Menghibur Hati yang Tersakiti



Manusia itu punya mata, sebab itu dia bisa sakit mata. Manusia juga punya perut, sebab itu ia bisa merasa sakit perut, dan masih banyak lagi. 

Seperti halnya mata dan perut, manusia pun punya hati, yang bila mana tergores sedikit saja maka akan menyakiti jiwa raganya. Tak percaya? Percayalah. Karena hati itu seperti gelas kaca. Yang bila kau ketuk-ketuk dengan keras menggunakan ujung jarimu, ia takkan pecah. Tapi sedikit saja kau tanpa sengaja menampiknya, walau dengan sangat pelan, kemudian ia jatuh, maka selamanya ia takkan bisa kembali utuh.

Bila seseorang telah merasakan sakit hati, biasanya hal tersebut akan mempengaruhi hari-harinya, aktivitasnya, moodnya dan emosionalnya. Orang yang sedang sakit hati cenderung murung, menutup diri dan sulit diajak berkomunikasi. Oleh sebab itu, apabila ada teman, saudara atau kerabat yang sedang mengalami permasalahan seperti di atas, salah satu hal yang dapat kita lakukan adalah dengan menemaninya. Menemaninya bukan berarti kita berusaha membuatnya bicara, tapi cukup dengan selalu ada saat ia membutuhkan kita.

Lalu bagaimana kalau kita yang sedang merasakan sakit hati? Apa yang harus kita lakukan untuk menyikapinya?

Karakter orang itu berbeda-beda. Ada yang mudah tersinggung terhadap perkataan orang lain, ada yang biasa-biasa saja, dan ada yang tebal telinga, alias kebal terhadap omongan orang lain. Nah, kalian termasuk yang mana nih?


Biar bagaimanapun, sehebat apapun orang di sekitar kita, tetaplah berhati-hati dan selalu berusaha menjaga perasaannya. Karena kita tidak pernah tahu, bagaimana lawan bicara kita menerima sebuah statement. Mungkin untuk kita sekedar candaan, tapi bagi orang lain? Siapa yang tahu isi hati orang.

Lalu apabila kita sendiri yang merasa sakit hati, harus bagaimana?

Cerita sedikit, ini benar-benar dari pengalaman pribadi. Yuk disimak...

Suatu hari, ada satu kejadian. Ini adalah kejadian yang tidak biasa. Untuk kali pertama di kontrakan kami (saya dan tiga teman lainnya) mengalami kemalingan. Setelah melalui analisa dan lain-lain, muncullah satu statemen dari seseorang yang menyebutkan, "Bisa jadi pelakunya salah satu di antara kalian berempat. Coba nanti kalian duduk bersama. Pasti ketemu siapa pencurinya."

Deg! Saya syok bukan main. 

Sudah dua tahun kami berempat tinggal serumah. Bagaimana mungkin insiden kemalingan ini pelakunya adalah salah satu di antara kami. Bayangin, buat apa coba kita mencuri di rumah sendiri. Na'udzubillah... 

Saya tidak habis pikir ada yang mengambil kesimpulan seperti ini. Dan yang membuat saya sangat syok, tuduhan itu mengarah ke saya. Tahu kenapa? Karena saya adalah orang terakhir yang meninggalkan rumah dan orang pertama yang kembali. Mudah sekali bagi orang lain mengambil kesimpulan seperti itu.

Itu adalah satu hal yang paling menyakitkan hati saya. Seumur hidup saya. Bayangkan saja, bagaimana rasanya difitnah dengan tuduhan semacam itu. Kalau harus menilai kadar kesakitannya, mungkin ini ada di angka 95 dari 100. 

Saya berusaha mengabaikan tuduhan tersebut. Tah, bukan saya pelakunya. Saya cuma bisa berpegang bahwa Allah tidak tidur. Ia ada dan melihat segala kebenaran.

Awalnya semua baik-baik saja, sampai akhirnya orang-orang yang mendengar tuduhan tersebut. Mulai bersikap aneh terhadap saya, seolah-olah mereka sepaham tentang tuduhan tersebut. Sungguh, kadar kesakitanku meningkat menjadi 98. Dan rasanya aku hampir meledak.

Kutahan, kutahan, tapi akhirnya meledak juga.

