Rekomendasi Cafe di Jogja

6:15 PM nmhana 0 Comments




Jogja, kota pelajar, kota budaya, kota gudeg dan masih banyak lagi julukan yang diberikan kepada kota tersebut. Siapa yang menyangka kalau saya akan tinggal di Jogja sekarang. Antara senang dan galau sebenarnya. Kenapa senang? Kenapa galau? Yang pasti saya senang karena pada akhirnya seorang Hana yang anak rumahan bisa berkelana keluar dari kota kelahirannya. Mungkin waktu itu Allah bilang, "Sekarang sudah saatnya kamu keluar. Mencari sesuatu yang berbeda. Biar kamu bisa merasakan bagaimana hidup jauh dari orang tua. Biar kamu merasakan bagaimana harus mengurus semua kebutuhan hidup sendiri. Supaya kamu tahu betapa berartinya orang-orang yang saat ini tinggal jauh darimu. Dan yang pasti ucapan-ucapanmu yang selalu bilang ingin tahu rasanya mudik menjelang lebaran."

Oh Allah, Kau memang Mahabaik. Kau kabulkan kata-kataku yang tanpa kusadari pun menjadi do'a yang kini Kau ijabah. Alhamdulillah.

Itu hanya prolog. Kembali lagi ke judul.

Ternyata Jogja itu bukan cuma kota pelajar, buka cuma kota budaya. Di sini juga ada banyak hal-hal unik yang mestinya jadi julukan lain dari kota Jogja.

Dari sekian tahun (weiiitsss kaya udah puluhan tahun aja) tinggal di Jogja, akhir-akhir ini lagi sering banget jalan-jalan, menghafalkan jalanan Jogja yang (terus terang) sulit untuk dipahami. Seperti hatinya. Ciiiieeee...

Dan dari jalan-jalan tanpa tujuan itu jadi sering nemu tempat-tempat yang asik buat nongkoron (sebut saja cafe). Dari beberapa kafe yang pernah saya kunjungi, ayo coba kita ulas satu-satu. Siapa tahu besok-besok kalian mau main ke Jogja bolehlah cobain datang ke salah satu tempat ini.

1. SILOL Cafe and Eatery

Lokasinya ada di Jl. Suroto, Kotabaru, Gondokusuman, Yogyakarta. Sebenarnya kafe ini hadir belum lama, dibandingkan dengan ratusan kafe lain yang ada di Jogja. Tapi tiba-tiba.... BOOOMMMM! Mendadak kafe ini jadi idola semua kalangan, apalagi untuk para pecinta motor antik. Karena ketika kita masuk ke dalam kafe tersebut, kita akan mendapati deretan motor gede yang dipajang rapi dalam ruangan bersekat kaca. Ada juga mobil VW dan motor vespa yang bisa kita coba naiki dan menjadi spot foto. Selain itu, tempat yang luas memungkinkan bagi kita untuk melakukan satu even di cafe tersebut. Kafe tersebut tersusun atas 3 lantai yang dijamin bisa menampung orang-orang satu desa.

2. EKOLOGI

Tidak akan menyesal datang ke tempat ini. Tak cuma dimanjakan oleh aneka minuman yang disediakan, kafe yang ini adalah yang paling saya sukai karena arsitekturnya 'saya banget'. Rasanya sejuk sekali saat masuk ke dalam kafe ini. Bukan hanya sejuk karena pendingin ruangannya, tapi karena di tiap-tiap meja dan sudut ruangan ada tanaman-tanaman di dalam pot yang bikin moodmu oke.

Atau untuk kalian yang ingin langsuh bersentuhan dengan udara segar, coba untuk menikmati sisi outdoor kafe tersebut. Kalian akan menemukan dinding-dinding yang dihiasi tanaman merambat, rumput hijau, pohon rindang dan gemercik air mancur. Bayangkan betapa sejuknya tempat itu. 

Tapi sedikit saran, untuk teman-teman yang menghidari asap rokok lebih baik pilih tempat yang indoor saja. Karena yang outdoor memang dikhususkan untuk smoking area. 

Oh ya! Kafe ini juga menyediakan workspace yang berada di lantai dua. Kalau kalian ingin mencari suasana yang lebih nyaman untuk mengerjakan tugas kantor atau kuliah, cocok sekali tempat yang satu itu. Apalagi dengan dilengkapi wifi berkecepatan super, mencapai 100 Mbps. Kurang apalagi coba?

3. GYA CAFE

Ini adalah salah satu cafe favorit saya. Kenapa? Karena cafe ini berlokasi dekat dengan sebuah masjid di wilayah Demangan. Tepatnya ada di samping gedung RRI. Jadi tidak perlu khawatir kalau waktu sholat tiba.

