Kampung Edukasi Watu Lumbung

8:53 PM Nur Mumtahana 1 Comments

Sumber : http://panduanwisata.id

Bermula dari perjalanan kami ke Grojogan Lepo di daerah Dlingo, Bantul. Di luar ekspektasi, air terjun yang biasanya berair deras dan berwarna biru tosca saat itu sedang surut dan airnya agak keruh. Mungkin karena cuaca memang sedang agak kering walaupun sudah masuk akhir Oktober. Rencana untuk berenang atau sekedar bermain air pun kami urungkan.

Kemudian teman saya teringat satu hal. Ia penasaran sekali dengann  salah satu kuliner khas bernama sego degan. Sego degan itu sendiri artinya adalah nasi degan (kelapa). Jadi nasi tersebut dimasak dengan menggunakan air kelapa, dan ditanak di dalam buah kelapa utuh. Di atasnya diberi tambahan telur. Lalu nasi dikukus atau dapat juga dipanggang sampai matang.

Karena sangat penasaran dengan makanan tersebut, akhirnya teman saya yang satu itu mencoba mencari referensi. Sampai muncullah satu tempat yang disebut Watu Lumbung. Tak mau menunggu lama, akhirnya kami langsung memutuskan untuk pergi ke lokasi.

Melewati jalan Parangtritis, setelah tiba di Jembatan Kretek ambil belokan ke kiri. Sekitar 500 meter kemudian belok kiri lag. Di sini jalan mula menanjak. Dan tanjakannya lumayan curam juga. Kemiringan mungkin lebih dari 90 derajat. Tapi untungnya akses jalan di situ lumayan bagus. Tak banyak jalan berlubang.

Awalnya kami dibuat bingung dengan suasana yang begitu sunyi. Jauh dari pemukiman penduduk. Padahal tempat tersebut berlabel "kampung", tapi mana penduduknya? Mana rumah-rumahnya?

Ketika jalan makin menanjak, mulai nampak deretan gubug-gubug kayu yang nampaknya masih dalam proses pembangunan. Namun suasananya tak jauh beda, masih tetap sepi. Bahkan kami sempat melihat ada deretan bangunan serupa, namun lebih tertutup dengan atap dan pintunya pula. Ternyata itu adalah sebuah home stay, ada tulisannya pada papan kayu.

Karena tak menjumpai satu orang pun, kami sempat ragu, apakah akan melanjutkan perjalanan atau kembali turun. Tapi penasaran juga rasanya. Sudah jauh-jauh datang tapi langsung pulang?

Pada 500 meter berikutnya kami menemui sebuah bangunan yang juga terbuat dari kayu, mirip seperti bangunan-bangunan yang kami jumpai sebelumnya. Hanya saja tempat ini nampak lebih menonjol. 

Dan benar saja. Sesaat kemudian kami berjumpa dengan seorang pria paruh baya yang biasa dipanggil Mbah Boy. Rupanya beliau adalah salah satu atau bisa dibilang tokoh utama dalam terbentuknya Kampung Edukasi Watu Lumbung.

Kami disambut dengan sangat ramah, walaupun beberapa saat sebelum Mbah Boy tiba kami sudah disambut oleh seekor anjing pemburu berwarna hitam yang (kalau tidak salah) bernama Selby. Rupanya Selby memang selalu bersikap seperti itu terhadap orang yang baru dilihatnya. Wajar saja. Namanya juga anjing penjaga.

Bersama Mbah Boy. Fotonya gelap. Waktu itu hari sudah malam. Setelah hujan reda, bersiap pulang

Kami berbincang-bincang tentang banyak hal. Tentang lingkungan, tentang budaya, tentang pendidikan, sampai tentang logistik dan pangan. Mbah Boy menjelaskan, bahwa untuk konsep Kampung Edukasi itu sendiri adalah untuk mendorong timbulnya kreativitas masyarakat, serta untuk dapat mengkomunikasikan kepada masyarakat tentang pengetahuan yang ada di alam. Misalnya tentang bagaimana kita mendayagunakan apa yang ada di alam, dan tentang bagaimana kita memberikan timbal balik kepada alam.



"Kampung Edukasi Watu Lumbung bukanlah sebuah tempat wisata," begitu tutur Mbah Boy.

Baginya, Kampung Edukasi Watu Lumbung memang tidak diperuntukkan bagi mereka yang ingin berwisata. Tetapi kampung ini bisa menjadi tempat atau wadah bagi semua insan yang datang dengan membawa pengetahuan, kreativitas dan maksud atau tujuan yang mampu memberikan manfaat. 

