Kisah Mereka

7:16 PM Nur Mumtahana 0 Comments

Ada banyak sekali kisah asmara yang pernah aku lihat. Mungkin di layar televisi atau sekedar lewat buku bacaan usang. Beberapa di antaranya berhasil membuatku meneteskan air mata karena perasaan iba terhadap tokoh-tokoh di dalamnya. Beberapa tokoh ditinggal mati oleh kekasihnya. Dan beberapa lagi cinta mereka kandas karena adanya pertentangan dari tokoh-tokoh lainnya. Tapi tak semua tangisan yang timbul adalah karena kisah beralur penuh sengsara. Ada pula segelintir kisah yang berhasil membuatku menangis bahagia. Dan aku tidak tahu bagaimana hal tersebut dapat terjadi padaku. Mengalir begitu saja. Tanpa direncanakan.

Dan beberapa waktu lalu ada satu hal yang membuatku menangis sejadi-jadinya. Membuatku menjadi seperti bayi kecil yang ditinggal ibunya. Atau mungkin lebih seperti bocah cilik yang tidak tahu harus berekspresi seperti apa ketika mendapat mainan yang paling diinginkannya. Sampai-sampai hanya bisa menangis. Begitulah yang terjadi padaku saat mendengar kabar salah seorang sahabatku akan menikah dengan laki-laki yang sangat dicintainya.

Tak jarang perempuan itu - sahabat yang sudah kuanggap seperti kakak sendiri bercerita tentang bagaimana sayangnya ia pada sosok laki-laki yang telah lama ia kenal. Dari semua ceritanya, dari sikapnya dan dari setiap do'a-do'a yang secara tak sengaja (atau sengaja) ia ucapkan, aku tahu kalau ia sangat tulus mencintai laki-laki itu. Aku cuma berpikir, betapa beruntungnya laki-laki itu. Yang tanpa disadari, ada perempuan yang amat mencintainya.

Aku tahu, bahwa hubungan mereka tak mudah sejak awal. Dan sahabatku yang satu itu masih tetap bertahan dengan perasaannya, walau aku tahu betapa ia sering menangis atau terlukai. Perasaannya tak tergoyahkan. Bahkan aku ingat betul ketika ia berkata, "aku tidak tahu akan seperti apa hidupku kalau tak bersamanya. Mungkin aku akan gila. Atau aku ingin mati saja."

Ada banyak drama cinta yang terkesan berlebihan. Tapi menurutku ini bukanlah sebuah drama yang didramatisir. Ini lebih seperti bagaimana seseorang mencoba bertahan di tengah terpaan badai. Dan seperti sebuah lagu, kalau badai pasti berlalu. Dan mungkin badai di antara mereka benar-benar telah berlalu.

Malam itu aku menangis mendengar kabar kalau akhirnya laki-laki tersebut telah melamar sahabatku. Aku bahagia tak terkira. Rasanya seolah-olah kisah bahagia itu sedang menimpa diriku. Aku masih belum bisa membayangkan, bagaimana perasaan sahabatku. Aku yakin kalau ia amat bahagia.

Melampaui kisah Cinderella atau kisah-kisah negeri dongeng, bagiku kisah mereka adalah benar-benar kisah yang sempurna. Walau tak bisa hadir tepat di acara ijab qobul, tapi do'aku menyertai mereka.

Selamat berbahagia, Sobat.

0 comments:

Silakan tinggalkan komentar. Boleh kritik, saran atau apapun.. Jangan lupa untuk selalu menggunakan kata-kata yang santun. Terima kasih.