Pesona Gunung Lawu via Candi Cetho


Sudah membaca ulasan tentang perjalanan saya waktu ke Candi Cetho beberapa waktu silam? Kali ini perjalanan saya tidak hanya berhenti di Candi Cetho. Tapi kita akan lanjutkan lebih ke atas lagi. Ke Candi Ketek? Tidak hanya sampai di situ. Kita akan terus ke atas, ke atas dan ke atas sampai ke puncak!!!


Puncak? Apa ini serius? Ya, ini serius. Dan ini benar-benar menjadi perjalan yang luar biasa berkesan. Ingin tahu cerita lengkapnya? Mari kita simak kisah suka duka (meski lebih banyak dukanya ketimbang sukanya).

Ini dimulai ketika salah seorang teman saya, sebut saja dia Si Koboi Lajang, merencanakan perjalanan ke timur. Meskipun rencana awal sempat berpikir untuk pergi Gunung Merbabu, namun meeting point di Magelang sedikit membuat saya keberatan. Karena nyali saya tidak cukup tangguh untuk mengendarai motor sampai ke sana. Jadi tujuah sudah diputuskan. Kita akan ke Lawu via Candi Cetho.



Rupanya tidak hanya Si Koboi Lajang. Ada juga dua teman saya yang lain. Sebut saja Mr. J dan Mr. Sam. Sejujurnya, saat akan memulai perjalanan kondisi fisik saya sedang kurang fit. Tapi tidak mungkin sekali kalau saya membatalkan diri untuk tidak ikut. Jadi dengan sedkit rasa nekad kami berangkat pada hari sabtu pagi (19-08-2017).

Perjalanan dimula dari Jogja jam 06.00, dan kami tiba di basecamp Candi Cetho jam 09.30. Setelah istirahat beberapa saat, kami langsung melakukan registrasi pendakian. Pukul 10.30 kami langsung start dari basecamp lalu berangkat. 

Ini adalah kali pertama bagi saya berjalan tanpa membawa beban di punggung. Tapi beban saya berpindah ke pundak kanan karena membawa tas selempang. But it's ok. Mengingat rute yang lumayan terjal membuat saya sulit membayangkan, apa jadinya kalau saya membawa carrier sendiri.



Perjalanan dari basecamp ke pos 1 memakan waktu sekitar 45 menit dengan trek yang masih agak landai walaupun di beberapa sisi kami menemui tanjakan yang cukup terjal. Di pos 1 kita menemui sebuah gubuk kecil yang bisa menjadi tempat berteduh. Di dalamnya juga terdapat mata air mengalir dalam paralon yang terbuka.


Dari Pos 1 menuju pos 2 kita akan melihat pos bayangan, atau saya lebih suka menyebutnya pos 1 1/2. Lebih banyak jalur landai di sini, jadi bisa sedikit menghemat tenaga. Waktu tempuh dari pos 1 menuju pos 2 sekitar 50 menit. Istirahat hanya sebentar dan kami kembali melanjutkan perjalanan mengingat hari mulai siang. Kami menargetkan untuk bisa tiba di pos 5 sebelum maghrib.



Trek menuju pos 3 semakin menanjak, dan saya semakin kualahan. Padahal tidak berat beban yang saya bawa. Mungkin ini karena kondisi tubuh yang sudah lumayan lama dimanja dengan duduk berlama-lama di kursi, kurang olahraga dan makan yang kurang teratur. Saya menyesal karena tidak mempersiapkan perjalanan kali ini dengan baik. Tapi bisa juga ini terjdi karena kondisi fisik yang memang sedang kurang sehat. Ya, ada banyak faktor yang menyebabkan hal ini terjadi.


Di antara perjalanan menuju setiap pos, trek menuju pos 4 adalah yang paling kejam menurut saya. Bagaimana tidak? Di sini jalannya selalu menanjak. Dan hampir tenaga saya habis. Bahkan setiap sepuluh langkah saya meminta istirahat. Nafas saya engap, seperti mau putus. Entahlah, seperti sudah hilang kesadaran dan entah akan bisa melanjutkan atau tidak.


Untungnya kakak-kakak baik hati itu tidak henti membuat gurauan-gurauan yang membuat saya tidak bisa menahan tawa meski dengan kepala yang berdenyut-denyut. Begitu tiba di pos 4 saya meminta untuk istirahat lebih lama. 

