Menyapa Alaminya Curug Pitu Margasari

5:45 PM Nur Mumtahana 0 Comments



Pagi itu, jam enam pagi, saya udah siap dengan tas ransel dan jaket merah yang selalu menemani saya pergi kemana-mana. Kalau saya menyiapkan dua benda itu, berarti saya mau pergi. Dan saya memang mau pergi dengan teman-teman. Ke mana? Ke sana.

Jam delapan kurang lima belas, teman-teman satu rombongan. Delapan orang kalau ngga salah, sengaja nyamperin ke rumah. Setelah pamit dengan orang-orang rumah, emak khususnya, kami langsung meluncur ke tempat tujuan.

Tapi ngomong-ngomong, ke mana tujuan kita kali ini? Jeng-jeng-jeng...

CURUG PITU ( 7 / SEVEN #BiarKeren) atau ada juga yang menyebutnya Curug Sanga.

Salah satu curug yang cukup populer di kalangan pemuda Tegal, apalagi bagi mereka yang suka menjelajah alam. Curug tersebut berlokasi di Margasari, nama desanya saya kurang paham. Pokoknya setelah dari pasar margasari, belok ke kiri dan tinggal ikuti jalan.

Oh ya, kalau kita pakai kendaraan bermotor, lebih baik kita parkirkan di salah satu kantor polisi yang berada di dekat Pasar Margasari. Sambil nitip motor sekalian kita minta ijin sama bapak-bapak polisi yang jaga. Paling engga biar mereka tahu kalau kita mau ke curug. Sekedar mengantisipasi hal-hal yang tidak diingikan.

Setelah parkir motor, kita mulai belanja logistik di pasar. Karena para bapak minta dimasakkan sayur asem, para ibu pun langsung cari penjual sayur asem di pasar. Jangan lupa beli cabe plus bawang merah buat bikin sambel. Tempe juga, buat digoreng. Karena mau bikin sambel, itu berarti harus ada cobek. Muter-muter pasar, dan ketemu juga sama ibu-ibu yang jualan gerabah tanah liat. Logistik udah lengkap. Tinggal tambah air mineral dan semua perlengkapan sudah siap. Perjalanan dimulai...

Jreng... Jreng... Jreng...

Rintangan pertama. Sungai besar berarus deras. Harap maklum, sekarang ini lagi musim hujan. Kita mesti hati-hati. Pijakan langkah harus kuat dan mantap. Kalau lengah sedikit, kita bisa kehilangan keseimbangan dan oleng. Tiba di seberang sungai, kami langsung disambut tanah gambut yang bikin kaki susah jalan. Bahkan si sandal kadang ngga mau diangkat dari pijakan. Kita harus berusaha meringankan berat tubuh, biar kaki ngga terbenam makin dalam.

Sungai besaaaarrr
Berhasil keluar dari kubangan tanah gambut, kami dihadapkan jalan panjang yang tidak terlalu lebar. Kira-kira cukup buat satu mobil, diapit pepohonan, mayoritas pohon jati yang daunnya lebat, walaupun beberapa ada yang meranggas. Dan cukup takjub juga pas lihat ada banyak kupu-kupu sepanjang perjalanan. Jumlahnya jelas lebih banyak dibandingkan sama kupu-kupu yang pernah saya lihat. Saya ngga mungkin menghitung satu satu dari semua kupu-kupu yang saya lihat. Tapi jumlahnya kisaran ratusan atau bahkan lebih.

Jalanan dikelilingi pohon jati rindang
Dan kita mulai becek-becekan
Kira-kira dua puluh menit jalan kaki, beruntung ada salah satu truk pengangkut material yang lewat di depan mata. Tanpa ba-bi-bu kami langsung minta tumpangan. Perjalanan kami mendapat goncangan yang lumayan karena medan berlumpur, berbatu, becek, plus tergenang air. Kita sampe geleng-geleng kepala, "Untung kita dapat tumpangan. Ngga bisa ngebayangin gimana jadinya kalo kita harus jalan kaki."

Begini rute perjalanan kalo dilihat dari atas truk
Keep balance ya, kawan...
Sepanjang perjalanan di atas truk kita heboh banget. Ya, selain karena berlagak lagi ngetrip sama Bapak Presiden, kita juga mesti pandai menjaga keseimbangan dab menghindari ranting-ranting pohon.

Sekitar tiga puluh menit perjalanan, kami mulai disuguhi pemandangan yang luar biasa. Pemandangan bukit hijauh bak sabana di Gunung Merbabu. Bayang-bayang dalam pikiran langsung melejit. Ini pasti bakal jadi perjalanan yang seru dan menyenangkan.

