Wisata Kebun Buah Mangunan


 

Setelah sekian lama terkurung dalam rutinitas harian yang menjenuhkan, akhirnya datang juga kesempatan untuk bisa menghabiskan akhir pekan dengan keluar dari keramaian Kota Jogja yang ramainya hampir memadai Kota Jakarta. Walaupun masih temasuk dalam wilayah D. I. Yogyakarta, tapi tempat yang satu ini punya suasana yang berbanding terbalik dengan kota yang terkenal dengan gudegnya.

Dari tempat tinggal saya di daerah Jl. Raya Solo KM. 8, perjalanan dimulai pukul 05.30. Sebenarnya ini sudah agak kesiangan, mengingat untuk menikmati destinasi wisata yang satu ini kami harus beradu cepat dengan terbitnya matahari. Kenapa harus sepagi itu? Tentu saja. Karena daya tarik utama dari tempat yang akan kita kunjungi adalah kabutnya di pagi hari. Kalau cuacanya bagus, kita akan disuguhi pemandangan yang menakjubkan seperti negeri di atas awan.


Kebun Buah Mangunan

Terletak di daerah Imogiri, Kabupaten Bantul. Untuk sampai ke tempat yang satu itu, akses jalannya cukup mudah - dan mulus. Hampir semua jalan yang dilalui sudah diaspal halus. Jalannya menanjak dan berkelok-kelok, tapi tidak perlu khawatir, karena ruas jalannya lumayan luas, dan volume kendaraan yang lewat tidak terlalu padat. Tapi saya belum bisa membayangkan kalau mengunjungi Kebun Buah Mangunan saat libur panjang. Katanya jalanan akan sangat ramai, macet, rawan kecelakaan dan kurang nyaman juga. Jadi beruntung sekali karena saya datang di saat libur panjang telah usai.

Sekitar satu jam lebih melewati jalanan yang lengang di pagi hari, akhirnya kami tiba di lokasi. Untuk HTMnya sangat terjangkau. Hanya Rp. 6.000,- sudah termasuk biaya parkir kendaraan. Tapi dari pintu masuk tenyata kami harus melewati jalan kecil menanjak untuk sampai di puncak. Dan ngomong-ngomong ada hal aneh yang terlintas dalam pikiran saya, "Mana kebun buahnya?"

Sepanjang jalan saya memang tidak melihat kebun buah. Yang ada hanyalah beberapa tanaman buah seperti jambu, mete dan beberapa buah yang sama sekali belum berbuah. Sedikit bingung sebenarnya. Tapi ya sudahlah. Kita abaikan saja hal yang satu itu. Sekarang, let's enjoy the view.


Ternyata suasana di puncak sudah ramai. Kira-kira jam berapa mereka berangkat dari rumah? Mungkin beberapa menit lebih pagi dari waktu saya berangkat tadi. 


Dari puncak nampak jelas lereng bukit yang diselimuti kabut putih. Matahari belum begitu nampak, hanya samar-samar cahayanya di balik awan. Suasanya dingin, angin bertiup cukup kencang. Tapi garis tegas dari sinar matahari yang menembus celah-celah awan menandakan hari ini akan cerah. Tak mau melewatkan kesempatan, langsung saya abadikan pemandangan indah yang terhampar di depan mata.


Saya mencoba untuk mengambil foto di spot yang dapat memperlihatkan kabut putih di atas lereng berwarna hijau. Tapi cukup sulit juga karena banyaknya pengunjung. Well, tidak heran kalau tempat tersebut dikerumini oleh orang-orang yang juga ingin mengabadikan pemandangan indah tersebut. Karena pemandangannya memang sangat menakjubkan. Jadi, bersabarlah untuk mengantre sedikit lebih lama.


Selain menyuguhkan pemandangan yang indah, di Kebun Buah Mangunan ini kita bisa menemukan berbagai makanan yang harganya cukup tejangkau. Cukup dengan uang Rp. 5.000 sampai Rp. 10.000 kita sudah bisa mencicipi menu sarapan seperti soto, nasi pecel, nasi goreng dan beberapa menu lainnya. Kalau yang sudah sarapan, mungkin bisa sekedar jajan cilok, bakso bakar atau sosis bakar. Dan semuanya terasa enak. 


Begitu hari agak siang, sekitar pukul 07.00 suasana makin ramai. Karena pesona kabut yang mulai hilang, kami pun memutuskan untuk beranjak. Beralih pada destinasi berikutnya, Hutan Pinus Imogiri.

Terbangun Lagi

Ini adalah kali pertama bagiku merasakan yang namanya pindah rumah. Tepatnya seminggu yang lalu, di tanggal 2 Oktober 2016. Ternyata pindah rumah itu sangat melelahkan. Bahkan sehari waktu libur tak cukup untuk membereskan semuanya. Bahkan hinggal hari ini. Sebagian barang-barangku masih berceceran dimana-mana. Bukan karena aku malas untuk membereskan, tapi karena tidak ada tempat yang cukup untuk menampung semua barang-barangku. Menyedihkan.

Jam kerja yang panjang dan melelahkan biasanya membuatku sangat mudah tidur dan jarang terbangun sampai pagi. Tapi di kontrakan baru ini aku justru sering terbangun ketika baru tidur dua atau tiga jam. Rasanya sedikit aneh, walaupun kuharap ini tak memberikan dampak yang terlalu berarti untuk kesehatan.