Malam itu saya menangis sejadi-jadinya. Dan saya terus mempertanyakan, "Kenapa saya? Kenapa harus saya? Kenapa orang-orang melihat saya dengan pandangan seolah-olah saya memang bersalah?"

Rasa kesal saya memuncak pada Mr. X yang memulai isu tersebut. Tapi saya bisa apa? Memberi penjelasan pun tak ada guna. Saya cuma berharap, bahwa saya bisa segera memaafkannya, melupakan perlakuannya yang sangat menyakitkan.

Sudah tiga hari sejak hari itu, dan sayatan-sayatan lukanya masih membekas begitu jelas. Lalu apa yang bisa saya lakukan? Ini dia beberapa hal yang saya lakukan untuk bisa menghibur diri dan membantu mengobati luka hati. Yuk disimak.

1. Curhatlah

Selama ini saya memang cenderung tertutup. Sangat jarang menceritakan isi hati kepada siapapun, bahkan kepada teman terdekat. Namun ketika saya pendam sendirian, semua terasa semakin berat dan menyakitkan. Yang berujung pada tangis panjang sesenggukan. Dan mengalirlah semua. Begitu saya ceritakan semua kesedihan dan beban perasaan, rasanya sangat melegakan.

2. Cari Ketenangan

Usai meluapkan semua perasaan, cobalah untuk menjauh dari keramaian. Pergilah ke huta, ke gunung atau ke laut. Alam ini punya kekuatan yang ajaib. Yang ketika ke gunung, dinginnya perlahan membekukan rasa sakit. Yang bila ke hutan, anginnya bantu mengusir lara. Dan suara ombak yang perlahan membawa pergi kesedihan. Sungguh, saya tak berbohong. Jadi, bila teman-teman sedang merasakan sakit hati, pergilah kegunung, lari ke hutan, atau belok ke pantai. Ketika kembali, kalian akan merasa lebih baik.

3. Carilah yang Kamu Suka

Ayo bangkit! Mungkin kamu butuh sedikit hiburan. Bagaimana dengan makan makanan enak? Atau menonton film di bioskop, beli baju incaran dan jalan-jalan ke tempat favorit. Itu akan sedikit menghibur sakit hatimu. Atau bisa juga dengan melakukan hobimu. Kamu suka berkebun? Ayo berbelanja tanaman dan tambah koleksi. Suka menulis? Tuliskan semuanya. Pokoknya hibur dirimu. Buat dirimu merasa bahagia. Dan itu akan membuatmu semakin bersyukur dengan hidup yang kamu miliki meski terkadang ada saja masalah.

4. Renungkan

Take it easy. Tak ada masalah yang tak bisa diselesaikan. Allah memberikan ujian sesuai dengan kemampuan tiap manusia. Ujian itu pertanda kita mau naik kelas. Setuju? Kalau kalian setuju, dijamin kalian akan lebih bijak dalam menghadapi segala permasalahan. Bila ada prasangka-prasangka tak benar yang membuat kita tersakiti, percayalah. Allah itu Maha Mengetahui. Ia tahu apa yang kita perbuat. Allah melihat semuanya. Dan yakin. Suatu saat, akan Allah tunjukkan kebenarannya. 

5. Maafkan

Bagian tersulit. Saya ingat, do'a saya kala itu, "Ya Allah, saya tidak ingin membenci siapapun. Saya tidak ingin menyimpan dendam, apalagi sampai mendo'akan kejelekan-kejelekan bagi orang yang telah menyakiti saya. Saya cuma minta satu hal. Tunjukkan kebenarannya. Tunjukkan. Dan semoga tak ada lagi orang yang tersakiti seperti saya."

Pada bagian ini, kamu tak akan membutuhkan permintaan maaf dari orang yang telah menyakitimu. Kamu hanya butuh waktu supaya lukamu perlahan sembuh. Itu saja. Dan biar waktu yang menjawab.

---

Nah, itu dia...

Bagaimana? Semoga bisa sedikit membantu ya. Atau kalau teman-teman punya tips-tips yang lain bisa coba komen di bawah.

See yaa...

Kampung Edukasi Watu Lumbung

Sumber : http://panduanwisata.id

Bermula dari perjalanan kami ke Grojogan Lepo di daerah Dlingo, Bantul. Di luar ekspektasi, air terjun yang biasanya berair deras dan berwarna biru tosca saat itu sedang surut dan airnya agak keruh. Mungkin karena cuaca memang sedang agak kering walaupun sudah masuk akhir Oktober. Rencana untuk berenang atau sekedar bermain air pun kami urungkan.

