Cantigi dengan Segala Kesederhanaannya

9:22 AM Nur Mumtahana 1 Comments



Aku jatuh cinta pada Cantigi jauh sebelum aku mengenalnya. Nama itu seperti benang merah yang mengikat hati, meleburnya ke dalam rindu, kemudian memperdengarkan seruan di telinga bahwa aku harus menjumpainya.

Dia menyeret langkahku. Biar aku kadang tak yakin mampu menjumpainya. Bila dikata jauh, dia memang jauh. Butuh puluhan kilometer atau bahkan lebih untuk dapat menjumpai sosok rupawan itu. Dan semua haruslah dengan satu demi satu pijakan langkah.

Di balik remang hutan yang dingin dan basah, kusadari bahwa keberadaan dirinya mengantarku kepada tempat yang tak terbayang akan kupijak. Dia seperti pengatar mimpi menjadi nyata. Cengkeramannya pada tanah tempat berpijak, bantu kaki ini dapat berjalan lebih jauh, lebih lama, menuju tempat yang lebih tinggi.


Dia rupawan, meski tak seanggun Edelweiss. Cantigi mungkin tak abadi seperti bunga yang menjadi sosok ratu di ketinggian. Dia hanyalah Cantigi dengan segala kesederhanaannya. Tak banyak orang yang mengagungkan sosok itu. Bahkan kadang ia terabaikan.

Cantigi hijau tumbuh tinggi menjulang ke langit. Kerupawanan tak menjadi modal daya tarik. Dibanding dengan Edelweiss yang selalu jadi gambaran keindahan, Cantigi hanyalah batang kayu dengan dedaunan yang lebat. Dia sesederhana itu, hingga tak banyak yang menyadari keberadaannya.
 

Cantigi tak mengharapkan pengakuan dari banyak sosok. Dia cuma mau jadi diri sendiri. Menjadi sebagaimana mestinya. Ia ada bukan untuk menebar pesona keindahan. Ia ada untuk melindungi, menjadi satu tempat bernaung dari cambuk udara yang kadang tak sopan.

Akar-akar itu bantu kita berdiri. Batang pohon itu, jadi tempat kita berpegang. Daun-daunnya meneduhkan. Dan ia menghalau alam yang kadang semena-mena meluapkan amarah.
 

Cantigi merah seperti bayi yang baru lahir, menggambarkan kesucian, kemurnian. Kehadirannya mengantar bahagia melalui pucuk-pucuk yang merekah. Ia tunjukkan betapa kuat tekad dalam diri. Tumbuh dari balik tanah keras berbatu. Dan seolah ia berseru, "Suatu saat nanti, aku akan jadi setegar itu. Menjadi sekuat itu. Melindungi kalian."

Dia seperti sosok pahlawan yang tak banyak dikenal orang. Tak sering namanya diserukan. Tapi ia punya tekad. Ia tegar untuk dapat terus berdiri dan tumbuh di tengah terpaan badai.

1 comment:

Silakan tinggalkan komentar. Boleh kritik, saran atau apapun.. Jangan lupa untuk selalu menggunakan kata-kata yang santun. Terima kasih.