Bisa dibilang ini adalah cafe yang paling sering saya kunjungi. Kenapa? Karena selalu ada promo setiap hari. Apabila teman-teman datang di antara jam 11 siang sampai jam 6 sore, akan ada harga khusus untuk beberapa menu. Wifi di tempat ini juga lumayan kencang. Ditambah dengan tempatnya yang terbuka membuat udara lebih segar. Kalau kalian membutuhkan peralatan seperti kabel rol dll, mereka siap membantu. Tahu sendiri kan jaman sekaran colokan listrik itu lebih penting daripada semangkok bakso panas.

4. JEEVA

Kalau menurut saya tempat ini lebih cocok untuk nongkrong-nongkrong cantik. Gimana engga? Settingan tempatnya memang terlihat lebih feminim dibandingkan cafe cafe yang lain. Kopi di tempat ini bisa dibilang yang terbaik yang pernah saya coba. Cocok jadi tempat kumpul bersama teman-teman. Apalagi tersedia juga desert yang rasanya sangat enak. Pilihan menu camilannya juga lengkap.

5. SINERGI.CO

Cafe yang satu ini hadir belum lama. Sekitar bulan Januari 2018. Tempatnya tidak jauh dari Gya Cafe. Terus terang tempat ini memiliki desain tempat dan interior yang paling saya sukai. Perpaduan antara interior kayu dan tanaman di banyak sudut ruangan memberikan kesan segar dan tidak membosankan. Apalagi dengan disediakannya meja bundar yang mengelilingi pohon palm di tengah ruangan.

Selain tempat yang luas dan bernuansa menyejukkan, Sinergi juga menyediakan beberapa ruang-ruang kecil yang bisa digunakan untuk rapat atau berbagai forum. Tersedia fasilitas meja panjang, kursi dan TV LCD yang bisa menunjang kegiatan presentasi. Cocok sekali bagi teman-teman yang ini mengadakan rapat dengan suasana berbeda.


Nahh... Itu dia beberapa cafe yang bisa menjadi rekomendasi bagi teman-teman saat berkunjung ke Jogja. Sebenarnya cafe di Jogja ada sangaaaat banyak. Dan beberapa yang saya review adalah cafe yang memang pernah saya kunjungi. Kalau teman-teman punya rekomendasi cafe lainnya, coba komen di bawah. Nanti setelah saya kunjungi mungkin bisa masuk ke dalam tambahan list postingan ini.

0 comments:

Silakan tinggalkan komentar. Boleh kritik, saran atau apapun.. Jangan lupa untuk selalu menggunakan kata-kata yang santun. Terima kasih.

Serba Serbi Perantauan dari Tegal ke Jogja

8:37 PM nmhana 0 Comments

Hai hai! 

Sudah lama sekali rasanya saya tidak tulis-tulis di sini. Sayang sekali. Selain karena domain yang tetap harus dibayar tiap tahunnya (ups! kecepolsan), ternyata ada juga looh yang diam-diam menunggu posting terbaru dari blog ini. Kemajuan. Ternyata ada juga orang yang mau membaca tulisan useless kaya gini. Mesti bersyukur atau malu nih?

Tidak terasa, sekarang sudah memasuki tahun kedua, jalan tiga bagi saya tinggal di kota perantauan yang alhamdulillah membuat saya tetap merasa nyaman. Senyaman di tempat asal saya, yaitu di Tegal. Selain karena budaya dan bahasa yang tidak terlalu berbeda, makanan di Jogja juga cocok-cocok saja dengan dengan lidah saya. Katanya masakan Jogja itu cenderung manis. Sebenarnya tidak semua masakan Jogja itu manis, karena itu sih tergantung yang masak.

Tapi kalian tahu tidak sih, kalau ternyata tinggal di Jogja juga ada banyak hal-hal unik yang mungkin hanya akan dirasakan oleh orang-orang Tegal. Kira-kira apa saja coba? Yuk Simak!

1. Susahnya Cari Tiket Kereta Terusan

Ini adalah problematika pertama yang sangat saya rasakan saat pertama kali merantau di Jogja. Terus terang, dibandingkan dengan moda transportasi lain seperti bus atau travel, saya lebih suka menggunakan kereta. Kenapa? Saya rasa kalian semua tahu jawabannya.

Tapi sangat disayangkan karena tidak ada kereta dari Tegal dengan tujuan Jogja. Dulu susah sekali mencari jadwal dua kereta yang cocok dan bisa membawa saya ke Jogja. Setelah mencari beberapa sumber, akhirnya ketemu juga. Jadi kalau mau ke Jogja dari Tegal, ada 2 opsi. Pertama, kalau memilih jam pagi, berangkatlah dari Stasiun Tegal (kalau saya dari Slawi) menggunakan kereta Kamandaka dengan tujuan Purwokerto. Kereta berangkat sekitar pukul 07.40 dan akan tiba di Puwokerto sekitar pukul 09.30. Setelah itu dilanjutkan dengan kereta Joglokerto yang berangkat pukul 10.40 dan akan tiba di Stasiun Yogyakarta pukul 13.55. Selisih waktu antara dua kereta tersebut sangat pas. Hanya sekitar satu jam. Dan itu adalah waktu menunggu yang ideal menurut saya. Disarankan agar kalian sudah memiliki dua tiket sekaligus. Kenapa? Karena banyak hal yang kadang tidak terduga. Seperti antrian yang panjang, sampai kehabisan tiket.

