Pendidkan, Karir atau Keluarga ???

7:58 PM Nur Mumtahana 0 Comments



Wah wah, kok judulnya agak berat ya? Padahal biasanya kita banyak bicara soal film, travelling, tips-tips dan sesuatu yang sifatnya hiburan saja. Mungkin karena selama ini kita banyak bercanda dan kurang serius. Apa? Serius? Yakin sudah siap melangkah  ke jenjang yang lebih serius?

Di malam minggu yang dingin ini (bukan karena sendirian, tapi karena efek tiupan angin dari Australia yang sedang musim dingin) tiba-tiba rasanya ingin membicarakan tentang sesuatu yang  terdengar agak serius. Tapi semoga saja apa yang saya tulis malam ini tidak membuat kalian mual-mual. Kalau mulai terasa gejala mual dan pusing, segera tutup halaman ini dan pergilah ke dapur. Masak mie instan atau telur dadar pasti akan membuat keadaan membaik. #abaikan bagian yang ini.

Bicara tentang pendidikan, karir dan keluarga, itu artinya kita bicara tentang fase kehidupan. Banyak orang yang akan kesulitan memilih di antara tiga hal tersebut. Mayoritas akan menjawab, "Semuanya penting.". Kalau saya ditanya, jawabannya juga sama. Semua memang penting. Tapi kalau kalian hanya punya satu pilihan, kalian akan memilih apa?


Oke. Dari mana kita akan memulainya? Mungkin kita mulai dengan satu pertanyaan sederhana. "Berapa usia kita saat ini?". Eiiitsss! Tahan emosi dulu. Kalau kita bicara soal usia, jangan pernah merasa marah, tersinggung, apalagi minder. Karena hakikatnya usia yang kita miliki adalah satu nikmat yang patut disyukuri. Apabila dalam satu waktu kita merasa marah, kesal, tersinggung, atau bahkan minder saat ditanya tentang usia, ingatlah kembali bahwa usia itu relatif, tidak menjamin apapun. Cobalah untuk merubah pola pikir. Jangan hanya menilai sesuatu dari sisi kuantitas, tapi kualitas. Kenapa? Karena usia yang bertambah belum tentu menjamin kualitas diri seseorang. Menua itu pasti, tapi menjadi dewasa, belum tentu. Jadi, daripada merasa kesal hanya karena membahas tentang usia, akan lebih baik kalau kita mulai membuka diri, membuka pikiran. Melihat sesuatu dari perspektif yang berbeda, membuka cara pandang yang luas dalam menilai keadaan.

Apabila ditanya mana yang penting di antara pendidikan, karir dan keluarga? Coba tengok ke pertanyaan sebelumnya. "Berapa usiamu?". Kalau kita bicara tentang usia, itu artinya kita bicara tentang fase kehidupan, tentulah kita mulai dari sesuatu yang kecil. Dimulai sejak usia muda kita. Usia kanak-kanak. Seorang anak bilamana mendapat pertanyaan semacam ini, mereka akan menjawab tanpa harus berpusing-pusing memikirkan banyak pertimbangan. Jadi bila mendapat pertanyaan "Pilih pendidikan, karir, atau keluarga?" Jawablah pendidikan. Karena pendidikan adalah titik dimana kita bisa memulai membentuk diri. Percayalah, belajar membaca, menulis dan berhitung adalah sesuatu yang teramat penting yang akan menjadi dasar bagi seseorang belajar tentang ilmu kehidupan. Tapi ingat. Pendidikan tak melulu tentang belajar berhitung dan menulis. Karena disamping pendidikan akademis, pendidikan spiritual juga menjadi hal utama yang tidak boleh terlewatkan. Keseimbangan antara pendidikan akademis dan spiritual akan membentuk kepribadian yang senantiasa berpikir dan bersikap positif. Dari pribadi selalu bersikap dan berfikir positif akan mampu menebar kebaikan bagi orang-orang dan lingkungan di sekitarnya.