Truk yang kami tumpangi berhenti di tepi sungai kecil. Di situ ada beberapa truk lain yang juga akan mengangkut material pasir dan batu. Kami pun turun dan memulai perjalanan dengan langkah kaki menyusuri sungai. Perjalanan kali ini kami harus rela basah-basahan. Jadi disarankan supaya ngga pakai sepatu ya. Daripada nanti malah repot. Pake sandal jelas satu solusi paling tepat.

Setelah menyeberangi sungai, jalanan yang kami lewati mulai menanjak. Ini dia perkebunan jagung milik petani yang penampakannya seperti sabana Gunung Merbabu. Jadi kami menyebutnya sabana jagung.

(Bukan) Sabana Merbabu, ini Sabana Jagung
Di tengah-tengah Sabana Jagung (ciiiee yang sebenernya pengin ke sabana Merbabu tapi belum kesampean) kami istirahat sejenak. Ya, tarik nafas, buang nafas, minum sama makan makanan ringan dulu. Dan setelah itu kami lanjut jalan lagi. Katanya perjalanan masih lumayan jauh. Tapi dengan view yang oke punya pasti perjalanan jadi lebih menyenangkan.

Let's take a rest. Makan dulu, minum dulu
Tiba di penghujung Sabana Jagung, kami mulai masuk ke bagian hutan yang pepohonannya sangat lebat. Udara terasa sangat segar dengan aroma daun basah. Permukaan tanah yang jarang tersentuh sinar matahari jadi lembab dan sedikit licin. Bebatuan dan pohon dibalut lumut yang menandakan betapa tempat ini masih terjaga kealamiannya. Selain itu kami juga bisa mendengar suara serangga berderik keras seperti suasana hutan subtropis di musim panas.

Perjalanan di tengah hutan
Kami dibuat cukup tajub melihat segerombol monyet bergelantungan di pohon, jaraknya cukup jauh dari tempat kami berdiri, ada di seberang sungai. Ngga nyangka aja kalau ternyata di situ masih ada binatang liar. Yang bikin kaget lagi, pas kami udah sampai di sungai yang sumber airnya berasal dari curug pitu, kami melihat sosok babi hutan. Ini adalah kali pertama buat saya lihat babi hutan di depan mata. Ada rasa campur aduk antara senang, takut dan penasaran. Cuma sebentar kami lihat keberadaan babi hutan itu, sampai akhirnya dia lari masuk ke balik semak.

Perjalanan makin menantang. Sungai berarus deras dengan bebatuan yang licin membuat kami mesti lebih gesit. Berjalan, melompat dari satu batu ke batu yang lain. Atau kalau ngga mau lompat-lompatan ya berarti kita harus rela berjalan di badan sungai.

Basah-basahan menyusuri sungai
Setelah melewati beberapa curug kecil, sekarang ...

Jeng-jeng-jeng...

Kami tiba di depan air terjun besar dengan bongakah batu yang berundak agak vertikal. Bentuknya hampir menyerupai susunan balok. Airnya deras, jernih dan segar. Awalnya saya mengira kalau ini adalah tempat tujuan akhir perjalanan. Ternyata BUKAN. Itu baru salah satu dari tujuh air terjun yang harus kami lewati. Saya sempat bertanya-tanya (cuma dalam hati), "Ini kelihatan kaya jalan buntu. Trus kita mau kemana lagi?"

"Kita naik ke atas. Lewat batu-batu itu," kata salah satu teman yang udah pernah ke curug pitu. Tangannya menunjuk tepat ke arah tebing bebatuan di tepi air terjun.

It was so amazed me!

Oke. Di sini kita punya pilihan. Mau berhenti di sini dan pulang atau lanjutin perjalanan sampe ke tempat tujuan. Rasanya kaya punya pilihan tapi ngga ada pilihan. Yakin ngga yakin, kami cuma punya pilihan buat yakin. Bismillah. Kami mulai menapaki satu-satu bebatuan vertikal itu. Bikin deg-deg-ser. Pake sandal lumayan bikin susah. Jadi langsung kami lempar sandal ke atas. Beberapa ada yang lempar sandal ke atas malah jatuh ke bawah. Itu dia keseruannya. Banyak hal sepele yang bikin kami ketawa sepanjang perjalanan.

Serius nih ?! Naik ke situ?
Sedikit ngga percaya juga ketika akhirnya kami bisa sampai di atas. Setelahnya masih ada beberapa air terjun yang mesti dilewati lagi. Tapi ngga setinggi yang barusan. Jadi kami bisa mulai berjalan agak santai. Sambil menikmati pemandangan di sekitar yang luar biasa indah.

