."

Dia seperti sosok pahlawan yang tak banyak dikenal orang. Tak sering namanya diserukan. Tapi ia punya tekad. Ia tegar untuk dapat terus berdiri dan tumbuh di tengah terpaan badai.

3 comments:

Silakan tinggalkan komentar. Boleh kritik, saran atau apapun.. Jangan lupa untuk selalu menggunakan kata-kata yang santun. Terima kasih.

Catatan Perjalanan (Hampir) 3428 mdpl

6:28 PM Nur Mumtahana 0 Comments


Gunung Slamet dengan ketinggian 3428 mdpl. Salah satu mimpi yang saya harap bisa terwujud. Dan pada akhirnya, datang juga kesempatan yang ditunggu-tunggu. Iya, itu salah satu gunung yang sempat membuat saya menangis karena pernah gagal untuk ikut melakukan pendakian pada bulan Juli lalu. 

Dengan jumlah personil lima orang, saya diajak saudara untuk melakukan pendakian ke Gunung Slamet. Dan saya punya ekspektasi yang luar biasa. Tentu saja. Itu artinya salah satu mimpi saya akan segera terwujud.

Dengan persiapan yang sangat singkat, hari minggu, 27 Desember 2015 kami berangkat dari basecamp KOMPAK yang berada di wilayah Guci. Setelah melakukan pendaftaran, pendakian dimulai pukul 08.15.

Basecamp KOMPAK
Kami berjalan di medan beraspal sampai sekitar seratus meter dari basecamp. Setelahnya kami mulai melalui jalanan berbatu di tengah hutan pinus yang lebat. Di awal perjalanan, kami sempat salah mengambil jalan. Beruntung ada pasukan pendaki berambut cepak yang menunjukkan kami pada jalur pendakian yang benar.

Perjalanan diawali dengan medan menanjak dan berbatu. Terasa cukup berat. Apalagi kondisi fisik saya yang selalu membutuhkan penyesuaian dengan suhu udara, kondisi medan dan beban yang dibawa. Keringat dingin langsung keluar disertai perut mual dan kepala pusing. Dalam kondisi seperti itu, sudah dipastikan wajah saya pucat atau bahkan kebiruan. Tapi kali ini teman-teman dalam satu tim tidak terlalu memperhatikan hal tersebut. Bahkan saya sempat terpisah dengan rombongan dengan jarak yang lumayan jauh selama dalam kondisi tersebut.

Jalan menuju Pos 1
Mendadak semua terasa berputar. Ingin pingsan? Ya, kurang lebih seperti itu. Rasanya seperti akan pingsan. Apalagi tiba-tiba lutut bergetar cukup keras. Penyesuaian kali ini kelihatannya lebih parah dari saat mendaki pertama kali di Gunung Prau bulan Mei lalu.

Sekitar lima belas menit berjalan, saya mulai bisa menguasai diri. Langkah kaki mulai berirama dan terasa ringan. Walaupun begitu, suhu yang makin dingin sempat membuat nafas saya tidak beraturan. Alhasil setiap beberapa langkah saya mencoba berhenti dan mengatur nafas supaya seirama dengan langkah kaki. Ternyata menyelaraskan irama langkah dan pernafasan bisa membuat kontrol tubuh lebih baik. Dan lama kelamaan langkah kaki jadi terasa lebih ringan.

Akhirnya tubuh saya berhasil melakukan penyesuaian dengan keadaan yang ada saat itu.

Setelah melalui medan berbatu, pukul 10.00 saya tiba di Pos 1 Pondok Pinus pada ketinggian 1500 mdpl. Di situ sudah ada dua anggota tim saya. Kelihatannya sudah tiba di situ cukup lama mengingat jarak berjalan di antara kami yang lumayan jauh. Setelah istirahat sejenak, sekitar lima menit, kami kembali melanjutkan perjalanan.