Kalau kalian ingin alternatif siang hari, bisa juga dengan menggunakan kereta Kamandaka pukul 14.00, dan akan tiba di Stasiun Purwokerto pukul 16.00. Setibanya di Purwokerto, ada 2 pilihan tiket. Kalian bisa menggunakan Bengawan yang berangkat pukul 16.45 atau dengan kereta Jaka Tingkir yang berangkat pukul 17.20. Sebenarnya waktu menunggu yang paling ideal adalah kereta Bengawan. Tidak perlu menunggu sampai satu jam, dan harga tiketnya relatif lebih murah. Tapi kalau menurut saya akan terasa lebih nyaman menggunakan kereta Jaka Tingkir. Ya, walaupun harga tiketnya hampir dua kali lipat.

2. Kenapa Semua Soto di Sini Bening ? (Sebening wajahnya  >.<)

Tahu apa salah satu makanan favorit saya? Soto. Dan tahu sendiri lah, kalau soto asli Tegal adalah soto dengan sambal tauchonya yang khas. Dan soto taucho itu ibarat barang langka yang sangat sulit ditemukan. Sulit ditemukan memang bukan berarti tidak ada. Ada sih, tapi bedaaaaaaaaa jauh dengan soto yang biasa dimakan. Memang pakai taucho, tapi tauchonya berbeda, dan rasanya juga tidak sama. Mungkin, setiap mudik harus bawa taucho untuk buat soto sendiri. Tapi, apa yang lain mau makan? Harap maklum, karena aroma taucho itu sendiri agak menyengat.

3. Tahu Aci Paket Telur Kocok?

Jadi ceritanya saya pernah bawa oleh-oleh dari Tegal untuk teman-teman kantor. Saya bawa tahu aci yang sudah digoreng setengah matang untuk kemudian digoreng kembali. Saya titipkan ke ibu kantin dan meminta tolong untuk digorengkan. Tahu apa yang terjadi? Saya kaget bukan main begitu melihat tahu aci tersebut diangkat dari penggorengah dengan balutan telur kocok. Mungkin ibu kantin kira perlakuan terhadap tahu aci itu sama dengan tahu bakso. Hhhmmm. Ya sudah, mau bagaimana lagi? 

4. Mendoan

Tahu apa arti mendoan? Mendoan itu sebenarnya adalah tempe yang dibalur tepung kemudian digoreng. Menggorengnya hanya sebentar, hanya setengah matang kemudian langsung diangkat. Jadi tekstur tepungnya tetap kenyal dan sedikit berminyak. Rupanya sulit sekali menemukan gorengan jenis seperti itu di Jogja. Karena hampir semua penjual gorengan menggoreng tempe tepung tersebut sampai kering, kriyuk-kriyuk. Kalau itu namanya tempe goreng, bukan mendoan. Jadi kalau ingin makan mendoan, mau tidak mau harus membuatnya sendiri.

5. Alu-Alu

Apakah makanan itu hanya ada di Tegal? Kalian tahu alu-alu? Itu adalah makanan terbuat dari beras ketan yang dibungkus dengan daun pisang. Hampir seperti lontong, tapi lebih kecil, panjang. Menyerupai sosis. Dan tidak bisa saya temukan di Jogja. Mungkin di Jogja menyebutnya lopis. Hanya saja lopis berbentuk kerucut. Dari segi rasa, sama. Ya, makluk saja. Namanya juga beda daerah, beda juga nama sebutannya.

6. Sate Kambing Sambel Kacang (?!)

Syok awalnya. Ketika saya pesan sate kambing kemudian disuguhi sate kambing berbalur sambal kacang. Apakah ini mimpi?! Itu yang ada dalam benak saya untuk pertama kali. Pasti sulit bagi orang Tegal membayangkan sate kambing dengan sambal kacang. Mengetahui kalau memang seperti itu cara sate disajikan di Jogja, setiap membeli sate saya selalu memberi catatan 'pake sambal kecap'. Kalau tidak seperti itu pasti sate akan disajikan dengan sambal kacang layaknya sate ayam.

Nah, itu dia beberapa hal yang paling terasa bagi saya selama merantau di Jogja. Dan hampir semuanya didominasi oleh masalah makanan. Tentu saja. Karena kadang kalau rindu Tegal salah satu cara mengobatinya adalah dengan mencari kuliner khas Tegal. Atau mungkin, apa saya harus buka warung makan khas Tegal? Hhhmmm ide bagus sepertinya. Atau kalian punya list yang bisa ditambahkan? Silakan komen di bawah ini.

0 comments:

Silakan tinggalkan komentar. Boleh kritik, saran atau apapun.. Jangan lupa untuk selalu menggunakan kata-kata yang santun. Terima kasih.