What a beautiful place...
Dan ini dia...

Air terjun dari satu titik yang tinggi mengalir deras. Menimpa permukaan air di bawahnya. Menimbulkan percikan dan angin yang terasa segar. Poin akhir dari perjalanan kami.

Awesome
Para bapak mulai pada mainan air. Ibu-ibunya mulai bongkar muatan, nyiapin makan siang. Ini dia satu hal yang paling bikin saya hepi kalo piknik. Acara masak-masa di alam bebas yang banyak angin. Apalagi dengan kondisi kompor yang kalo apinya dikecilin malah mati. Si kompor harus pake bantuan korek api juga. Repot? Iya. Tapi kerepotan kaya gini bikin suasana makin seru.

Ibu-ibu, ayo kita masak
Tempe goreng rasa KFC
Masak nasi (yang ngga mateng-mateng, sampe berkerak di bawahnya) lanjut goreng tempe dan masak sayur asem. Sayangnya, pas lagi mau rebus air buat bikin kopi, gas di kaleng malah habis. Alhasil kami mesti bikin api pake ranting-ranting kering. Dan Alhamdulillah akhirnya bisa minum kopi juga.

Makan siang udah siap. Sayur asem sama tempe goreng, lengkap pake sambel juga. Udara dingin, berangin, basah, bikin perut lapar. Tapi ingat, jangan ketinggalan buat sholat dhuhur dulu ya. Biar acara piknik kita ngga sekedar buat seneng-seneng aja. Jangan lupa buat selalu ingat sama yang menciptakan tempat-tempat indah ini.

Thanks Allah for showing me this beautiful places
Usai sholat, kami mulai santap siang rame-rame. Dalam sekejap, makanan yang alakadarnya habis seketika. Setelah santai-santi sebentar, ambil beberapa foto buat kenang-kenangan, kami pun memutuskan buat pulang. Udah cukup sore, ditambah gerimisi. Tiba-tiba terlintas bayangan medan yang kami lalui pas berangkat tadi. Rada panik juga. Medan menanjak oke oke aja. Tapi turunnya gimana???

Persiapan makan siang
Foto bersama kakak-kakak 
Beneran deh. Ternyata perjalanan turun lebih sulit darpada pas naik. Salah sedikit aja bisa beresiko fatal. Pelan-pelan aja deh. Slow but sure. Sempat kepleset juga, dan basah-basahan lagi, kotor-kotoran lagi. Tapi tetep seru pastinya.

Lewat Sabana Jagung lagi, lewat sungai-sungai lagi. Dan ternyata ngga ada truk yang bisa kami tumpangi. Alhasil kami mesti jadi Ninja Hatori. Melewati jalanan yang medannya luar biasa. Mulai dari yang bebatuan, tanah licin, berlumpur, basah, bahkan BANJIR. Lagi-lagi ketemu kotor dan basah. Tapi dibikin seru aja. Sambil jalan sambil makan manisan cirmai. Kata Mba Mutia, "Dua puluh tahun lagi ngga akan ada jalan ini. Semuanya ditumbuhi pohon cirmai." Itu efek karena kami menebar biji cirmai yang dimakan sepanjang jalan. Hihihi... #just kidding

Lewat Sabana Jagung (lagi)
Ada apa dengan mereka ???
Ini bukan sungai. Sungguh. Ini jalan yang tergenang air
Sulit dibedakan. Mana kaki mana tanah
Dua jam lebih kami berjalan dengan segala rintangan yang ada. Dan akhirnya sampai juga di tepi sungai besar yang pertama kali dilewati. Duduk-duduk sebentar. Cuci tangan, cuci kaki, cuci sandal, cuci kaos kaki #hihihihi trus langsung kembali ke tempat parkir motor. Langit makin mendung, bahkan sepanjang perjalanan pulang kami harus diguyur gerimis (belum masuk kategori hujan) yang deras. Menuju rumah.

Rupanya piknik memang ngga harus jauh-jauh. Apalagi cuaca sekarang yang ngga tentu, bahkan cenderung hujan. Ingat lagi apa tujuan kita piknik. Buat kumpul sama teman, sharing, quality time dan refreshing tentunya. Jadi, selama masih ada tempat yang terjangkau sekedar untuk mendapat semua tujuan piknik, kenapa harus jauh-jauh? Yang penting keep happy keep safety.

0 comments:

Silakan tinggalkan komentar. Boleh kritik, saran atau apapun.. Jangan lupa untuk selalu menggunakan kata-kata yang santun. Terima kasih.