Pos 1 Pondok Pinus
Kali ini medan yang dilalui adalah hutan dengan pepohonan tropis yang tinggi dan lebat, membuat cahaya matahari sulit menyentuh permukaan, dan menjadikan tanah cukup lembab serta dingin. Lagi-lagi saya terpisah jauh dari rombongan. Dua orang sudah berjalan jauh di depan, dan dua orang lagi masih berada di pos 1. Saya diminta untuk tidak menunggu dua orang lainnya, karena mereka tahu kalau mereka akan bisa menyusul dengan cepat. Mungkin beginilah nasih sebagai satu-satunya perempuan dalam tim. 

Terus terang, biarpun berjalan sendirian di tengah hutan yang sangat lebat, tidak tahu jalan dan tidak tahu arah, saya masih bisa menikmati semua yang ada. Tanah berundak yang dicengkeram kuat oleh akar-akar pohon, tanaman tropis yang basah berembun, sampai bebatuan dan batang pohon yang berlumut. Aroma daun dan basah yang sangat khas menyegarkan pikiran. Selain itu saya juga bisa mendengar suara serangga berderik dan kicau burung yang enggan menampakkan wujudnya.

Rindang hutan
Dua jam perjalanan, pukul 11.40 kami tiba di Pos 2 Pondok Cemara. Sebelum melanjutkan perjalanan, kami menyempatkan diri untuk menyantap sedikit perbekalan dan melaksanakan sholat dhuhur dijamak dengan sholat asar.

Pos 2 Pondok Cemara
Lepas dari pos 2, medan makin menanjak. Suasana hutan pun semakin gelap karena lebatnya pepohonan. Sepanjang perjalanan, tak banyak pendaki yang dijumpai. Hanya ada beberapa yang melakukan perjalanan turun. Mungkin karena kami melakukan pendakian di hari Minggu, bukan di hari Sabtu. Bahkan bisa dilihat kalau jumlah pendaki di hari Sabtu lebih banyak ketimbang pendaki di hari Minggu. Dan mungkin jalur pendakian akan menjadi lebih ramai saat menjelang tahun baru.

Sengaja saya berjalan sedikit lambat untuk mempendek jarak dengan teman-teman yang ada di belakang. Tapi tetap saja saya tidak bisa melihat keberadaan mereka. Biarpun ada perasaan was-was dan takut karena harus berjalan sendirian, tapi setidaknya saya tetap berusaha untuk menikmati semua yang ada di sekeliling. Suasanya benar-benar tenang dan sunyi. Tidak ada suara apapun, seolah-olah saya adalah satu-satunya orang yang melakukan pendakian ini. Macam film pendakian terakhir yah.

Hutan makin lebat
Sepanjang berjalan sendirian. Saya jadi teringat dengan teman-teman komunitas yang sekarang sudah jadi keluarga kedua bagi saya. Biasanya, saat melakukan perjalanan dengan mereka, suasananya pasti ramai, seru, heboh, dan ada-ada saja lelucon yang mengocok perut. Kadang pula mereka berteriak, "Semangat! Ayo, lima menit lagi sampai pos." Padahal pos masih sangat jauh. Hal-hal seperti itu mendadak membuat saya sangat rindu dengan mereka.

Ingat dengan mereka sampai bikin mata berair. Jadi ingat waktu pertama ikut pendakian ke Gunung Prau. Pas kondisi fisik drop, ada mereka yang selalu bisa jadi pemberi kekuatan. Jadi ingat juga ketika terpaksa menenggak minyak kayu putih gara-gara masuk angin. Bukannya saya suka dimanjakan, tapi keberadaan mereka sebagai sosok yang berjalan beriringan dapat menjadi penyemangat dalam diri.

Mungkin karena sudah terbiasa dengan keadaan seperti itu, saat ini saya merasa sedikit kesepian. Tapi anggap saja kalau ini adalah saatnya untuk quality time dengan diri sendiri, dengan tuhan dan dengan alam. Satu kesempatan yang amat langka.