Kemudian teman saya teringat satu hal. Ia penasaran sekali dengann  salah satu kuliner khas bernama sego degan. Sego degan itu sendiri artinya adalah nasi degan (kelapa). Jadi nasi tersebut dimasak dengan menggunakan air kelapa, dan ditanak di dalam buah kelapa utuh. Di atasnya diberi tambahan telur. Lalu nasi dikukus atau dapat juga dipanggang sampai matang.

Karena sangat penasaran dengan makanan tersebut, akhirnya teman saya yang satu itu mencoba mencari referensi. Sampai muncullah satu tempat yang disebut Watu Lumbung. Tak mau menunggu lama, akhirnya kami langsung memutuskan untuk pergi ke lokasi.

Melewati jalan Parangtritis, setelah tiba di Jembatan Kretek ambil belokan ke kiri. Sekitar 500 meter kemudian belok kiri lag. Di sini jalan mula menanjak. Dan tanjakannya lumayan curam juga. Kemiringan mungkin lebih dari 90 derajat. Tapi untungnya akses jalan di situ lumayan bagus. Tak banyak jalan berlubang.

Awalnya kami dibuat bingung dengan suasana yang begitu sunyi. Jauh dari pemukiman penduduk. Padahal tempat tersebut berlabel "kampung", tapi mana penduduknya? Mana rumah-rumahnya?

Ketika jalan makin menanjak, mulai nampak deretan gubug-gubug kayu yang nampaknya masih dalam proses pembangunan. Namun suasananya tak jauh beda, masih tetap sepi. Bahkan kami sempat melihat ada deretan bangunan serupa, namun lebih tertutup dengan atap dan pintunya pula. Ternyata itu adalah sebuah home stay, ada tulisannya pada papan kayu.

Karena tak menjumpai satu orang pun, kami sempat ragu, apakah akan melanjutkan perjalanan atau kembali turun. Tapi penasaran juga rasanya. Sudah jauh-jauh datang tapi langsung pulang?

Pada 500 meter berikutnya kami menemui sebuah bangunan yang juga terbuat dari kayu, mirip seperti bangunan-bangunan yang kami jumpai sebelumnya. Hanya saja tempat ini nampak lebih menonjol. 

Dan benar saja. Sesaat kemudian kami berjumpa dengan seorang pria paruh baya yang biasa dipanggil Mbah Boy. Rupanya beliau adalah salah satu atau bisa dibilang tokoh utama dalam terbentuknya Kampung Edukasi Watu Lumbung.

Kami disambut dengan sangat ramah, walaupun beberapa saat sebelum Mbah Boy tiba kami sudah disambut oleh seekor anjing pemburu berwarna hitam yang (kalau tidak salah) bernama Selby. Rupanya Selby memang selalu bersikap seperti itu terhadap orang yang baru dilihatnya. Wajar saja. Namanya juga anjing penjaga.

Bersama Mbah Boy. Fotonya gelap. Waktu itu hari sudah malam. Setelah hujan reda, bersiap pulang

Kami berbincang-bincang tentang banyak hal. Tentang lingkungan, tentang budaya, tentang pendidikan, sampai tentang logistik dan pangan. Mbah Boy menjelaskan, bahwa untuk konsep Kampung Edukasi itu sendiri adalah untuk mendorong timbulnya kreativitas masyarakat, serta untuk dapat mengkomunikasikan kepada masyarakat tentang pengetahuan yang ada di alam. Misalnya tentang bagaimana kita mendayagunakan apa yang ada di alam, dan tentang bagaimana kita memberikan timbal balik kepada alam.



"Kampung Edukasi Watu Lumbung bukanlah sebuah tempat wisata," begitu tutur Mbah Boy.

Baginya, Kampung Edukasi Watu Lumbung memang tidak diperuntukkan bagi mereka yang ingin berwisata. Tetapi kampung ini bisa menjadi tempat atau wadah bagi semua insan yang datang dengan membawa pengetahuan, kreativitas dan maksud atau tujuan yang mampu memberikan manfaat. 

"Apa yang membawa kalian kemari?" kurang lebih begitu pertanyaan dari Mbah Boy.

