Catatan Perjalanan (Hampir) 3428 mdpl

6:28 PM Nur Mumtahana 0 Comments


Gunung Slamet dengan ketinggian 3428 mdpl. Salah satu mimpi yang saya harap bisa terwujud. Dan pada akhirnya, datang juga kesempatan yang ditunggu-tunggu. Iya, itu salah satu gunung yang sempat membuat saya menangis karena pernah gagal untuk ikut melakukan pendakian pada bulan Juli lalu. 

Dengan jumlah personil lima orang, saya diajak saudara untuk melakukan pendakian ke Gunung Slamet. Dan saya punya ekspektasi yang luar biasa. Tentu saja. Itu artinya salah satu mimpi saya akan segera terwujud.

Dengan persiapan yang sangat singkat, hari minggu, 27 Desember 2015 kami berangkat dari basecamp KOMPAK yang berada di wilayah Guci. Setelah melakukan pendaftaran, pendakian dimulai pukul 08.15.

Basecamp KOMPAK
Kami berjalan di medan beraspal sampai sekitar seratus meter dari basecamp. Setelahnya kami mulai melalui jalanan berbatu di tengah hutan pinus yang lebat. Di awal perjalanan, kami sempat salah mengambil jalan. Beruntung ada pasukan pendaki berambut cepak yang menunjukkan kami pada jalur pendakian yang benar.

Perjalanan diawali dengan medan menanjak dan berbatu. Terasa cukup berat. Apalagi kondisi fisik saya yang selalu membutuhkan penyesuaian dengan suhu udara, kondisi medan dan beban yang dibawa. Keringat dingin langsung keluar disertai perut mual dan kepala pusing. Dalam kondisi seperti itu, sudah dipastikan wajah saya pucat atau bahkan kebiruan. Tapi kali ini teman-teman dalam satu tim tidak terlalu memperhatikan hal tersebut. Bahkan saya sempat terpisah dengan rombongan dengan jarak yang lumayan jauh selama dalam kondisi tersebut.

Jalan menuju Pos 1
Mendadak semua terasa berputar. Ingin pingsan? Ya, kurang lebih seperti itu. Rasanya seperti akan pingsan. Apalagi tiba-tiba lutut bergetar cukup keras. Penyesuaian kali ini kelihatannya lebih parah dari saat mendaki pertama kali di Gunung Prau bulan Mei lalu.

Sekitar lima belas menit berjalan, saya mulai bisa menguasai diri. Langkah kaki mulai berirama dan terasa ringan. Walaupun begitu, suhu yang makin dingin sempat membuat nafas saya tidak beraturan. Alhasil setiap beberapa langkah saya mencoba berhenti dan mengatur nafas supaya seirama dengan langkah kaki. Ternyata menyelaraskan irama langkah dan pernafasan bisa membuat kontrol tubuh lebih baik. Dan lama kelamaan langkah kaki jadi terasa lebih ringan.

Akhirnya tubuh saya berhasil melakukan penyesuaian dengan keadaan yang ada saat itu.

Setelah melalui medan berbatu, pukul 10.00 saya tiba di Pos 1 Pondok Pinus pada ketinggian 1500 mdpl. Di situ sudah ada dua anggota tim saya. Kelihatannya sudah tiba di situ cukup lama mengingat jarak berjalan di antara kami yang lumayan jauh. Setelah istirahat sejenak, sekitar lima menit, kami kembali melanjutkan perjalanan.

Pos 1 Pondok Pinus
Kali ini medan yang dilalui adalah hutan dengan pepohonan tropis yang tinggi dan lebat, membuat cahaya matahari sulit menyentuh permukaan, dan menjadikan tanah cukup lembab serta dingin. Lagi-lagi saya terpisah jauh dari rombongan. Dua orang sudah berjalan jauh di depan, dan dua orang lagi masih berada di pos 1. Saya diminta untuk tidak menunggu dua orang lainnya, karena mereka tahu kalau mereka akan bisa menyusul dengan cepat. Mungkin beginilah nasih sebagai satu-satunya perempuan dalam tim. 