Pendidikan, karir dan keluarga memiliki keterikatan yang kuat. Apabila usai mengenyam pendidikan, maka pertanyaan ini akan menjadi lebih mudah. Lulus sekolah, sudah. Beruntung kalau bisa lulus dengan nilai baik. Mau apa lagi? Saatnya mengaplikasikan semua yang telah dipelajari ke dalam ruang lingkup berbeda. Walaupun faktanya profesi dan pendidikan yang dienyam tidak selalu berkaitan. Banyak sarjana pendidikan yang menjadi seorang wirausahawan. Banyak juga orang sekolah otomotif yang bekerja di kantor keuangan. Itu baru segelintir contoh, realitasnya ada banyak sekali ketidaksesuaian antara pendidikan yang dienyam dengan pekerjaan yang dilakoni. Tapi tidak salah juga, karena hidup itu memang penuh kejutan.

Usia 20an adalah usia produktif dimana seseorang sedang semangat-semangatnya mencoba hal-hal baru, bertemu dengan banyak orang, menjalani rutinitas penuh tantangan, dan merasakan bagaimana belajar hidup mandiri. Bahkan tak sedikit orang yang memutuskan untuk merantau untuk memulai karirnya, walaupun sebagian lagi memilih untuk tetap tinggal di kota kelahiran. Bagi para perantauan,  akan semakin terasa bagaimana memulai hidup dengan bertumpu pada kaki sendiri. Pada fase ini biasanya seseorang akan mulai menemui jati dirinya, mengenal diri lebih dalam dan mantap menentukan arah langkah untuk kehidupannya yang lebih baik. 

Setelah pendidikan dan karir. Apa lagi? Bisa ditebak?

Saya harap kalian tidak akan kecewa, karena setelah ini pertanyaan pendidikan, karir atau keluarga akan menjadi sesuatu yang tidak mudah. Baik, anggaplah teman-teman telah menyelesaikan pendidikan. Kita persempit pertanyaannya. Karir atau keluarga?

Coba kita buat gambaran bersama. Kita sudah bekerja, dan akhirnya menemukan cinta sejati, kemudian menikah.... #ciieee

Pertanyaan ini tidak akan menjadi terlalu rumit bagi seorang laki-laki. Karena seorang laki-laki apabila sudah berkeluarga tetap wajib untuk menafkahi keluarganya. Bagaima caranya? Dengan bekerja tentu saja.  Tapi beda lagi kalau kalian adalah para wanita, apalagi seorang wanita yang sudah meniti karir sejak usia muda. Setelah menikah, inginkah tetap menjadi seorang wanita karir? Atau memilih resend dari pekerjaan dan fokus pada keluarga baru?

Memilih antara karir dan keluarga seringkali menjadi dilema bagi para wanita yang baru menjalani kehidupan baru. Tak sedikit kita lihat bersama bahwa hal sepele seperti ini menjadi pokok utama permasalahan kehidupan rumah tangga di era milenial. Sebenarnya kalau jam kerja seorang wanita lebih konsisten, seperti misalnya berangkat pagi pulang sore, akhir pekan libur, itu tidak masalah. Sayangnya, keadaan seringkali memaksa seseorang untuk lembur sampai malam bahkan di akhir pekan, yang menyebabkan kurangnya waktu bersama keluarga. Padahal kodratnya seorang istri adalah untuk mendampingi, membantu suami untuk dapat mengurus semua kebutuhan hariannya.

Setelah mendapat gambaran di atas, bagaimana, masih bingung memilih antara karir dan keluarga? Sebenarnya hanya ada satu cara untuk menemukan jawabannya. Yaitu berkomitmenlah. Buat kesepakatan dengan pasangan hidupmu. Apabila memang sulit untuk meninggalkan karir yang telah susah payah dibangun, coba ajak diskusi pasanganmu. Segala sesuatu selalu memiliki sisi baik dan buruk.  Begitu juga dengan seorang istri yang berprofesi sebagai wanita karir. Bisa saja di satu sisi istri membantu suami dalam memenuhi ketubuhan hidup keluarga. Tapi pada sisi lain mungkin akan ada waktu yang tersita, dimana seharusnya istri selalu ada untuk mengurus keluarga.

Jadi, coba tanyakan kembali pada diri sendiri. Tanyakan pada lubuk hati yang paling dalam. Coba tanyakan, apa tujuan hidupmu saat ini, yang sesungguhnya? Karena pertanyaan ini akan membuatmu menemukan jawaban terbaik.

0 comments:

Silakan tinggalkan komentar. Boleh kritik, saran atau apapun.. Jangan lupa untuk selalu menggunakan kata-kata yang santun. Terima kasih.