Menghibur Hati yang Tersakiti

4:21 PM Nur Mumtahana 0 Comments



Manusia itu punya mata, sebab itu dia bisa sakit mata. Manusia juga punya perut, sebab itu ia bisa merasa sakit perut, dan masih banyak lagi. 

Seperti halnya mata dan perut, manusia pun punya hati, yang bila mana tergores sedikit saja maka akan menyakiti jiwa raganya. Tak percaya? Percayalah. Karena hati itu seperti gelas kaca. Yang bila kau ketuk-ketuk dengan keras menggunakan ujung jarimu, ia takkan pecah. Tapi sedikit saja kau tanpa sengaja menampiknya, walau dengan sangat pelan, kemudian ia jatuh, maka selamanya ia takkan bisa kembali utuh.

Bila seseorang telah merasakan sakit hati, biasanya hal tersebut akan mempengaruhi hari-harinya, aktivitasnya, moodnya dan emosionalnya. Orang yang sedang sakit hati cenderung murung, menutup diri dan sulit diajak berkomunikasi. Oleh sebab itu, apabila ada teman, saudara atau kerabat yang sedang mengalami permasalahan seperti di atas, salah satu hal yang dapat kita lakukan adalah dengan menemaninya. Menemaninya bukan berarti kita berusaha membuatnya bicara, tapi cukup dengan selalu ada saat ia membutuhkan kita.

Lalu bagaimana kalau kita yang sedang merasakan sakit hati? Apa yang harus kita lakukan untuk menyikapinya?

Karakter orang itu berbeda-beda. Ada yang mudah tersinggung terhadap perkataan orang lain, ada yang biasa-biasa saja, dan ada yang tebal telinga, alias kebal terhadap omongan orang lain. Nah, kalian termasuk yang mana nih?


Biar bagaimanapun, sehebat apapun orang di sekitar kita, tetaplah berhati-hati dan selalu berusaha menjaga perasaannya. Karena kita tidak pernah tahu, bagaimana lawan bicara kita menerima sebuah statement. Mungkin untuk kita sekedar candaan, tapi bagi orang lain? Siapa yang tahu isi hati orang.

Lalu apabila kita sendiri yang merasa sakit hati, harus bagaimana?

Cerita sedikit, ini benar-benar dari pengalaman pribadi. Yuk disimak...

Suatu hari, ada satu kejadian. Ini adalah kejadian yang tidak biasa. Untuk kali pertama di kontrakan kami (saya dan tiga teman lainnya) mengalami kemalingan. Setelah melalui analisa dan lain-lain, muncullah satu statemen dari seseorang yang menyebutkan, "Bisa jadi pelakunya salah satu di antara kalian berempat. Coba nanti kalian duduk bersama. Pasti ketemu siapa pencurinya."

Deg! Saya syok bukan main. 

Sudah dua tahun kami berempat tinggal serumah. Bagaimana mungkin insiden kemalingan ini pelakunya adalah salah satu di antara kami. Bayangin, buat apa coba kita mencuri di rumah sendiri. Na'udzubillah... 

Saya tidak habis pikir ada yang mengambil kesimpulan seperti ini. Dan yang membuat saya sangat syok, tuduhan itu mengarah ke saya. Tahu kenapa? Karena saya adalah orang terakhir yang meninggalkan rumah dan orang pertama yang kembali. Mudah sekali bagi orang lain mengambil kesimpulan seperti itu.

Itu adalah satu hal yang paling menyakitkan hati saya. Seumur hidup saya. Bayangkan saja, bagaimana rasanya difitnah dengan tuduhan semacam itu. Kalau harus menilai kadar kesakitannya, mungkin ini ada di angka 95 dari 100. 

Saya berusaha mengabaikan tuduhan tersebut. Tah, bukan saya pelakunya. Saya cuma bisa berpegang bahwa Allah tidak tidur. Ia ada dan melihat segala kebenaran.

Awalnya semua baik-baik saja, sampai akhirnya orang-orang yang mendengar tuduhan tersebut. Mulai bersikap aneh terhadap saya, seolah-olah mereka sepaham tentang tuduhan tersebut. Sungguh, kadar kesakitanku meningkat menjadi 98. Dan rasanya aku hampir meledak.

Kutahan, kutahan, tapi akhirnya meledak juga.