Kabut yang lumayan tebal sempat menyelimuti, sampai mengundang titik-titik air yang awalnya saya kira gerimis. Ternyata itu air dari kabut yang terasa sangat segar. Ya, sedkit menyegarkan pikiran.

Perjalanan dari pos 4 menuju pos 5 adalah trek yang menryenangkan dengan pemandangan indah dan udara yang segar. Tidak hanya itu. Sinar matahari sore juga bisa sedikit mengusir rasa dingin yang dirasakan sepanjang perjalanan. Ada satu sabana kesacil dan satu sabana besar. Indah sekali, ditambah dengan cuaca cerah dan angin yang berhembus pelan.





Sampai akhirnya kami pun tiba di pos 5. Sudah ada dua tenda yang berdiri. Masih ada tempat yang cukup luas. Sangat luas bahkan. Di pos 5 ini sabana besar terbentang seperti karpet berbulu yang lembut. Hari mulai gelap, dan setelah tenda berdiri kami mulai bersiap untuk memasak. Sayangnya, kondisi badan yang kurang sehat membuat saya hanya bisa meringkuk di dalam tenda. Angan-angan ingin memasak sayur sop pun musnah. Kini giliran para kakak yang membuatkan makan malam buat saya. Maaf sekali, hehehe...

Sebelum tidur kami sempat membuat api unggun dan berbincang dengan pendaki lain. Rencana untuk melihat bintang hilang sudah karena udara yang sangat dingin. Bahkan di dalam tenda kami dapat mendengar suara angin bergemuruh seperti pesawat hendak lepas landas. Dan malam itu, dingin jadi sahabat yang setia, tak mau pergi. Bahkan menyelip lewat celah-celah mana saja.

Dan ini adalah kali pertama bagi saya bisa tidur dengan sangat pulas. Percayakah kalau saya sampai bermimpi? Itu benar-benar terjadi, walau saya lupa apa yang ada dalam mimpi. Tapi setidaknya saya bisa mengobati rasa kantuk setelah sehari sebelumnya saya sangat kurang tidur.

Jam 6 pagi, setelah meneguk segelas teh panas kami langsung melakukan summit. Lagi-lagi kondisi tubuh saya bermasalah. Mountain sickness, atau para kakak menyebutnya mabok gunung. Perut mual dan nafas engap. Selalu seperti itu. Membuat perjalanan menuju Warung Mbok Yem terasa penuh sensasi. Tapi begitu tiba di sana terbayar sudah rasa lelah. Gorengan, teh panas dan nasi pecel. Maka nikmat Tuhan mana yang kamu dustakan?






Tapi rupanya tantangan tidak berhenti sampai di situ. Karena begitu melihat puncak yang sesungguhnya saya cuma bisa menelan ludah. Benarkah di atas sana? Dalam batin saya ingin menjerit dan berlari pulang ke rumah. Tapi itu hanya ada dalam benak. Dan satu-satunya hal yang harus saya jalani adalah terus berjalan. Meski lagi dan lagi saya harus berhenti untuk istirahat.




Setelah perjalanan yang membuat hati menangis, akhirnya tiba juga di puncak. Tugu di ketinggian 3.265 mdpl menyambut dengan bendera merah-putih berkibar di ujungnya. Siapa yang menyangka kalau saya akan bisa berada di tempat setinggi itu? Melihat ke bawah, ternyata memang tinggi.

Tak lama berada di puncak, lalu kami memutuskan untuk kembali turun. Perjalan turun tak seberat perjalanan saat naik. Tapi tetap saja, lutut selalu jadi sasaran rasa sakit saat turun  gunung. Tapi dengan bantuan sebuah tongkat kayu (ajaib) bisa sedikit mengurangi beban di lutut.

Kembali tiba di pos 5, Si Kowboy Lajang dan Mr. J membongkar tenda dan beres-beres. Sementara saya dan Mr. Sam membuat camilan. Mie goreng, tempe goreng dan sambal kecap. Mantap sekali.

Tepat jam 12.30 kami langsung bergegas turn. Kembali menyusuri trek yang kami lalui ketika berangkat. Tapi perjalanan turun lebih cepat. Nafas saya tidak engap lagi walaupun ada nyeri-nyeri di lutut.