Pukul 13.15 saya tiba di Pos 3 Pondok Pasang. Saya cukup terkejut ketika disambut oleh sekitar dua puluh orang pendaki yang sedang beristirahat dalam perjalanan turun. Dengan amat ramah mereka menyambut, menawarkan minuman dan makanan. Obrolan-obrolan aneh dan lucu mulai keluar dari segerombol pemuda itu. Saya cuma bisa senyum kaku. Ngga tahu mesti ngomong apa.

Pos 3 Pondok Pasang
Sekitar sepuluh menit menunggu, teman-teman saya tiba menyusul di pos 3. Akhirnya bisa berkumpul dengan teman-teman satu tim. Tidak lama kami beristirahat, kemudian kami kembali melanjutkan perjalanan menuju pos 4. Katanya dari pos 3 menuju pos 4 adalah jarak pos terjauh. Lagi-lagi kelompok saya berjalan terpisah dengan jarak yang lumayan jauh.

Jalan dari pos 3 menuju pos 4 sangat menantang. Badan jalan yang sempit tertutup oleh pohon tumbang dan ranting-ranting yang melengkung membentuk terowongan. Semua itu memaksa saya untuk berjalan merunduk, bahkan merayap. Tas yang terlalu tinggi sempat beberapa kali tersangkut ranting pohon dan mengharuskan saya berjalan merayap lebih dekat dengan tanah. Mirip seperti tentara yang sedang melakukan latihan perang.

Ternyata perjalanan dari pos 3 menuju pos 4 memang paling jauh. Memakan waktu sekitar dua jam lima belas menit. Mungkin bagi pendaki yang sudah terbiasa dapat menempuh waktu lebih cepat. Pukul 15.45 tiba di Pos 4 Pondok Kematus. Di pos 4 kita bisa menjumpai mata air. Tapi untuk mengambilnya harus melewati jalan yang cukup curam. Bahkan awalnya kami berencana untuk membuat tenda di pos 4. Berhubung langit masih terang, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke pos 5.

Pos 4 Pondok Kematus
Ada lebih banyak medan menanjak untuk sampai di pos 5. Tapi pepohonannya tidak selebat pos-pos sebelumnya. Mungkin karena semakin dekat dengan puncak. Bahkan saya selalu penasaran dengan batas vegetasi di Gunung Slamet. Kata teman-teman, di situ menakjubkan. Apalagi saya jadi ingat dengan satu nama yang sudah membuat saya terlanjur jatuh hati. CANTIGI.

Salah satu pendaki menyarankan kami untuk membuat tenda sebelum pos 5 karena kondisi angin yang cukup kencang di sekitar batas vegetasi. Akhirnya kami pun mendirikan tenda pada pukul 17.40, sekitar lima puluh meter dari Pos 5 Cantigi. Usai membongkar isi tas, kami langsung memasak air panas dan membuat makanan.

Langit senja di Gunung Slamet
Jingganya langit sore itu cukup sebagai pelepas lelah setelah perjalanan panjang yang benar-benar tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Mengingat bagaimana berjalan sendirian di tengah hutan, sekarang saya lebih tenang begitu berkumpul dengan teman-teman satu tim.

Usai melaksanakan sholat maghrib dan isya, kami menyantap makanan dan minuman hangat. Kemudan beranjak istirahat untuk persiapan summit esok harinya.

Summit attack
Hari yang ditunggu-tunggu datang juga. It's time to summit. Kami tidak lagi mengejar sunrise. Katanya kalau dari jalur pendakian via Guci kita memang akan sulit melihat sunrise, kecuali kalau kita sudah berada di puncak sebelum matahari terbit.

Awalnya kami memulai perjalanan berlima. Tapi salah satu teman ada yang mengeluh sakit perut dan memutuskan untuk kembali ke tenda. Sekarang tinggal berempat. Satu orang berjalan cukup cepat, membuat jarak yang lumayan jauh. Kemudian saya berada di belakangnya dan dua orang lagi di belakang saya.

Lepas dari batas vegetasi, kini yang ada di hadapan kami hanyalah pasir dan bebatuan. Kalau hanya bebatuan biasa mungkin tidak akan terlalu sulit. Bayangkan saja, bebatuan yang ada di situ mayoritas adalah bebatuan lepas yang akan goyah ketika diinjak.

