Hujan, Maaf...

Satu tetes air dari langit jatuh tepat di atas sepatu baruku. Kemudian belasan, puluhan dan ratusan tetes-tetes air lainnya mulai berdatangan. Beberapa saat kemudian entah berapa ribu atau juta tetesan air yang jatuh ke bumi. Aku tak dapat menghitungnya. Semua di sekelilingku basah, begitu pula dengan diriku.

Kutengadahkan kepala, melihat ke atas, mencoba menatap asal muasal hujan ini datang. Aku tak dapat melihatnya dengan jelas. Tetes-tetes air itu menimpa wajahku. Semakin deras tetesan tersebut, wajahku terasa sedikit sakit. Akhirnya aku pun berlari ke arah pohon trembesi besar di salah satu sisi jalan.

Berdiri sendirian sembari melipat lengan, mencoba agar tubuhku tetap terasa hangat walau baju, tas dan sepatuku telah basah kuyup. Kurasakan dingin yang teramat sangat begitu angin berhembus, membuat air yang turun dari langit pun bergerak ke segala arah bagai ombak di tengah laut.

Suasan siang ini begitu sepi. Aku masih terus mengamati jalanan. Sesungguhnya di dalam hati aku berharap melihat seseorang melintas. Bukan untuk apa-apa, aku hanya ingin memastikan kalau bukan aku satu-satunya makhluk yang hidup di dunia ini.

Beberapa saat menunggu, tapi tak ada apa-apa yang dapat kulihat selain hujan dan pohon yang melambai-lambai seolah mengajakku untuk turut serta menikmati dinginnya siang ini. Aku seharusnya tahu bahwa semua orang sedang menikmati siang di dalam rumah yang hangat, atau bahkan sedang tidur meringkuk di balik selimut. Aku pun berharap begitu.

Bersandar di batang pohon yang begitu besar. Dan baru kusadari bahwa lebar batang pohon tersebut lebih dari lebar punggungku. Dan ternyata pohon di belakangku tersebut benar-benar besar. Dan bagaimana mungkin aku baru menyadarinya. Ketika kutengadahkan kepala, kulihat ranting pohon yang bercabang-cabang banyak sekali, menjulang tinggi, namun melengkung ke bawah di bagian ujungnya, membuat pohon tersebut nampak seperti payung raksasa berwarna hijau.

Baru aku sadari. Aku tak sendirian. Ternyata, selama ini sepiku hanyalah karena jauh dari manusia. Bagaimana mungkin aku lupa dengan semua yang ada di sekelilingku? Angin, pepohonan, rumput, batu, ombak, bahkan hujan. Hadirnya mereka bukan untuk membuatku mengeluh atau berpresepsi. Mereka mungkin hadir karena ingin menyapaku yang kadang mengabaikan keberadaan mereka.

Setidaknya hujan membantuku untuk bermain air. Di musim kemarau lalu, aku selalu berharap hujan turun setiap hari untuk membunuh panas matahari. Atau paling tidak untuk menangkap butiran debu yang kadang membuat tersedak. Dan kini hujan datang menepati janjinya. Sangat salah kalau aku mengeluh. Apalagi sampai menghardiknya. Kusadari aku salah. Bagaimana mungkin aku meminta hujan turun di tengah kemarau, dan mencaci hadirnya di tengah musim penghujan? Hujan, maka izinkan aku untuk mengucap salah. Aku manusia biasa, tak tahu apa-apa. Hanya bisa menyalahkan. Dan itu tak seharusnya aku lakukan.

Saat Kau Jawab Do'aku

Dalam malam yang tenang, ketika banyak orang di luar sana tengah merayakan akhir pekan di tengah keramaian, aku hanya bisa berdiam diri di kamar. Bukan karena seorang anti-sosial. Aku hanya merasa butuh waktu untuk sedikit "menjauh" dari keramaian. Dan mungkin ini adalah tempat yang tepat, tempat di mana aku bisa sedikit lebih terbuka melihat realita.