Sayangnya Si Kowboy Lajang sempat cidera lututnya. Tapi berungtung tidak lama kemudian kondisinya sudah membaik. 


Dalam perjalanan turun kami sempat beristirahat di bawah pos 3. Di situ ada mata air yang mengalir deras dan sangat menyegarkan. Bahkan airnya bisa langsung diminum karena sangat jernih. Membuat kopi dan membasuh tangan, mencuci muka. Sangat menyegarkan. Lumayan lama kami beristirahat di sini. Dan setelahnya kami kembali melanjutkan perjalanan karena hari sudah mulai sore.

Tiba di basecamp, kami berencana untuk mengambil foto di gerbang candi cetho. Sayang, waktu itu pintu pagar sudah ditutup. Jadi kami hanya bisa berpose di depan pagar pintu masuk.





Usai maghrib kami langsung pulang, melanjutkan perjalanan menuju Jogja. And that's all.

Kalau ditanya bagaimana kesannya, tentu saja luar biasa. Bagaimana tidak? Setelah setahun lebih tidak pernah beraktivitas fisik macam itu, tiba-tiba langsung dihadapkan dengan medan yang (katanya) landai. Katanya. Padahal.... -_-

[Movie] : OVERDRIVE



Yap! Akhirnya malam minggu ini dapat ajakan nonton dari salah satu teman yang juga menyukai film action. Dan ngga nyangka juga kalau ternyata film Overdrive yang trillernya kelihatan seru banget udah mulai tayang di bioskop.

Sebelum bahas lebih jauh tentang filmnya, kita lihat dulu keseruan trillernya!


Gimana? Terkesan dengan trillernya yang seru? Apalagi dengan pemeran-pemerannya yang keren. Jadi bagaimana kalau kita kenalan dulu dengan para pemeran di film ini?


Yang pertama dan yang paling menarik perhatian dalam film ini adalah Scott Eastwood yang berperan sebagai Andrew Foster. Kepribadiaannya yang cool dan cara berpikir yang brilian membuatnya menjadi sosok yang patut dikagumi.


Kalau yang satu ini kayanya wajah baru di dunia perfilman. Tapi jangan diragukan tentang bagaimana dia berperan. Freddie Thorp yang berperan sebagai Garrett Foster, adik Andrew dari ibu yang berbeda. Karekternya ceria, humoris dan pandai dalam bernegosiasi. Di jamin dia adalah satu alasan yang membuat kita tertawa saat menonton film ini.


Kalau yang cantik ini adalah Ana de Armas yang berperan sebagai Stephanie, kawan dari Faster Brothers yang memiliki keahlian dalam menyusup.

Ketika telah melakukan banyak misi bersama. Sayang, misi mereka bukanlah misi dalam memecahkan kasus misteri seperti film Detective Conan atau Sherlock Holmes. Misi yang mereka lakukan adalah misi pencurian mobil-mobil antik bernilai tinggi.

Sampai pada suatu hari Andrew dan Garrett berhasil mencuri sebuah mobil dari seorang kolektor mobil antik bernama Jacomo Morier (Simon Akbarian). Karena hal tersebut mereka harus terlibat dalam hari yang penuh dengan perkelahian, adu senjata dan kejar-kejaran.

Mengetahui bahwa Foster Brothers telah mencuri mobilnya, Mr. Morier nyaris saja membunuh mereka berdua. Beruntung berkat keahliannya dalam bernegosiasi, Garrett berhasil membuat Mr. Morier mengurungkan niatnya menghabisi Foster Brothers. Akhirnya Andrew dan Garrett menjanjikan akan mencuri sebuah mobil antik milik Max Klemp (Clemens Schick).

Setelah dibebaskan oleh Jacomo Morier, mereka mulai menyusun rencana untuk memulai misi pencurian mobil seperti yang dijanjikan pada Jacomo Morier. Namun perdebatan muncul antara Andrew dan Garrett. Karena sesungguhnya Andrew menyadari bahwa mereka harus segera menyudahi perbuatan mereka. Andrew menyadari bahwa apa yang mereka lakukan akan membahayakan nyawa mereka dan nyawa Stephanie. Terlebih lagi Andrew telah memutuskan akan menikahi Stephanie dan memulai sebuah kehidupan yang normal tanpa membawa status sebagai seorang pencuri.

