Happiness Is Only Real When Shared

8:25 PM Nur Mumtahana 0 Comments

Image : http://www.atzmut.com/


"Happiness Is Only Real When Shared."

Pernah mendengar kalimat itu? Ya, itu adalah salah satu kutipan dalam film Into The Wild yang diadaptasi dari buku karya Jon Krakauer berjudul sama. Kisahnya menceritakan tentang kehidupan seorang pemuda bermana Christopher McCandless dalam mementukan jalan hidupnya.

"Happiness is only real when shared."

Entah mengapa kalimat singkat itu seperti memiliki banyak arti yang tidak terbatas untuk dijabarkan. Tentang bagaimana memaknai hidup. Tentang bagaimana menjadkan hidup lebih berarti. 

Kebahagiaan itu nyata adanya ketika kita mampu membaginya dengan sesama. Seolah-olah kalimat itu adalah pengingat yang sangat keras kepada kita tentang bagaimana menekan ego dalam diri. Ya, apalah arti kebahagiaan kalau hanya diri sendiri yang merasakan. Karena tolok ukur kebahagiaan bukanlah tentang apakah kita merasa bahagia, tapi tentang apakah orang-orang di sekitar kita merasa bahagia dengan keberadaan kita.

Seperti kisah seorang perempuan yang tinggal merantau jauh dari keluarganya. Dulu perempuan itu adalah seorang anak yang periang. Bahkan di usianya yang menginjak dewasa, keceriannya tak berubah sedikit pun. Ia begitu terbuka dengan kedua orang tuanya. Setiap hari sepulang kerja perempuan itu selalu menceritakan apa saja yang ia alami di tempat kerja. 

Sampai akhirnya perempuan itu mulai disibukkan dengan segala aktivitas di tempat kerjanya. Berangkat pagi buta, pulang malam, akhir pekan lembur, begadang karena membawa pekerjaan pulang ke rumah, dan banyak lagi.

Semua aktivitasnya tersebut lambat laun membuat kepribadian si perempuan berubah. Ia yang dulu periang kini sering nampak murung. Ia yang dulu senang sekali berbagi cerita mendadak banyak diam. Ia yang dulu selalu punya ide-ide segar kini nampak kaku dan monoton.

Hari-harinya nampak membosankan. Auranya tak secerah dulu. Ia nampak lelah dengan kantung mata besar dan wajah pucat. Ia seperti bukan dirinya yang dulu. Bahkan ia mengaku kalau seperti tak mengenali dirinya sendiri. Ia merasa kalau semua waktunya hanya tercurahkan untuk bekerja. Mungkin dengan pekerjaan tersebut ia mampu memperoleh apa yang dulu belum sempat dimiliki. Tapi pada saat yang bersamaan ia merasa kehilangan apa-apa yang dulu membuat hari-harinya begitu menakjubkan.

Sampai suatu hari ia merasakan kerinduan yang teramat dalam pada kedua orang tuanya. Sudah beberapa minggu ia tidak sempat telpon ke rumah. Padahal, dulu, bahkan saat ia belum merantau, setiap hari ibunya selalu menelpon kalau terlambat pulang kerja. Dan berminggu-minggu tidak telpon ke rumah nampaknya menjadi salah satu alasan atas gunda gulana yang ia rasakan.

Dan memang betul. Sesaat setelah mendengar suara ibunya, si perempuan mendadak bisa merasakan kakinya kembali menapak di bumi. Ia merasa hidup. Ia merasa perlahan gelisahnya hilang. Berganti dengan bahagia walau belum bisa bertemu dengan keluarganya secara langsung.

Dari suara di seberang sana, nampak jelas kalau ibunya bahagia sekali ketika puterinya menelpon. Rupanya sang ibu tak berani menelpon karena khawatir mengganggu aktivitas atau istirahat putrinya. Dan ketika putrinya menelpon, saat itulah ibunya seperti mendapat kebahagiaan yang tidak terkira. Begitu pula yang dirasakan oleh si perempuan.

Ya, jadi begitulah kira-kira gambarannya. Kebahagiaan itu memang benar-benar bisa kita rasakan dari kebahagiaan orang lain atas apa yang telah kita perbuat untuknya.

Jadi, ketika kau merasa tak bahagia, cobalah tanyakan kembali pada dirimu, sudahkan kamu membuat orang lain bahagia?

0 comments:

Silakan tinggalkan komentar. Boleh kritik, saran atau apapun.. Jangan lupa untuk selalu menggunakan kata-kata yang santun. Terima kasih.