Mengundang Inspirasi Lewat Kopi

3:35 PM Nur Mumtahana 0 Comments


Jogja mulai diguyur hujan sejak beberapa hari terakhir. Selokan di depan rumah yang biasanya kering mulai nampak tergenangi oleh tetes-tetes air yang sejak semalam menimpa atap rumah. Suaranya masih sama seperti dulu. Merdu dan membuatku ingin meringkuk di atas kasur.

Beberapa hari tak pernah menyapu halaman rumah karena terlalu sibuk dengan rutinitas yang entah adalah sebuah kewajiban atau hanya sebagai formalitas supaya tak dicap sebagai pengangguran. Tapi yang pasti, sebagian atau bahkan hampir semua waktuku tersita di tempat kerja. Kembali ke rumah pun hanya untuk mandi dan tidur, lalu esoknya pergi kerja lagi. Begitu seterusnya. Membuatku tak sempat membersihkan rumah, apalagi menulis seperti kebiasaanku dulu.

Aku hampir putus asa. Mungkin sebagian otakku yang biasanya memunculkan ide-ide menulis mulai kaku, mengeras dan mati. Aku selalu bingung ketika harus memulai kalimat pertama dalam lembaran kosong yang seolah-olah ingin menertawakanku. Aku nampak lucu mungkin dengan kebingungan yang melanda begitu hebat.

Kemudian aku ingat, bahwa sudah terlalu banyak waktu yang aku lewati, dan terlewatkan begitu saja tanpa pernah terabadikan. Semua hanya ada dalam pikiranku tanpa ada orang lain yang mampu melihatnya. Padahal, sejak dulu aku selalu ingin orang melihat apa yang aku lihat. Setidaknya lewat tulisan. Aku masih ingat betul dengan keinginanku yang satu itu. 

Maka, di siang menjelang sore yang mendung ini, sengaja aku pergi ke dapur. Menuangkan bubuk kopi dan sedikit gula ke dalam cangkir kecil. Aku jadi sedikit berharap terhadap secangkir kopi panas di hadapanku. Semoga aromanya dapat membangungkan kembali imajinasiku yang sepertinya telah lama pergi.

Tegukan pertama yang membuatku ingat dengan teman-teman di sana. Biasanya kami pergi ke suatu tempat. Ke tengah hutan atau ke tepi pantai. Kemudian menikmati secangkir kopi hitam sembari menikmati deru ombak atau gemercik air terjun. Aku merindukan masa-masa itu.

Tegukan kopi kedua, kudapati lembaran kosong itu mulai terisi. Aku bisa sedikit lega. Setidaknya satu hutangku pada seorang kawan akan bisa terbayar. Iya, aku terlanjur mengiyakan kalau minggu depan ia akan mendapati tulisan baru di bloggku. 

Pada tegukan kopi ketiga dari cangkirku, aku terkejut karena teringat jemuran yang belum diangkat. Hahh! Aku harus bangun dari tempat duduk dan berlari ke halaman belakang. Tapi untungnya salah satu temanku berbaik hati telah memindahkan jemuranku. Melegakan sekali. Jadi aku bisa melanjutkan tulisan yang sempat tertunda.

Tulisanku diselingi kopi hitam beraroma menyegarkan mengantarku pada sore yang menggigil. Sampai akhirnya kudapati cangkir kopiku telah kosong. Saat itu juga aku bingung. Mau menulis apa lagi?

0 comments:

Silakan tinggalkan komentar. Boleh kritik, saran atau apapun.. Jangan lupa untuk selalu menggunakan kata-kata yang santun. Terima kasih.