Namun tidak dengan Garrett. Ia masih menikmati apa yang dilakukannya. Karena ia tidak tahu apa yang bisa dia perbuat selain mencuri. Karena ia terlalu takut, bahwa ketika Andrew menikah dengan Stephanie, maka ia akan sendirian.

Terus terang ini adalah satu momen yang cukup menyentuh perasaan dimana ada kakak beradik yang dilahirkan dari dua ibu yang berbeda, namun mereka memiliki ikatan yang demikian dekat. Dan tentu saja, meskipun Garrett memiliki ketakutan akan kehilangan kakaknya, tapi ia juga tak bisa mengenyampingkan kebahagiaan kakaknya.

Jadi yang harus mereka lakukan sekarang adalah menjalankan misi yang mungkin akan menjadi misi terakhir mereka.

Hal pertama yang harus mereka lakukan adalah membentuk sebuah tim. Mereka pun bertemu dengan seorang pencuri handal asal Prancis bernama Devin (Gaia Weiss). Selain Devin ada pula beberapa orang yang akan dikerahkan untuk melakukan misi pencurian mobil tersebut.

Terus terang, ini adalah bagian yang adeh di film ini. Ada banyak sekali orang yang berperan dalam film ini, tapi mereka tidak memiliki peran. Bahkan bicara sepatah dua patah kata saja tidak. Jadi, mereka mungkin hanya sebagai tambahan pemain untuk bisa menggerakan deretan mobil antik milik Jacomo Morier.

Setelah tim terkumpul, mereka pun mulai menyusun rencana untuk menyusup ke dalam rumah Max Klemp dan mencuri mobilnya. Dan tantangan pertama yang harus dilakukan adalah dengan membajak salah satu pesawat pribadi milik Max Klemp. Setelah misi pertama berhasil, dengan didampingi sapupu Jacomo Morier, mereka berhasil masuk dan bertemu dengan Max Klemp. Bahkan mereka berhasil masuk ke dalam garasi mobil di mana target pencurian mereka berada.

Ini barulah sebuah awal. Karena tak ingin mengundang kecurigaan, akhirnya mereka menyudahi kunjungan di rumah Max Klemp dan mulai menyusun rencana berikutnya. Namun sangat disayangkan karena sesaat setelah kunjungan ke rumah Max Klemp, diketahuilah bahwa Jacomo Morier bersama sepupunya memiliki misi lain. Mereka bahwa memanggil polisi untuk menangkap Foster Brothers dengan menguak kasus-kasus pencurian terdahulu. Bahkan hal tersebut membuat Stephanie berada dalam bahaya. Ia ditangkap oleh beberapa asisten Jacomo dan menahannya.

Mengetahui perbuatan Jacomo Morier terhadap Stephanie membuat Andrew, Garrett dan Devin mengubah rencana mereka. Akhirnya bukan Max Klemp yang menjadi target mereka, melainkan Jocomo Morier itu sendiri. Bersama beberapa orang dalam timnya Andrew dan Garrett berhasil mengambil alih terhadap semua mobil milik Jacomo Morier. Semua itu pun berkat kecerdasan Stephanie yang mampu mengelabuhi sistem keamanan di rumah tempat ia ditahan.

Dan terjadilah aksi kejar-kejaran antara Foster Brothers dengan Jacomo. Beruntuk salah satu anggota dalam tim Andrew memiliki kemampuan dalam merakit bom. Bahkan bom tersebut berhasil menghancurkan sebuah jembatan panjang dari beton.

Pada akhirnya aksi kejar-kejaran itu berakhir di pelabuhan. Ketika semua mobil berhasil diselamatkan. Sementara Jacomo dan sepupunya meninggal dalam menjalankan aksi mereka.

Dari situ Foster Brothers mendapat sambutan baik dari Max Klemp. Dan saat itu pula misi mereka berakhir. Andrew berhasil mengungkapkan perasaan dan niatannya untuk menikahi Stephanie. Sementara Garrett kini tenggelam dalam kesendiriannya karena harus berpisah dengan Davin sementara waktu. Setidaknya sampai ada hari dimana Garrett dan Davin bertemu kembali di bawah menara Eifell.