"Jadi sebenarnya kami penasaran dengan sego degan." dijawab dengan polosnya.

"Di sini kami tidak menjual sego degan. Sego degan hanya disajikan sebagai bentuk apresiasi bagi mereka yang datang dengan satu tujuan mulia."

Ya, nampaknya kami harus sedikit berlapang dada, karena memang sego degan tidak diperjual-belikan di sini. Jadi apabila teman-teman ingin menikmati sego degan, teman-teman bisa datang dengan membawa minimal tiga buku bacaan yang bisa disumbangkan. Kebetulan di Watu Lumbung ini juga terdapat sebuah taman baca yang buku-bukunya pun diperoleh dari para pengunjung. Tapi dengan satu syarat. Buku yang disumbang haruslah buku yang sudah dibaca. Nantinya kita juga akan dimintai untuk membuat resensi buku tersebut. Jadi jangan coba-coba membawa buku bersegel yang sengaja kita beli untuk menukarnya dengan sego degan. 

Tapi jangan khawatir. Kalau teman-teman merasa lapar dan ingin makan sesuatu, teman-teman bisa mendapatkannya di sini. Tapi jangan harap kalau teman-teman bisa memesan makanan kemudian menunggunya disajikan. Segala sesuatu butuh usaha, broh!

Salah satu sudut di Kampung Edukasi Watu Lumbung

Jadi ketika ada tamu yang ingin makan sesuatu, mereka dibebaskan untuk untuk memasak apa yang mereka inginkan. Di situ sudah tersedia berbagai jenis sayur-sayuran, beraneka bumbu dapur pun tersedia. Peralatan memasak? Jangan ditanya. Semua lengkap. Tapi kita harus siap berhadapan dengan kompor tungku yang selalu butuh perhatian khusus.

Membuat api di dalam tungku agar tetap menyala itu susah. Sama susahnya dengan menyalakan api pertama kali. Ternyata ada teori dan harus pakai perasaan. Tapi berkat arahan dan bantuan Mbah Boy, api pun berhasil menyala dan kami siap memasak.


Sudah disediakan beragam bumbu yang siap dimasak

Bahan makanan dan perlengkapan juga lengkap

Susahnya membuat api di tungku

Jadi menu makan sore hari itu adalah lalap daun singkong, daun ketela dan daun kenikir. Pasangannya adalah sambal bawang. Menu kedua ada telur dadar. Dan menu ketiga ada tempe orek dengan resep khas dari Mbah Boy. Walaupun harus bercucuran keringat dan air mata (efek asap dari tungku) tapi benar-benar menyenangkan sekali ketika kita bisa menikmati hidangan yang bersumber dari lingkungan sekitar. Ini adalah poin penting yang harus diedukasikan oleh masyarakat. Tentang bagaimana mendayagunakan alam dan lingkungan.

Makanan siap disantap

Kami menikmati makan sore di halaman rumah Mbah Boy. Kata Mbah Boy senja di situ bagus. Tapi sayang karena saat itu cuaca sedang mendung. Jadi sore hari terasa lebih dingin dengan anginnya yang lumayan kencang. Mungkin lain waktu kami harus datang kembali. Saat cuaca cerah pastinya.

Oh ya, walaupun pengerjaan Kampung Edukasi Watu Lumbung ini baru 40%, tapi kita tetap bisa memanfaatkan tempat ini untuk beragam kegiatan. Tempat ini tidak disewakan, tapi apabila teman-teman memiliki satu acara atau project yang bermanfaat, teman-teman bisa langsung menghubungi Mbah Boy. Dijamin kalian akan bisa melakukan banyak aktivitas bermanfaat di tempat ini.

Salah satu perpustakaan yang ada di Kampung Edukasi Watu Lumbung

Lalu bagaimana dengan cost saat berkunjung, makan dan menggunakan fasilitas di tempat ini?

Tenang. Pengunjung tidak dipatok biaya. Semuanya bersifat sukarela. Asalkan bisa memberi manfaat.

Jadi, apa masih ragu untuk datang ke tempat ini? Percayalah. Semua pengalaman yang akan teman-teman peroleh bisa menjadi satu bekal bagi diri sendiri dan mungkin bagi banyak orang. Hanya apabila kita mampu mengambil setiap hikmah dan pelajaran di dalamnya.