Medan berbatu setelah batas vegetasi
Tapi setelah berjalan beberapa saat, saya mulai bisa membaca medan. Carilah batu yang permukaannya sedikit kemerahan. Batu yang seperti itu cukup aman dipijak. Walaupun tidak semua bebatuan berwarna merah melekat kuat, tapi mayoritas memang bisa dijadikan tumpuan kaki. Akhirnya saya mencoba mencari arah jalan yang terdapat banyak bebatuan berwarna merah.

Bebatuan berwarna merah yang aman dipijak
Satu teman saya sudah berjalan cukup jauh di depan, sementara dua yang lain ternyata memutuskan untuk menghentikan perjalanan ke puncak. Saya sempat dibuat bingung. Saya akan melanjutkan ke atas atau turun ke bawah? Kalau mau naik ke atas, saya takut karena teman saya bahkan sudah tidak nampak. Mau turun ke bawah pun teman saya sudah tidak nampak juga. Sekarang saya seperti satu-satunya manusia di gunung.

Melihat ke sekeliling dan tidak ada seorangpun. Tiba-tiba kabut tebal datang, menutup pandangan. Saya tidak bisa melihat apa-apa. Di situ ada rasa takut luar biasa yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Badan saya gemetar, saya bahkan ingin menangis. Saya seperti manusia yang sedang tersesat sendirian. Kalau naik, saya takut kalau di sana tidak ada siapa-siapa. Kalau turun, saya takut salah jalur dan tersesat. Batas vegetasi nampak membingungkan karena semua terlihat sama. Kalau tersesat bagaimana?

Cukup lama saya terdiam di atas sana. Hampir sampai ke puncak. Bahkan kawah pun sudah nampak. Seketika lenyap sudah bayang-banyak memijakkan kaki di puncak. Saya sadar, bahwa puncak bukanlah poin utama dalam pendakian. Saya merasa tak mendapatkan apa-apa ketika puncak sudah di depan mata. Apalah arti puncak jika hanya dalam kesendirian.

Saya berteriak, memanggil teman saya yang mungkin sudah sampai di puncak. Tapi tak ada sahutan sama sekali. Kalau dikatakan stress, saat itu saya memang merasakan tekanan batin yang luar biasa. Beberapa kali saya berteriak tapi tetap tidak ada jawaban. Saya berharap ada pendaki lain yang bisa saya ikuti, tapi tidak ada. Sudah tidak kuat menahan rasa takut itu, mata saya mulai berair. Jantung saya berdebar kencang dan perut terasa mual. Rasa takut saya sudah melewati segala ketakutan yang pernah saya rasakan sebelumnya.

Awalnya saya berpikir untuk langsung turun saja tanpa peduli pada apapun yang ada di sekitar. Tapi di saat yang bersamaan saya menyadari kalau hal itu bisa berakibat fatal. Tersesat, dan mungkin bisa mati. Saat itu saya seperti manusia yang menyerahkan hidup dan matinya pada alam. Sebisa mungkin saya mengontrol emosi di dalam diri. Apapun yang terjadi saya harus tetap berpikir jernih.

Dari tempat saya berdiam diri, nampak di bawah ada tiga pendaki yang berjalan naik. Jaraknya masih sangat jauh. Tapi saya yakin kalau mereka berasal dari pos 5. Itu berarti saya bisa sampai ke pos 5 dengan berjalan menjemput arah mereka.

Sebelum mereka berjalan makin ke atas, saya berusaha untuk turun lebih cepat. Jangan sampai kehilangan jejak mereka. Untuk turun sengaja saya cari medan berpasir agar bisa turun lebih cepat. Turun dengan meluncur adalah satu cara supaya bisa sampai di bawah lebih cepat.

Ketika berpapasan dengan mereka, mereka nampak heran melihat saya sendirian. Iya, saya sendirian. Anehkah seorang perempuan berjalan sendirian di gunung? Saya tidak merasa aneh. Saya masih merasa takut. Tapi bisa berjalan berpapasan dengan pendaki lain saja sudah membuat saya merasa sedikit lega.