Terus terang, biarpun berjalan sendirian di tengah hutan yang sangat lebat, tidak tahu jalan dan tidak tahu arah, saya masih bisa menikmati semua yang ada. Tanah berundak yang dicengkeram kuat oleh akar-akar pohon, tanaman tropis yang basah berembun, sampai bebatuan dan batang pohon yang berlumut. Aroma daun dan basah yang sangat khas menyegarkan pikiran. Selain itu saya juga bisa mendengar suara serangga berderik dan kicau burung yang enggan menampakkan wujudnya.

Rindang hutan
Dua jam perjalanan, pukul 11.40 kami tiba di Pos 2 Pondok Cemara. Sebelum melanjutkan perjalanan, kami menyempatkan diri untuk menyantap sedikit perbekalan dan melaksanakan sholat dhuhur dijamak dengan sholat asar.

Pos 2 Pondok Cemara
Lepas dari pos 2, medan makin menanjak. Suasana hutan pun semakin gelap karena lebatnya pepohonan. Sepanjang perjalanan, tak banyak pendaki yang dijumpai. Hanya ada beberapa yang melakukan perjalanan turun. Mungkin karena kami melakukan pendakian di hari Minggu, bukan di hari Sabtu. Bahkan bisa dilihat kalau jumlah pendaki di hari Sabtu lebih banyak ketimbang pendaki di hari Minggu. Dan mungkin jalur pendakian akan menjadi lebih ramai saat menjelang tahun baru.

Sengaja saya berjalan sedikit lambat untuk mempendek jarak dengan teman-teman yang ada di belakang. Tapi tetap saja saya tidak bisa melihat keberadaan mereka. Biarpun ada perasaan was-was dan takut karena harus berjalan sendirian, tapi setidaknya saya tetap berusaha untuk menikmati semua yang ada di sekeliling. Suasanya benar-benar tenang dan sunyi. Tidak ada suara apapun, seolah-olah saya adalah satu-satunya orang yang melakukan pendakian ini. Macam film pendakian terakhir yah.

Hutan makin lebat
Sepanjang berjalan sendirian. Saya jadi teringat dengan teman-teman komunitas yang sekarang sudah jadi keluarga kedua bagi saya. Biasanya, saat melakukan perjalanan dengan mereka, suasananya pasti ramai, seru, heboh, dan ada-ada saja lelucon yang mengocok perut. Kadang pula mereka berteriak, "Semangat! Ayo, lima menit lagi sampai pos." Padahal pos masih sangat jauh. Hal-hal seperti itu mendadak membuat saya sangat rindu dengan mereka.

Ingat dengan mereka sampai bikin mata berair. Jadi ingat waktu pertama ikut pendakian ke Gunung Prau. Pas kondisi fisik drop, ada mereka yang selalu bisa jadi pemberi kekuatan. Jadi ingat juga ketika terpaksa menenggak minyak kayu putih gara-gara masuk angin. Bukannya saya suka dimanjakan, tapi keberadaan mereka sebagai sosok yang berjalan beriringan dapat menjadi penyemangat dalam diri.

Mungkin karena sudah terbiasa dengan keadaan seperti itu, saat ini saya merasa sedikit kesepian. Tapi anggap saja kalau ini adalah saatnya untuk quality time dengan diri sendiri, dengan tuhan dan dengan alam. Satu kesempatan yang amat langka.

Pukul 13.15 saya tiba di Pos 3 Pondok Pasang. Saya cukup terkejut ketika disambut oleh sekitar dua puluh orang pendaki yang sedang beristirahat dalam perjalanan turun. Dengan amat ramah mereka menyambut, menawarkan minuman dan makanan. Obrolan-obrolan aneh dan lucu mulai keluar dari segerombol pemuda itu. Saya cuma bisa senyum kaku. Ngga tahu mesti ngomong apa.

