Serba Serbi Perantauan dari Tegal ke Jogja

8:37 PM Nur Mumtahana 0 Comments

Hai hai! 

Sudah lama sekali rasanya saya tidak tulis-tulis di sini. Sayang sekali. Selain karena domain yang tetap harus dibayar tiap tahunnya (ups! kecepolsan), ternyata ada juga looh yang diam-diam menunggu posting terbaru dari blog ini. Kemajuan. Ternyata ada juga orang yang mau membaca tulisan useless kaya gini. Mesti bersyukur atau malu nih?

Tidak terasa, sekarang sudah memasuki tahun kedua, jalan tiga bagi saya tinggal di kota perantauan yang alhamdulillah membuat saya tetap merasa nyaman. Senyaman di tempat asal saya, yaitu di Tegal. Selain karena budaya dan bahasa yang tidak terlalu berbeda, makanan di Jogja juga cocok-cocok saja dengan dengan lidah saya. Katanya masakan Jogja itu cenderung manis. Sebenarnya tidak semua masakan Jogja itu manis, karena itu sih tergantung yang masak.

Tapi kalian tahu tidak sih, kalau ternyata tinggal di Jogja juga ada banyak hal-hal unik yang mungkin hanya akan dirasakan oleh orang-orang Tegal. Kira-kira apa saja coba? Yuk Simak!

1. Susahnya Cari Tiket Kereta Terusan

Ini adalah problematika pertama yang sangat saya rasakan saat pertama kali merantau di Jogja. Terus terang, dibandingkan dengan moda transportasi lain seperti bus atau travel, saya lebih suka menggunakan kereta. Kenapa? Saya rasa kalian semua tahu jawabannya.

Tapi sangat disayangkan karena tidak ada kereta dari Tegal dengan tujuan Jogja. Dulu susah sekali mencari jadwal dua kereta yang cocok dan bisa membawa saya ke Jogja. Setelah mencari beberapa sumber, akhirnya ketemu juga. Jadi kalau mau ke Jogja dari Tegal, ada 2 opsi. Pertama, kalau memilih jam pagi, berangkatlah dari Stasiun Tegal (kalau saya dari Slawi) menggunakan kereta Kamandaka dengan tujuan Purwokerto. Kereta berangkat sekitar pukul 07.40 dan akan tiba di Puwokerto sekitar pukul 09.30. Setelah itu dilanjutkan dengan kereta Joglokerto yang berangkat pukul 10.40 dan akan tiba di Stasiun Yogyakarta pukul 13.55. Selisih waktu antara dua kereta tersebut sangat pas. Hanya sekitar satu jam. Dan itu adalah waktu menunggu yang ideal menurut saya. Disarankan agar kalian sudah memiliki dua tiket sekaligus. Kenapa? Karena banyak hal yang kadang tidak terduga. Seperti antrian yang panjang, sampai kehabisan tiket.

Kalau kalian ingin alternatif siang hari, bisa juga dengan menggunakan kereta Kamandaka pukul 14.00, dan akan tiba di Stasiun Purwokerto pukul 16.00. Setibanya di Purwokerto, ada 2 pilihan tiket. Kalian bisa menggunakan Bengawan yang berangkat pukul 16.45 atau dengan kereta Jaka Tingkir yang berangkat pukul 17.20. Sebenarnya waktu menunggu yang paling ideal adalah kereta Bengawan. Tidak perlu menunggu sampai satu jam, dan harga tiketnya relatif lebih murah. Tapi kalau menurut saya akan terasa lebih nyaman menggunakan kereta Jaka Tingkir. Ya, walaupun harga tiketnya hampir dua kali lipat.

2. Kenapa Semua Soto di Sini Bening ? (Sebening wajahnya  >.<)

Tahu apa salah satu makanan favorit saya? Soto. Dan tahu sendiri lah, kalau soto asli Tegal adalah soto dengan sambal tauchonya yang khas. Dan soto taucho itu ibarat barang langka yang sangat sulit ditemukan. Sulit ditemukan memang bukan berarti tidak ada. Ada sih, tapi bedaaaaaaaaa jauh dengan soto yang biasa dimakan. Memang pakai taucho, tapi tauchonya berbeda, dan rasanya juga tidak sama. Mungkin, setiap mudik harus bawa taucho untuk buat soto sendiri. Tapi, apa yang lain mau makan? Harap maklum, karena aroma taucho itu sendiri agak menyengat.

3. Tahu Aci Paket Telur Kocok?

Jadi ceritanya saya pernah bawa oleh-oleh dari Tegal untuk teman-teman kantor. Saya bawa tahu aci yang sudah digoreng setengah matang untuk kemudian digoreng kembali. Saya titipkan ke ibu kantin dan meminta tolong untuk digorengkan. Tahu apa yang terjadi? Saya kaget bukan main begitu melihat tahu aci tersebut diangkat dari penggorengah dengan balutan telur kocok. Mungkin ibu kantin kira perlakuan terhadap tahu aci itu sama dengan tahu bakso. Hhhmmm. Ya sudah, mau bagaimana lagi? 

4. Mendoan

Tahu apa arti mendoan? Mendoan itu sebenarnya adalah tempe yang dibalur tepung kemudian digoreng. Menggorengnya hanya sebentar, hanya setengah matang kemudian langsung diangkat. Jadi tekstur tepungnya tetap kenyal dan sedikit berminyak. Rupanya sulit sekali menemukan gorengan jenis seperti itu di Jogja. Karena hampir semua penjual gorengan menggoreng tempe tepung tersebut sampai kering, kriyuk-kriyuk. Kalau itu namanya tempe goreng, bukan mendoan. Jadi kalau ingin makan mendoan, mau tidak mau harus membuatnya sendiri.

5. Alu-Alu

Apakah makanan itu hanya ada di Tegal? Kalian tahu alu-alu? Itu adalah makanan terbuat dari beras ketan yang dibungkus dengan daun pisang. Hampir seperti lontong, tapi lebih kecil, panjang. Menyerupai sosis. Dan tidak bisa saya temukan di Jogja. Mungkin di Jogja menyebutnya lopis. Hanya saja lopis berbentuk kerucut. Dari segi rasa, sama. Ya, makluk saja. Namanya juga beda daerah, beda juga nama sebutannya.

6. Sate Kambing Sambel Kacang (?!)

Syok awalnya. Ketika saya pesan sate kambing kemudian disuguhi sate kambing berbalur sambal kacang. Apakah ini mimpi?! Itu yang ada dalam benak saya untuk pertama kali. Pasti sulit bagi orang Tegal membayangkan sate kambing dengan sambal kacang. Mengetahui kalau memang seperti itu cara sate disajikan di Jogja, setiap membeli sate saya selalu memberi catatan 'pake sambal kecap'. Kalau tidak seperti itu pasti sate akan disajikan dengan sambal kacang layaknya sate ayam.

Nah, itu dia beberapa hal yang paling terasa bagi saya selama merantau di Jogja. Dan hampir semuanya didominasi oleh masalah makanan. Tentu saja. Karena kadang kalau rindu Tegal salah satu cara mengobatinya adalah dengan mencari kuliner khas Tegal. Atau mungkin, apa saya harus buka warung makan khas Tegal? Hhhmmm ide bagus sepertinya. Atau kalian punya list yang bisa ditambahkan? Silakan komen di bawah ini.

0 comments:

Silakan tinggalkan komentar. Boleh kritik, saran atau apapun.. Jangan lupa untuk selalu menggunakan kata-kata yang santun. Terima kasih.