Batas vegetasi mulai nampak. Dari kejauhan saya melihat dua teman saya sedang berjalan turun. Secepat mungkin saya mengikuti langkah mereka. Tapi sesekali kabut tebal datang dan menghalau pandangan. Untuk kesekian kalinya saya dibuat takut kalau nanti kehilangan jejak. Tapi saya juga tidak ingin berjalan di tengah kabut karena lebih beresiko tersesat.

Kabut tebal yang menakutkan
Kabut lenyap seketika. Saya kembali berjalan mengejar dua teman saya. Dan berkali-kali kabut datang menghalau pandangan. Beberapa kali pula saya berjalan kemudian berhenti sampai kabut menghilang.

Akhirnya tiba juga di batas vegetasi. Rasa takut saya terobati begitu melihat sosok cantigi kecil yang merambat di tas pasir berbatu. Warna merahnya seperti menyadarkan saya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Saya benar-benar ingin menangis waktu itu. Perasaan campur aduk antara sisa rasa takut, cemas, senang dan sedih. Pokoknya semua itu sulit diungkapkan.

Tiba di tenda, makan siang, sholat kemudian berkemas. Saatnya pulang. Beberapa teman menyayangkan karena saya tidak sampai puncak, padahal sudah sangat dekat. Saya cuma tersenyum. Saya baru tersadar, bahwa selama ini bukan puncak yang membuat saya rindu dan ingin kembali melakukan pendakian. Kebersamaan itu yang menjadi candu dalam sebuah perjalanan.

Dalam perjalanan pulang saya sempat tersesat ketika dari pos 4 hendak menuju pos 3. Saya tidak ingat kalau harus belok kiri. Saya malah berjalan lurus. Apalagi karena jalan menuju pos 3 hampir tertutup rapat oleh ranting dan batang pohon. Benar-benar tidak nampak seperti jalan. Untungnya adalah pendaki lain yang memberitahu kalau saya salah jalan.

Ketika perjalanan turun nafas saya dapat terkontrol baik, giliran pergelangan kaki yang kesleo karena tersangkut akar pohon. Sejak dari pos 4 saya harus berjalan dengan menyeret kaki. Tidak ada yang bisa dimintai tolong. Akhirnya saya memutuskan untuk berjalan sedikit lebih lambat. Tak apa kalau harus berjalan paling belakang. Yang penting bisa sampai.

Tepat saat adzan maghrib berkumandang, saya tiba di depan jalan besar beraspal.  Di situ teman-teman sudah menunggu. Setelah duduk-duduk sebentar, kami langsung menuju ke tempat pemandian air panas. Masih dengan menyeret kaki. Untungnya teman-teman menyadari kalau kaki saya sedikit pincang. Akhirnya salah satu dari mereka membawakan tas milik saya sampai ke tempat pemandian.

Sementara yang lain asik berendam, saya langsung membersihkan diri dan berganti pakaian.

Tak lama kami di pemandian. Kemudian perut yang lapar membawa kami untuk menyantap sate kelinci yang sudah lama saya rindukan. Alhamdulillah. Akhirnya perut yang kosong setelah menempuh perjalanan sejak siang hari kembali terisi.

Pukul 20.30 kami mencari carter open cup untuk kembali ke Slawi. Waktu itu cuaca nampak mendung, bahkan gerimis. Beruntung kami sudah turun dari gunung. Dan sekarang saat kembali ke rumah. Alhamdulillah bisa pulang selamat. Kaki kesleo, pegal dan bengkak sudah biasa. Yang terpenting bisa kembali berkumpul dengan keluarga.

Potret di ketinggian, di sela-sela rasa takut
Cantigi yang menyambut di batas vegetasi begitu turun dari (sebelum) puncak

0 comments:

Silakan tinggalkan komentar. Boleh kritik, saran atau apapun.. Jangan lupa untuk selalu menggunakan kata-kata yang santun. Terima kasih.