Hujan, Maaf...

11:31 PM Nur Mumtahana 0 Comments

Satu tetes air dari langit jatuh tepat di atas sepatu baruku. Kemudian belasan, puluhan dan ratusan tetes-tetes air lainnya mulai berdatangan. Beberapa saat kemudian entah berapa ribu atau juta tetesan air yang jatuh ke bumi. Aku tak dapat menghitungnya. Semua di sekelilingku basah, begitu pula dengan diriku.

Kutengadahkan kepala, melihat ke atas, mencoba menatap asal muasal hujan ini datang. Aku tak dapat melihatnya dengan jelas. Tetes-tetes air itu menimpa wajahku. Semakin deras tetesan tersebut, wajahku terasa sedikit sakit. Akhirnya aku pun berlari ke arah pohon trembesi besar di salah satu sisi jalan.

Berdiri sendirian sembari melipat lengan, mencoba agar tubuhku tetap terasa hangat walau baju, tas dan sepatuku telah basah kuyup. Kurasakan dingin yang teramat sangat begitu angin berhembus, membuat air yang turun dari langit pun bergerak ke segala arah bagai ombak di tengah laut.

Suasan siang ini begitu sepi. Aku masih terus mengamati jalanan. Sesungguhnya di dalam hati aku berharap melihat seseorang melintas. Bukan untuk apa-apa, aku hanya ingin memastikan kalau bukan aku satu-satunya makhluk yang hidup di dunia ini.

Beberapa saat menunggu, tapi tak ada apa-apa yang dapat kulihat selain hujan dan pohon yang melambai-lambai seolah mengajakku untuk turut serta menikmati dinginnya siang ini. Aku seharusnya tahu bahwa semua orang sedang menikmati siang di dalam rumah yang hangat, atau bahkan sedang tidur meringkuk di balik selimut. Aku pun berharap begitu.

Bersandar di batang pohon yang begitu besar. Dan baru kusadari bahwa lebar batang pohon tersebut lebih dari lebar punggungku. Dan ternyata pohon di belakangku tersebut benar-benar besar. Dan bagaimana mungkin aku baru menyadarinya. Ketika kutengadahkan kepala, kulihat ranting pohon yang bercabang-cabang banyak sekali, menjulang tinggi, namun melengkung ke bawah di bagian ujungnya, membuat pohon tersebut nampak seperti payung raksasa berwarna hijau.

Baru aku sadari. Aku tak sendirian. Ternyata, selama ini sepiku hanyalah karena jauh dari manusia. Bagaimana mungkin aku lupa dengan semua yang ada di sekelilingku? Angin, pepohonan, rumput, batu, ombak, bahkan hujan. Hadirnya mereka bukan untuk membuatku mengeluh atau berpresepsi. Mereka mungkin hadir karena ingin menyapaku yang kadang mengabaikan keberadaan mereka.

Setidaknya hujan membantuku untuk bermain air. Di musim kemarau lalu, aku selalu berharap hujan turun setiap hari untuk membunuh panas matahari. Atau paling tidak untuk menangkap butiran debu yang kadang membuat tersedak. Dan kini hujan datang menepati janjinya. Sangat salah kalau aku mengeluh. Apalagi sampai menghardiknya. Kusadari aku salah. Bagaimana mungkin aku meminta hujan turun di tengah kemarau, dan mencaci hadirnya di tengah musim penghujan? Hujan, maka izinkan aku untuk mengucap salah. Aku manusia biasa, tak tahu apa-apa. Hanya bisa menyalahkan. Dan itu tak seharusnya aku lakukan.

0 comments:

Silakan tinggalkan komentar. Boleh kritik, saran atau apapun.. Jangan lupa untuk selalu menggunakan kata-kata yang santun. Terima kasih.