Pos 3 Pondok Pasang
Sekitar sepuluh menit menunggu, teman-teman saya tiba menyusul di pos 3. Akhirnya bisa berkumpul dengan teman-teman satu tim. Tidak lama kami beristirahat, kemudian kami kembali melanjutkan perjalanan menuju pos 4. Katanya dari pos 3 menuju pos 4 adalah jarak pos terjauh. Lagi-lagi kelompok saya berjalan terpisah dengan jarak yang lumayan jauh.

Jalan dari pos 3 menuju pos 4 sangat menantang. Badan jalan yang sempit tertutup oleh pohon tumbang dan ranting-ranting yang melengkung membentuk terowongan. Semua itu memaksa saya untuk berjalan merunduk, bahkan merayap. Tas yang terlalu tinggi sempat beberapa kali tersangkut ranting pohon dan mengharuskan saya berjalan merayap lebih dekat dengan tanah. Mirip seperti tentara yang sedang melakukan latihan perang.

Ternyata perjalanan dari pos 3 menuju pos 4 memang paling jauh. Memakan waktu sekitar dua jam lima belas menit. Mungkin bagi pendaki yang sudah terbiasa dapat menempuh waktu lebih cepat. Pukul 15.45 tiba di Pos 4 Pondok Kematus. Di pos 4 kita bisa menjumpai mata air. Tapi untuk mengambilnya harus melewati jalan yang cukup curam. Bahkan awalnya kami berencana untuk membuat tenda di pos 4. Berhubung langit masih terang, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke pos 5.

Pos 4 Pondok Kematus
Ada lebih banyak medan menanjak untuk sampai di pos 5. Tapi pepohonannya tidak selebat pos-pos sebelumnya. Mungkin karena semakin dekat dengan puncak. Bahkan saya selalu penasaran dengan batas vegetasi di Gunung Slamet. Kata teman-teman, di situ menakjubkan. Apalagi saya jadi ingat dengan satu nama yang sudah membuat saya terlanjur jatuh hati. CANTIGI.

Salah satu pendaki menyarankan kami untuk membuat tenda sebelum pos 5 karena kondisi angin yang cukup kencang di sekitar batas vegetasi. Akhirnya kami pun mendirikan tenda pada pukul 17.40, sekitar lima puluh meter dari Pos 5 Cantigi. Usai membongkar isi tas, kami langsung memasak air panas dan membuat makanan.

Langit senja di Gunung Slamet
Jingganya langit sore itu cukup sebagai pelepas lelah setelah perjalanan panjang yang benar-benar tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Mengingat bagaimana berjalan sendirian di tengah hutan, sekarang saya lebih tenang begitu berkumpul dengan teman-teman satu tim.

Usai melaksanakan sholat maghrib dan isya, kami menyantap makanan dan minuman hangat. Kemudan beranjak istirahat untuk persiapan summit esok harinya.

Summit attack
Hari yang ditunggu-tunggu datang juga. It's time to summit. Kami tidak lagi mengejar sunrise. Katanya kalau dari jalur pendakian via Guci kita memang akan sulit melihat sunrise, kecuali kalau kita sudah berada di puncak sebelum matahari terbit.

Awalnya kami memulai perjalanan berlima. Tapi salah satu teman ada yang mengeluh sakit perut dan memutuskan untuk kembali ke tenda. Sekarang tinggal berempat. Satu orang berjalan cukup cepat, membuat jarak yang lumayan jauh. Kemudian saya berada di belakangnya dan dua orang lagi di belakang saya.

Lepas dari batas vegetasi, kini yang ada di hadapan kami hanyalah pasir dan bebatuan. Kalau hanya bebatuan biasa mungkin tidak akan terlalu sulit. Bayangkan saja, bebatuan yang ada di situ mayoritas adalah bebatuan lepas yang akan goyah ketika diinjak.