Aku sempat berpikir, mungkin karena suasana yang berbeda dengan tempat tinggalku sebelumnya. Di sana (di tempat tinggal sebelumnya) memang jauh dari keramaian. Lebih dekat dengan kebun kosong yang suasananya tenang. Berbanding terbalik dengan suasana saat ini. Dekat dengan jalan raya, bersebelahan dengan bangunan hotel yang selalu ramai.

Tapi kelihatannya tak cuma karena tingkat kebisingan yang berbeda. Sekarang ini aku harus lebih waspada. Aku sudah pernah mendapati aktivitas koloni semut terbang di dalam lubang kecil di dekat jendela kamarku. Begitu semua anggota koloni tersebut keluar dari persembunyiannya, aku dibuat cukup terkejut. Ternyata jumlahnya sangat banyak. Menggelikan. 

Tak cuma sampai di situ. Sempat juga kudapati lintah di dalam kamar mandi, di kamarku dan di ruang tengah. Seekor anak ular yang masih sangat kecil dan hari ini semua dihebohkan oleh kehadiran dua kelabang. Bayangkan saja bagaimana kekhawatiran yang aku rasakan. Tinggal di tempat yang kurasakan ketidaknyamanannya. Bisa jadi itulah yang membuatku sering terbangun di tengah malam.

Kemudian malam ini aku sulit untuk kembali memejamkan mata. Kedua hidungku mampet, sulit sekali untuk bernafas. Atau ini juga salah satu alasan yang membuatku terbangun. Aku juga makan sepiring nasi. Jangan-jangan lapar yang membangunkanku? Dan aku mulai merasa butuh minuman hangat. Segelas cokelat atau kopi mungkin bisa menghangatkan badanku. Membantu melegakan nafasku yang terasa sesak.

Iya, aku harus ke dapur sekarang. Merebus air. Menyeduh cokelat panas. Pasti enak.

Mengundang Inspirasi Lewat Kopi


Jogja mulai diguyur hujan sejak beberapa hari terakhir. Selokan di depan rumah yang biasanya kering mulai nampak tergenangi oleh tetes-tetes air yang sejak semalam menimpa atap rumah. Suaranya masih sama seperti dulu. Merdu dan membuatku ingin meringkuk di atas kasur.

Beberapa hari tak pernah menyapu halaman rumah karena terlalu sibuk dengan rutinitas yang entah adalah sebuah kewajiban atau hanya sebagai formalitas supaya tak dicap sebagai pengangguran. Tapi yang pasti, sebagian atau bahkan hampir semua waktuku tersita di tempat kerja. Kembali ke rumah pun hanya untuk mandi dan tidur, lalu esoknya pergi kerja lagi. Begitu seterusnya. Membuatku tak sempat membersihkan rumah, apalagi menulis seperti kebiasaanku dulu.

Aku hampir putus asa. Mungkin sebagian otakku yang biasanya memunculkan ide-ide menulis mulai kaku, mengeras dan mati. Aku selalu bingung ketika harus memulai kalimat pertama dalam lembaran kosong yang seolah-olah ingin menertawakanku. Aku nampak lucu mungkin dengan kebingungan yang melanda begitu hebat.

Kemudian aku ingat, bahwa sudah terlalu banyak waktu yang aku lewati, dan terlewatkan begitu saja tanpa pernah terabadikan. Semua hanya ada dalam pikiranku tanpa ada orang lain yang mampu melihatnya. Padahal, sejak dulu aku selalu ingin orang melihat apa yang aku lihat. Setidaknya lewat tulisan. Aku masih ingat betul dengan keinginanku yang satu itu. 

Maka, di siang menjelang sore yang mendung ini, sengaja aku pergi ke dapur. Menuangkan bubuk kopi dan sedikit gula ke dalam cangkir kecil. Aku jadi sedikit berharap terhadap secangkir kopi panas di hadapanku. Semoga aromanya dapat membangungkan kembali imajinasiku yang sepertinya telah lama pergi.

Tegukan pertama yang membuatku ingat dengan teman-teman di sana. Biasanya kami pergi ke suatu tempat. Ke tengah hutan atau ke tepi pantai. Kemudian menikmati secangkir kopi hitam sembari menikmati deru ombak atau gemercik air terjun. Aku merindukan masa-masa itu.

Tegukan kopi kedua, kudapati lembaran kosong itu mulai terisi. Aku bisa sedikit lega. Setidaknya satu hutangku pada seorang kawan akan bisa terbayar. Iya, aku terlanjur mengiyakan kalau minggu depan ia akan mendapati tulisan baru di bloggku. 

Pada tegukan kopi ketiga dari cangkirku, aku terkejut karena teringat jemuran yang belum diangkat. Hahh! Aku harus bangun dari tempat duduk dan berlari ke halaman belakang. Tapi untungnya salah satu temanku berbaik hati telah memindahkan jemuranku. Melegakan sekali. Jadi aku bisa melanjutkan tulisan yang sempat tertunda.

Tulisanku diselingi kopi hitam beraroma menyegarkan mengantarku pada sore yang menggigil. Sampai akhirnya kudapati cangkir kopiku telah kosong. Saat itu juga aku bingung. Mau menulis apa lagi?