Malam itu saya menangis sejadi-jadinya. Dan saya terus mempertanyakan, "Kenapa saya? Kenapa harus saya? Kenapa orang-orang melihat saya dengan pandangan seolah-olah saya memang bersalah?"

Rasa kesal saya memuncak pada Mr. X yang memulai isu tersebut. Tapi saya bisa apa? Memberi penjelasan pun tak ada guna. Saya cuma berharap, bahwa saya bisa segera memaafkannya, melupakan perlakuannya yang sangat menyakitkan.

Sudah tiga hari sejak hari itu, dan sayatan-sayatan lukanya masih membekas begitu jelas. Lalu apa yang bisa saya lakukan? Ini dia beberapa hal yang saya lakukan untuk bisa menghibur diri dan membantu mengobati luka hati. Yuk disimak.

1. Curhatlah

Selama ini saya memang cenderung tertutup. Sangat jarang menceritakan isi hati kepada siapapun, bahkan kepada teman terdekat. Namun ketika saya pendam sendirian, semua terasa semakin berat dan menyakitkan. Yang berujung pada tangis panjang sesenggukan. Dan mengalirlah semua. Begitu saya ceritakan semua kesedihan dan beban perasaan, rasanya sangat melegakan.

2. Cari Ketenangan

Usai meluapkan semua perasaan, cobalah untuk menjauh dari keramaian. Pergilah ke huta, ke gunung atau ke laut. Alam ini punya kekuatan yang ajaib. Yang ketika ke gunung, dinginnya perlahan membekukan rasa sakit. Yang bila ke hutan, anginnya bantu mengusir lara. Dan suara ombak yang perlahan membawa pergi kesedihan. Sungguh, saya tak berbohong. Jadi, bila teman-teman sedang merasakan sakit hati, pergilah kegunung, lari ke hutan, atau belok ke pantai. Ketika kembali, kalian akan merasa lebih baik.

3. Carilah yang Kamu Suka

Ayo bangkit! Mungkin kamu butuh sedikit hiburan. Bagaimana dengan makan makanan enak? Atau menonton film di bioskop, beli baju incaran dan jalan-jalan ke tempat favorit. Itu akan sedikit menghibur sakit hatimu. Atau bisa juga dengan melakukan hobimu. Kamu suka berkebun? Ayo berbelanja tanaman dan tambah koleksi. Suka menulis? Tuliskan semuanya. Pokoknya hibur dirimu. Buat dirimu merasa bahagia. Dan itu akan membuatmu semakin bersyukur dengan hidup yang kamu miliki meski terkadang ada saja masalah.

4. Renungkan

Take it easy. Tak ada masalah yang tak bisa diselesaikan. Allah memberikan ujian sesuai dengan kemampuan tiap manusia. Ujian itu pertanda kita mau naik kelas. Setuju? Kalau kalian setuju, dijamin kalian akan lebih bijak dalam menghadapi segala permasalahan. Bila ada prasangka-prasangka tak benar yang membuat kita tersakiti, percayalah. Allah itu Maha Mengetahui. Ia tahu apa yang kita perbuat. Allah melihat semuanya. Dan yakin. Suatu saat, akan Allah tunjukkan kebenarannya. 

5. Maafkan

Bagian tersulit. Saya ingat, do'a saya kala itu, "Ya Allah, saya tidak ingin membenci siapapun. Saya tidak ingin menyimpan dendam, apalagi sampai mendo'akan kejelekan-kejelekan bagi orang yang telah menyakiti saya. Saya cuma minta satu hal. Tunjukkan kebenarannya. Tunjukkan. Dan semoga tak ada lagi orang yang tersakiti seperti saya."

Pada bagian ini, kamu tak akan membutuhkan permintaan maaf dari orang yang telah menyakitimu. Kamu hanya butuh waktu supaya lukamu perlahan sembuh. Itu saja. Dan biar waktu yang menjawab.

---

Nah, itu dia...

Bagaimana? Semoga bisa sedikit membantu ya. Atau kalau teman-teman punya tips-tips yang lain bisa coba komen di bawah.

See yaa...

0 comments:

Silakan tinggalkan komentar. Boleh kritik, saran atau apapun.. Jangan lupa untuk selalu menggunakan kata-kata yang santun. Terima kasih.