Medan berbatu setelah batas vegetasi
Tapi setelah berjalan beberapa saat, saya mulai bisa membaca medan. Carilah batu yang permukaannya sedikit kemerahan. Batu yang seperti itu cukup aman dipijak. Walaupun tidak semua bebatuan berwarna merah melekat kuat, tapi mayoritas memang bisa dijadikan tumpuan kaki. Akhirnya saya mencoba mencari arah jalan yang terdapat banyak bebatuan berwarna merah.

Bebatuan berwarna merah yang aman dipijak
Satu teman saya sudah berjalan cukup jauh di depan, sementara dua yang lain ternyata memutuskan untuk menghentikan perjalanan ke puncak. Saya sempat dibuat bingung. Saya akan melanjutkan ke atas atau turun ke bawah? Kalau mau naik ke atas, saya takut karena teman saya bahkan sudah tidak nampak. Mau turun ke bawah pun teman saya sudah tidak nampak juga. Sekarang saya seperti satu-satunya manusia di gunung.

Melihat ke sekeliling dan tidak ada seorangpun. Tiba-tiba kabut tebal datang, menutup pandangan. Saya tidak bisa melihat apa-apa. Di situ ada rasa takut luar biasa yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Badan saya gemetar, saya bahkan ingin menangis. Saya seperti manusia yang sedang tersesat sendirian. Kalau naik, saya takut kalau di sana tidak ada siapa-siapa. Kalau turun, saya takut salah jalur dan tersesat. Batas vegetasi nampak membingungkan karena semua terlihat sama. Kalau tersesat bagaimana?

Cukup lama saya terdiam di atas sana. Hampir sampai ke puncak. Bahkan kawah pun sudah nampak. Seketika lenyap sudah bayang-banyak memijakkan kaki di puncak. Saya sadar, bahwa puncak bukanlah poin utama dalam pendakian. Saya merasa tak mendapatkan apa-apa ketika puncak sudah di depan mata. Apalah arti puncak jika hanya dalam kesendirian.

Saya berteriak, memanggil teman saya yang mungkin sudah sampai di puncak. Tapi tak ada sahutan sama sekali. Kalau dikatakan stress, saat itu saya memang merasakan tekanan batin yang luar biasa. Beberapa kali saya berteriak tapi tetap tidak ada jawaban. Saya berharap ada pendaki lain yang bisa saya ikuti, tapi tidak ada. Sudah tidak kuat menahan rasa takut itu, mata saya mulai berair. Jantung saya berdebar kencang dan perut terasa mual. Rasa takut saya sudah melewati segala ketakutan yang pernah saya rasakan sebelumnya.

Awalnya saya berpikir untuk langsung turun saja tanpa peduli pada apapun yang ada di sekitar. Tapi di saat yang bersamaan saya menyadari kalau hal itu bisa berakibat fatal. Tersesat, dan mungkin bisa mati. Saat itu saya seperti manusia yang menyerahkan hidup dan matinya pada alam. Sebisa mungkin saya mengontrol emosi di dalam diri. Apapun yang terjadi saya harus tetap berpikir jernih.

Dari tempat saya berdiam diri, nampak di bawah ada tiga pendaki yang berjalan naik. Jaraknya masih sangat jauh. Tapi saya yakin kalau mereka berasal dari pos 5. Itu berarti saya bisa sampai ke pos 5 dengan berjalan menjemput arah mereka.

Sebelum mereka berjalan makin ke atas, saya berusaha untuk turun lebih cepat. Jangan sampai kehilangan jejak mereka. Untuk turun sengaja saya cari medan berpasir agar bisa turun lebih cepat. Turun dengan meluncur adalah satu cara supaya bisa sampai di bawah lebih cepat.

Ketika berpapasan dengan mereka, mereka nampak heran melihat saya sendirian. Iya, saya sendirian. Anehkah seorang perempuan berjalan sendirian di gunung? Saya tidak merasa aneh. Saya masih merasa takut. Tapi bisa berjalan berpapasan dengan pendaki lain saja sudah membuat saya merasa sedikit lega.