Itu dia sedikit ulasan tentang film trillernya sangat seru.

Nah kira-kira berapa rating yang bisa saya beri untuk film ini? Mungkin 3,5 dari skala 5 ya.

Kenapa tidak 4,5 atau 5?

Jawabannya adalah karena film ini seperti tidak terfokus pada tujuan utama di awal cerita. Alasan kdua adalah karena terlalu banyak tokoh yang tidak memiliki peran. Mereka jadi seperti orang-orang numpang lewat yang tidak punya peran berarti. Yang ketiga, dibanding dengan alur ceritanya, film ini mungkin lebih memamerkan deretan mobil antik dan lupa menata alur ceritanya.

Tapi lumayan. Setidaknya mata kita akan dimanjakan dengan tokoh-tokohnya yang tampan dan cantik. Selain itu kita juga bisa belajar macam-macam mobil antik yang tidak ada di Indonesia.

Terlalu Bersemangat

Beberapa waktu terakhir volume kerja sedang padat-padatnya. Bahkan hari minggu juga (hampir) selalu dihabiskan dengan bekerja. Jadi liburnya kapan? Kapan-kapan mungkin.

Di long weekend kedua minggu ini, lagi dan lagi saya gagal pulang kampung. Padahal sudah banyak sekali undangan dari teman-teman yang mendadak menikah tanpa kabar-kabar. Dan sedihnya, saya tidak bisa hadir untuk melihat momen-momen tersebut.

Memang, sejak bekerja di Jogja, ada begitu banyak momen penting yang saya tinggalkan di kota tercinta. Mulai dari nikahan teman samping rumah, nikahan teman sekolah, kelahiran anak dari teman kerja di sana, dan masih banyaaaak lagi.

Sedih sih, tapi mau bagamana lagi? Ya sudahlah...

Terlepas dari semua kerinduan pada kampung halaman, hari ini mumpung libur, sebenarnya saya sudah merencanakan untuk bangun siang. Rencananya saya ingin bangun jam sembilan, sepuluh atau tepat saat makan siang. Itu rencananya. Karena saya merasa butuh waktu untuk memanjakan badan yang sudah bekerja lebih dari yang seharusnya.

Tapi rencana tinggallah rencana. Niatnya ingin bangun siang, pagi-pagi sekitar jam lima justru sudah bangun. Ingin tidur lagi, tapi tidak bisa. Hah! Menyebalkan.

Akhirnya bangun pagi di hari libur pun terjadi. Dapur selalu jadi tempat yang menyenangkan. Beruntung menemukan roti tawar, mentega dan meses. Dan jadilah roti bakar. Lumayan bisa untuk camilan di pagi hari.



Mendadak hasrat untuk mencuci baju muncul. Cucian sekeranjang penuh pun berhasil mendarat di jemuran, beserta jaket-jaket tebal. Tidak hanya itu. Setelah mencuci langsung memasak. Beruntung di dapur masih ada stok sayur. Dan jadilah tumis pokcoy.

Sementara orang rumah mulai sarapan, saya justru ingin meneguk kopi yang sudah saaaangaaat lama ditinggalkan. Begitu kopi diseduh, aromanya seperti percikan kembang api di dalam kepala. Heran saja tiba-tiba muncul banyak ide untuk ditulis. Tak mau membiarkan momen-momen emas tersebut hilang, langsung saya siapkan peralatan tempur pagi ini.

Laptop, koneksi internet, setangkup roti bakar dan kopi. Perfect!

Dan....

Well done!


Pagi-pagi sudah berhasil membuat review film Fast and Furious 8. Dilanjut dengan tulisan bertema hari kartini yang sudah terlambat. But it's ok. Walaupun struktur tulisannya masih sangat sederhana dan sedikit kacau, tapi lumayan untuk pemanasan. Siapa tahu, di gelas kopi kedua akan ada tulisan yang lebih dari itu.

Ya, nampaknya hari ini saya terlalu bersemangat. Tidak malas, tidak mengantuk dan tidak bisa tidur. Apakah itu berarti saya sudah sangat siap untuk kembali ke 'dunia yang itu'?