Untuk profile lengkapnya bisa coba klik video di bawah ini


Happiness Is Only Real When Shared

Image : http://www.atzmut.com/


"Happiness Is Only Real When Shared."

Pernah mendengar kalimat itu? Ya, itu adalah salah satu kutipan dalam film Into The Wild yang diadaptasi dari buku karya Jon Krakauer berjudul sama. Kisahnya menceritakan tentang kehidupan seorang pemuda bermana Christopher McCandless dalam mementukan jalan hidupnya.

"Happiness is only real when shared."

Entah mengapa kalimat singkat itu seperti memiliki banyak arti yang tidak terbatas untuk dijabarkan. Tentang bagaimana memaknai hidup. Tentang bagaimana menjadkan hidup lebih berarti. 

Kebahagiaan itu nyata adanya ketika kita mampu membaginya dengan sesama. Seolah-olah kalimat itu adalah pengingat yang sangat keras kepada kita tentang bagaimana menekan ego dalam diri. Ya, apalah arti kebahagiaan kalau hanya diri sendiri yang merasakan. Karena tolok ukur kebahagiaan bukanlah tentang apakah kita merasa bahagia, tapi tentang apakah orang-orang di sekitar kita merasa bahagia dengan keberadaan kita.

Seperti kisah seorang perempuan yang tinggal merantau jauh dari keluarganya. Dulu perempuan itu adalah seorang anak yang periang. Bahkan di usianya yang menginjak dewasa, keceriannya tak berubah sedikit pun. Ia begitu terbuka dengan kedua orang tuanya. Setiap hari sepulang kerja perempuan itu selalu menceritakan apa saja yang ia alami di tempat kerja. 

Sampai akhirnya perempuan itu mulai disibukkan dengan segala aktivitas di tempat kerjanya. Berangkat pagi buta, pulang malam, akhir pekan lembur, begadang karena membawa pekerjaan pulang ke rumah, dan banyak lagi.

Semua aktivitasnya tersebut lambat laun membuat kepribadian si perempuan berubah. Ia yang dulu periang kini sering nampak murung. Ia yang dulu senang sekali berbagi cerita mendadak banyak diam. Ia yang dulu selalu punya ide-ide segar kini nampak kaku dan monoton.

Hari-harinya nampak membosankan. Auranya tak secerah dulu. Ia nampak lelah dengan kantung mata besar dan wajah pucat. Ia seperti bukan dirinya yang dulu. Bahkan ia mengaku kalau seperti tak mengenali dirinya sendiri. Ia merasa kalau semua waktunya hanya tercurahkan untuk bekerja. Mungkin dengan pekerjaan tersebut ia mampu memperoleh apa yang dulu belum sempat dimiliki. Tapi pada saat yang bersamaan ia merasa kehilangan apa-apa yang dulu membuat hari-harinya begitu menakjubkan.

Sampai suatu hari ia merasakan kerinduan yang teramat dalam pada kedua orang tuanya. Sudah beberapa minggu ia tidak sempat telpon ke rumah. Padahal, dulu, bahkan saat ia belum merantau, setiap hari ibunya selalu menelpon kalau terlambat pulang kerja. Dan berminggu-minggu tidak telpon ke rumah nampaknya menjadi salah satu alasan atas gunda gulana yang ia rasakan.

Dan memang betul. Sesaat setelah mendengar suara ibunya, si perempuan mendadak bisa merasakan kakinya kembali menapak di bumi. Ia merasa hidup. Ia merasa perlahan gelisahnya hilang. Berganti dengan bahagia walau belum bisa bertemu dengan keluarganya secara langsung.

Dari suara di seberang sana, nampak jelas kalau ibunya bahagia sekali ketika puterinya menelpon. Rupanya sang ibu tak berani menelpon karena khawatir mengganggu aktivitas atau istirahat putrinya. Dan ketika putrinya menelpon, saat itulah ibunya seperti mendapat kebahagiaan yang tidak terkira. Begitu pula yang dirasakan oleh si perempuan.

Ya, jadi begitulah kira-kira gambarannya. Kebahagiaan itu memang benar-benar bisa kita rasakan dari kebahagiaan orang lain atas apa yang telah kita perbuat untuknya.

Jadi, ketika kau merasa tak bahagia, cobalah tanyakan kembali pada dirimu, sudahkan kamu membuat orang lain bahagia?