Batas vegetasi mulai nampak. Dari kejauhan saya melihat dua teman saya sedang berjalan turun. Secepat mungkin saya mengikuti langkah mereka. Tapi sesekali kabut tebal datang dan menghalau pandangan. Untuk kesekian kalinya saya dibuat takut kalau nanti kehilangan jejak. Tapi saya juga tidak ingin berjalan di tengah kabut karena lebih beresiko tersesat.

Kabut tebal yang menakutkan
Kabut lenyap seketika. Saya kembali berjalan mengejar dua teman saya. Dan berkali-kali kabut datang menghalau pandangan. Beberapa kali pula saya berjalan kemudian berhenti sampai kabut menghilang.

Akhirnya tiba juga di batas vegetasi. Rasa takut saya terobati begitu melihat sosok cantigi kecil yang merambat di tas pasir berbatu. Warna merahnya seperti menyadarkan saya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Saya benar-benar ingin menangis waktu itu. Perasaan campur aduk antara sisa rasa takut, cemas, senang dan sedih. Pokoknya semua itu sulit diungkapkan.

Tiba di tenda, makan siang, sholat kemudian berkemas. Saatnya pulang. Beberapa teman menyayangkan karena saya tidak sampai puncak, padahal sudah sangat dekat. Saya cuma tersenyum. Saya baru tersadar, bahwa selama ini bukan puncak yang membuat saya rindu dan ingin kembali melakukan pendakian. Kebersamaan itu yang menjadi candu dalam sebuah perjalanan.

Dalam perjalanan pulang saya sempat tersesat ketika dari pos 4 hendak menuju pos 3. Saya tidak ingat kalau harus belok kiri. Saya malah berjalan lurus. Apalagi karena jalan menuju pos 3 hampir tertutup rapat oleh ranting dan batang pohon. Benar-benar tidak nampak seperti jalan. Untungnya adalah pendaki lain yang memberitahu kalau saya salah jalan.

Ketika perjalanan turun nafas saya dapat terkontrol baik, giliran pergelangan kaki yang kesleo karena tersangkut akar pohon. Sejak dari pos 4 saya harus berjalan dengan menyeret kaki. Tidak ada yang bisa dimintai tolong. Akhirnya saya memutuskan untuk berjalan sedikit lebih lambat. Tak apa kalau harus berjalan paling belakang. Yang penting bisa sampai.

Tepat saat adzan maghrib berkumandang, saya tiba di depan jalan besar beraspal.  Di situ teman-teman sudah menunggu. Setelah duduk-duduk sebentar, kami langsung menuju ke tempat pemandian air panas. Masih dengan menyeret kaki. Untungnya teman-teman menyadari kalau kaki saya sedikit pincang. Akhirnya salah satu dari mereka membawakan tas milik saya sampai ke tempat pemandian.

Sementara yang lain asik berendam, saya langsung membersihkan diri dan berganti pakaian.

Tak lama kami di pemandian. Kemudian perut yang lapar membawa kami untuk menyantap sate kelinci yang sudah lama saya rindukan. Alhamdulillah. Akhirnya perut yang kosong setelah menempuh perjalanan sejak siang hari kembali terisi.

Pukul 20.30 kami mencari carter open cup untuk kembali ke Slawi. Waktu itu cuaca nampak mendung, bahkan gerimis. Beruntung kami sudah turun dari gunung. Dan sekarang saat kembali ke rumah. Alhamdulillah bisa pulang selamat. Kaki kesleo, pegal dan bengkak sudah biasa. Yang terpenting bisa kembali berkumpul dengan keluarga.

Potret di ketinggian, di sela-sela rasa takut
Cantigi yang menyambut di batas vegetasi begitu turun dari (sebelum) puncak

0 comments:

Silakan tinggalkan komentar. Boleh kritik, saran atau apapun.. Jangan lupa untuk selalu menggunakan kata-kata yang santun. Terima kasih.