"Apa yang membawa kalian kemari?" kurang lebih begitu pertanyaan dari Mbah Boy.

"Jadi sebenarnya kami penasaran dengan sego degan." dijawab dengan polosnya.

"Di sini kami tidak menjual sego degan. Sego degan hanya disajikan sebagai bentuk apresiasi bagi mereka yang datang dengan satu tujuan mulia."

Ya, nampaknya kami harus sedikit berlapang dada, karena memang sego degan tidak diperjual-belikan di sini. Jadi apabila teman-teman ingin menikmati sego degan, teman-teman bisa datang dengan membawa minimal tiga buku bacaan yang bisa disumbangkan. Kebetulan di Watu Lumbung ini juga terdapat sebuah taman baca yang buku-bukunya pun diperoleh dari para pengunjung. Tapi dengan satu syarat. Buku yang disumbang haruslah buku yang sudah dibaca. Nantinya kita juga akan dimintai untuk membuat resensi buku tersebut. Jadi jangan coba-coba membawa buku bersegel yang sengaja kita beli untuk menukarnya dengan sego degan. 

Tapi jangan khawatir. Kalau teman-teman merasa lapar dan ingin makan sesuatu, teman-teman bisa mendapatkannya di sini. Tapi jangan harap kalau teman-teman bisa memesan makanan kemudian menunggunya disajikan. Segala sesuatu butuh usaha, broh!

Salah satu sudut di Kampung Edukasi Watu Lumbung

Jadi ketika ada tamu yang ingin makan sesuatu, mereka dibebaskan untuk untuk memasak apa yang mereka inginkan. Di situ sudah tersedia berbagai jenis sayur-sayuran, beraneka bumbu dapur pun tersedia. Peralatan memasak? Jangan ditanya. Semua lengkap. Tapi kita harus siap berhadapan dengan kompor tungku yang selalu butuh perhatian khusus.

Membuat api di dalam tungku agar tetap menyala itu susah. Sama susahnya dengan menyalakan api pertama kali. Ternyata ada teori dan harus pakai perasaan. Tapi berkat arahan dan bantuan Mbah Boy, api pun berhasil menyala dan kami siap memasak.


Sudah disediakan beragam bumbu yang siap dimasak

Bahan makanan dan perlengkapan juga lengkap

Susahnya membuat api di tungku

Jadi menu makan sore hari itu adalah lalap daun singkong, daun ketela dan daun kenikir. Pasangannya adalah sambal bawang. Menu kedua ada telur dadar. Dan menu ketiga ada tempe orek dengan resep khas dari Mbah Boy. Walaupun harus bercucuran keringat dan air mata (efek asap dari tungku) tapi benar-benar menyenangkan sekali ketika kita bisa menikmati hidangan yang bersumber dari lingkungan sekitar. Ini adalah poin penting yang harus diedukasikan oleh masyarakat. Tentang bagaimana mendayagunakan alam dan lingkungan.

Makanan siap disantap

Kami menikmati makan sore di halaman rumah Mbah Boy. Kata Mbah Boy senja di situ bagus. Tapi sayang karena saat itu cuaca sedang mendung. Jadi sore hari terasa lebih dingin dengan anginnya yang lumayan kencang. Mungkin lain waktu kami harus datang kembali. Saat cuaca cerah pastinya.

Oh ya, walaupun pengerjaan Kampung Edukasi Watu Lumbung ini baru 40%, tapi kita tetap bisa memanfaatkan tempat ini untuk beragam kegiatan. Tempat ini tidak disewakan, tapi apabila teman-teman memiliki satu acara atau project yang bermanfaat, teman-teman bisa langsung menghubungi Mbah Boy. Dijamin kalian akan bisa melakukan banyak aktivitas bermanfaat di tempat ini.

Salah satu perpustakaan yang ada di Kampung Edukasi Watu Lumbung

Lalu bagaimana dengan cost saat berkunjung, makan dan menggunakan fasilitas di tempat ini?

Tenang. Pengunjung tidak dipatok biaya. Semuanya bersifat sukarela. Asalkan bisa memberi manfaat.

Jadi, apa masih ragu untuk datang ke tempat ini? Percayalah. Semua pengalaman yang akan teman-teman peroleh bisa menjadi satu bekal bagi diri sendiri dan mungkin bagi banyak orang. Hanya apabila kita mampu mengambil setiap hikmah dan pelajaran di dalamnya.

Untuk profile lengkapnya bisa coba klik video di bawah ini


1 comment:

Silakan tinggalkan komentar. Boleh kritik, saran atau apapun.. Jangan lupa untuk selalu menggunakan kata-kata yang santun. Terima kasih.