Setidaknya, ada satu nama yang sering kusisipkan di antara do'a-do'a yang terucap, dalam keheningan semacam ini. Tak banyak harapku, aku hanya ingin Tuhan memberikan keyakinan dalam diriku untuk menetapkan hati. Bila nama itu adalah nama yang telah disandingkan untukku, maka jagalah hatiku, diriku, hanya untuknya. Dan pertemuka diriku dengannya di saat yang tepat, di tempat yang tepat. Namun, apabila nama itu bukanlah nama yang Kau kehendaki, maka bantu aku untuk dapat menata hati, menyiapkan diri bila kudapati jawaban atas do'a-do'a tersebut.

Ya Allah, betapa seringnya aku dilanda rasa takut. Aku takut bila aku jatuh hati pada orang yang tak semestinya. Aku takut bila akan jatuh hati pada orang yang pada akhirnya akan bersanding dengan orang lain. Ketakutan-ketakutan yang menutup rapat hatiku, menjadikan hati ini begitu hampa. Maka bantu aku untuk mengisinya dengan mendekatkan diri kepadaMu. 

Dan bila suatu hari nanti, dalam keheningan Kau memberikan jawaban atas do'a-do'aku, ketika pada akhirnya seorang pria datang bertandang ke rumah untuk menemui kedua orang tuaku, maka yakinkanlah diriku, bantuk aku untuk bisa percaya bahwa takdir yang Kau tulis adalah takdir yang harus kujalani.

Ke Jogja dengan Transportasi Umum


Gambar : idhotelmurah.com
DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta) adalah salah satu kota besar yang ada di Indonesia. Kota yang satu ini cukup populer. Sering dijadikan sebagai destinasi wisata karena keindahan alam dan budaya yang masih sangat kental. Popularitasnya tak kalah dengan Pulau Dewata - Bali. Bahkan banyak pula para wisatawan manca negara yang menjadikan Yogyakarta sebagai destinasi liburan yang menyenangkan.

Selain dari potensi pariwisata, Yogyakarta juga terkenal sebagai kota pelajar. Ada banyak universitas atau perguruan tinggi berkualitas di Yogyakarta, seperti Universitas Negeri Yogyakarta atau Universitas Gajah Mada dan masih banyak lagi lainnya. Tak heran kalau Yogyakarta adalah salah satu kota yang paling sering dikunjungi oleh orang-orang dari kota lain.

Kalau kita pergi Yogyakarta dengan kendaraan pribadi pasti akan menyenangkan. Bepergian ke banyak tempat tanpa pusing memikirkan kendaraan mana yang harus dinaiki. Tapi kalau ternyata kita pergi Yogyakarta dengan kendaraan umum, bagaimana?

Jangan khawatir. Di sini saya mau share sedikit tentang pengalaman perjalanan saya dari Tegal ke Yogyakarta dengan kendaraan umum.

Kalau dari Tegal, tepatnya dari Slawi, ada dua alternatif kendaraan umum untuk menuju ke Yogyakarta. Yang pertama adalah dengan bus, dan yang kedua adalah dengan kereta. Ayo kita coba bahas satu persatu.

1. Slawi - Yogyakarta dengan kereta

Gambar : beritakereta.wordpress.com
Kalau ingin ke Yogyakarta dengan kereta, kita harus bersiap untuk berangkat pukul 08.06 pagi. Belilah tiket dengan tujuan perjalanan Stasiun Purwokerto. Kereta Kamandaka dengan tarif Rp. 45.000 cukup ekonomis untuk perjalanan yang nyaman, aman dan efisien.

Dengan Kereta Kamandaka, kita akan tiba di Stasiun Purwokerto sekitar pukul 09.42. Langsung saja menuju ke loket untuk membeli tiket Kereta Joglogkerto jurusan Yogyakarta. Bisa pilih mau turun di Stasiun Tugu (Yogyakarta) atau Stasiun Lempuyangan. Tarifnya Rp. 60.000. Kereta Joglokerto jurusan Yogyakarta berangkat pukul 10.38, jadi kita tidak perlu menunggu terlalu lama. Dan kita akan tiba di stasiun tujuan pukul 13.50. 

2. Slawi - Yogyakarta dengan bus

Gambar : www.bismania.com
Kalau kita memilih perjalanan malam, kita bisa menggunakan bus Citra Adi Lancar (CAL) dari Terminal Slawi. Kita tidak bisa menbooking tiket untuk bus yang satu ini. Loketnya sendiri baru buka sekitar pukul 20.00. Dengan harga Rp. 115.000 bus CAL akan membawa kita ke Yogyakarta dengan fasilitas yang lumayan oke. Kita disediakan bantal dan selimut karena AC dalam bus yang bisa membuat hipotermia. 

Dengan bus CAL, kita akan diantar sampai ke tempat tujuan kita (khusus wilayah Kota Yogyakarta). Fasilitas tersebut sudah termasuk dalam tiket yang kita bayar. Jadi begitu tiba di pool / agen bus, kita akan mendapat jemputan untuk kemudian diantar ke tempat tujuan. Hampir mirip seperti travel. Jadi kalau kita masih bingung arah, kita cukup beritahukan alamat tempat yang akan dituju.

Kalau sudah sampai Yogyakarta, trus kita mau jalan-jalan, enaknya pakai kendaraan apa ya?

Ada nih salah satu alat transportasi favorit di Yogyakarta. Bus Trans Jogja. Hampir mirip seperti Bus Trans Jakarta. Untuk menuju ke satu tempat, kita tinggal cari halte Trans Jogja terdekat. Ada dua jenis halte. Yang pertama adalah halte umum yang menyediakan tiket. Kemudian ada juga halte portable yang tidak melayani penumpang naik (hanya bisa dijadikan tempat untuk turun). 

Gambar : yogyakarta.panduanwisata.id
Trans Jogja memiliki beberapa trayek. Kalau kita belum paham tentang tujuan masing-masing trayek, tinggal bisang saja dengan penjaga tiketnya. Nanti petugas halte akan mengarahkan kita untuk naik trayek yang sesuai dengan tujuan.
Bagaimana dengan harga tiketnya? Jangan khawatir. Harganya cukup terjangkau. Bahkan tidak sampai Rp. 10.000 kita sudah bisa keliling Yogyakarta. 

Sekedar untuk pegangan, alangkah baiknya kalau kita menyiapkan denah rute Trans Jogja kalau memang sudah berniat jalan-jalan keliling Yogyakarta dengan Trans Jogja. Dijamin perjalanan keliling Kota Yogyakarta bakal menyenangkan.
Gambar : liburmulu.com
Kalau sudah selesai dengan urusan di Yogyakarta, sekarang saatnya pulang ke kota tercinta ---- Slawi.

Seandainya kita check out dari Yogyakarta pagi hari, alangkah baiknya kalau memilih naik kereta. Kenapa kereta? Sekali lagi, karena kereta adalah alat transportasi yang paling nyaman. Dari Stasiun Lempuyangan atau Stasiun Tugu (Yogyakarta) kita bisa naik Kereta Joglokerto dengan tujuan akhir Purwokerto. Harga tiketnya sama seperti saat kita berangkat, Hanya Rp. 60.000. Kereta sekitar pukul 07.00 dan kadang agak terlambat sedikit. Setibanya di Stasiun Purwokerto sekitar pukul 10.00. Kita bisa langsung membeli tiket di loket untuk tujuan Slawi dengan Kereta Kamandaka. Harga tiketnya masih sama, Rp. 45.000. 

Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Kereta api yang terkenal sebagai kendaraan paling tepat waktu pun kadang bisa terlambat. Pernah satu kali kereta Joglokerto dari Stasiun Lempuyangan datang terlambat setengah jam. Alhasil tiba di Stasiun Purwokerto pun terlambat. Sampai di sana Kereta Kamandaka sudah berangkat, jadi saya terpaksa pergi ke Terminal Purwokerto dan menuju ke Slawi menggunakan bus. Untuk tarif bus dari Purwokerto ke Slawi cukup Rp. 25.000. Dan kalau malam biasanya harga ditambah menjadi Rp. 30.000.

Nahh... itu dia secuil cerita tentang perjalanan dari Slawi ke Yogyakarta dengan kendaraan umum. Siapa tahu ada teman-teman yang lagi cari referensi pas mau berkunjung ke Yogyakarta. Semoga bermanfaat, dan jangan lupa kriti sarannya :D